Kerja.

1750 Words
Tak banyak yang bisa dilakukan Clara. Ia hanya butuh uang itu segera. Dan inilah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan. Apa pun itu namanya yang jelas Clara tak akan membiarkan kehilangan merenggut lagi sesuatu yang sudah ada di depan mata. Dari dulu, sejak kecil perempuan hidup tanpa seorang teman. Hidup bergelimang harta dan kaya raya dan membuatnya dijauhi banyak teman. Tak ada yang mau berteman dengannya. Perempuan paling cantik anak orang kaya. Tak ada yang berurusan dengan orang tua Clara. “Kau melamun lagi sayang?” ucap laki-laki yang ada di depan tubuh Clara. Mendorong tubuhnya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah perempuan yang tengah tak menentu itu. Clara memaksa tersenyum, kemudian sedetik kemudian menggelengkan kepala. Tanpa ia sadari ternyata sedari tadi laki-laki itu mengamatinya. Bahkan hingga tak menikmati apa yang sedang dilakukan Clara padanya. Tak menikmati pijatan lembut jemari Clara di tubuhnya. “Aku ke belakang dulu deh, Om.” Clara tersenyum menutupi rasa gundah dan bersalahnya. Ayolah, ia dibayar untuk ini bukan? Dan ini juga bukan kali pertama. Pria yang sudah telanjang bulat itu menggeleng heran. Membiarkan gadis itu berdiri, melenggang meninggalkannya. Meski kedua bola matanya tetap tak bisa lepas dari tubuh gadis itu. Mengekor, hingga tubuh tinggi ramping itu hilang ditelan pintu kamar mandi yang tertutup. Di dalam kamar mandi Clara hanya berdiri mematung di depan wastafel. Disangga kedua tangannya, menatap dirinya sendiri di depan cermin. Menghela napas panjang, memejamkan kedua matanya. Semua kenangan buruk itu benar-benar telah membunuhnya dari dalam. Di waktu yang tidak tepat, di tempat yang bukan waktunya. Air dari keran mengalir. Tangannya menangkup, menangkap air yang mengalir guna membasuh wajahnya. Lagi-lagi ia harus membunuh nuraninya. Sekali lagi ia harus sadar, bahwa pilihan ini adalah jalan yang ia ambil. Ini takdir dan nasib yang harus ia terima. Satu bilasan air lagi di wajahnya. Rasa segar mengalir, menghapus make up tipis di wajahnya. Meski tanpa mereka wajah Clara tetap cantik. Mata sipit, pipi tirus, dagu yang lancit, juga rambutnya yang dibiarkan tergerai. Poni yang sedikit menutupi keningnya. Menatap dirinya sendiri di depan cermin dengan perasaan yang sudah lebih baik. Tersenyum penuh rasa lega. “Sudah, Ra. Seperti sebelum-sebelumnya bukan?Tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi,” gumamnya dalam hati. Inilah jalan yang sudah ia pilih. Kesalahan yang tak bisa lagi dibenahi. Lubang besar gelap dan pengap yang tak bisa ia temukan jalan keluarnya. Hanya punya pilihan untuk terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Hingga kelak semoga ada sedikit cahaya yang bisa menerangi jalan gelap ini. Tangannya menanggalkan kemeja merah yang ia kenakan. Melepas satu persatu kancing bajunya. Membiarkan selembar kain itu lolos dari tubuhnya setelah sebelumnya melepaskan celana hitam panjangnya. Perempuan itu kembali menatap cermin. Melihat tubuhnya yang kini hanya berbalut bra krem dan celana dalam berwarna sama. Tersenyum licik penuh arti. Seakan menantang hidupnya yang sudah hancur. Ia tidak akan peduli lagi pada hatinya. Ia sudah siap menerima gempuran perasaan itu lagi bahkan sampai nanti ia mati. Berkata pada dirinya sendiri di dalam cermin, bahwa tak ada lagi tawar menawar di sini. Malam ini, suka atau tidak ia harus melakukannya. Inilah profesi yang sudah ia ambil. Inilah pekerjaan yang harus yang harus ia lakukan demi uang. Dan tak berapa lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Tubuh menawan Clara keluar dari sana dengan hanya berbalut handuk putih yang menutupi d**a hingga sedikit pangkal kakinya. Bola matanya berputar, menatap sofa yang tadinya ada laki-laki itu. Sofa hitam coklat berbahan kulit tipis terbaik yang ternyata telah kosong. Benar saja, laki-laki itu sudah pergi. Sudah terbaring di atas ranjang menunggu dirinya. Dan ke sanalah kini kedua kaki Clata melangkah. Duduk di pinggir ranjang. Tersenyum ke arah laki-laki di sebelahnya itu. “Tumben kau tak seagresif biasanya sayang?” ucap laki-laki itu sambil menarik tangan Clara. “Jadi kau suka Clara yang ganas, Om?” tanya Clara balik. Sudah waktunya bekerja, ia harus fokus dengan laki-laki satu ini. Menarik selimut yang dari tadi menutup tubuh pria itu. Membuangnya sekuat tenaga, membuat kini tubuh telanjang bulat pria baruh baya itu terpampang jelas di depan mata Clara. Laki-laki yang kini tersenyum ke arah Clara. Clara yang sudah handal melakukan ini kemudian melancarkan aksinya. Tangannya pelan-pelan merambat seiring tubuhnya yang sudah naik ke atas ranjang. Bahkan lihat kini, satu kakinya dengan bebas lolos melewati tubuh Om Firman. Membuka pahanya membuatnya duduk dengan bebas di atas tubuh laki-laki itu. Om Firman melenguh saat kulitnya bertemu dengan kulit paha Clata yang lembut dan kencang. Memejamkan mata, menikmati sensasi barusan yang menjalar ke suruh tubuh hingga ubun-ubun kepalanya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku om,” protes Clara berbisik sambil menurunkan tubuhnya pelan-pelan. Merunduk, hingga bibirnya sampai di depan daun telinga laki-laki yang kini ada di bawahnya. Sementara pria itu justru tergelak. Membuat tubuh Clara yang menindih perut buncitnya ikut bergoyang. “Aku tak bisa memilih sayang, mana yang lebih kusuka. Kamu yang ganas atau yang lembut seperti sekarang. Tapi yang jelas!” Kalimat laki-laki itu terpotong. Menarik ujung handuk yang melilit tubuh Zeline, jadi kain terakhir yang membalut tubuhnya. Kain putih itu dengan mudah terlepas dari tubuh ramping Zeline. “Aku suka kamu yang tidak mengenakan apa pun,” lanjut laki-laki itu berbisik tepat di depan daun telinga Zeline. Membuat perempuan dua puluh dua tahun itu melenguh panjang. Memeluk erat tubuh pria ini. Mengangkat sedikit tubuhnya, membiarkan laki-laki itu menarik handuknya. Selembar kain terakhir yang membatasi tubuh telanjang mereka. Laki-laki itu tersenyum. Matanya menyorot wajah Zeline yang membalasnya dengan tersenyum genit. Menggigit bibir bawahnya, menambah pekat aroma birahi yang memenuhi ruangan. “Kau tahu? Kau sangat seksi malam ini.” Om Firman tak tahan lagi. Mengangkat sedikit kepalanya, menyambar bibir tipis Clara yang kali ini sepuluh kali lipat jauh lebih menggoda dari pada biasanya. Clara yang gelagapan menerima ciuman tiba-tiba itu berusaha menguasai dirinya. Bersandar dengan kedua tangannya, mendorong kepala pria di bawahnya untuk rileks. Turun, kembali bersandar di atas bantalnya. Suasana yang semakin panas di antara tubuh telanjang mereka. Dua lapisan kulit yang beradu, bulu halus yang panjang di sekujur tubuh Om Firman, cukup membuat gairah Clara naik hingga ubun-ubun. Tubuhnya menggeliat, mengambil alih permainan. Melaksanakan tugasnya sebagai wanita penghibur bagi laki-laki yang kini terlentang pasrah di bawahnya. Kedua tangannya meremas lembut pergelangan tangan Om Firman. Mengangkatnya, membukanya ke atas kepalanya. Menggeliat lagi, menggesekkan tubuh telanjang bulat di atas tubuh pria itu. Tanpa melepas ciuman panjang yang masih mengikat bibir keduanya. “Ummmmhhh .... !!” Clara melenguh lagi, mulai menikmati permainan yang ia ciptakan sendiri. Udara yang semakin tipis di antara hidung mereka. Bibir yang semakin terasa basah. Ciuman-ciuman yang kini menjelma isapan-isapan membuat Clara melenguh. Bahkan dengan posisinya sekarang, meski dengan memejamkan mata sekali pun Clara bisa merasakannya. Merasakan sesuatu mulai mengeras di bawah sana. Di pangkal kakinya yang terbuka lebar menindih pinggul pria ini. Clara melepas ciumannya. Membuat dua orang itu sekaligus membuka matanya sekaligus. “Jadi ini yang kau suka Om?” tanya Clara sambil tersenyum genit. “Aku bisa merasakan sesuatu sudah mengeras di bawah sana,” lanjutnya sambil mengangkat tubuh pelan-pelan. Kini Zeline tampak seperti tengah menunggang kuda. Membiarkan rambut panjang dengan warna piring di ujung miliknya tergerai melewati bahunya. Laki-laki yang tak mau kalah itu menyusul bangun. Menahan tubuh besarnya dengan dua tangannya. Menyusul Clara, perempuan yang kini terkekeh melihat kelakuan menggemaskan pria langganannya ini. “Jangan panggil aku om, Cantik!” ucap Om Firman setelah berhasil duduk. Menyusul Clara, mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu sekali lagi. Clara yang sudah terbakar api birahi menyerahkan bibirnya suka rela. Menjemput ciuman itu, meladeni laki-laki ini dengan tidak kalah ganas. Melingkarkan lengannya di leher Om Firman, menarik kepala laki-laki itu hingga bibirnya tenggelam jauh lebih dalam. “Jadi kau ingin dipanggil apa sayang?” tanya Clara setelah melepaskan pagutan bibirnya. Pertanyaan yang membuat Om Firman tersenyum lebar, mendorong tubuh telanjang Clara ke belakang. Perempuan itu memekik kaget, tertawa. Tak mengira laki-laki ini segemas itu padanya. “Panggil aku Daddy,” ucap Pria itu dengan berbisik lembut di depan telinga Clara. Clara hanya mengangguk, tersenyum. Sedetik sebelum bibir pria itu kembali mencium bibirnya lagi. Tak perlu menunggu lama hingga kecupan itu kemudian berubah jadi lebih ganas. Jadi isapan-isapan yang menarik bibirnya lembut. Clara memekik saat ciuman di bibir mereka terlepas. Bibir Om Firman kini berpindah mengecup tengkuknya. Menjelajahi senti demi senti bagian tubuh sensitif itu. Bersamaan dengan tangan besarnya yang kini telah sampai di dua bongkah buah dadanya. Rasa geli yang seketika menjalar ke semua syaraf di tubuhnya. Clara tak bisa berbuat banyak. Hanya menggigit bibirnya sendiri. Menahan rasa nikmat yang besarnya kini mengalahkan rasa geli tadi. Kenikmatan yang tiada tara. Kenikmatan yang tak pernah gagal menghapus semua kesedihan dan rasa sesal di dalam hatinya. Clara memekik sekali lagi. Kali ini bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Memekik saat bibir pria di atasnya itu kini telah sampai di dua bukit ranum miliknya. Lapisan kulit bibir itu menyentuh langsung bagian sensitif langsung. “Awwww ..... jangan digigit, Daddy!” Bibir Clara merancu tak karuan. Perlakuan Om Firman seakan membuatnya terbang ke langit tujuh. Isapan-isapan dari bibir laki-laki itu semakin mengganas. “Kau menikmatinya bukan sayang?” goda Om Firman setelah kembali meneruskan kegiatannya. Sesekali menggodanya dengan desahan nakal di sela-sela isapannya. Clara hanya bisa mengangguk. Meremas rambut pria yang ada di atasnya. Menekan kasar, membuat bibir laki-laki itu semakin dalam menekan bukit ranumnya bagian kiri. Tubuhnya menggeliat tak karuan. Desahan dan lenguhan panjang dari bibirnya semakin jelas. Tak lagi ditutup-tutupi seperti beberapa menit yang lalu. Tak lagi malu-malu apalagi merasa canggung. Clara kini benar-benar tenggelam dalam permainan yang mereka berdua ciptakan. Tak peduli lagi siapa yang kini menindih tubuhnya. Tak peduli lagi jarak umur mereka yang terpaut sangat jauh. Bahkan tak peduli saat sesuatu yang keras terasa mengganjal di pangkal pahanya. Mendorong-dorong, menggesek bibir lubang sensitif miliknya di bawah sana. Membuat semakin lama semakin basah. Apalagi saat ciuman di bukitnya berakhir. Kepala Om Firman terangkat, berhenti tepat di atas wajah Clara. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Melihat Clara yang tersenyum malu-malu, tersipu di bawahnya. “Apa lagi yang kau tunggu, Daddy? Belum puaskah kau menyiksaku dengan yang barusan itu?” tanya Clara sambil melenguh lagi. Tangan Om Firman nakal. Turun ke bawah perutnya, mengusap lembut bibir lubang yang ditumbuhi bulu halus itu. “Sepertinya kali ini aku berhasil membuatmu lebih basah dari biasanya,” goda Om Firman seakan memecundangi perempuan di bawahnya. Clara hanya bisa tersenyum genit. Tak ingin membuat laki-laki di atasnya kecewa. Membuka lebar-lebar pahanya. Dan tanpa menunggu aba-aba, seperti dituntun pulang ke rumah, sesuatu yang keras tak terlalu panjang itu mulai bergerak. “Kumohon Daddy aahhhh .... Lakukan itu sekarang,” pintanya seperti kuda yang tengah kehausan. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD