Bab 7 Ingin Pulang

1588 Words
Bab 7 Ingin Pulang   Gerry tetap duduk di bale depan setelah selesai makan malam bersama Giva. Dia melipat tangannya ke belakang lalu berbaring di atas bale. Giva yang baru ke luar dari kamar untuk mengambil ponselnya pun segera berbaring di samping Gerry.      Gerry merasakan gerakan orang di sampingnya. Dia menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke atas langit yang dipenuhi banyak bintang. Giva melakukan hal yang sama dan tersenyum. “Pantas saja kamu lebih suka tidur di sini. Pemandangannya bagus ya, Ger?”      Gerry sekali lagi terkejut saat mendengar suara Giva yang mengajaknya bicara. Dengan tenang dia pun menjawab, “Itulah kenapa aku mengajak kamu tinggal di Bali.”      “Jadi kamu mau pamer pemandangan bintang ke aku? Dulu, di rumahku yang ada di kampung juga aku sering melihat bintang gini di angkringan belakang rumah.”      “Wah, emang dasarnya aku yang norak dong?”      Giva tertawa. “Bisa jadi.”      Gerry tersenyum sambil menoleh ke samping. Melihat Giva tertawa membuat perasaannya senang sekaligus bahagia bukan main. “Kamu kalau mau apa-apa bilang ya, Gi?”      “Maksud kamu ngidam ya?” Giva bertanya pendek.      Gerry mengangguk lalu lebih jelas berbicara. “Jangan pernah sungkan kalau kamu ngidam ini itu! Aku akan coba turutin semaksimal yang aku mampu.”      “Bayi kita pasti seneng kalau tahu ayahnya sangat memanjakannya. Ger, kalau besok aku ke luar rumah buat jalan-jalan sendirian apa boleh?”      “Kamu bosen ya di rumah terus?”      Giva mengangguk kecil. “Aku enggak akan kabur dari kamu dan pulang ke Jakarta kok.”      Gerry akhirnya duduk. Dia terkejut dengan apa yang diucapkan Giva barusan dan sekarang dia sangat penasaran. Bagaimana bisa Giva berubah begitu cepat? Bahkan tadi siang dia sempat marah padanya, tapi yang terjadi sekerang sungguh di luar bayangannya. “Gi, emangnya kamu mau ke mana?”      “Aku mau jalan-jalan ke pantai Kuta. Kamu izinin aku kan?”      “Aku temenin aja gimana? Aku khawatir kamu kesasar atau gimana-gimana, Gi.”      Giva menggeleng pelan. “Aku tahu sedikit tentang pantai Kuta kok. Kamu tenang aja!”      “Aku enggak akan tenang, Gi!” tukas Gerry lagi. Bersikeras.      “Kalau gitu aku enggak perlu ke mana-mana, cukup di rumah aja. Mengeram di kamar, di rumah ini, sampai akhirnya aku ngelahirin. Mirip kayak ayam.”      “Bukan gitu maksud aku, Gi. Aku cuma khawatir ke kamu. Aku temenin aja ya?”      Giva kembali berbaring. Dia sudah tak ada niatan untuk bepergian. Gerry menatap Giva dengan meletakan tangannya di sisi tubuh Giva yang lain dari tubuhnya. “Gi, kamu tetap mau pergi?”      Giva menggeleng lalu membuang mukanya dengan tangan yang ia angkat ke atas. Menutup wajahnya dengan telapak tangan.      “Oke, kamu boleh pergi. Kita jangan berantem lagi ya, Gi! Aku sayang kamu.”      Giva membuka tangannya lalu memeluk Gerry dengan cepat. Gerry hanya mampu tersenyum lalu memutuskan mengikuti Giva nantinya. Perasaan takut ditinggalkan masih melekat di hatinya. Dia belum mempercayai Giva seutuhnya.   ***        Gerry menunggu di luar rumah setelah ia memberikan Giva sarapannya. Setiap pagi dia hanya sarapan kopi. Karena hanya itulah yang mampu dibelinya saat ini. Sebisa mungkin dia menahan rasa laparnya. Membuatnya cukup makan pada siang dan malam hari.      Giva ke luar dari rumah dengan kaos dan celana jinsnya yang sudah terlihat pudar. Dia melangkah dan Gerry mulai mengikutinya. Mereka pergi ke pantai Kuta seperti yang pernah Giva katakan kemarin.      Dengan wajah yang tegang, Giva memutuskan duduk di atas pasir. Melihat hilir mudik turis asing atau dalam negeri di pantai. Dia jadi ingat kenangannya saat SMA, saat study tour ke Bali. Dia sangat senang saat itu bisa berada di Bali bersama kawan-kawannya. Ada Nadia dan Eni. Sekarang mereka kuliah di Universitas Negeri yang berada di kota Semarang. Nadia mengambil jurusan Pendidikan RA sedangkan Eni mengambil jurusan Ekonomi Pembangunan. Mereka pasti sedang semangat belajar di kampus. Berbeda dengan dirinya yang sekarang harus berada di Bali dan tinggal bersama ayah bayi yang sedang ia kandung. Mereka bahkan belum menikah.      “Mbak, mau dikepang?”      Giva menggeleng saat ada yang menawarinya jasa mengepang. Dia bahkan tak membawa uang kemari. Bermodalkan kaki dia bisa sampai. Sebenarnya dia masih mempunyai tabungan di bank tapi dia tidak ingin memakainya. Dia ingin memakainya untuk membeli tiket pesawat menuju perjalanan pulang ke Jakarta. Giva yakin tiketnya akan mahal.      Beberapa langkah sejak perempuan yang tadi menawari Giva kepang pergi, Giva bergegas mengejarnya. “Mbak, saya Giva!”      “Eh, saya Dina.”      “Saya mau kerja kepang kayak Mbak apa boleh?”      “Loh?” Dina nampak kaget lalu menatap Giva dengan wajah tersenyum. “Mbak, bisa ikut saya! Nanti saya tunjukin caranya.”      “Makasih ya, Mbak Dina!” Giva sangat berterimakasih. Mereka mencari pelanggan kemudian wanita bernama Dian mulai mengepang. Giva hanya memperhatikan sambil mengangguk mengerti. Untung saja di rumah dulu dia sering mengepangi rambut ibunya. Pasti mudah. Setelah membayarnya, Giva pun mulai pamit kepada Dina untuk mencari orang yang mau dikepang olehnya.      “Mas, mau dikepang?” Giva bertanya kepada seorang pria berkulit lumayan hitam. Dari wajahnya saja Giva bisa mengira bahwa laki-laki di depannya berasal dari daerah Sulawesi.      “Berapa, Mbak?”      “Karena Mas pelanggan pertama saya, saya akan kasih diskon 30 persen dari biasanya.”      Setelah berpikir sebentar lelaki itu akhirnya mengangguk. Giva melakukan tugasnya dengan telaten.      Gerry meremas tangannya sendiri. Kenapa Giva memegang rambut pria itu? Setelah diperhatikan lebih seksama nampak Gerry paham bahwa pujaan hatinya sedang mengkepang rambut pria itu. Apa jangan-jangan Giva bekerja seperti ini?      Tidak ingin membuat keributan akhirnya Gerry menunggu sampai Giva selesai. Setelah mendapatkan bayarannya, Giva pergi dan hendak mencari pelanggan lain namun urung saat tangannya dicekal tiba-tiba dari belakang. Dengan wajah kaget Giva menahan napasnya.      “Ger, kamu....”      “Kamu ngapain? Kamu kerja? Kenapa? Aku masih bisa ngehidupin kamu, Gi.” Entah mengapa Gerry merasa harga dirinya sebagai seorang lelaki hancur hanya dengan melihat Giva bekerja seperti tadi.      “Aku enggak bisa nyusahin kamu. Aku tahu kamu kerja buat ngasih aku makan setiap pagi, siang, dan malam.”      Gerry menggeram. “Itu kewajiban aku, Gi.”      “Enggak, itu sama sekali bukan kewajiban kamu! Kamu bukan siapa-siapa aku, Ger.”      Mendadak Gerry menyadari maksud ucapan Giva. “Aku akan nikahi kamu secepatnya kalau itu yang mau kamu bilang.” Dan dengan langkah berat, Gerry pun pergi. Menjauhi Giva yang sama sekali tak mengejarnya.   ***        Harusnya Giva senang mendengarkan ucapan Gerry siang itu. Mereka pasti akan segera menikah. Tapi entah mengapa perasaan Giva justru makin tidak menentu. Belum menikah saja dia sudah sering mendapatkan paksaan dari Gerry, apalagi jika mereka sudah menikah.      Dia bingung harus bagaimana sekarang?      Gerry dan Giva kini makan malam bersama di bale tapi mulut mereka sama sekali tak menunjukkan akan memulai sebuah percakapan. Mereka benar-benar sedang kalut dengan pikirannya masing-masing.      Giva kembali ke kamarnya setelah selesai makan. Gerry mencuci piring kemudian berbaring di bale. Setiap hari apa akan seperti ini? Belum menikah saja tidak pernah akur.      Giva memainkan ponselnya lalu membuka media sosial f*******: yang aplikasinya baru saja ia download. Membuka f*******:, Giva langsung menahan hatinya untuk tidak menangis. Berandanya penuh dengan status teman kuliah yang kini tengah hangat-hangatnya menghujat dirinya. Padahal dulu mereka berteman baik.           Meriana Salim Gak nyangka banget sama temen alim itu. Kelihatannya diam tapi ternyata hamil duluan. Maluin almamater banget! #G       122 suka 24 komentar bagikan         Yuliana Fulanawati       Gue juga enggak nyangka Givani bisa begitu, Mer. Diakan anaknya alim gitu..            Meriana Salim Gue juga kagak lagi, Yul. Sumpah gue malu banget pernah deket sama tuh anak. Kakak senior ngehinanya ke gue sama Tania coba. Dia yang hamil duluan, malah gue juga kena. Padahal anaknya katanya kabur bareng cowoknya.         Yuliana Fulanawati       Cowoknya yang dulu itu. Gerry kan?        Giva buru-buru menutup f*******:. Percuma dia membukanya jika hanya membaca semua hujatan untuknya. Teman yang dulunya baik juga ikut-ikutan. Ada rasa sedih dan marah dalam dirinya kini. Andai mereka tahu bahwa dia juga tidak mau berada diposisinya sekarang. Dia sangat tersiksa.      Giva ke luar dari kamar saat jam menunjukan pukul 23.00. Dia biasanya sudah tidur tapi karena terus memikirkan status f*******: Meriana dia jadi tidak bisa tertidur. Matanya seolah diatur untuk tetap terjaga.      Dengan pelan Giva duduk di samping Gerry yang sedang berbaring. Wajah Gerry tertutup oleh sarungnya, menyisakan kulit kakinya yang malam itu tidak tertutup oleh celananya yang pendek di bawah lutut.      Giva mendongak melihat ke langit yang hari ini nampak mendung. Tidak ada bintang walau satu pun. Dia menahan napas lalu berbaring di samping Gerry yang kelihatannya sedang tertidur dengan nyenyak. Dengan kegalauannya yang menyakitkan, mata Giva perlahan memanas. Dia pun menangis sekarang juga. Tanpa suara.      “Aku mau pulang....”   ***           Gerry membuka matanya dengan berat saat mendengar isakan yang memilukan di sampingnya. “Aku ingin pulang....”      Terdiam. Akhirnya Gerry memutuskan mendengarkan dengan seksama Giva yang sepertinya sedang begitu sedih dari balik sarungnya tanpa harus ketahuan. Dia menunggu lama tapi tidak mendengarkan apapun lagi.      Setelah menunggu 15 menit, Gerry akhirnya bangun terduduk. Membenahi sarungnya lalu menoleh ke sekitarnya di mana tadi terdengar suara Giva. Dia memandangnya. Giva nampak terlelap dengan sisa air matanya yang tumpah di pipi.      Dengan pelan, Gerry mengusap pipi Giva yang terasa lembut. Tangannya ia simpan di sisi tubuh Giva bagian kiri sedangkan dirinya berada di sebelah kanan. Setelah yakin benar Giva sudah tertidur, Gerry pun mengangkatnya. Membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang.      Tanpa bicara sama sekali, Gerry mengecup ujung bibir Giva dan terakhir mengecup keningnya. Dia beranjak lalu mengambil sesuatu dari lemarinya. Buku tabungan yang ia simpan dengan rapi diantara baju-bajunya. Gerry pun kembali ke bale. Duduk dan mulai membaca sisa saldo yang masih tersedia di buku tabungan itu.      Gerry mendesah. Uangnya hanya bersisa 2 jutaan. Ia bingung sekali. Uang itu tidak akan berguna lebih. Padahal dia harus memikirkan masalah pernikahannya dengan Giva, kandungan Giva, dan belum lagi masalah makan sehari-hari. Upahnya menjadi tukang angkut barang hanya cukup untuk makannya dan Giva sehari.      Ya ampun, kepalanya sangat berat sekarang! Bagaimana mungkin masalah keuangan bisa begitu memusingkan? Bahkan dulu dia tidak perlu memikirkan masalah uang meskipun telah menghabiskan 10 juta dalam sehari. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang?      Huft.... Ia merasa sangat frustasi.   ***   Bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD