Bab 6 Kuli Panggul

1723 Words
Bab 6 Kuli Panggul   Giva ke luar dari kamar dan menemukan Gerry yang lagi-lagi tertidur di bale depan rumah. Semalam mereka tidur terpisah. Giva di kamar sedangkan Gerry di bale.      Dengan niatan untuk mandi akhirnya Giva bergegas ke kamar mandi. Setelah mandi Giva kembali ke kamarnya dengan kepala yang pening. Dia habis mual-mual hebat saat menggosok gigi. Tidak biasanya dia seperti itu.      Gerry melirik Giva saat wanita itu berjalan kembali ke rumah. Dia terbangun saat mendengar suara orang muntah-muntah dari kamar mandi. Dia yakin itu suara Giva. Setelah Giva masuk kembali ke kamar akhirnya Gerry memutuskan untuk mandi. Dia sudah menyiapkan bajunya yang bersih dan memakainya di kamar mandi.      Setelah selesai mandi, Gerry masuk ke kamarnya dan menemukan Giva yang sedang menyentuh perutnya dengan kaos yang ia singkapkan. “Gi....”      Giva menurunkan kaosnya dan buru-buru menatap Gerry kesal. Tanpa berbicara. “Kenapa enggak ketok dulu?”      “Kamu tadi muntah-muntah?” Gerry tidak mempedulikan pertanyaan Giva sama sekali.      Giva terdiam, kepalanya hanya menatap Gerry kosong.      Diperlakukan seperti itu, Gerry akhirnya mendesah. Dia mendekati Giva dan duduk di sampingnya. Dengan memberanikan diri, dia akhirnya memegang perut Giva yang kini sedang mengandung buah hatinya.      Giva hendak menolak tapi Gerry bersikeras.      “Anak Ayah, jangan nakal ke Bunda ya! Kasihan Bunda harus mual-mual kayak tadi.”      “Saya enggak apa-apa, Ger,” protes Giva dengan tangan yang mulai menghadang Gerry. Pasalnya tangan Gerry sudah berani masuk ke dalam bajunya. Menyentuh langsung ke kulit perutnya yang lembut.      “Gi, dua hari kita diem-dieman apa kamu enggak merasa sedih sama hubungan kita? Aku nunggu kamu bicara, Gi! Bahkan saat aku telat ngasih kamu makan malam kamu sama sekali enggak protes. Please, Gi ... Bayi kita butuh perhatian kamu juga.”      “Ger, jangan!” Giva menahan tangan Gerry yang hendak mengangkat kaosnya. Lebih tepatnya melepaskan kaos itu.      “Kenapa? Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu mau muasin nafsu aku?” Nada suara Gerry terdengar kalap. Terkadang dia lelah dengan sikap Giva. Tidak apa-apa jika dia tidak mempedulikannya tapi dia mau jika Giva mempedulikan kandungannya.      “Jangan, Ger! Saya mohon! Jangan lakukan ini ke saya! Saya lagi hamil, Ger! Bayi kamu ada di sini. Jangan, Ger!”      Gerry melepaskan tangannya dari kaos Giva. Mengurungkan niatnya lalu entah mengapa dia pun memutuskan meninggalkan Giva di kamarnya.   ***        Gerry berjalan mencari sarapan pagi untuk Giva sendirian. Dia benar-benar khilaf hampir menyetubuhi Giva lagi. Jika saja dia tidak diingatkan tentang kondisi Giva yang sedang mengandung bayinya mungkin Gerry sudah melakukannya lagi.      Sepulang dari penjual nasi uduk, Gerry segera pulang. Dia melihat Giva yang nampak melamun di bale. Gerry terus melangkah dan memberikan bingkisan yang ia bawa. “Sarapan kamu, Gi.”      “Saya belum lapar!” tegas Giva, menolak.      Tangan Gerry segera kembali jatuh. Dia meninggalkan Giva yang sepertinya marah padanya. Berjalan menuju dapur lalu menyiapkan nasi uduk untuk Giva di atas piring, tak lupa Gerry juga menyiapkan air putih untuk minum Giva.      Langkah Gerry mantap. Dia duduk di samping Giva lalu meletakan gelas dan piring di sebelah tubuh Giva. “Makan ya, Gi?”      “Saya belum lapar.”      “Kita makan enggak harus karena lapar, Gi.”      Giva menoleh dan menggeram. “Apa hidup saya akan terus begini, Ger?”      “Gi, aku cuma mau kamu makan. Aku enggak mau kita debat terus menerus. Aku capek, Gi!” keluh Gerry, dia berharap Giva bisa megerti apa yang sedang dirasakannya, apa yang baru diucapkannya.      “Kalau begitu izinin saya pergi, Ger! Saya mau balik ke Jakarta buat melanjutkan kuliah saya. Saya cuma anak orang miskin yang sedang memperjuangkan diri saya dengan menuntut ilmu di kota besar. Apa kamu enggak kasihan ke saya, bapak saya, ibu saya? Mereka ngizinin saya merantau buat belajar bukan buat diginiin sama kamu, Ger!”      Gerry terdiam. “Terus kalau kamu balik, bayi kita gimana, Gi? Kamu mau gugurin?”      Giva balik terdiam. Dia suka anak-anak dan rasanya dia ingin menangis mendengar ucapan Gerry. Dia tidak akan pernah tega membunuh darah dagingnya sendiri. Bagaimana pun dia benci keadaannya sekarang, dia tidak tega membunuh buah hatinya sendiri.      “Saya mau makan, Ger.” Giva akhirnya bersuara.      Gerry tersenyum saat mulai melihat Giva yang mulai makan dengan lahap.   ***        Meskipun mereka masih diam dan tidak banyak bicara tapi Gerry diam-diam bersyukur karena sejak perdebatannya dengan Giva dua hari yang lalu berujung baik. Giva jadi lahap makan.      Hari ini Gerry memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan. Apapun pekerjaannya asal halal dia mau melakukan. Tekadnya sudah bulat.      Dengan pelan, Gerry mendekati Giva yang saat itu sedang sarapan sendirian di bale depan. “Gi....”      Giva berhenti makan dan mulai memperhatikan Gerry. Dia menatap Gerry aneh karena pakaian Gerry yang nampak rapi baru disetrika. “Kamu mau ke mana?” tanyanya pendek. Meskipun nada suaranya terdengar tidak acuh tapi Giva sejujurnya sangat penasaran.      “Aku mau ke luar sebentar. Kamu enggak apa-apa kan kalau aku tinggal. Habis dzuhur aku bakal balik bawain kamu makan siang.”      “Ger,” ujar Giva saat pria itu hendak ke luar melewati pintu depan berukiran khas Bali.      Gerry menoleh dan tanpa disangka Giva melambaikan tangannya. Meskipun awalnya terkejut tapi Gerry tersenyum dan Giva pun balas tersenyum padanya. Kelakuan Giva hari ini sangat lucu. Dia seperti tidak sadar sedang melambai sambil mengusapi perutnya. Bagaimana pun juga Gerry merasa tersentuh, dalam perjalanan dia terus meneruskan melantunkan doa itu.      Semoga Giva bisa mencintainya dengan kehadiran sang bayi dalam rahimnya sekarang. Semoga saja Giva mulai berhenti untuk mengungkit masa lalunya di pulau Jawa. Semoga Giva dan calon bayinya bisa betah tinggal di Bali meskipun hanya tinggal bertiga nanti, dengannya.   ***        Gerry tidak pernah mengira bekerja bisa begini melelahkannya. Tanpa membawa ijazah SMA akhirnya dia mendapatkan pekerjaan sebagai kuli barang di pasar tradisional di dekat rumahnya. Badannya sakit semua dan nampak tangannya yang dulu hanya terbiasa memegang setir mobil dan pena kini berubah merah karena harus memegang karung goni yang kasar. Dia permisi pada kuli barang lain yang kebanyakan bapak-bapak lalu mencari penjual nasi terdekat. Setelah mendapatkan dua nasi bungkus dan dua botol air mineral akhirnya Gerry beranjak pulang setengah berlari. Dia khawatir Giva akan kelaparan karena dia telat membawakan makan siang.      Sampai di depan rumah, Gerry tersenyum saat melihat Giva yang membuka mulutnya. Sedang memakan keripik kentang. “Hai....” Hanya itu yang mampu Gerry ucapkan. Giva menelengkan kepalanya lalu melihat bawaan Gerry.      “Kamu ke mana aja?” Giva bertanya ingin tahu.      Gerry tidak menjawab dan memilih bergerak masuk ke dalam rumah. Mengambil piring dari dapur lalu kembali menemui Giva yang nampak ngambek. Entah apa lagi kesalahannya? “Gi, ayo makan dulu!”      Giva menggeleng, dengan wajah masam dia bergerak masuk ke dalam rumah. Dia kesal karena Gerry tidak menjawab pertanyaannya.      Gerry mendesah lalu menyusul Giva. Padahal dia lapar sekali sekarang tapi harus bagaimana lagi. Dia tidak tega jika harus makan sedangkan Giva ngambek dan tidak ikut makan dengannya. “Kamu kenapa sih, Gi?”      “Diem!” ketus Giva.      Gerry kaget tapi tetap mengelus kepala Giva yang kini sedang berbaring di tempat tidur. “Makan yuk, Gi?”      “Saya enggak lapar!” jawabnya lagi. Masih ketus.      “Bayi kita lapar loh!” Gerry mencoba membujuk Giva. Kali ini dengan mengusap perutnya.      Giva bergerak gusar lalu menatap Gerry kesal. “Kamu harus nyuapin saya?”      “Baik, Komandan!” Gerry buru-buru menjawab. Dia bergerak mengambil nasi yang tadi masih berada di bale lalu mulai menyuapi Giva di kamar. Tanpa sendok sama sekali, Gerry menyuapi Giva dengan telaten.      “Ger, tangan kamu kenapa?” Giva bertanya khawatir saat merasakan tangan Gerry yang terasa makin kasar, berbeda dari biasanya.      “Kamu ada-ada aja. Ya gini doang tanganku, Gi. Cepet makan! Nanti bayi kita marah dan buat kamu mual-mual loh.”      “Lo kira gue sebego itu ya? Gue kan emang lagi hamil jadi morning sickness itu hal wajar. Bukan karena bayinya marah.”      “Hehehe,” Gerry tertawa lalu menyuapi Giva lagi. Perutnya mulai mulas kelaparan tapi Giva masih belum selesai makan juga. Dia bersabar sampai akhirnya Giva selesai. “Habis ini kamu tidur siang ya, Gi ... Aku mau pergi lagi habis makan nanti. Enggak apa-apa kan?”      Tanpa menunggu persetujuan Giva, Gerry beranjak ke luar dari kamar. Dia sudah sangat lapar dan tidak sabar untuk menyantap makanannya.      “Meong....” Gerry menggeram saat melihat kucing hitam memakan makanannya. Dia tidak jadi makan. Alhasil dia harus menahan perutnya. Dia kembali melihat uang yang diperolehnya. Sisa 5 ribu rupiah. Tidak ada lagi. Jika dia makan pun mungkin hanya dapat nasi dengan tahu dan tempe sebagai lauknya.      Dengan menahan lapar akhirnya Gerry memutuskan kembali bekerja tanpa harus makan siang. Seingatnya dulu, dia jarang makan baik-baik saja, tapi mengapa sekarang dia begitu kelaparan hanya karena tidak makan siang. Bahkan perutnya mulas-mulas.      “Gerry!” Sesampainya di pasar, Pak Wayan memanggilnya. Dia pedagang besar yang menawari Gerry pekerjaan tadi pagi. “Angkat barang lagi ya! Cepat!”      Gerry tanpa menjawab mulai mengangkuti barang lagi. Masih kalah jauh tenaganya dengan bapak-bapak yang lain. Bahkan beberapa kali Gerry hampir jatuh. Membuat Pak Wayan mau tak mau menggerutu padanya. “Hati-hati, Ger!”      “Iya, Poyan....”   ***        Sampai hati terasa ngilu saat Giva melihat sendiri Gerry yang kini mengangkuti barang-barang berat. Dengan langkah berat dia berbalik dan pulang dengan perasaan sedih. Gerry. Untuk apa pria itu melakukan semua itu? Giva tidak habis pikir. Dia menangis jika mengingat apa yang dilakukan Gerry. Pria itu benar-benar melakukan hal yang tidak pernah dipikirkannya? Menjadi kuli panggul? Gerry bahkan anak orang kaya dan selama ini selalu dilingkupi dengan fasilitas berlebih, dan yang Giva lihat sekarang adalah Gerry yang menjadi kuli panggul.      Gerry pulang ke rumah dengan perasaan senang meskipun perutnya masih belum tersembuhkan oleh makanan. Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 saat ia sampai.      “Gi, aku bawa makanan buat kamu nih!” Gerry berteriak senang. Tidak ada sahutan. Gerry mulai khawatir. Dirinya mulai kalang kabut dan melesat secepat kilat masuk ke dalam rumah. Meneriakan nama Giva. “Gi ... Giva, kamu di mana? Gi?”      “Ger, ngapain teriak-teriak kayak orang gila gitu?” Giva menyahut dari belakang tubuh Gerry. Dia habis dari kamar mandi untuk mandi.      “Aku kira kamu ninggalin aku sendirian, Gi.” Gerry buru-buru memeluk Giva. Belum sadar benar apa yang sedang dipakai Giva saat itu, hanya sarung yang biasa Gerry pakai untuk selimut saat tidur. Dia habis mandi dan lupa membawa baju bersih, dikiranya Gerry belum akan pulang hingga ia berani memakai sarung Gerry.      “Ger, aku mau pakai baju dulu.”      Mendengar pernyataan Giva, Gerry melepaskan pelukannya. Dia menatap Giva dari atas sampai bawah. Tubuh polos hanya berbalut sarung ... nya?      “Aku lagi hamil loh!” Giva balas mengingatkan Gerry.      Pria itu mengangguk sambil tertawa. “Aku cuma lagi lihat sarung yang kamu pakai sekarang!” bohongnya. Padahal Gerry sebagai lelaki tidak bisa bersikap normal. Matanya menatap tepat di d**a Giva yang nampak mencuat. Sarungnya basah dan membuat d**a Giva terekpos lebih.      “Ya udah cepet ke luar! Aku mau pakai baju dulu.” Akhirnya dengan terpaksa Gerry ke luar dan menyiapkan makanan setelah mengambil piring di dapur.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD