Bab 5 Kawin Lari

1623 Words
Bab 5 Kawin Lari   Gerry terdiam di teras rumahnya. Merasakan hawa dingin pada pagi hari itu yang begitu menusuknya. Saat ke luar dari rumah dia melihat jam yang baru menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Entah sekarang pukul berapa? Gerry tidak peduli bahkan hanya mampu berdiam diri. Kepalanya sangat pening tapi pikirannya kosong.      Setelah aksinya menuruti permintaan Giva di atas ranjang, dia benar-benar merasa gila. Tidak mampu berpikir.      “b**o, Giva bahkan lagi hamil sekarang!” Gerry memaki dirinya sendiri. Ingat bahwa dia sudah melakukan kesalahan dengan berpura-pura menuruti permintaan Giva. Mengikuti arah permainannya yang pastinya hanya akan menyakiti hati wanita yang sedang mengandung janinnya kini.      Setelah merasa kantuk kembali menyerangnya, Gerry memutuskan berbaring di lantai. Dengan selimut berupa sarung tipis dia pun nyenyak dalam tidurnya.   ***        Giva terbangun dan hanya mampu menangisi dirinya sendiri. Kemarin adalah hari yang melelahkan baginya. Beruntung pagi ini dia tidak menemukan Gerry berbaring di sampingnya setelah pergulatan panas itu.      Giva mendesah. Sabar, Gi! Berikan saja apa yang diinginkan Gerry. Dia cuma ingin tubuhmu saja. Setelah bosan dia akan membiarkanmu bebas.      Setelah menyemangati dirinya sendiri Giva beranjak mencari kamar mandi setelah memakai pakaian lengkapnya. Dia mencari ke dalam kamar dan di dalam rumah namun hasilnya naas. Akhirnya dengan terpaksa Giva mencari kamar mandi di luar rumah, namun bukannya menemukan kamar mandi Giva malah melihat Gerry yang sedang berbaring di emperan rumah menggunakan sarung di tubuhnya.      Meskipun awalnya kaget tapi Giva memilih beranjak dan terus mencari kamar mandi. Giva menemukan kamar mandi di luar, tepat di depan emperan rumah. Rumah yang mereka sewa terdapat pagar tembok yang mengelilinginya. Dengan terburu-buru Giva mandi dan mengganti pakaiannya. Dia benar-benar bingung ingin melakukan apa sekarang?      Hapenya? Giva masuk ke kamarnya dan mulai menggeledah tas ransel miliknya. Kali ini untuk mencari handphone-nya yang sudah seharian ia lupakan.      Tidak ada.       Tidak ada.       Tidak ada.       Ya ampun, mana hapenya? Apa tertinggal di tas kampusnya?      Giva kemudian ingat bahwa kemarin Gerry hanya mengambil dompetnya saja dari dalam tas kampusnya, dan hapenya … tentu saja tertinggal.      “Gi, kamu udah bangun?” Gerry bertanya sambil masuk ke dalam kamar. Dia terbangun karena mendengar langkah kaki yang terburu-buru. “Sedang cari apa, Gi?”      Giva tidak menjawab. Dia menggeleng sambil duduk di tempat tidur yang masih kelihatan berantakan.      “Gi, kita di Bali cuma berdua. Kamu jangan diemin aku terus ya?” pinta Gerry lagi. Suaranya lembut dan memelas. Entahlah, sejak kejadian itu dia rasanya sudah berbakat menjadi pria peminta-minta demi cintanya yang besar untuk Giva, sang pujaan hati. Dia bahkan sadar dengan mengajak Giva ke Bali, dia sama saja sudah memilihnya dan meninggalkan keluarganya yang kaya raya dan orang-orang yang sangat menyayanginya.      Giva menatap Gerry lalu bersuara pelan. “Hape saya apa ketinggalan?”      Gerry terdiam sebentar lalu mengangguk dengan cepat. Tidak perlu mengingat kuat karena memang dia sengaja tidak membawa handphone Giva. Meninggalkannya di dalam tasnya yang sering Giva pakai ke kampus dan lebih memilih mengambil dompetnya saja. “Nanti siang kita beli hape baru buat kamu, mau?”      Giva menggeleng cepat. “Nomer-nomer dan foto-foto kenangan saya sejak SMA ada di sana, Ger.”      “Gi....” Gerry menyentuh tangan Giva dengan lembut. Meskipun hanya satu sentuhan tapi Giva segera menepisnya dan sedikit menjauhi Gerry. Bayangannya kembali pada apa yang dilakukannya dan Gerry semalam di tempat tidur mereka.      “Kenapa harus seperti ini sih, Ger? Kenapa sejak putus kamu berubah semenyeramkan ini?”      Gerry terdiam mendengar pertanyaan Giva. Menyeramkan? Apakah dirinya menyeramkan hanya untuk mendapatkan Giva?      “Gi, andai kamu ngerti, aku sangat mencintai kamu. Itulah kenapa aku melakukan semua ini? Apa aku salah menginginkan kamu dan mengupayakan agar bisa mendapatkanmu apapun caranya?” tanya Gerry lugas.      Giva terhenyak. “Kamu salah, Ger! Kamu enggak cinta sama saya. Kamu hanya terlalu terobsesi pada saya dan membuat kamu malah menyakiti saya. Saya enggak mau seperti ini. Kalau kamu benar-benar cinta seharusnya kamu biarkan saya bahagia. Tapi kamu menyakiti saya. Dengan keadaan ini.”      “Saya mau mandi,” ujar Gerry cepat dan dingin. Dia beranjak dan mengambil pakaiannya yang bersih. Dia menuju kamar mandi. Meninggalkan Giva dengan kesendiriannya. Dengan kesakitannya. Karena keegoisan Gerry yang selalu menyakitinya dengan kedok cinta. Bullshit....   ***        “Ayo kita jalan!” Gerry baru saja mandi saat dia memutuskan mengajak Giva untuk jalan-jalan.      “Saya belum makan.”      Gerry mengangguk mengerti. Mereka berjalan ke jalanan dan berhenti di warung nasi pinggir jalan. Mereka duduk di kursi lalu Gerry memesan makanan.      Giva menerima sepiring nasi uduk dengan lauk pauk seadanya. Nampak kelaparan sekali. Gerry sampai melongo dan tersenyum sampai akhirnya melihat Giva selesai makan.      “Kenapa belum dimakan? Kamu enggak biasa ya makan di pinggir jalan kayak gini?” Giva bertanya setengah mengejek. Meskipun ucapan Giva benar tapi Gerry menggeleng.      “Aku seneng lihat kamu makan. Kamu mau nambah?” Meskipun obrolan mereka nampak kaku tapi Gerry harap semua akan mencair dengan berlalunya waktu seiring kebersamaan mereka. Gerry mendorong piring sarapannya dengan tulus di hadapan Giva.      Giva menggeleng, antara malu dan tidak mau menerima bantuan Gerry. “Saya sudah kenyang.”      “Ayo, Gi! Aku tahu kamu masih lapar, jadi makan saja! Lagian aku belum lapar juga,” tutur Gerry hingga akhirnya Giva menerimanya. Gerry lagi-lagi hanya mampu tersenyum melihat Giva yang perlahan makan. “Kayaknya selera makan kamu udah balik lagi. Apa mungkin bawaan bayi kita ya, Gi?”      Giva mendelik menatap Gerry. Mengapa dia mengingatkan tentang kehamilannya lagi? Tahu suasana hati Giva yang tiba-tiba memburuk akhirnya Gerry pura-pura batuk lalu beranjak dari duduknya. “Aku mau pesen kopi dulu ya.”   ***        “Gi, habis ini kita ke supermarket dulu ya? Nyari barang-barang buat di rumah,” ujar Gerry setelah Giva selesai membeli handphone baru. Ponselnya memang tidak terlalu mahal, hanya mid-end tapi dengan kondisi keuangannya yang mulai memprihatinkan, Gerry sudah berpikir bahwa sepertinya ia harus cepat-cepat mencari pekerjaan.      Sesampainya di supermarket, Gerry dan Giva sudah seperti pasangan muda. Mereka berdiri berdampingan sambil membawa troli yang hampir penuh.      “Pasta gigi sama sikat gigi ada, sabun mandi ada, sabun baju sama sabun piring ada. Kamu mau beli sesuatu, Gi?”      Giva berpikir kemudian matanya mencari sesuatu. Ketika menemukannya Giva berjalan mendahului Gerry yang pasrah mengikutinya menuju rak pembalut wanita. Gerry mengernyit melihat Giva. “Gi....”      “Kenapa? Kamu malu kalau saya beli pembalut?”      Gerry menggeleng. Giva benar-benar masih polos. “Bukan gitu, Gi. Tapi wanita hamil ... enggak akan datang bulan sampai melahirkan, Gi.”      Giva terdiam. Menatap Gerry yang mampak serius. Dia meletakan kembali barang yang biasanya ia beli setiap bulan lalu melangkah lagi. Kali ini menuju rak s**u. Gerry yang hanya memperhatikan tersenyum. Giva sedang memilih s**u untuk ibu hamil.      “Kenapa?” Gerry bertanya saat Giva tidak kunjung selesai memilih s**u untuknya.      Giva membalik badannya lalu menatap Gerry bingung. “Saya enggak ngerti cara milih s**u kayak gini, Ger.”      “Kita beli susunya nanti aja ya, Gi. Kita tanya dokter aja nanti.”      “Kita emangnya mau periksa lagi?” tanya Giva terdengar ketakutan.      “Gi, kamu enggak apa-apa?”      Giva menggeleng jujur, “Saya masih belum bisa terima kalau saya hamil, Ger. Usia saya masih 19 tahun.”      “Aku mau tanggung jawab, Gi. Aku mau nikahin kamu. Aku mohon terima permintaanku ini!” Gerry menggengam tangan Giva. Untuk pertama kalinya dia berpikir untuk menikahi Giva dan membuat gadis yang berada dekat dengannya itu merasa nyaman dan aman. “Gi, kamu mau kan menikah denganku?”      “Apa saya bisa nolak dengan keadaan saya sekarang?” Giva bertanya sambil menggeleng, “Saya bahkan sudah hamil bayi kamu, Ger.”      “Maaf, Gi.” Hanya itu yang mampu ke luar dari mulut Gerry. Gerry memeluk Giva dengan erat lalu mengajaknya berlalu pergi dari sana karena tidak enak dengan tatapan orang di sekitarnya.      “Saya mau biskuit,” ungkap Giva saat mereka hampir sampai di kasir. Dengan sabar Gerry berbalik sambil membawa troli mereka lagi. Menuju rak yang isinya biskuit dan wafer.      Giva mengambil biskuit coklat dua bungkus lalu mengambil beberapa wafer juga.      “Sudah?” Gerry bertanya saat Giva menyimpan biskuit dan wafer yang diambilnya tadi ke dalam troli belanja. “Mumpung di sini kamu bids ambil apa aja yang kamu mau.”      “Kita di sini cuma buat liburan kan, Ger? Kayaknya segitu udah cukup.”      Gerry mematung. Giva masih belum mengerti keputusannya untuk pindah ke Bali. Dia terdiam lalu tersenyum kepada Giva yang mengambil lagi makanan ringan. Lumayan banyak tapi dia yakin masih mampu membayar dengan sisa tabungannya.      Setelah mereka membayar belanjaannya di kasir, Giva tidak bisa menahan tawanya saat melihat Gerry yang kesusahan membawa plastik belanjaan. Yang ditertawakan malah merasa bingung. “Kamu ngetawain apa sih, Gi?”      Giva menggeleng. “Siapa yang ketawa? Aku tadi enggak ketawa tuh. Justru aku lagi nahan tawa,” balas Giva.      “Maksud aku itu,” protes Gerry lembut.      Giva mendengus lalu melangkahkan kakinya menjauhi Gerry yang sedang repot. Mereka berdiri bersama di pinggir jalan lalu saling menatap. “Kalau naik angkot, kamu keberatan enggak?” tanya Gerry. Dia khawatir sekali Giva tidak nyaman jika harus naik angkot. Apa boleh buat demi menghemat uang yang masih tersisa.      “Kenapa enggak naik taksi aja?” Giva balas bertanya. Akhirnya Gerry menghentikan taksi. Dia memasukan belanjaannya ke dalam bagasi lalu duduk di samping Giva yang sudah menunggu. Mereka sampai di depan rumah sewaan kecil itu 20 menit kemudian. Lumayan lama karena ada insiden kecelakaan di jalan tadi.      Pulang ke rumah, Giva segera memainkan ponselnya yang baru. Lumayan juga. Pengusir kejenuhan. Dia menghampiri Gerry yang sedang duduk di bale. “Ger, saya pinjem hape kamu? Mau minta nomernya Tania?”      Gerry nampak kalang kabut. Dia menggeleng lalu membuat alasan sebisa mungkin. “Hape saya ke format, Gi. Sorry.”      “Terus saya gimana menghubungi yang lainnya, Ger? Kita mau sampai kapan di sini? Kalau saya di DO gimana?”      Gerry terdiam lalu memalingkan wajahnya. Dia akan menjelaskannya dengan singkat pada Giva. “Gi, aku bawa kamu ke sini karena aku mau hidup bersama kamu dan bayi kita. Aku mau mandiri dan bertanggungjawab atas kesalahan aku ke kamu. Tanpa hinaan dari orang-orang yang kenal kita. Kita enggak akan balik ke Jakarta untuk waktu dekat ini.”      Giva menahan napasnya mendengarkan penjelasan menyakitkan dari Gerry. “Kamu jahat banget, Ger. Kamu maksa saya kawin lari kalau begini caranya.”      “Terserah kamu mau mikirnya apa? Tapi, aku lakuin semua ini demi kamu juga, Gi.”      “Saya benci kamu, Gerry!”      Plak! Dan bagi itu merupakan tamparan yang manis.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD