Bab 18 Ngidam Siomay

1506 Words
Bab 18 Ngidam Siomay   Sejak kejadian di bale sore tadi, Giva selalu menatap Gerry diam-diam. Tiap Gerry meliriknya, Giva segera berpaling. Tapi jika ia berpaling Giva dengan sengaja menatapnya begitu lekat. Dari ciri-cirinya saja Gerry semakin yakin bahwa Giva kini sudah mulai mencintainya. Tidak diragukan lagi, dari matanya saja ia seolah mengatakan hal itu. Dan dari gelagatnya, semua terlihat sangat jelas. Gerry benar-benar percaya sekarang bahwa Giva mencintainya. Sama seperti dirinya.      “Gi....” Gerry hendak menegur. Saat Giva menoleh ke arahnya dengan tatapan mata canggung, Gerry melanjutkan bicaranya. “Dimakan?”      “Oh iya.” Giva tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum tipis. Beberapa detik selanjutnya Giva memakan nasi goreng yang menjadi makan malamnya hari ini. Baru beberapa sendok, Giva merasakan perutnya bergejolak ingin sesuatu yang lain. Dia menatap Gerry yang disaat bersamaan balas menatapnya.      “Kenapa, Gi? Enggak enak ya nasi gorengnya? Kamu mau makan yang lain?”      Giva menggeleng kecil. Jujurnya dia kasihan dengan Gerry jika harus meminta makanan lain. Tapi dia ingin sekali siomay khas Bandung, sudah lama dia tidak memakan siomay kesukaannya itu.      “Gi, kamu mau sesuatu?” Gerry lagi-lagi bertanya, dia benar-benar yakin bahwa gelagat Giva bukan karena canggung tapi karena menginginkan sesuatu. Sudah sekali dia ngidam, dan Gerry yakin Giva kini ngidam sesuatu makanan lagi.      “Enggak kok, Ger. Oh ya masakan kamu enak. Kamu kayaknya ada bakat jadi chef deh.”      “Makasih,” Gerry mengangguk. “Kamu kalau ngidam jangan diam-diam ya? Kasihan Dede kalau ileran nantinya. Kan enggak lucu kalau ayahnya ganteng, bundanya cantik tapi Dede malah ileran. Kasihan kan nanti Dede?”      “Iya, iya. Aku pasti bilang kok, tapi Ger....” Gerry menatap Giva yang sedang menatapnya dengan perkataan yang menggantung. “Kamu ada uangnya?”      “Jadi kamu mengkhawatirkan keuangan kita lagi? Gi, aku punya uang, kamu tenang aja, Sayang. Kamu minta apa sebenarnya? Jujur sama aku!”      Giva menjauhkan nasi goreng buatan Gerry lalu meminum air putih yang tersedia digelas yang berada di atas meja. “Aku mau siomay, tapi yang khas Bandung, Ger. Yang kayak siomaynya Mang Agus di depan kampus.”      “Oh cuma siomay toh. Kamu tuh ya,” Gerry bangkit lalu mengacak rambut Giva dengan gemas. “Aku cariin bentar ya. Kalau enggak salah ada deh pedagang siomay di dekat pasar. Aku jalan dulu ya.”      “Hati-hati, Ger!” Giva melambaikan tangannya sambil menatap kepergian Gerry.   ***        Sudah pukul 21.30 tapi Gerry masih belum menemukan pedagang siomay khas Bandung yang dicarinya. Awalnya dia memang pergi ke pasar mencari Mang Sulam yang biasanya jualan siomay di sana tapi ternyata ia sudah pulang. Akhirnya ia berputar, mencari sepanjang jalan dengan berandalkan kaki yang berselimutkan sendal karet murahan. Ia berharap bisa menemukan pedagang siomay khas Bandung yang diinginkan Giva.      Sepertinya dewi keberuntungan tidak berpihak dengannya sejak tadi, pasalnya yang terlihat di matanya adalah pedagang bakso, mie ayam, sate, dan makanan lainnya. Sama sekali tidak ada pendagang siomay.      Gerry akhirnya berhenti untuk membeli air mineral di pedagang ecer di pinggir jalan. Sambil membayar, Gerry menyempatkan untuk bertanya pada pedagang tersebut. “Bu, di sekitar sini ada yang jual siomay khas Bandung enggak ya? Saya dari tadi udah coba mencari tapi belum ketemu juga.”      “Cari siomay, Mas? Wah kalau malam-malam jam segini biasanya sudah pada pulang. Biasanya setiap pagi sampai sore di depan warung ini juga ada yang jual siomay khas Bandung, maklum Pak Karim orang Bandung jadi jualannya yang khas Bandung.”      “Iya, Mas. Pak Karim biasanya mangkal di depan toko ini.” Seorang bapak berjenggot putih dan menggunakan peci ikutan bicara sambil terus melayani seorang pembeli di depannya. “Dia nikah sama keponakan saya, Ajeng, terus menetap di Bali. Memang kenapa cari-cari siomay, Mas? Di sini ada bakso, mie ayam, atau Bapak bisa buatin mie rebus atau mie goreng.”      “Oh makasih, Pak. Saya nyarinya siomay. Buat istri saya yang lagi ngidam. Kasihan kalau enggak diturutin.” Gerry tertawa kecil sambil tersenyum. Membuat kedua pasang suami istri pedagang di depannya itu balas tersenyum.      “Wah bisa gawat kalau enggak dapat ya, Bu. Bu, panggilin Adit saja suruh anterin Mas ini ke rumahnya Ajeng, mereka pasti masih ada sisa siomay di rumah.” Bapak berjenggot putih itu memberikan intruksi pada istrinya. Beberapa saat kemudian, istrinya sudah masuk ke dalam rumah. Memanggilkan Adit, anak bungsunya yang masih kelas 3 SD.      “Pak, maaf saya jadi merepotkan. Saya kan numpang tanya saja.”      “Enggak apa-apa, Mas. Dulu Ibu juga pernah ngidam, saya susah payah cari buah rambutan padahal lagi enggak musim, untung saja ada yang bantu. Alhamdulillah kesampaian. Lagipula kita sesama manusia harus saling tolong menolong.” Bapak itu tersenyum lebar. Membuat perasaan Gerry tenang dan ikut merasa tentram. “Itu Aditnya datang.”      “Kenapa, Pak?” tanya Adit sesampainya di dekat ayahnya.      “Anterin Om tuh ke rumahnya Guntur. Ingetkan rumahnya Oom Karim?”      “Ya inget lah, Pak. Tadi siang kan baru main ke rumah Guntur buat ngerjain PR bareng,” jawab Adit malas-malas. Anak bertubuh gempal itu berjalan menghampiri Gerry lalu berbicara padanya. “Yuk, Om! Rumahnya jauh loh!”      “Eh sabar dong, Dek. Pak, Bu, makasih! Maaf merepotkan,” ujar Gerry sambil berlalu pergi. Benar saja, Adit segera membawanya memasuki gang kecil dan berkelok-kelok. Meskipun badan Adit gempal dan berisi tapi lajunya sangat cepat. Gerry sampai ngos-ngosan karena mengikuti Adit di depannya.      “Om jalannya cepet dong! Adit tinggal nih!”      “Sabar dong, Dit! Kaki Om kan cuma dua,” ujar Gerry sambil mendesah panjang.      “Sama, Om. Kaki Adit juga dua, tapi jalannya enggak kayak Om. Enggak bagus, Om, jalan lama kayak gitu tuh. Kalau kata Bang Ringgo sih namanya buang-buang waktu. Ingat Om, time is money!”      Gerry tersenyum mendengar ucapan Adit. Lucu saja mendengar anak itu mengatakan hal seperti itu. Dikiranya mereka sedang bekerja apa? “Masih jauh enggak, Dit?”      “Enggak, Om. Itu di depan yang ada pagar warna kuning, itu rumah Guntur, Om.” Benar saja, sesampainya di depan rumah Guntur, Gerry bisa melihat gerobak siomay bertuliskan siomay khas Bandung. “Ayo, Om! Assalamualaikum, Guntur, Om Karim!”      Tok … tok ... tok....      Beberapa menit kemudian seorang laki-laki paruh baya menggunakan sarung ke luar dari dalam rumah. Membukakan pintu dan tersenyum ke arah Adit dan Gerry. “Wa’alaikum salam. Loh Adit sama....”      “Gerry, Pak!” Gerry mengulurkan tangannya ke depan kemudian menyalami Pak Karim.      “Oh, ada apa ya Mas Gerry?” Pak Karim terlihat bingung. Dia sama sekali belum pernah melihat Gerry sebelumnya. “Kayaknya Bapak belum pernah melihat Mas Gerry sebelumnya?”      “Oh iya, Pak.”      “Om Gerry cari siomay, Om. Buat istrinya,” Adit memotong ucapan Gerry dan menatap Om Karim dari tempatnya duduk. Gerry bahkan baru sadar kalau Adit sedang duduk di salah satu kursi di depan rumah itu.      “Iya, Pak. Tadi saya tanya ke Bapaknya Adit tanyain siomay dan beliau bilang Bapak jualan dan nyuruh Adit nganterin saya ke sini.”      Pak Karim mengangguk mengerti. “Ya sudah Bapak ambilkan dulu ya. Kayaknya di dalam rumah masih ada siomay sisa dagangan hari ini. Mas Gerry, silahkan duduk dulu di kursi! Maaf ya, Mas. Di dalam rumah masih berantakan.”      “Oh iya, Pak.” Gerry akhirnya duduk di kursi, tepat di samping Adit. Dia menatap keadaan rumah dan merasa prihatin, rumah Pak Karim sangat kecil bahkan cat temboknya sudah mengelupas.      “Om kayak bukan orang Bali?” Adit tiba-tiba bertanya.      “Om dari Jakarta, Dit. Kamu juga kayak bukan orang Bali,” ujar Gerry balik dan Adit tersenyum lebar.      “Adit lahir di Kintamani, Om. Bapak soalnya dari sana yang terus nikah sama Ibu yang dari Bandung. Jadilah Adit.”      “Kamu ada-ada aja, Dit. Kamu punya kakak enggak?”      “Ada, namanya Bang Ringgo, Om.”      “Abangnya sekolah kelas berapa, Dit?” tanya Gerry lagi.      “Bang Ringgo kelas 3 SMP, Om. Pacarnya Bang Ringgo tuh banyak banget, Om, padahal enggak ganteng-ganteng banget orangnya. Gantengan juga Adit.”      “Masa sih?” Gerry ingin tertawa karena mendengar sikap kegeeran anak kecil yang duduk di sampingnya. “Emang Adit banyak yang naksir?”      “Kalau Adit sih sukanya sama Ayu, Om. Anaknya cantik, pinter, tapi....” Gerry terlihat penasaran. “Ayu enggak suka sama Adit, Om. Katanya Adit gendut,” lanjutnya.      “Dit,” seru seorang anak dengan suara cemprengnya. Saat Gerry dan Adit menoleh, anak Pak Karim lah yang menghampiri mereka. “Sama siapa, Dit?”      “Namanya Om Gerry, Tur.”      “Guntur, anaknya Pak Karim ya?”      Guntur terlihat malu-malu. Ia mengangguk sambil berdiri dengan kaki yang terus bergerak-gerak.      “Mas Gerry, maaf lama ya?” Pak Karim ke luar dari dalam rumah. Ia menyodorkan sekantong plastik hitam berukuran kecil kepada Gerry. “Nih siomaynya udah Bapak siapin.”      “Makasih, Pak. Maaf merepotkan ya, Pak, malam-malam begini menganggu. Jadi berapa, Pak?” Gerry sudah bersiap-siap untuk membayar, memasukan tangannya ke dalam saku dan memegang uang.      “Enggak perlu, Mas. Anggap saja rezeki si jabang bayi, Mas Gerry.”      “Saya enggak enakan, Pak. Terima ya?” Gerry sudah mengambil uang kertas hijaunya lalu menyodorkannya pada Pak Karim.      Beliau tetap menggeleng sambil tersenyum simpul. “Bapak ikhlas, Mas.”      “Makasih, Pak, kalau begitu.” Gerry tertawa kecil. “Kalau begitu saya permisi, Pak. Pasti istri saya sudah lama menunggu.”      “Ya, Mas. Salam untuk istrinya ya? Memangnya sudah dapat berapa bulan hamilnya?”      “Baru 3 bulanan, Pak. Tapi istri saya udah ngidam dua kali,” ujar Gerry sambil terus melangkah. “Kalau begitu saya permisi, Pak! Wassalamualaikum.”      “Wa’alaikum salam.” Pak Karim terus menatap kepergian Gerry dan Adit. Saat sampai di depan warung untuk mengantarkan Adit, Gerry pun segera pamit setelah mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia memberikan jajan kepada Adit yang sudah mengantarkannya ke rumah Pak Karim, dia bahkan menitipkan uang jajan kepada Guntur, anak Pak Karim kepada Adit. Biar nanti Adit yang memberikannya jika mereka bertemu di sekolah.   ***   Bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD