Bab 15
Kamu Nguping?
Suasana malam hari begitu dingin saat musim hujan. Pria itu nampak pendiam malam ini. Sejak makan malam bersama istrinya, Gerry melamun di depan bale. Dia kali ini memikirkan Yuna. Wanita yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu ternyata menyimpan rasa suka padanya. Dia merasa tidak enak hati, apalagi setelah apa yang dia lakukan siang tadi. Saat dia mengatakan sejujurnya apa yang dia lakukan untuk mendapatkan Giva, wanita yang ia cintai bahkan nyaris melewati batas kewarasannya.
Hampir sama dengan Gerry, Giva yang masih kesal dengan suaminya karena sikap pencemburunya yang meningkat hanya karena nama Wira disebut kemarin itu kini juga jadi pendiam. Giva bahkan tidak mempedulikan Gerry. Dia lebih memilih ke kamarnya dan memainkan ponselnya.
Malam makin malam dan Gerry baru masuk ke dalam kamar ketika jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Dia masuk karena sudah mengantuk dan bosan di bale. Saat sampai di depan kamar, Gerry berbaring di samping Giva. Giva sudah tertidur di sampingnya.
“Mimpi indah ya, Gi!” ujar Gerry lalu mencium pipi Giva sebelum akhirnya dia ikut tertidur di sampingnya.
Pagi harinya Gerry bangun lebih dulu daripada Giva. Dia mandi dan mencari sarapan untuk Giva di tempat biasa lalu menyandingkannya di ruang tamu karena di luar sedang hujan lebat. Untung saja pedagang nasi di pinggir jalan itu tidak tutup jadi Gerry tidak perlu merasa kebingungan untuk sarapan Giva hari ini.
“Udah bangun, Gi?” Gerry bertanya saat Giva ke luar dari kamar dalam keadaan yang lebih segar. Kelihatannya dia sudah mandi.
“Kamu dari mana, Ger? Cari sarapan ya?” Giva melihat piring-piring di meja sudah berisi makanan lagi. Padahal dia masih kenyang karena semalam tapi kalau tidak makan Gerry pasti mengajaknya bertengkar. Jadi dengan pelan Giva memaksa dirinya untuk makan.
Gerry menatapnya sebentar kemudian ikut makan bersama Giva. “Kalau udah rada siang kita ke supermarket yuk, Gi! Cari barang buat bulanan. Barang-barang udah pada habis, kan?”
“Iya. Sabun-sabun udah pada habis. Kamu hari ini enggak ngantor?”
“Enggak,” Gerry menggeleng, “Makanya hari ini aku mau ngajak kamu jalan. Tapi enggak masalah kan, Gi, kalau hujan-hujan gini kita jalan. Besok aku sudah harus kerja lagi soalnya.”
“Enggak masalah sih,” ujar Giva singkat. Dia mendadak ingat bahwa hari ini ada janji dengan Winda. Jadi, setelah makanan yang dimakannya habis Giva pun beranjak.
“Minum dulu, Gi!” ingat Gerry lembut. Meskipun sambil mendengus, Giva tetap menurut. Dia mengambil gelas dan minum sambil berdiri. “Duduk, Gi!”
“Iya, iya....” Giva duduk dan cepat-cepat bangun lagi. Kembali ke kamar dan mencari ponselnya untuk menghubungi Winda.
“Halo, Win.” Giva menyapa duluan.
“Kenapa, Gi?” balas Winda pelan.
“Hari ini aku enggak bisa ikut ke sanggar. Maaf ya, tolong sampain juga ke Mas Wira, maaf kalau aku enggak bisa nepatin janji buat jalan bareng kalian.”
“Oke, Gi! Nanti saya sampaikan ke Wira. Kalau boleh tahu kenapa kamu tiba-tiba batalin?”
“Suamiku lagi ada di rumah, Win. Jadi kita mau pergi, kalau aku tolak juga kan enggak mungkin.”
“Ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa. Menuruti suami lebih baik. Kita bisa pergi kapan-kapan.”
“Makasih, Win. Sudah dulu ya,” Giva mematikan panggilannya lalu berbalik. Dia menahan napasnya karena melihat Gerry yang sudah seperti satpam. Berdiri dengan tangan dilipat. Matanya tajam dan menusuk ke arah Giva.
“Teleponan sama siapa?” Gerry bertanya. Dia sudah menguping sejak pertama kali Giva menelpon Winda.
“Winda, Ger. Kamu kenapa sih? Kamu nguping pembicaraanku tadi kan? Enggak sopan!”
“Aku enggak sopan? Kamu tuh apa-apaan sih? Aku tuh suami kamu, enggak ada kata nguping dalam pernikahan ya. Jelas aku mau tahu apa yang kamu lakuin di belakang aku!”
“Aku enggak ngelakuin apa pun. Kamu aja yang parno. Kamu takutin apa sih dari aku?” Giva balik bertanya dengan kesal.
“Aku enggak takutin apa-apa. Aku cuma enggak suka kamu berhubungan sama Winda atau cowok itu yang namanya ... Wira siapalah itu.”
“Aku kan cuma berteman masa begitu aja enggak boleh sih, Ger.” Giva kesal bukan main. Menghadapi Gerry seperti menghadapi orang tua yang super kolot.
“Bukannya enggak boleh, Gi. Tapi kamu ingat dong, kamu ini istriku. Seharusnya kamu menjaga pergaulan kamu. Kamu itu harusnya enggak bergaul lagi dengan orang-orang yang enggak aku kehendaki.”
“Enggak kamu kehendaki?” Giva menggeram. Ketakutannya dulu rasanya menjadi kenyataan. Kini Gerry lebih gila lagi. Bisa-bisanya dia mencoba membatasi pergaulannya.
“Iya. Pokoknya aku enggak suka kamu dekat-dekat Wira. Kamu boleh dekat dengan Winda tapi enggak dengan Wira. Pokoknya jangan dekat-dekat sama laki-laki itu. Aku enggak suka.”
“Kalau aku mau deket dia gimana? Terserahku dong mau bergaul sama siapa? Meskipun aku istri kamu, kamu enggak boleh giniin aku seperti ini. Kamu sama saja udah merebut Hak Asasi Manusia yang sudah aku miliki. Ini i-le-gal, tahu enggak?”
Gerry berpikir sebentar lalu tertawa sebal. “Ilegal apanya? Aku enggak jual kamu ke seseorang. Aku cuma enggak suka kamu dekat lelaki lain. Kamu kok enggak ngerti-ngerti juga sih, Gi!”
“Bukan aku yang enggak ngerti-ngerti tapi kamu tuh yang kolot banget. Aku enggak suka diginiin. Kamu bikin kesal aku tahu enggak. Aku bisa stres kalau gini caranya. Kamu inget kan apa kata dokter, aku enggak boleh stres.”
Gerry menahan dirinya. Dia mengangkat kedua tangannya lalu kembali ke luar. “Dasar keras kepala, susah banget dikasih tahu! Enggak ngerti banget sih apa yang aku bilang? Aku kan enggak mau dia deket cowok lain!” gerutu Gerry. “Aduh!” Dia mengaduh karena kakinya terantuk kursi. Dia kembali duduk dan mulai penasaran mengenai cowok yang bernama Wira itu.
Pokoknya gue harus tahu mana cowok bernama Wira itu. Gara-gara dia gue sama Giva berantem terus.
***
bersambung>>>