“Nanti balik jam berapa, Ren?” “Kayak biasa.” “Gue jemput, ya.” “Nggak usah!” Pria berkaca mata cokelat itu menoleh sekilas, melihat wanita berkemeja pink yang duduk menyerong ke arah pintu. Kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram kemudi dengan kuat. Dia masih ingat kejadian semalam, saat Rensha tiba-tiba mengomelinya. Sejak semalam Verza mencoba berpikir apa yang terjadi dengan wanita itu. Tidak biasanya Rensha marah-marah seperti semalam. Verza merasa tidak sepenuhnya bersalah, menurutnya ini bisa dibicarakan baik-baik daripada bentak-bentak seperti kemarin. “Ngambek?” tanya Verza membuat Rensha menoleh. “Kecewa.” “Sama.” Rensha memberenggut. Dia kembali menatap depan dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Sampai detik ini dia masih kecewa. Sayangnya dia berhadapan dengan

