Di Medan tempur utama, “Illion,” panggil Frost, saudara jauh Son yang bergabung dalam pasukan bantuan. Dia mensejajari kuda Illion, berdiri pada posisi terdepan. Illion hanya menoleh sebentar, kemudian fokus lagi ke depan. “Ayah,” panggil Frost lagi, kali ini lebih serius. “Aku tidak bisa menemukan keberadaan Angkasa maupun Son,” tukasnya dengan mata yang masih fokus memindai medan tempur di depannya. Illion memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang sekali, lalu kembali membuka matanya dengan yakin. “Pergi dan lindungi mereka, Dan pastikan mereka tetap hidup,” perintah Illion. Frost mendengus malas, terpaksa mengiyakan perintah ayahnya. sebab saat ini bukan waktu baginya untuk menyarungkan pedang. tak ada jawaban verbal, Frost menarik tali kudanya lalu memacunya maju. Illion

