4. Makan malam

1235 Words
Akira kembali ke rumah dengan wajah sedih, sebuah kabar yang sangat mengejutkan datang dari sahabat terbaiknya. Dan ia pun tidak bisa mengatakan pada siapapun mengenai hal itu. Akira masuk ke dalam rumah tanpa bersuara, dan langsung menuju lantai dua kamarnya. Kristi melihat anaknya yang tidak bersemangat masuk ke dalam kamar, dengan perasaan khawatir … Kristi menemui Akira dan menyuruh asisten rumah melanjutkan kegiatannya di dapur. “Kira, kamu kenapa?” tanya Kristi. “Ma, Kira gapapa kok.” “Kamu jangan bohong, ada apa?” “Temen Kira … dia sakit, Ma. Kira nggak bisa apa-apa buat bantu dia,” ujar Akira. “Ra, kamu kan bisa bantu kasih semangat ke dia. Jangan loyo gini ah! Bentar lagi Noel sama keluarganya dateng loh!” “Iya, Ma.” “Mandi terus dandan yang cantik.” “Iya.” Setelah pergi dari kamar anaknya,Kristi kembali melanjutkan kegiatannya untuk menghidangkan makanan di atas meja makan. Setelah semua selesai, Kristi kini masuk ke dalam kamarnya sendiri dan bersiap. Sementara Akira sudah mengenakan gaun berwarna putih ia menggerai rambut panjangnya, dengan hiasan mahkota kecil. Di pergelangan tangan Akira ada sebuah gelang berwarna rose gold, dan sebuah jam tangan yang melingkar. Penampilan yang sangat sempurna, hingga di saat Akira turun dari lantai dua, pandangan mata Noel tidak terlepas dari gadis itu. “Malam, Om, Tante,” sapa Akira. “Aku gak di sapa, Ra?” sahut Noel. “Owh, ada Noel juga ternyata, kirain tadi adiknya,” timpal Akira sembari menyembunyikan senyumnya. “Kalian ini memang pasangan yang sudah cocok sejak masih SMA, jadi gak sia-sia kalian sekarang bisa bersama,” sahut Ibu dari Noel. “Mari semuanya, kita langsung aja ke meja makan. Maaf hidangannya rumahan, tapi di masak dengan penuh cinta,” ujar Kristi memuji masakannya. Semua orang di sana tersenyum, dan mereka mengambil kursi lalu duduk. Ada banyak pembahasan dalam acara itu selain makan malam. Mereka juga merencanakan pernikahan Noel dan Akira yang harus segera terlaksanakan dalam beberapa waktu ke depan. Tanpa Akira tahu, Noel dan keluarganya sudah mempersiapkan pernikahan itu. Sehingga Akira dan Noel hanya perlu mempersiapkan tanggal dan waktu yang tepat saja untuk melakukan pemberkatan. Setelah kegiatan makan selesai, para orang tua duduk di ruang tamu dan membicarakan banyak hal di sana. Sedangkan Noel dan Akira ada di balkon yang ada di lantai dua rumah itu. Mereka manikmati hembusan angin dan juga minuman hangat. “Gimana kabar Yara?” tanya Noel tiba-tiba. “Baik, tadi nggak bisa lama-lama, Yara ada perlu,” ujar Akira. “Kamu cerita ke dia kalo kita bakal nikah?” tanya Noel lagi. “Iya, dia ikutan seneng, tapi … hubungan Yara sama Gala lagi nggak baik ya?” tanya Akira, balik. “Aku dengar sih … Gala mau tunangan, cuman pastinya kapan belum ada kabar lagi,” jawab Noel. Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya orang tua Noel mengajak anaknya untuk kembali ke rumah mereka. Hari semakin malam, dan Noel merengek seperti anak kecil karena tidak ingin pulang. “Jangan kayak anak bayi kamu! Kita pulang sekarang! Besok ada banyak kerjaan di kantor Papa,” omel Monica, ibu Noel. Setelah kepergian keluarga Noel, Akira membantu Kristi untuk membersihkan meja makan dan ruang tamu. “Ra, kamu ganti baju dulu aja, sisanya biar Mama sama Bibi yang beresin,” ujar Kristi. “Oke.” Langkah kaki Akira menaiki anak tangga hingga sampai lagi di dalam kamarnya, dan baru saja ia selesai mengganti pakaian. Ponselnya berdering dan menampilkan nama Noel di sana. “Iya, Noel. Ada apa?” tanya Akira. “Duh … merdunya suara calon bini,” ujar Noel dari seberang. “Hmm, mulai … kamu belajar jadi buaya sama siapa sih?” “Buset dah! Buaya? Alligator kali, Ra.” “Nah kan, lebih parah ternyata.” “Besok kamu ada acara apa?” tanya Noel. “Hum, belum tahu, kayaknya Cuma cek ke perusahaan cabang aja.” “Ya udah, aku temenin ya?” “Nggak perlu, kamu pasti ada kerjaan juga kan.” “Tapi aku mau temenin kamu.” “Nanti Om Harry telepon aku, tanya di mana anaknya yang suka ilang itu, gimana?” “Hish, apaan sih. Main sindir mulu, padahal kana da alasan kenapa begitu.” “Apa alasannya?” “Nanti juga kamu tahu,” ujar Noel. Kecewa … tentu saja perasaan Akira seperti sedang di bohongi. Noel masih tidak mau jujur padanya mengenai kejadian sepuluh tahun lalu. “Udah malem, aku mau tidur,” ujar Akira. “Iya, ya udah. Met bobok calon bini.” Tut Akira melemparkan ponselnya ke atas ranjang, lalu ia melanjutkan kegiatannya menghapus riasan yang masih menempel di wajahnya. Setelah selesai, Akira berbaring dan terlelap di alam mimpinya. *** Pagi ini, baru saja Akira selesai dengan kegiatan mandinya, ia sudah dikejutkan oleh kedatangan Noel yang tiba-tiba saja ada di dalam kamarnya. Posisi Akira dengan mengenakan handuk yang menutup tubuh bagian d**a hingga lututnya membuatnya malu dan sontak mengusir Noel dari sana. “Noel! Kok kamu ada di sini sih! keluar! Aku panggil Mama nih!” seru Akira. “Panggil aja, Mama lagi keluar sama Bibi ke pasar katanya,” jawab Noel. “Apa? Ih, kamu cepet keluar dulu! Aku mau ganti baju!” “Ganti ya ganti aja, lagian bentar lagi kita nikah, kenapa harus malu sih,” ujar Noel dengan santai. Noel kembali melihat ke arah ponselnya dan tidak peduli dengan Akira yang mengomel terus menerus. Hingga saat Akira menarik tangan Noel untuk menyuruhnya pergi dari sana, tubuhnya justru tertarik dan terjatuh tepat di atas Noel. “Noel, lepasin!” ujar Akira. “Sstt … .” Noel merapikan rambut Akira yang menutup wajah cantik itu. Jantung Akira terasa berdetak cukup kencang saat ini. ia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya, hingga akhirnya tubuhnya terasa panas entah karena apa. “Ra, maafin gue karena dulu udah tinggalin lu. Itu kalimat yang seharusnya gue ucapin pas kita ketemu kemarin.” “Noel, jujur … aku masih sakit hati karena sikap kamu dulu.” “Ra, kita mulai semua dari awal, lu mau kan?” “Noel, aku gak pernah nolak itu, tapi … bisa nggak kalo kamu nggak bohong ke aku lagi?” “Janji, Ra. Gue nggak akan bohong lagi.” Tatapan mata ke duanya bertemu, Noel mendekatkan wajahnya hingga terhapus jarak diantara mereka. Bibir keduanya bertemu dan saling melumat. Lidah Noel menjulur ke dalam mulut Akira, mengabsen deretan gigi yang berjajar rapi di sana. Saling bertukar saliva dan merasakan suhu tubuh yang mulai naik entah karena apa. Tanpa Akira sadari, ikatan pada handuknya terlepas, hingga memperlihatkan bagian tubuhnya. Tanpa permisi, tangan Noel dengan nakal menyentuh bagian kenyal itu.  seketika Akira menyadari jika hal itu sangat salah, ia mendorong tubuh Noel dan berlari masuk ke dalam walk in closet untuk segera mengenakan pakaian. “Ra,” panggil Noel. Ceklek “Noel, ini salah … kita bisa lakuin itu setelah menikah. Maaf tapi –“ Noel meraih tubuh Akira ke dalam pelukannya. Pria itu emminta maaf dan semakin mempererat pelukan itu. “Maaf, Ra.” “Noel, lepasin.” “Ra, kamu marah karena aku sembunyiin alasan kenapa aku pergi?” tanya Noel. “Noel, kalo emang kamu nggak bisa kasih tahu, aku gapapa. Permisi, aku mau turun ke bawah,” ujar Akira. Lagi-lagi … Noel menarik tangan Akira dan sekarang ia mencium wanita itu dengan paksa. “Jangan marah lagi.” “Noel, ini salah.” “Kita akan menikah, tidak ada yang salah dengan semua ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD