Bahagia … itulah perasaan yang kini tengah bergelut di dalam hati Akira. Ia tidak pernah menyangka jika Noel akan melamar dirinya semalam. Karena kebahagiaan itu tidak bisa ia simpan sendirian, akhirnya Akira meraih ponsel dan menekan sebuah nomor telepon.
Cukup lama ia mencari nomor telepon di dalam contact ponselnya. Karena Akira memang tidak terlalu sering menghubungi orang ini. Akhirnya … Akira berhasil menemukan nomor telepon sahabatnya saat SMA.
Yara … nama itu selalu ia ingat jika sedang bahagia seperti saat ini. Dan yara adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Ibu jari Akira kini dengan lihat mengetik beberapa kata untuk menyapa temannya itu.
Pesan ke Yara :
Anda : Ayang Araaaaaaaa … masih napas kan?
Yara : Sehat walafiat gak kurang satupun.
Anda : Syukurlah … berarti gue masih bisa berbagi ama lu.
Yara : Bagi duit?
Anda : Ish! Meet up ama gue hayuk … lu kagak kangen ama orang paling cantik di SMA?
Yara : Kuy!
Yara : Asal lu kagak bahas soal dia!
Anda : Dia? Galaxy Andromeda? Eh … dasar jempol gue gak ada akhlak.
Yara : Gue ngambek!
Anda : Ish … jangan ngambek dulu! Lagian gue mau bahas hal lain, karena gue lagi bahagia, jadi gue mau bagi ama elu.
Yara : Hah … kapan ya? Gue dapet kebahagiaan.
Anda : Bahagia lu kalo ketemu gue, jadi kita kudu ketemu! Jam 2 gue jemput, kita ke Mall Indonesia.
Yara : Oke.
Read.
Akira langsung beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi, ia segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Yara. Akira membersihkan dirinya dengan cepat, lalu ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Setelah itu ia masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil pakaian.
“Pakek ini aja deh, Yara biasanya ngomel kalo gue pake baju kagak bener,” gumam Akira.
Ia pun mengenakan atasan crop, dengan jeans robek pada bagian lutut. Akira kini memasukkan beberapa barang ke dalam tas selempang, lalu ia sudah siap menuju ke rumah Yara.
Saat berjalan keluar dari dalam kamar, Akira bertemu sang ibu di lantai satu. ia melihat ibunya tengah membuat sesuatu untuk makan malam. Hanya saja … hal itu membuat Akira ragu untuk keluar.
“Ma, bikin apa?” tanya Akira.
“Loh, kamu mau kemana?”
“Kira mau ke rumah Yara, hari ini mau keluar bareng dia.”
“Hmm, nanti malam keluarga Noel datang untuk makan malam, kamu jangan pulang larut ya?”
“Mama jangan masak lagi, nanti Akira pesenin aja di luar. Mau makanan apa?”
“Jangan dong! Masak menjamu tamu dengan hidangan dari luar? Gak baik sayang … udah kamu pergi aja, Mama di bantu sama Bibi nih.”
“Ya udah. Jangan capek-capek, Ma!”
“Iya, bawel.”
Akira tersenyum lalu mencium pipi ibunya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju garasi mobil dan mulai menggunakan mobil yang sudah lama tidak ia gunakan.
Mobil itu melaju menyusuri jalanan kota Jakarta, dan Akira masih sangat hafal dengan jalan menuju rumah Yara. Tidak banyak yang tau jika Akira masih berhubungan dengan Yara, termasuk Noel. Mereka adalah sahabat sejak SMA, termasuk Galaxy dan juga Radith. Hanya saja … hubungan mereka merenggang karena kesibukan masing-masing.
Sampai akhirnya mobil Akira memasuki halaman rumah Yara. Akira melangkah menuju pintu masuk rumah itu, lalu tangannya menekan bel rumah yang ada di sisi kiri pintu.
Ting …
Tong …
Tidak lama setelah Akira menekan bel pintu itu, seseorang membuka pintu dan menyapa Akira.
“Siang, Non. Nyariin Non Yara ya?”
“Iya, Bi. Yara ada kan?”
“Ada, masuk,Non … Non Yara masih ganti baju di atas,” ujar wanita paruh baya itu.
“Oke, aku tunggu di sini ya.”
Akira duduk di sofa yang ada di ruang tamu, ia menunggu Yara dengan berkutat pada ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Noel yang belum i abaca karena ada di jalan sejak tadi.
Pesan dari Noel :
Noel : Calon istri aku lagi apa?
Anda : Maaf baru balas, Noel. Ih … sejak kapan kamu jadi genit?
Noel : Sejak ketemu kamu di bandara.
Anda : Ish.
Noel : Lagi di mana? Kata Mama ,kamu keluar.
Anda : Iya. Mau ke Mall sama temen.
Noel : Owh, oke deh. Tapi jangan telat buat makan malam ya?
Anda : Iya, cuma bentar kok.
Noel : Hati-hati di jalan ,Calon Istri.
Read.
Akira terlihat tersenyum saat membaca pesan dari Noel. Tanpa ia sadari seseorang sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Astaga gusti!” seru Akira.
“Gini nih … lu kalo begini berarti lagi jatuh cinta ya?” Yara terlihat berkacak pinggang karena temannya sudah seperti orang gila yang tertawa saat membaca sebuah pesan.
“Ish, hayuk berangkat! Jangan bikin jantung gue copot lagi!”
“Gue udah siap dari tadi, Maemunah! Elu yang ngaps!” ucap Yara, kesal.
Akira tersenyum kecil mendengar ucapan Yara, ia menarik tangan temannya itu menuju ke luar rumah. Akira dengan sengaja membuka pintu mobil untuk Yara dan mempersilakannya masuk.
Mobil kembali melaju menuju ke sebuah Mall yang terkenal di Jakarta. Selama perjalanan, mereka banyak membahas kehidupan Akira selama di Jerman. Karena semenjak kepergian sang ayah, Akira jarang sekali berhubungan dengan Yara.
“Jadi … lu mau bagi apa am ague?” tanya Yara.
“Hmm, entar aja pas di sana. Gue mau ajakin lu makan steak kesukaan lu,” ujar Akira.
“Tapi, Ra –“
“Udah, gak usah tapi! Gue udah gak sabar buat liat muka lu pas makan itu steak, lu selalu aja nunjukkin ekspresi yang senengnya minta ampun, pas daging itu masuk ke mulut,” sahut Akira.
Yara terlihat menghela napasnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu ditepis oleh Akira. Sampai akhirnya mereka sampai di Mall itu, dan Akira dengan tidak sabar menarik Yara.
“Ra, pelan-pelan aja sih!” ucap Yara yang tidak tahan dengan sikap temannya itu.
“Hehehe, langsung aja yak! Gue udah laper.”
Yara kembali menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Akira. Mereka akhirnya masuk ke dalam sebuah restoran steak yang dulu sering mereka datangi.
“Ra, gue mau kasih tau ke lu … ehm.”
“Diem dulu, gue dulu yang mau kasih tau!”
“Oke deh.”
Saat ini mereka tengah duduk bersama, dan seorang waitress datang menghampiri mereka. Akira langsung memesan tanpa bertanya pada Yara. Ia memesak dua steak dengan kematangan medium, dan s**u soda. Ya … minuman itu dulunya sangat disukai oleh Yara, dan Akira masih sangat hafal dengan hal itu.
“Jadi … lu percaya apa gak kalo gue bilang … gue mau nikah sama Noel,” ujar Akira dengan semangat.
“Apa? Serius? Noel? Tapi … bukannya dia udah ngilang?”
“Kan … lu kagak percaya ama gue! Sama … gue juga kagak percaya bisa berjodoh ama dia.”
“Selamat deh, akhirnya ke-bodohan lu buat nunggu dia kagak sia-sia,” celetuk Yara.
Akira tersenyum kecil saat mendengar ucapan temannya itu. Dan tidak lama setelah itu, makanan pesanan mereka datang. Tidak seperti biasa … Yara seperti sangat berhati-hati saat memakan makanan di hadapannya. Dan hal itu menjadi sebuah pertanyaan untuk Akira.
“Lu kok aneh sih, kenapa cuma gitu?” tanya Akira.
“Gue mau cerita daritadi, tapi lu terlalu bahagia, jadi gue gak mau ngerusaknya.”
“Ha? Apaan sih! Emang kenapa?”
“Gue kena ginjal, Ra.”