Sabrina hendak membuka pintu saat melihat jaket kulit yang terlipat di atas keranjang. Dia baru ingat, ingin mengembalikan jaket itu pada Sagara saat terakhir kali mengantarnya pulang, namun lelaki itu bilang kapan-kapan saja. Saat itu Sagara sedang terburu-buru karena harus membeli sayuran dulu untuk anak-anak jalanan sebelum dirinya berangkat kerja.
Kembali teringat kejadian malam nahas itu. Malam di mana dia hampir menjadi pemuas naf su para beran dalan. Jika saja Sagara tak segera datang, entah bagaimana nasibnya saat itu.
“Kamu lelaki yang baik,” gumam Sabrina mengusap jaket kulit itu lalu menutup pintu. Entah kapan akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Ada has rat di hatinya untuk mengunjungi lagi rumah singgah itu. Tinggal beralasan ingin memberi makanan pada anak-anak jalanan.
Sabrina berniat mengunjungi rumah singgah itu sepulang kerja nanti.
**
Sabrina menyusun barang-barang di kubikel tempat kerja barunya. Wanita bermata bulat itu berharap Daniel tak akan bisa menemukannya lagi di tempat kerja yang baru. Atau paling tidak, butuh waktu yang cukup lama bagi Daniel untuk mencarinya. Namun, ternyata dugaannya salah, Daniel masih bisa menemukannya kemanapun dia pergi.
Gila memang, pikir Sabrina. Lelaki yang dengan mudahnya mengumbar talak, tidak bisa mengambil contoh dari kejadian-kejadian di masa lalu. Rasa cemburu yang membabi buta selalu saja membuatnya gelap mata.
Sikap ringan tangan dan sumpah serapah Daniel, sudah menjadi lalapan Sabrina setiap kali lelaki itu marah atau cemburu.
“Sab, nanti pulang kerja ikut nongkrong, yuk,” ajak Fany.
Sabrina berpikir sejenak, malas rasanya jika tiba-tiba harus bertemu mantan suaminya di mana pun.
“Kayaknya aku—“
“Ayo, dong, Sab, biar cepet akrab sama yang lain.” Fany kembali memaksa.
“Iya, gimana ntar aja, deh.” Sabrina menjawab, namun mulai fokus pada layar laptopnya. Pekerjaan barunya banyak menyita waktu. Dia harus banyak lagi belajar dari awal. Lagi pula dia sudah punya rencana lain nanti sore, mengunjungi anak-anak itu sekalian ingin bertemu dengan Sagara.
Tumpukan map dengan invoice yang harus segera diselesaikan juga dokumen yang lainnya. Dia mulai mengotak-atik website kemendag untuk membuat Certificate of Origin. Sabrina masih terlihat bingung, karena baru beberapa hari mengerjakan.
“Ya, kamu ini, Sab. Diajak ngobrol kagak dengerin.” Fany menyenggol Saby yang masih fokus otak-atik.
“Lain kali aja. Cerewet amat, sih. Aku udah punya janji ntar sore,” jawab Sabrina.
“Ya sudahlaah,” timpal Fani dan kembali ke tempatnya.
**
Sabrina bergegas meninggalkan kantornya. Sebelum mengunjungi rumah singgah, dia menyempatkan diri berbelanja aneka makanan ringan di swalayan. Senyumnya semringah saat membayangkan kebahagiaan anak-anak itu saat mendapat bagian makanannya. Sagara pun pasti ikut bahagia.
Sabrina memesan taksi online menuju rumah singgah itu. Hanya butuh waktu satu jam dia sudah tiba di gang menuju rumah itu.
Matanya memicing dengan alis bertaut. Dia heran saat melihat rumah itu kini tinggal puing-puing hitam. Kantong plastik itu hampir saja terlepas dari tangannya.
Sabrina menuju seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.
“Bu, rumah singgah itu kenapa ya? kok jadi nggak ada?” tanya Sabrina heran.
Ibu itu langsung menoleh dengan pandangan yang tak kalah heran. Selama ini tak pernah dia melihat Sabrina datang ke sana.
“Mbak ini siapa, ya?” tanyanya dengan kening mengerut.
“Saya … temannya Sagara. Saya meu ketemu dia dan juga anak-anak di sini,” jawab Sabrina berapi-api.
“Ooh,” ucapnya sambil menilik Sabrina dari atas hingga bawah. “Rumah itu kebakaran beberapa hari yang lalu, jadi mereka pindah,” lanjutnya.
Tubuh Sabrina mendadak lemas.
“Kebakaran? Lalu, mereka pindah kemana?” Sabrina terlihat kalut.
“Emmh, kemarin-kemarin, sih, sempet tinggal di balai RW. Tapi, nggak lama mereka pindah lagi. Katanya udah dapet tempat buat anak-anaknya,” jawab wanita paruh baya itu.
Sabrina memutar tubuhnya dengan lemas. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada ibu itu sebelum pergi.
“Kalian di mana?” gumamnya. Sabrina menyesal, dia tidak pernah menanyakan nomor ponsel Sagara.
**
Fany dan teman-teman kantor Sabrina yang lain mengunjungi kafe sepulang kerja seperti rencana mereka. Nongkron di tempat yang kata salah satu temannya ada pelayan ganteng.
Mereka langsung celingak-celinguk mencari keberadaan pelayan ganteng itu sembari mencari tempat duduk yang strategis agar bisa menikmati pemandangan ke meja barista.
Coffee shop yang tidak hanya menyediakan aneka minuman dari kopi, tetapi juga aneka cemilan juga makanan berat.
“Mana, sih, penasaran gue,” bisik Fany.
“Bentar, nggak sabar amat, sih,” jawab Santi. “Nah … nah tuh, dia datang bawa nampan. Ooh Tuhan gue meleleh lihatnya.” Santi memeganngi kedua pipinya seraya menatap Sagara tanpa berkedip.
“Oh my God! Tinggi banget. Bisa memperbaiki keturunan, nih,” timpal Alice dengan mulut menganga saat Sagara melewati meja mereka.
“Udah, cepetan panggil! Biar bisa sekalian kenalan,” seru Fany menyenggol-nyenggol lengan yang ada di sebelahnya.
“Mas, Mas!” panggil Santi setelah Sagara mengantarkan pesanan seorang pengunjung.
“Iya, mau pesan apa?” Sagara langsung mengeluatkan buku note juga ballpoint dari sakunya.
“Mau pesen kamu aja, boleh nggak?” ujar Santi dengan wajah yang cengo. Sagara mengulum senyum mendengarnya.
“Maaf, Mbak, saya nggak dijual,” jawab Sagara menimpali.
“Boleh tau namanya nggak, Mas?” Aline berucap dengan wajah memelas.
Sagara tersenyum malas. Lagi-lagi, ada saja yang bersikap seperti itu. Tapi, jika hanya sekedar nama, dia tak keberatan.
“Sagara,” ucapnya dengan senyum yang memperlihatkan gingsulnya.
“Aah … maniss,” pekik Santi.
Sagara hanya bisa mesem-mesem, lalu meminta para gadis itu menyebutkan pesanannya.
Mereka lalu memesan makanan dan minuman dengan mata nyaris tak berkedip. Kalau boleh, rasanya mereka ingin bawa lelaki jangkung itu dan memasukannya ke dalam kantong baju.
Sagara segera mencatat dan menyerahkannya pada koki juga barista.
“Kalian lihat nggak, sih? Dadanya ada tatonya. Emang nggak begitu jelas, sih. cuman karena kemejanya putih, jadi agak berbayang gitu,” bisik Alice.
“Hah, masa sih? apa dia bekas preman ya?” timpal Fany sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Sagara.
Keesokan harinya, Fany begitu heboh saat sampai di kantor.
“Eeuh, kalian yang nggak ikut kita nongkrong kemarin, rugi pokoknya. Waiter-nya cakeepp beeeuud. Iye nggak San?”
Santi langsung mengacungkan jempolnya.
Sabrina mendengarkan sambil geleng-geleng kepala. Merasa aneh saja teman-temannya itu sampai heboh hanya karena seorang waiter.
“Sa-ga-ra.” Santi mengeja nama itu sambil membayangkan sosok jangkungnya.
Tangan Sabrina yang sedang asik menari di atas keyboard sontak berhenti. Wajahnya lalu menoleh pada Santi.
“Sagara?” tanyanya pelan. Santi menoleh sambil mengangguk.
“Tinggi banget, ya? rambut gondrongnya malah bikin dia makin keren,” timpal Alice dan membuat Sabrina semakin terpaku.
“Di mana?” tanyanya pada Fany.
“Ciiee … kamu baru denger namanya aja udah kesengsem, apalagi kalo liat orangnya!” Fany menunjuk Saby dengan tawa mengejek.
“Aku nggak becanda, Fan. Di mana kamu ketemu Sagara?” tanya Sabrina.
“Di kafe. Kamu sih, kemarin nggak mau ikut. Nyesel, kan?” tunjuk Fany sambil tertawa.
Sabrina menertawai dirinya sendiri. Berusaha mencari lelaki itu dan menolak ajakan temannya. Namun, ternyata justru teman-temannya lah yang justru bertemu dengan Sagara.
Dia bertekad akan pergi ke kafe itu sepulang kerja, dengan berbekal alamat dari Fany.