Bab 5 Perjanjian

1320 Words
“Kak Gara, tadi kami dikasih ini sama om-om yang datang ke sini.” Salah satu anak menunjukan sebatang coklat dengan mete. ‘Ternyata baik juga itu orang,’ pikir Sagara seraya tersenyum ke arah bocah tujuh tahun itu dan mengacak rambutnya penuh sayang. “Eva,Dewi, ini Kakak tadi beli sayuran sama ikan. Kalian masak seperti biasa.” Sagara menyerahkan satu kantong kepada anak perempuan berumur dua belas tahun. “Kakak sebentar lagi masuk kerja. Kalian hati-hati ya,” ujar Sagara sebelum meninggalkan anak-anak itu. “Iya, Kak,” jawab mereka serempak. Motor Sagara melaju meninggalkan tempat itu, menuju rumahnya untuk bersiap pergi bekerja. Kini giliran dia shift siang. ** Suasana kafe sudah mulai ramai saat Sagara datang. Kemeja putih dengan celana jeans biru dan rambut yang dikuncir membuat dia terlihat manis. Namun, jika sedang berlatih Kendo, munculah sisi sangarnya. “Hai, Gara,” sapa seorang wanita cantik dengan celemek dari balik meja barista. Sagra tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Ada pengunjung yang udah nungguin kamu dari tadi, tuh,” ucap wanita bercelemek coklat itu seraya menunjuk ke arah meja dengan dagunya. Sagara mengikuti ke arah wanita itu menunjuk. Seorang wanita sedang duduk dengan mata fokus pada laptopnya. “Dia pesen matcha latte, tapi nunggu kamu yang anterin katanya.” Sagara menyungging senyum mendengarnya. Bukan kali itu saja ada wanita yang ingin dia layani, hari-hari sebelumnya pun tak terhitung jumlahnya. Sudah pasti ujung-ujung minta nomor ponsel. Namun, tak masalah bagi Sagara. Dia segera mengantar pesanan wanita dengan kacamata bertengger di atas kepalanya. “Silahkan,” ucap Sagara sambil menaruh cangkir di meja. Wanita itu sontak mendongak. “Hei! Gue nunggu lo dari tadi,” katanya dan memberi isyarat agar Sagara duduk satu meja dengannya. “Maaf, aku lagi kerja,” tolak Sagara sopan. “Ups, sorry. Gimana kalau gue bayar gaji lo untuk hari ini? Tapi lo temenin gue.” Wanita itu memberi tawaran. “Maaf, ini bukan masalah uang, tapi soal tanggungjawab.” Sagara memberi alasan sesopan mungkin. Wanita itu memicingkan matanya menatap lelaki yang masih berdiri di depannya. “It’s ok. Bagaimana kalau gue minta nomor HP lo?” pintanya. Sagara tersenyum. “Apa perlu?” “Sangat. Agar gue bisa tau kapan elo off kerja di sini,” ucapnya penuh percaya diri. “Sebutkan saja, gue langsung simpan, nih.” Wanita berambut sebahu itu mengeluarkan ponselnya. “Maaf, saya lupa nggak bawa Hp.” Sagara kembali tersenyum dan ditimpali wajah cemberut wanita itu. “Masa, sih, nggak inget nomor kamu sendiri?” Wanita itu terdengar memaksa. Sagara malah menyungging senyum terpaksa. Bukannya apa-apa, dia sudah bosan dengan wanita-wanita yang mengejarnya. “Gue rasa lo cuman alesan aja buat nolak gue. Ye, kan?” Wanita itu lalu mengambil bolpen juga secarik kertas dari tasnya, kemudian menulilskan sederet nomor. “Ini nomor gue. Ntar lo save, ya. Jangan lupa lo kirim test contact ke nomor gua,” ucapnya smabil menyerahkan kertas itu. Sagara hanya garuk-garuk kepala sambil tersenyum malas. Sementara itu sang wanita barista terpingkal sambil menahan tawa. “Nih, kali aja kamu mau,” ujar Sagara pada Bagas—teman kerjanya—sambil menyerahkan secarik kertas itu, setelah dia kembali ke meja barista. ** “Lakukan malem-malem. Serapih mungkin. Bikin seperti kecelakaan,” titah Daniel. “Culik berapa anak?” tanya lelaki di seberang. “Nggak, usah. Aku yakin si Sagara bakalan butuh duit banyak buat mindahin anak-anak itu ke tempat baru.” “Baik, Bos,” jawab lelaki yang diajak bicara oleh Daniel. Lelaki bermata sipit itu kemudian menutup sambungan telepon dan tersenyum sinis, merasa kemenangannya akan datang selangkah lagi. ** Sagara, Jeni dan Bagas tengah membereskan meja dan kursi sebelum pulang saat ponsel lelaki gondrong itu bergetar. Dia merogoh benda pipih itu dari sakunya. Nomor ponsel yang dipegang oleh Eva. Sagara sengaja memberikannya untuk jaga-jaga jika ada hal mendesak. Ada anak yang sakit, misalnya. “Halo, Va?” ucap Sagara. Dia tahu Eva hanya akan menghubunginya jika ada hal yang penting saja. Selebihnya, anak-anak itu cukup tahu diri jika mereka sudah dibantu banyak oleh Sagara, mendapat tempat berteduh juga makanan. “Rumahnya, Kak,” ucap Eva terisak. “Rumah? Kenapa rumahnya?” Sagara terlihat mulai panik. “Tadi ada ledakan dari dapur, rumahnya kebakaran,” ucap Eva bercampur isak. Dia sepertinya ketakutan. Terdengar juga keributan dan tangis anak-anak di sana. “Apa?” Jantung Sagara mendadak bertalu cepat. Tubuhnya terasa lemas tak bertulang. “Kak, kami takut,” ucap Eva lagi “Tunggu, jangan panik. Kumpulkan semua anak-anak agar menjauh dari sana,” ujar Sagara. “Ada apa Gar?” tanya Jeni dari meja yang sedang dilapnya. “Rumah singgah kebakaran. Aku ijin pulang duluan,” ucapnya terburu-buru. Mata Jeni terbelalak. Dia teringat dengan anak-anak yang pasti ketakutan. Dia juga sering membantu Sagara untuk memberikan makanan pada anak-anak itu. Jeni dan Bagas hanya bisa mengangguk saat Sagara berpamitan dan bergegas pergi dari sana. ** Mata Sagara berkaca-kaca saat melihat puing-puing dari rumah yang selama ini menjadi tumpuan anak-anak terlantar yang dia rawat. Jerit tangis bocah-bocah itu terdengar dan menghambur memeluk kaki jenjang Sagara yang masih berdiri mematung tak percaya. Bangunan itu kini sudah rata dengan tanah. Bahkan sepertinya baju-baju milik anak-anak pun ludes dilalap api. Sagara bingung kemana membawa anak-anak sebanyak itu. Rumahnya terlalu kecil untuk menampung anak sebanyak itu. “Mas Gara, biar anak-anak tidur di balai RW saja untuk malam ini. Kasian,” ujar bapak-bapak yang Sagara tahu itu ketua RT di situ. Sagara yang masih kalut hanya bisa mengangguk. “Kalilan nggak apa-apa, kan, sementara di sini? Nanti Kakak akan carikan tempat baru untuk kalian,” ucap Sagara menatap satu per satu bocah yang tampak syok. Mereka mengangguk walaupun tampak kebingungan. ** Pagi-pagi Sagara dikagetkan dengan kedatangan Daniel ke balai RW tempat dia menginap semalam dengan anak jalanan. “Katanya rumah singgahmu kebakaran, Sagara?” ujar Daniel sambil petantang-petenteng melihat-lihat seisi bangunan yang tak luas itu. “Bagaimana kamu tau?” selidik Sagara. “Aku tadi tidak sengaja lewat. Banyak sekali orang-orang berkerumun melihat-lihat ke rumah singgahmu. Aku tanya, katanya rumah singgahmu kebakaran.” Daniel mondar-mandir dengan tangan masuk ke saku celana. “Aku ke sini mau menawarkan bantuan. Barangkali kamu butuh rumah baru untuk menampung mereka. Aku ada tempat yang cukup baik dan cukup untuk menampung anak sebanyak ini,” jawab Daniel dengan wajah serius. Beberapa anak merasa bahagia ketika Daniel mengatakan itu, dan beberapa yang lainnya masih tidak mengerti. Tinggal di jalanan pun bagi mereka sudah biasa. “Apakah aku harus membayar sesuatu padamu?” tanya Sagara curiga. Daniel tersenyum dan menepuk pundak lelaki gondrong itu. “Kamu pintar ternyata,” ucapnya bercampur kekehan. “Tidak berat, kamu hanya perlu mendekati Sabrina. Bujuk dia agar mau menikah denganmu. Hanya satu bulan. Ingat, hanya satu bulan saja, setelah itu kamu bebas.” Daniel berucap dengan wajah serius. Sagara diam mematung menatap lelaki yang tampak gagah dengan stelan jas hitamnya. “Setelah itu, kamu bebas. Kamu juga akan mendapatkan uang yang banyak untuk bocah-bocah ini. Gimana?” tawar Daniel dengan senyuman tersungging di bibirnya. Sagara berpikir sejenak. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi nanti, pikirnya. Yang penting anak-anak itu selamat dan punya tempat tinggal untuk saat ini. Untuk menyewa sebuah rumah yang cukup besar pasti membutuhkan uang yang tak sedikit. Hanya sedikit tabungannya saat ini. Gaji yang dia dapat habis untuk mengurus anak-anak itu. Untuk mencukupi kebuutuhannya, Sagara mengadakan kelas bela diri. “Baiklah. Tapi aku juga mengajukan syarat padamu,” ucapnya lirih. “Ok. Tell me,” ucap Daniel menaikan kedua tangan dan bahunya. “Kalau kamu menginginkan Sabrina kembali, ubah sikapmu. Jangan pernah menyakiti dia lagi. Jika tidak, aku tidak akan pernah memberikannya padamu,” ucap Sagara pelan, namun tegas. Daniel terbahak. “Berani-beraninya kamu mengaturku,” ucapnya dengan mata nyalang. Sagara membalas tatapan itu. “Take it, or leave it?” tanyanya tepat di muka Daniel. “Ok, deal!” ucap Daniel mengulurkan tangannya. Ada satu pertanyaan yang tersisa di hati Sagara. Kenapa lelaki itu memilihnya untuk menikahi sang mantan istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD