Kali kedua Sabrina naik motor tinggi itu. Tampaknya Sagara juga sudah berbelanja, terlihat dari satu keresek besar yang ada tak jauh dari motornya. Dia menyimpan keresek itu di tangki bensin. Dia juga meminta kantong keresek yang dibawa Sabrina untuk di simpan di depan.
“Susah nggak?” tanya Sabrina ragu.
“Nggak. Udah sini,” jawab Sagara menarik paksa kantong dari tangan wanita berambut panjang itu.
Motor itu segera melaju meninggalkan pelataran parkir. Sabrina ragu, apakah harus berpegangan pada lelaki di depannya atau sedikit mundur untuk menjaga jarak. Namun, laju motor itu malah semakin cepat. Mau tak mau akhirnya Saby berpegangan pada ujung jaket kulit lelaki itu.
“Kamu habis belanja juga?” tanya Saby memecah kesunyian. Suaranya tidak begitu jelas karena tersapu desau angin.
“Hmm?” Sagara bergumam.
“Kamu abis belanja juga?” Saby mengulang pertanyaannya.
“Oh, iya. Buat anak-anak,” jawabnya sambil mengangguk.
Sabrina tersenyum meski yang diajak bicara tidak bisa melihatnya.
“Sebanyak ini? Memang anakmu ada berapa?” lanjut Sabrina.
“Ada lima belas,” jawab Sagara diselingi tawa.
“Hah?” Sabrina tersentak kaget.
“Iya. Ini buat anak-anak di rumah singgah.”
“Ooh,” timpal Sabrina yang akhirnya mengerti. “Di mana emang rumah singgahnya?”
“Di depan sana. Bentar lagi nyampe, tapi aku anterin kamu dulu aja,” ucap Sagara.
Sabrina menggeleng. “Boleh aku mampir ke sana?” tanyanya.
“Nggak bagus, tapi, nggak papa?” Sagara memastikan.
“Iya, nggak apa-apa. Aku ingin tahu.” Sabrina bersikukuh.
“Baiklah.” Tak lama motor itu berbelok ke sebuah gang yang bisa masuk satu mobil. Tak jauh dari sana, terlihat rumah sederhana dengan beberapa anak yang sedang main di teras. Ada juga anak perempuan berumur sepuluh tahunan yang mengasuh anak umur empat tahun.
Mereka bersorak saat melihat motor Sagara datang. Mereka juga langsung berkerumun saat Sagara turun dari motornya. Dengan sorak soray anak-anak itu mengekori Sagara yang membawa sekeresek besar makanan.
“Ayo, duduk sini,” pintanya pada anak-anak berpakaian kumal itu.
“Ambil masing-masing tiga macam. Nggak usah berebut, ya. semua pasti kebagian,” ujarnya membuka kantong keresek itu.
Sabrina berjalan perlahan sambil melihat kehebohan yang dibuat para bocah itu. Dia tersenyum menatap anak-anak itu lalu tatapannya beralih pada Sagara yang ikut tertawa bersama mereka.
Tatapan kagum muncul dari dalam hatinya. Seorang lelaki sederhana yang mau berbagi dengan anak-anak kurang beruntung.
Sabrina melengos saat Sagara menyadari tatapannya.
“Sini, kita kenalan dengan Kakak … emh ….” Sagara terlihat kebingungan. Dia bahkan belum tahu siapa nama wanita yang pernah ditolongnya.
“Dengan Kakak … temen Kak Gara,” lanjutnya disertai tawa khasnya yang menyembulkan gigi gingsulnya.
“Kakak cantik itu siapa namanya siapa, Kak?” tanya seorang bocah.
“Namanya … emmh … namanya …tanya sendiri deh, sama kalian,” ucap Sagara cengengesan.
“Hai. Nama Kakak, Sabrina,” ucapnya semakin mendekat pada anak-anak. Mereka pun mendekat dan mulai meraih tangan Saby untuk menciumnya. Setelah itu mereka kembali bermain seperti sedia kala, sambil menikmati makanan yang Sagara bawa.
“Kamu tiap hari ke sini?” tanya Sabrina.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Hanya untuk memberi mereka makan?” tanya Sabrina lagi. Sagara mengangguk.
“Aku juga kadang menginap di sini kalau ada anak-anak yang sakit. Kamu lihat, anak kecil itu dan kakaknya? Mereka ditinggalkan oleh orang tuanya. Sang kakak menggendong adiknya ke sini dalam keadaan panas sekali. Aku membawanya ke dokter. Semenjak itu, mereka menetap di sini,” ungkap Sagara membuat Sabrina semakin terpukau pada kebaikan hati lelaki yang baru dia sadari memiliki banyak tato di tubuhnya.
Dia bisa melihatnya ketika Sagara melepaskan jaket kulitnya. Kemeja lengan panjang yang dia gulung menampakan gambar sisik ular naga. Begitu juga di dadanya yang sedikit terlihat karena satu kancingnya terlepas. Sepertinya lepas saat perkelahian tadi.
Waktu sudah semakin siang. Sabrina berpamitan. Namun, Sagara memaksa ingin mengantarnya. Wanita itupun akhirnya menerima.
Tanpa mereka sadari, tatapan Daniel mengintai gerak-gerik mereka.
**
Sagara terperangah saat kembali ke rumah singgah. Di sana ada Daniel yang sedang duduk ongkang-ongkang kaki sambil bersiul. Langkah yang terhenti dia ayun kembali.
“Ada perlu apa kamu ke sini?” tanya Sagara datar. Dia sama sekali tak menunjukan permusuhan.
“Kamu harusnya merasa terhormat karena kedatangan orang sepertiku, Sa-ga-ra.” Daniel mengeja nama lelaki jangkung itu.
Sagara sempat kaget, namun dia berusaha setenang mungkin.
“Baiklah, Tuan Terhormat. Bisa kau bilang apa maksud dan tujuanmu ke sini?” Sagara duduk di kursi yang ada tak jauh dari Daniel berada.
Lelaki bermata sipit itu terbahak. “Well, aku lihat sepertinya kamu pintar, Sagara. Aku ke sini mau menawarkan sesuatu. Sepertinya rumah singgah ini butuh direnovasi,” ucap Daniel sambil memindai sekeliling.
“Langsung saja, aku tidak suka basa-basi,” ujar Sagara tak bersahabat.
Daniel kembali tertawa.
“Baiklah. Begini.” Daniel mulai terlihat serius.
“Kamu nikahi Sabrina, mantan istriku. Tak perlu lama, hanya satu bulan saja. Kukasih kamu 500 juta. Tapi ada syaratnya, kamu hanya boleh menyentuh dia satu kali saja. Gimana?”
Sagara langsung terbelalak. “Apa maksudnya ini?”
“Aku perlu seorang muhallil untuk mendapatkan istriku kembali,” ucap Daniel yang dari tadi mencari tahu tentang talak tiga dan bagaimana cara untuk kembali rujuk.
“Jadi, kamu sudah pernah menceraikannya tiga kali?” tanya Sagara. Daniel mengangguk serius.
“Sabrina lebih baik tidak bersama lelaki sepertimu. Maaf, aku tidak bisa,” ucap Sagara hendak bangkit berdiri.
“Benarkah?” tanya Daniel tanpa menatap lawan bicara.
Sagara mengangguk dan meninggalkan Daniel duduk termenung sendiri.
Daniel terdiam sambil mengetuk-ngetukan tangannya di pegangan kursi. Dia lalu bangkit dan merogoh ponselnya dari saku celana.
“Halo, Danu. Nanti malam kamu bakar rumah singgah di jalan Ternate. Habiskah semua. Kalau bisa, kamu culik juga beberapa anaknya,” ucap Daniel lalu menutup sambungan teleponnya dengan senyuman menyeringai.
“Jangan main-main dengan Daniel,” ucapnya sambil berlalu.