Saby memasukan barang belanjaannya ke mobil saat sebuah tangan menjegalnya dari belakang.
Wanita itu menoleh. Hanya berjarak beberapa senti saja wajah Daniel terlihat jelas. Senyuman khas lelaki itu langsung menjadi pemandangan yang memuakan.
“Aku antar kamu, ya,” ucapnya seraya mengambil kembali tas belanjaan dari taksi online.
“Nggak usah,” tolak Saby mengambil kembali barang belanjaannya dari tangan Daniel.
“Kamu ngeyel, ya, jadi cewek. Udah kukasih enak malah nolak!” Daniel menggerutu.
“Nggak ada yang minta kamu nganterin. Aku bisa pulang sendiri,” ucap Sabrina geram.
“Sab, gimana kalau sopirnya itu berniat jahat sama kamu. Gimana kalau dia itu per ko sa kamu?” Daniel menakut-nakuti.
Sabrina tergelak mendengar ucapan Daniel. Seperti seorang anak sedang menakut-nakuti anak lainnya.
Namun, Daniel tak ingin kalah, dia menarik Sabrina dan menutup pintu mobil itu.
“Tidak jadi, pak. Nih, aku bayar ganti rugi,” ucap Daniel sambil melempar selembar uang seratus ribuan.
Mata dan mulut Sabrina membulat. Daniel melambaikan tangan pada sopir yang melajukan mobilnya dari area parkir sambil menggerutu.
“Enak aja maen cancel. Pake dibilang tukang per ko sa, lagi. Untung masih dapet ganti rugi.”
“Kamu mau apa lagi, sih, Daniel?”
“Apa? Kamu masih nanya aku mau apa? Aku lagi berjuang biar kita bisa balikan lagi, Sab. Kenapa kamu belaga bego begini, sih?” cecarnya dengan wajah memelas. Dia bahkan kaget saat mendengar Sabrina berani menyebut namanya tanpa embel-embel abang.
“Kita ini bukan lagi pacaran, Daniel. Kita ini udah tiga kali cerai dan itu artinya kita nggak bisa lagi balikan. Ngerti?!” ucap Sabrina tegas.
Dia dan Daniel memang sudah terbiasa putus nyambung saat pacaran. Sabrina yang lemah dan penurut, selalu saja dimanfaatkan oleh Daniel. Lelaki itu memang tergila-gila pada Sabrina, tetapi cinta butanya membuat dia kalap saat cemburu.
Tak jarang Sabrina menjadi bulan-bulanan lelaki berkulit putih itu saat marah karena cemburu. Kecemburuan yang kadang tak berdasar. Satu hal yang membuat Sabrina tak bisa melepaskan diri saat itu, kegadisannya telah direnggut oleh Daniel.
Daniel begitu royal akan uang. Sabrina yang hanya orang biasa begitu ingin terlepas dari kemiskinan. Walau sudah dilarang oleh orangtuanya, dia bersikukuh tetap ingin menikah dengan Daniel.
‘Siapa yang akan menerima kondisiku yang sudah tak gadis lagi?’ bisik hatinya.
“Siapa bilang kita pacaran? Kita menikah lagi. Ayo! Aku berjanji akan berubah,” pinta Daniel memelas.
“Sudah kubilang, kita nggak bisa menikah lagi, Daniel. Kamu sudah menalakku tiga kali,” tolak Sabrina.
“Kalau begitu, kita kum pul ke bo saja,” ucapnya enteng membuat Sabrina membelalakan matanya seketika.
“Sudah cukup kita berbuat dosa di masa lalu. Aku tidak mau lagi mengulangnya,” elak Sabrina membuang muka.
Terdengar tawa mengejek dari mulut Daniel.
“Kalau begitu kamu jadi wanita bayaranku saja seperti dulu. Bukankah kamu suka uang?” ejek Daniel menarik lengan Sabrina hingga tubuh mereka hampir tak berjarak.
“Lepas!” ucap Sabrina penuh penekanan. Namun, Daniel malah menyungging senyuman sinis.
“Aku benar-benar merindukanmu, Sayang,” ucapnya semakin mengeratkan cekalan tangannya.
“Lepaas!” Sabrina kembali meronta dan berusaha mendorong tubuh mantan suaminya.
Plak!
Daniel refleks mendaratkan lagi telapak tangannya hingga Sabrina terhuyung dan memegangi pipinya yang terasa berdenyut nyeri.
“Hei! Kasar sekali kamu sama perempuan!” Sebuah suara terdengar mendekat. Suara yang Sabrina yakin pernah mendengarnya, entah di mana.
“Apa pedulimu? Dia ini istriku, mau kuapakan juga bukan urusanmu!” bentak Daniel pada lelaki jangkung yang baru saja datang.
Lelaki berambut panjang itu tak pedulikan omongan Daniel, dia justru mendekat pada Sabrina dan menelisik keadaannya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya. Sabrina mendongakan wajahnya. Sosok itu mengingatkannya pada sesuatu. Wajahnya yang tersorot sinar matahari membuat mata Sabrina silau.
“Hai, bukankah kamu wanita yang malam itu?” tanya Sagara. Sabrina pun langsung mengingat kejadian itu dan mengangguk.
Mendengar kata ‘malam itu’, darah Daniel langsung mendidih.
“Apa maksudnya malam itu, hah?” gertaknya seraya menarik lengan kokoh Sagara. Lelaki itu memutar badannya hingga berhadapan dengan lawan bicara.
“Memangnya apa yang kamu pikirkan?” Sagara balik bertanya. Dia mencium sesuatu yang tidak beres dari pasangan yang ada di depannya. Wanita yang ditemuinya berjalan malam-malam. Lalu, lelaki ka sar yang berlaku seenak jidatnya.
“Kau ada main dengan istriku, hah?” tuduh Daniel dengan tatapan nyalang.
Sagara menarik sebelah ujung bibirnya.
“Oh, jadi dia istrimu?”
“Bukan!” teriak Sabrina. Sagara menoleh sekilas pada wanita itu, lalu kembali menatap Daniel.
“Apa begitu caranya memperlakukkan istrimu? Di de-pan u-mum.” Sagara mengejanya.
Daniel terbahak. “Suka-suka gue. Mau apa, lo?” ucap Daniel tepat di muka Sagara. Hanya berjarak beberapa senti, karena lelaki berambut panjang itu jauh lebih tinggi.
Sagara kembali menyungging seulas senyum sinis. Dia berbalik dan menarik tangan Sabrina untuk pergi dari sana.
“Ayo ikut,” ujarnya.
Namun, sejurus kemudian ….
Dug!
Sebuah tendangan mendarat di kaki jenjang lelaki itu hingga Sagara terhuyung ke depan. Lalu, kembali terdengar derai tawa dari mulut Daniel.
“Rasakan itu, be de bah!” teriaknya diselingi tawa.
Sagara segera bangkit dan menegakan badannya. Dia kemudian berbalik dan menyarangkan tinju bertubi-tubi di wajah Daniel. Selang beberapa saat, beberapa security datang dan melerai perkelahian mereka.
“Hentikan atau kami bawa kalian ke kantor polisi,” ancam seorang dari security itu.
Sagara mundur dan membetulkan letak kemejanya. Daniel hendak kembali menyerang, tetapi langsung dihalau oleh security itu.
“Lepas, be reng sek!” teriaknya seraya meronta-ronta. Namun, security itu sama sekali tak menggubris teriakan Daniel.
“Ayo,” ajak Sagara pada Sabrina. Tangannya menuntun wanita itu hingga membuat Daniel semakin panas bagai kesetanan.
Sabrina menatap punggung kekar itu tanpa berkedip. Seumur-umur, baru kali ini dia menemukan seorang lelaki yang menurutnya baik.