Daniel berlari menuju parkiran. Hatinya benar-benar kalut.
“Si al, si al, si al! Kenapa aku nggak denger kata-kata Saby waktu itu. Kenapa harus seterlambat ini?” gerutunya sambil memukuli handle setir.
“Aku harus mencari dia secepatnya. Aah, telepon dulu aja,” gumamnya lalu mengeluarkan ponsel untuk mencari nomor yang sudah sebulan ini tak pernah dia hubungi. Hanya rasa marah dan benci jika ingat perselingkuhan yang dilakukan mantan istrinya itu.
Namun, sekarang, amarah dan emosi itu menguap seketika, yang ada hanya tinggal penyesalan.
Beberapa kali nada dering, tak juga diangkat oleh Sabrina. Saat melihat namanya saja, dia sudah kesal.
“Ngapain, sih, nelpon terus?” gumam Sabrina yang sedang berlari di atas treadmill, lalu mematikan jaringan internetnya.
Daniel benar-benar stres mendapati sang mantan istri menjadi susah dihubungi.
“Si al! malah dimatiin. Coba aku telpon pake pulsa,” ujarnya lagi. Dia bersorak ketika teleponnya tersambung lagi.
Sabrina mendengkus kesal. Sepertinya lelaki itu tidak akan berhenti menelepon jika belum diangkat.
‘Baiklah, kuangkat saja,’ gumam hati Sabrina.
“Halo, Saby. Kenapa lama sekali diangkatnya?” Belum apa-apa Daniel sudah marah-marah. Sabrina memutar bola matanya jengah.
“Emangnya kamu mau apa? Sidang perceraian kita saja udah beres. Tinggal nunggu akta cerai. Sekarang apa lagi?” cecar Sabrina kesal.
“Sab, dengerin Abang.” Ucapan Daniel mulai melunak.
Sabrina tertawa miris mendengarnya. Malas rasanya meladeni orang yang selalu ingin mennang sendiri.
“Ya udah, cepetan, mau ngomong apa?” Sabrina terdengar kesal.
Sebetulnya amarah Daniel mulai tersulut ketika mendengar nada bicara Sabrina yang dinilainya tidak sopan.
“Hei, Saby. Kamu harusnya bersikap sopan sama suami,” ucapnya lemah.
Sabrina tertawa. Rupanya lelaki itu sudah lupa jika mereka sudah bercerai. Entah di mana otaknya, pikir Saby.
“Hahaha, suami? Suami siapa? Kita itu sudah bercerai. Kamu sudah bukan suamiku lagi,” ujar Sabrina diselingi tawa.
Dada Daniel semakin bergemuruh. Jika saja rasa cinta itu sudah tidak ada, per se tan dengan Sabrina. Dengan uangnya yang banyak masih banyak wanita yang mengejarnya. Namun, berbeda bagi Daniel, rasa cintanya pada Sabrina begitu menggebu. Akan tetapi, membuat rasa cemburunya membabi buta.
“Saby, coba dengarkan Aku. Aku … hanya ingin bertemu denganmu, sebentar saja,” pinta Daniel memelas. Berharap Sabrina akan merasa iba.
“Mau apa? Aku lagi sibuk,” tolak Sabrina dan melanjutkan langkahnya di atas treadmill.
“Aku tahu, ini jadwalmu olahraga, kan? Aku ke tempat fitness-mu, ya.”
“Jangan. Ini tempat khusus perempuan!” sergah Sabrina.
“Iya, aku tahu. Aku tunggu kamu di depan. Ok.”
Daniel langsung mematikan sambungan teleponnya dan bergegas menuju mall tempat Sabrina biasa berolahraga.
Matanya membulat saat melihat mantan istrinya itu berjalan ke arahnya. Tubuhnya tampak semakin indah, dan terutama wajahnya, kini tampak jauh lebih bahagia dan bercahaya.
‘Lho, bukannya waktu bersamaku, aku selalu memberikannya uang yang banyak? Tapi kenapa sekarang dia justru terlihat lebih bahagia?’ gumam hati Daniel dengan tatapan tak berkedip.
Sabrina menghentikan langkahnya saat dicegat oleh lelaki tampan itu.
“Ternyata kamu beneran ke sini?” tanya Sabrina sinis.
“Kita bener-bener harus bicara. Ayo ikut aku,” ajak Daniel langsung menarik tangan mantan istrinya.
“Hei, lepas. Kamu sudah tidak berhak pegang-pegang sembarangan,” elak Sabrina menepis lengan kekar yang entah sudah berapa kali mendaratkan pukulan di tubuhnya.
Daniel langsung memasang wajah memelas. “Please, Sab. Abang bener-bener menyesal. Makanya kita harus bicara. Ayo, kita bicara di kafe itu,” tunjuk Daniel ke sebuah kafe tak jauh dari sana.
“Ngomong di sini aja, deh, ngapain harus di kafe segala?” tolak Saby.
“Ini serius, Sab. Please.” Wajah Daniel kembali memelas.
Wanita itu mengembus napas kasar. “Baiklah, tapi hanya sebentar. Masih banyak yang harus aku kerjakan,” ujarnya.
“Mau ngerjain apa, sih? kalau rugi, nanti aku ganti kerugiannya sepuluh kali lipat,” ujar Daniel mulai menampakan emosinya.
Selalu saja mantan suaminya itu menilai segala sesuatu dengan uang. Karena ingin segera terbebas dari makhluk menyebalkan yang satu ini, akhirnya Sabrina mengikuti kemauan Daniel untuk berbicara di kafe.
“Cepat, kamu mau ngomongin apa?” tanya Sabrina ketus.
Daniel betul-betul menahan amarahnya sekuat tenaga. Pokoknya, dia harus kembali mendapatkan mantan istrinya.
“Emh, gini, Sab. Tadi … aku ketemu sama sepupuku, Audrey. Dan aku baru tau kalau apa yang kamu bilang tentang Irfan itu benar adanya. Kamu nggak selingkuh,” ucapnya dengan memasang wajah penuh sesal.
Sabrina tersenyum masam. Sudah sangat terlambat lelaki itu menyadari kesalahannya. Sikapnya yang selalu saja cemburu buta.
“Apa perlu kuulang lagi? Aku sudah jelas-jelas mengatakannya saat itu, tapi kamu nggak percaya. Ya sudah, aku nggak maksa,” ujar Sabrina tanpa beban.
“Jangan bersikap kayak gitu, dong, Sab. Aku jauh-jauh ke sini mau minta maaf. Bilanglah, kalau kamu mau maafin aku,” pintanya.
Sabrina melengos.
“Ya sudah, aku sudah maafin kamu,” ucapnya terpaksa agar segera selesai obrolan dengan lelaki di depannya itu.
“Akhirnya,” pekik Daniel bahagia. “Berarti kita bisa bersama lagi, ya, ya?”
Lelaki itu berkata tanpa malu dan ragu, membuat Sabrina membelalakan matanya.
“Apa?” kening Sabrina mengerut. “Apa maksudnya ini? Bersama lagi?”
“Iya, kamu masih cinta, kan, sama aku? Ayo kita kembali.” Daniel menarik tangan kurus Sabrina.
Wanita itu segera menepisnya.
“Karena kecemburuanmu, dua kali kamu menuduh aku selingkuh, aku masih bisa memaafkan. Tapi, kamu sama sekali tidak bisa menjadikannya pelajaran. Dan kali ini kita sudah nggak bisa kembali. Kamu sudah jatuhkan talak tiga padaku, Bang. Kamu bilang, kan, waktu itu. Kamu nggak akan menyesali keputusan kamu.”
“Aku cemburu karena aku sangat cinta sama kamu, Sab—“
“CInta, kamu bilang? Sampai-sampai talak pun kau permainkan? Enak sekali mulutmu bicara!” Sabrina mendelik tajam.
Daniel terbelalak. Tak disangka mantan istrinya itu berubah begitu cepat. Wanita yang dulu begitu penurut, sekarang bahkan tidak mau dia bujuk.
“Sab. Aku benar-benar menyesal. Please.” Daniel merengek seperti anak kecil yang mengiba mainan.
“Kita sudah tidak mungkin rujuk, Bang. Kamu sudah menjatuhkan talak tiga padaku. Kecuali ….” Kalimat Sabrina menggantung.
Mata Daniel langsung berbinar saat mendengar masih ada kemungkinan mereka kembali.
“Kecuali apa?” tanya Daniel penasaran.
“Kecuali aku menikah dulu dengan orang lain. Dan itu pun entah kapan akan aku lakukan. Permisi,” pungkas Sabrina, lalu bangkit dan meninggalkan lelaki itu dalam harapan.
“Yees! Akan aku carikan laki-laki untuk menikahimu sementara, Saby. Lihat saja nanti,” gumamnya.
**