“Haduhh … susah juga kalo ke mana-mana naik bus. Gue pengin cepet-cepet punya SIM, deh, Bang. Biar bisa naik motor sendiri.” Keluhan itu terlontar dari bibir si bungsu ketika kaki keduanya menapaki paving halte. Elio mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, dan mengusap butir peluh di dahi. “Lebay, lagian tadi diajak naik taksi nggak mau,” ejek Sagara yang masih tampak segar meski tadi berhimpitan di dalam bus. “Hehe, habisnya kalo naik taksi kayak nggak ada tantangannya. Kalo naik bus gini ‘kan rasanya kayak adventure,” kilah Elio diiringi cengiran. “Ya udah, nggak usah ngeluh kalo gitu.” Sagara menggeleng heran dengan tingkah sang adik. “Iya, iya.” Elio kembali mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Merasa iba dengan adiknya yang tampak gerah, Sagara akhirnya segera

