Setelah tamparan yang terjadi di ruang rapat itu terbentang jarak antara Genta dan Zeta yang begitu luas nan jauh, Zeta yang mendadak diam dan Genta yang dirundung rasa bersalah. Ia terus kepikiran setiap malam sebelum matanya terpejam untuk istirahat.
Dicky pun tampak canggung setiap berada di ruangan yang hanya ada mereka bertiga, entah perasaannya saja atau memang benar adanya. Suasana menjadi begitu dingin bak sedang perang dingin, sekalinya berbicara hanya hal-hal penting saja. Dicky yang biasa mengobrol dengan Genta begitu lancer namun begitu Zeta menampak dirinya ruangan menjadi senyap, Genta menjadi membeku dan bisu.
Seperti biasa kantin ramai dengan Zeta dan Salsa duduk di bangku paling ujung kemudian disampingnya disusul Dicky dan Genta tak lupa Ayu yang selalu menempel kemanapun Genta berada. Tidak ada percakapan, Zeta mendadak focus menghabiskan nasi bekal buatan sang ibunda, sedangkan Salsa dan Dicky hanya sebagai penonton interaksi Ayu yang semakin mencari perhatian.
“Sa, roknya udah gue bawa.” Ucap Zeta dengan senyumannya.
“Oh oke Ta nanti ya pulang sekalian. Takut ketinggalan nanti malah kalau lo kasih sekarang.” Jawab Salsa dengan antusias.
“Makasih ya!” Ucap Zeta dengan senyumannya yang hanya dibalas gelengan cepat Salsa menolak ucapan Zeta, ia menolong tulus untuk Zeta tanpa ada maksud lain. Ia justru merasa tidak enak setiap Zeta mengucapkan terimakasih kepadanya padahal justru dirinya lah yang sering merepotkan perempuan di hadapannya itu.
“Rok apaan sih?” Tanya Dicky mendadak kepo/
“Itu kemarin Zeta minjem soalnya lagi darurat.” Jawab Salsa sedikit mengerem ucapannya begitu Zeta sedikit menyinggung salah satu kakinya di bawah meja.
“Oh jadi itu alasannya Ta, makanya kemarin elo pakek rok?” Tanya Dicky arah pembicaraan dua gadis di hadapannya.
“Emang lo paham maksud Salsa keadaan darurat?” Tanya Zeta memandang remeh Dicky yang sok memahami obrolan mereka.
“Ya pahamlah, masalah cewekkan? Paham gue.” Ucap Dicky berbangga hati menunjukkan meski ia seorang lelaki sejati ia memahami dengan jelas masalah cewek selain pada mood mereka yang sering berubah sesuka hati.
Dalam diam, Genta menyimak setiap obrolan mereka. Ayu pun tak menghiraukan ia sibuk memotret dirinya untuk dijadikan story i********:, berkali-kali tidak pernah puas dengan hasilnya. Rasa bersalah semakin menyelimuti, kata-kata yang kasar keluar begitu saja terus menghantuinya, menegaskan pada Genta bahwa yang ia katakana kemarin adalah sangat keterlaluan.
“Tapi Ta, gue berani sumpah lo cantik kalau pakek rok. Apalagi nih lo keliatan…” ucapan Dicky terpotong begitu Genta sengaja menjatuhkan sendoknya dan sikunya menyinggung lengan Dicky. Dicky mendadak diam seribu Bahasa mengunci bibirnya tertutup rapat.
“Keliatan apa?” Tanya Zeta menanyakan kelanjutan pernyataan Dicky, perempuan itu tidak memahami jika ada sesuatu yang menghentikan Dicky.
“Ya keliatan cantiklah!” Ucap Dicky meralat mencoba menemukan kata pengganti yang pas, agar mereka semua tidak curiga jika sedang ada yang menatapnya tajam bak singa yang akan menerkam.
“Yu, bikin story berapa sih lo? Daritadi selfie mulu makan kaga, habis jam istirahat cuman buat foto nggak bikin kenyang.” Ucap Dicky meledek Ayu, Ayu langsung menatap Dicky dengan wajah bersungut kesal dengan ucapan Dicky.
“Ya menemukan angle yang bagus lah.” Ketus Ayu kesal.
“Antara angle yang nggak bagus atau emang elonya aja yang erro.” Tambah Dicky mengundang gelak tawa menghiasi bangku di sudut kantin itu.
“Ih Dicky mah.” Runtuk Ayu kesal karena ia menjadi bahan candaan.
Tidak sengaja dua pasang mata saling bertatap mata hanya sebentar, keduanya dengan serempak memutuskan kontak mat aitu dan bersikap biasa saja. Zeta berdecak dalam hatinya kagum, ini pertama kalinya ia melihat Genta tertawa lepas dari jarak dekat meski bukan dia yang menyebabkan lelaki dingin itu tertawa.
Memang benar sebenarnya mereka bisa terlibat dalam satu kejadian hanya tidak saling terkait saja, Zeta menutup nasi bekal dan meneguk air mineral dingin yang ia beli. Ia kemudian beranjak berdiri disusul Salsa. Dicky yang melihatnya langsung ikut berdiri.
“Ta! Ajakin gue juga dong kalau mau balik.” Ucap Dicky membuat Salsa dan Zeta saling pandang.
“Kenapa emang kalau nggak diajak?” Tanya Salsa menertawakan tingkah Dicky yang tampak tidak tenang mendengar pertanyaannya.
“Ya kali gue jadi obat nyamuk.” Gumam Dicky menunduk menghindari tatapan Genta seraya menggaruk tengkuk belakangnya.
Genta diam memandang Zeta yang akrab dengan sahabatnya dan juga Salsa. Sedangkan Ayu menatap Genta dan Zeta bergantian, benar saja dugaannya memang benar jika sejak tadi Genta memperhatikan Zeta secara diam-diam.
“Genta, suka sama Kak Zeta?” Tanya Ayu langsung to the point membuat Genta yang tadinya akan meneguk habis es the manisnya mengurungkan niat.
“Kenapa lo tanya itu? Jelas nggaklah.” Ucap Genta ketus, ia sangat sensitive setiap seseorang membicarakan Zeta dihadapannya.
“Kenapa?” Tanya Ayu, rupanya Ayu sangat ingin mengorek lebih dalam bagaimana perasaan Genta sebenarnya kepada Zeta. Seniornya yang pernah membantunya waktu masa training dan memberikan kontak Genta kepadanya, padahal jelas-jelas dia juga pesaingnya untuk memperebutkan seorang Genta Nugroho.
“Bukan tipe gue aja!” jawab Genta membuat Ayu mengulum senyum, menyembunyikan kebahagiaan yang sempat muncul begitu mendengar ucapan Genta dengan wajah serius lelaki itu.
“Berarti masih ada kesempatan dong buat gue.” Ucap Ayu mengangkat kedua alisnya, ia sangat yakin jika Genta memahami maksud perkataannya.
“Maksud elo?” Tanya Genta, ia berpura-pura bodoh sekarang.
“Iya, kalau sama Ayu suka?” Tanya Ayu langsung ceplos membuat Genta membelalakkan matanya lebar tidak menyangka Ayu seberani itu mengatakannya.
“Lo ngomong apasih gue nggak paham.” Ucap genta kemudian segera kabur daripada menjelaskan sesuatu yang masih membuat hatinya bimbang.
Melihat Genta yang sangat jelas sedang menghindar, Ayu tidak tinggal diam dan memilih mengejar ke ruangannya. Tidak peduli disana ada Zeta dan Dicky yang sedang mengobrol, Zeta hanya melirik namun tak mengatakan sepatah kata. Ia masih sakit hati karena ucapan Genta yang sampai saat ini tidak pernah terbesit olehnya Genta akan seperti itu.
Sampai bel masuk berbunyi, Ayu terpaksa mengalah dan kembali ke ruangannya. Usahanya hari ini gagal untuk mengorek tentang perasaaan Genta kepadanya lebih jelasnya. Zeta dan Dicky hanya saling pandang kemudian mengangkat bahu keduanya, tak ingin ikut campur. Itu Zeta, sedangkan Dicky tidak mungkin dalam sehari ia tidak mengganggu Genta.
“Bucin terus! Sama junior pula. Ntar juga bosen di-goshting.” Ucap Dicky langsung mendapat tatapan tajam sedangkan Dicky justru menjulurkan lidahnya.
“Berisik banget lo Dicky! Bilang aja elo irikan sebenarnya sama gue.” Umpat Genta membalas ucapan Dicky.
***
Seperti biasa jam 7 malam tempat, semua karyawan berhamburan untuk absensi melalui fingerprint, apalagi langit begitu gelap meski belum turun hujan. Semuanya segera bergegas pulang kecuali siapa lagi jika bukan Zeta yang masih setia di dalam ruangan. Begitu juga dengan Dicky dan Genta masih sangat santai.
“Ta! Gue pulang duluan ya! Lo sama si Ira kan?” Tanya Salsa yang tiba-tiba muncul hanya di depan pintu.
“Iya Sa duluan aja, hati-hati.” Ucap Zeta dengan senyumannya.
Zeta kemudian segera mencari kontak Ira, sejak tadi dia tidak memberi kabar membuat Zeta harus menghubunginya lebih dulu.
Zeta : lo lembur Ra?
Setelah mengirim pesan kepada sahabatnya, Zeta tak sengaja pandangannya bertemu dengan Genta yang sejak tadi menatapnya. Jika biasa lelaki itu akan membuang muka begitu pandangannya bertemu Zeta berbeda dengan saat ini, lelaki itu tetap menatap Zeta meski perempuan itu menyadarinya.
“Ta! Gue balik ya!” Ucap Dicky yang hanya mendapat pandangan baik dari Zeta maupun Genta, mereka kompak diam karena memang tidak mengetahui untuk siapa sebenarnya ucapan Dicky barusan.
“Maksud gue kalian berdua.” Jawab Dicky menyadari semua mata tertuju padanya, Genta memutar bolanya malas dan Zeta hanya mengangguk tersenyum.
Ira : Gue lembur Ta malah kejar deadline nggak tahu sampai jam berapa.
Sebuah pesan pop-up muncul membuat Zeta bangun dari duduknya yang bersandar pada kursi kerjanya. Ia memanyunkan bibirnya begitu membaca balasan dari Ira. Ia semakin bingung, tidak mungkin untuk meminta bantuan Genta mengingat mereka sedang perang dingin.
Tidak saling berbicara setelah tamparan Zeta ke Genta kemarin beberapa waktu lalu, ia bimbang apakah menyuruh ibunya untuk menjemput atau tidak. Ada dua insan yang berada di ruangan itu namun tak saling tegur sapa, Genta sibuk memainkan ponselnya begitu juga Zeta.
Dddrrttt..dddrrrttt…
Baru saja Zeta akan meletakkan ponselnya namun sebuah dering telepon membuatnya mengambil benda pipih itu lagi. Zeta mengerutkan keningnya karena ternyata yang menghubunginya adalah Mila ibunya.
“Halo, Mah!” Ucap Zeta membuka percakapan seraya melirik Genta yang juga sedang menatapnya.
Belum pulang?
Ucap seseorang diseberang telepon sana yang rupanya sedang menanti kepulangan anak semata wayangnya. Zeta tampak berfikir untuk menjawabnya, Genta kembali focus pada ponselnya tetapi ia pura-pura, ia menatap ponselnya dengan serius tapi jari-harinya berhenti beroperasi dan telinganya tampak bersiaga.
“Ira lembur katanya Mah, nanti kalau sampai jam 9 Ira masih lembur. Zeta pulang.” Jawab Zeta mengetukkan jari jemarinya ke meja kerjanya.
Pulang sama siapa? Mamah jemput?
Lagi-lagi ia tampak berfikir kembali, Genta melihat wajah Zeta yang tampak serius justru membuatnya gemas.
“Iya nanti Mamah jemput kesini.” Jawab Zeta dengan senyumannya, sebenarnya jika saja hubungannya dengan Genta membaik ia masih punya muka untuk sekedar minta tolong untuk diantar sayangnya Zeta masih sedikit kesal dengan ucapan Genta beberapa waktu lalu.
Ucapan singkat dengan sejuta makna, -pengen tidurin elo- tiga patah kata yang menurut Zeta sudah keterlaluan, itu artinya selama ini Genta hanya memandangnya sebagai perempuan yang murahan dan tidak memiliki harga diri. Benar-benar mengejutkan dan menyakitkan jadi satu.
“Genta!” Panggil Ayu menghampiri Genta, ia melintas di depan Zeta dengan senyuman menyapanya.
“Kak Zeta belum pulang?” Tanya Ayu dengan wajah manisnya, Zeta menggeleng dengan senyuman ramahnya.
“Nanti nunggu jemputan Yu.” Ucap Zeta, seberapapun tingkah Ayu, Zeta tidak bisa membencinya begitu saja mengingat gadis itu selalu periang dihadapannya sekalipun ia tidak tahu bagaimana sikap sebenarnya dari Ayu kepadanya.
“AYok pulang!” Ajak Ayu pada Genta, Zeta menarik nafasnya Panjang berusaha bersikap normal menutupi rasa cemburu yang menyerangnya tiba-tiba.
“Duluan aja!” Tolak Genta pada Ayu justru mengeluarkan seputung rokoknya dan menyalakan korek apinya.
“Loh Genta nggak mau pulang?” Tanya Ayu terkejut ini pertama kalinya lelaki di depannya ini menolaknya untuk pulang Bersama, biasanya apapun yang ia minta selalu dituruti oleh lelaki itu.
“Ya udah gue pulang duluan, Mari Kak Zeta.” Ucap Ayu berpamitan pada Zeta yang hanya mendongak dan tersenyum.
Dalam hati Ayu ia sudah menduga jika Genta menolak pulang dengannya, ia sangat yakin jika lelaki itu menunggu Zeta juga untuk pulang. Ia mulai menaruh ada ketidakberesan hubungan Genta dan Zeta ketika mendapati Zeta keluar ruangan rapat dengan wajah sembab dan bekas air mata yang perlahan mengering di pipinya.
Hening tidak ada suara apapun menghiasi ruangan, Genta dan Zeta saling sibuk pada ponselnya masing-masing. Genta hanya sesekali melirik perempuan yang kini duduk membelakanginya, sedangkan Zeta benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia ingin mengajak Genta berbicara terlebih dahulu tapi sepertinya tidak mungkin, posisinya perempuan itu sedang marah besar padanya.
Genta melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan kurang, waktu masih lama. Tidak tidak bukan waktu untuknya tetapi waktu untuk Zeta pulang. Entah malaikat mana yang merasukinya tiba-tiba muncul sebuah ide untuk menemani Zeta menunggu jemputan, ia benar-benar tidak beranjak padahal dulu ia tidak peduli, bahkan dulu Genta berkemas cepat-cepat hanya untuk menghindari Zeta agar tidak meminta bantuan kepadanya.
Genta beranjak berdiri tiba-tiba rasanya sebat tanpa secangkir kopi hitam kurang mantap rasanya ia beringsut untuk ke dapur kantor namun ia menemukan sebuah alasan untuk memecahkan keheningan diantara dirinya dengan Zeta.
“Ta! Bikinin gue kopi dong!” Ucap Genta membuat Zeta menoleh kepadanya.
Zeta menghela nafas kasar, ia diam tak menghiraukan Genta yang masih berdiri di meja kerjanya. Genta berdecak rupanya Zeta ingin main jual mahal dengannya, Genta menghampiri Zeta dengan langkah lebarnya. Memutar kursi Zeta untuk berhadapan dengan dirinya.
“Oh mau sok jual mahal lo sama gue?” Tantang Genta dengan tatapan tajam yang selalu ia lemparkan tepat pada mata Zeta.
“Apasih Bang!” Ucap Zeta menepis tangan Genta yang entah sejak kapan selalu mencengkeram lengannya begitu keras, sangking kerasnya tepisan Zeta bak angin yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Genta.
“Di ruangan ini tinggal elo sama gue, gua bisa aja nglakuin yang gue mau.” Ucap Genta memandang remeh Zeta.
Zeta melirik sudut ruangan terdapat cctv yang bila terjadi apapun kepadanya ia bisa menuntut Genta dengan bukti rekaman itu. Genta rupanya memahami arah mata Zeta yang menatap lurus pada cctv di belakangnya.
“Ada cctv? Gue nggak takut. Gue bisa nglakuin apa aja tanpa diketahui cctv. Gue seret elo ke atap juga udah beres.” Gertak Genta semakin menggebu sedangkan Zeta sudah bergedik ngeri mendengar ancaman Zeta.
Apa yang ditampilkan Genta sungguh berbanding terbalik, Genta hanya ingin mengajak berbicara Zeta namun selalu saja rasa gengsi membutakan otak fikirannya yang tadinya jernih kini berubah keruh tiba-tiba.
Zeta mengalah ia beranjak berdiri mengalah membuatkan Genta kopi sesuai keinginannya. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri dimana Genta tidak bisa menemukannya. Melihat Zeta yang bergegas menuju dapur kantor membuat Genta tersenyum sembari memasukkan salah satu tangannya ke kantong celananya.
“Bang Ayok!” Ucap Zeta yang rupanya muncul lagi dibalik pintu membuat Genta langsung mengubah raut wajahnya kembali datar dan dingin.
“Sendirian aja manja banget sih!” Hardik Genta membuat Zeta memanyunkan bibirnya, seberaninya Zeta dia tetaplah perempuan yang takut akan kegelapan.
“Temenin dong!” Rengek Zeta.
Genta berdecak berjalan menghampiri Zeta yang menatapnya dengan kesal. Genta menarik paksa tangan Zeta membuat Zeta membelalakkan matanya terkejut bukan main. Jantungnya berdetak kencang, apa sebenarnya yang salah darinya. Ia sedang diseret kasar bukan digenggam tangannya seperti lelaki pada umumnya.
Namun, jantungnya berdetak kencang membuat Zeta sedikit gugup dan hampir saja lidahnya kelu tak bisa berkata-kata. Semuanya lenyap begitu Genta menatapnya dengan tatapan tajam perlahan kakinya mendekatkan diri pada kaki Zeta, Zeta menarik nafasnya dan melangkah mundur setiap Genta melangkah kakinya mendekat.
Sampai punggungnya menabrak sebuah lemari penyimpanan dapur di kantornya Zeta semakin tak bisa mengontrol nafasnya yang bekerja lebih cepat dibanding sebelumnya. Genta justru tersenyum puas dalam hatinya melihat wajah raut Zeta yang terlihat begitu cemas.
“Alasan mau ditemenin apa lo mau….”
Ucapan Genta sengaja digantung, raut wajahnya benar-benar menakutkan tak seperti Genta biasanya. Zeta yang tak kuasa begitu nafas hangat menyapu wajahnya spontan tangannya mendorong tubuh Genta untuk menjauh. Sayangnya tenaganya mendadak begitu lemas setiap mata elang Genta bertemu mata teduh miliknya.
“Sok suci lo!” Desis Genta dengan tatapan merendahkan.
Zeta tersulut emosi ia mendorong sekuat tenaga agar Genta beranjak dari sisinya. Benar saja tubuh Zeta yang tadinya terhimpit kini bisa bernafas lega. Tidak dalam kuasa Genta, Zeta segera beranjak berlari keluar dapur kantor.
Dia sedang dalam bahaya tapi reaksi tubuhnya benar-benar bodoh. Hanya sekejap kini rasa takut menyelimuti dirinya. Zeta memberesi kasar dokumen-dokumen kerjanya yang penting. Genta terdiam Zeta yang segera berkemas dengan terburu-buru, tidak menyangka rupanya perempuan itu ketakutan.
Zeta justru sengaja menutup pintu kantor membuat Zeta semakin kebingungan dan panik menghampirinya. Ia menempelkan benda pipih ke telinganya mencoba menghubungi seseorang. Genta melirik jam dinding yang masih setengah Sembilan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya sesekali menghisap rokok yang berada dihimpitan sela jarinya.
“Ra, gue pulang duluan aja ya. Mamah gue udah jemput. Lo pulangnya hati-hati ya!” Ucap Zeta tersenyum palsu begitu memasukkan ponselnya ke tasnya, Genta yang melihat wajah Zeta yang rupanya pandai berakting itu hanya tertawa sinis.
“Plisss… Bang, minggir.” Mohon Zeta yang tampak ketakutan memohon pada Genta untuk tidak menghalangi pintu keluar.
“Gue kayaknya nggak salah denger, kalau lo bakal telepon nyokap elo dulu buat pulang. Tunggu aja di dalam Ta.” Ucap Genta dengan nada menggoda membuat Zeta justru semakin dilanda ketakutan. Matanya memerah dan terasa panas, menatap Genta yang menatapnya seperti ingin membantainya habis-habisan mala mini.
“Bang Genta!” Desis Zeta lirih menatap Genta, memohon untuk dilepaskan.
Zeta menang, Genta menarik tangan Zeta sebelum perempuan itu lari dari dirinya. Zeta kebingungan ketika Genta menyeretnya untuk mengikutinya berjalan ke meja kerjanya.
“Bang gue mau pulang!” Pekik Zeta mencoba melepaskan genggaman Genta kepadanya.
“Gue bilang diem ya diem. Gue serius Ta!” Gertak Genta membuat Zeta menunduk ketakutan.
Meski rasanya ia ingin berlari menjauh tetapi ia tetap menunggu Genta yang berkemas. Begitu selesai, Genta mematikan lampu ruangannya dan bergegas keluar kantor Bersama dengan Zeta yang mengikutinya dari belakangnya.
“Ayok naik!” Ucap Genta setelah mengenakan helm full face-nya. Zeta tampak terdiam berfikir apakah ia menuruti Genta.
“Nggak usah ge-er gue suka sama elo. Gue cuman mainin elo aja tadi. Nggak nafsu gue sama elo!” Ucap Genta pedas pada Zeta yang tampak ragu-ragu.
Mendengar celoteh pedas Genta harusnya ia merasa sakit hati bukan malah merasa jika Genta yang dulu membencinya telah kembali. Menurutnya lebih aman dibandingkan berhadapan dengan Genta di dapur kantin tadi benar-benar seperti seseorang yang tidak ia kenal sebagai seorang Genta.
Zeta naik, motor melaju ditengah kota dengan kecepatan yang sedang. Dari dalam kaca helm Zeta menatap langit yang benar-benar gelap dan ada beberapa kilatan petir yang terlihat menandakan akan turun hujan deras sebentar lagi.
“Bang gue…”
Ucapan Zeta terpotong dengan rintik-rintik hujan yang datang dengan cepat dan dengan derasnya mengguyur jalanan kota yang tadinya penuh debu. Zeta memejamkan matanya dalam diam memanyunkan bibirnya dengan wajah cemberutnya.
“Lo ngomong apa Ta?” Tanya Genta memelankan laju motornya sambil mengusap kaca spionnya yang mendadak buram karena terkena guyuran air hujan.
“Nggak. Bang.” Ucap Zeta pasrah mau gimana hujan sudah membasahi hampir seluruh bajunya.
Untungnya hanya awalan saja hujan turun begitu deras, Genta menepikkan motornya membuat Zeta mengeryit heran mengapa ia merasa motor Genta perlahan memelan dengan sendirinya.
Genta berhenti di sebuah emperan toko yang masih buka, Zeta turun dan memandang Genta yang tak sadar jika sejak tadi Zeta terus menatap heran kepadanya.
“Lo kenapa mantengi gue sih?” Gertak Genta rupanya lelaki itu menyadari jika Zeta terus menatap gerak-geriknya.
“Kenapa berhenti disini?” Tanya Zeta heran sambil memandang sekitar, warung soto yang masih buka itu.
“Mata lo buta? Hujan deres gitu.” Ucap Genta membuat Zeta bungkam, bukan salahnya sepertinya jika ia menanyakan hal wajar. Bukankah biasanya Genta melajukan motornya meski hujan deras sekalipun.
“Oh mau pake mantol?” Tanya Zeta terus menepis fikirannya bahwa Genta mengajaknya meneduh karena ia tidak membawa mantol seperti biasanya, bukan karena ia tidak membawa lebih tepatnya ia tidak mempunyainya.
“Berisik banget sih lo!” Umpat Genta tepat di depan muka Zeta yang langsung mengulum kedua bibirnya menutupnya rapat karena jarak mereka yang sangat dekat.
Genta masuk ke dalam warung soto itu diikuti Zeta dibelakangnya yang hanya mengekor. Mereka duduk disana, menanti sang pelayan mendatanginya. Zeta memainkan jari-jemarinya di bawah meja, perempuan itu tampak merasa canggung karena tak terbiasa untuk makan pertama kalinya dengan Genta, hanya berdua.
“Saya pesan dua soto ya pak. Sama… dua the hangat.” Ucap Genta sedikit menggantung ketika memesan minuman, ia melihat rambut Zeta yang sedikit basah.
Dddrrttt…dddrrttt…
Mamah is calling….
Getaran ponsel Zeta membuat kedua mata Genta dan Zeta tertuju padanya. Zeta meraih ponselnya namun tak kunjung untuk mengangkatnya. Ia terdiam sejenak memandang Genta dengan tatapan khawatir membuat Genta bertanya-tanya apa yang sebenarnya gadis dihadapannya pikirkan.
“Halo Mah!” Ucap Zeta setelah menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.
Jadi nungguin Ira apa Mamah jemput, Zeta?
“EE….” Zeta bersuara sambil menatap Genta yang juga menatapnya, perempuan bernama lengkap Arzeta Maharani itu tampak bingung harus bagaimana mengambil keputusan.
“Zeta ini pulang kok Mah, Ira kayaknya lembur sampai malam.” Ucap Zeta menyakinkan Mila untuk tidak menjemputnya.
Sama Salsa? Disini udah hujan deres soalnya Ta.
“Enggak, sama temen Zeta satu kantor kebetulan searah. Ini lagi neduh Mah.” Ucap Zeta menunduk, ia tidak sanggup menatap mata Genta yang tampak ingin memangsanya. Genta terdiam ketika mendengar bagaimana Zeta menceritakan dirinya di depan Mamahnya.
Apakah benar?dia adalah salah satu teman Zeta. Bahkan mereka tak pernah saling tegur sapa, yang ada justru pertengkaran yang terus berlanjut. Bahkan hanya Zeta yang terus-terusan bersikap baik kepadanya, sedangkan Genta sama sekali tidak pernah terlintas menganggap Zeta sebagai teman. Dalam bayangannya, Zeta hanyalah salah satu perempuan agresif yang tidak tahu malu.
“Makasih pak.” Ucap Zeta begitu sang penjual meletakkan dua porsi paket soto di hadapannya.
Sangat cocok dengan cuacanya bukan, Zeta mengambil kuah soto itu meniupnya pelan kemudian memasukkan satu suapan, begitu hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Ia yakin bakal masuk angin jika masih dilanjutkan untuk pulang.
Hening, Genta sedang berperang antara otak dan hatinya yang tidak sejalan, mimpi apa dia mengajak makan Zeta makan Bersama padahal ia sangat tidak menginginkan kehadiran Zeta di sekitarnya. Zeta memegang rambutnya agar tak masuk ke dalam kuah soto. Ia lupa jepit rambutnya ia tinggalkan di kantor.
“Rambut lo itu!” Celetuk Genta membuat Zeta tersenyum canggung. Ia menggenggam rambutnya agar tidak tertiup angin.
“Gue lupa nggak bawa gelang karet Bang.” Jawab Zeta tidak enak hati.
Genta menyodorkan sebuah gelang karet yang tadinya ia gunakan sebagai gelang. Zeta memungutnya pelan mencoba menyembunyikan senyumannya. Ia mengikat rambutnya asal agar rambutnya tidak mengganggu acara makan malamnya.
Zeta tidak menyadari saja, Genta sempat terkesima melihat Zeta yang mengikat rambutnya asal. Ada yang mengatakan perempuan cantik ketika sedang mengikat rambutnya, Genta membenarkan ia sampai tidak mengedipkan matanya menyaksikan bagaimana tangan mungil Zeta mengikat rambutnya padahal juga itu asal-asalan.
“Makasih!” Ucap Zeta dengan senyumannya pada Genta membuat Genta tersadar dan segera menyembunyikan wajahnya yang sempat terlena tadi.
“Lo jangan mikir yang aneh-aneh ya Ta, gue ngajak lo…”
“Iya, Gue tahu cuman karena pengen neduh aja bukan karena ada rasa sama gue.” Potong Zeta dengan senyumannya membuat Genta bungkam, dalam hatinya ada sesuatu yang bergejolak melihat senyum Zeta yang tulus tanpa ada unsur dipaksakan agar terlihat lembut dihadapannya.
Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sekarang. Ia lebih memilih memutar badannya dan menatap jalan, menghabiskan suapan demi suapan soto yang masih hangat. Lumayan mengurangi rasa dingin yang menusuk tulangnya. Begitu juga Zeta dalam diamnya ia menegaskan bahwa ini hanya jebakan keadaan bukan asli naluri dari seorang Genta mengajaknya makan malam.
Setidaknya, ia beruntung. Genta tidak membiarkan basah kuyup seperti waktu lalu. Apakah kutub utara di hati Genta sudah mencair?
TBC