JANGAN MEMAKSAKAN !

3284 Words
Pagi dengan cuaca mendung, ditemani dengan secangkir kopi di depan layer computer cukup untuk menghangatkan badan dengan sepotong brownis buatan sang ibunda. Rambutnya sengaja diuraikan untuk mengusir rasa dingin yang menyerang bagian lehernya. Zeta sampai lebih dulu di kantor sedangkan jam kerja masih cukup lama. “Pagi banget Ta!” Sapa Dicky yang masuk ke dalam ruangan menemukan Zeta sudah siaga di meja kerjanya. “Iya nih takut hujan Dik.” Ucap Zeta dengan senyumannya, Dicky memang mengenal Zeta dengan baik tapi dia juga yang membuat Genta akhirnya mengetahui perasaan perempuan itu dan perlahan menjauh darinya. “Bareng sama temen elo itu?” Tanya Dicky membuat Zeta mengangguk. Baru saja akan membuka mulutnya, Genta masuk dan membuat Zeta mengatup rapatkan kedua bibirnya, mengurungkan niatnya untuk menanggapi kata Dicky. Genta tampak melirik sebentar meja kerja Zeta yang sudah tertata rapi siap untuk bekerja hari ini. “Widih tumben nih pagi banget lo pada!” Ucap Dicky membuat Zeta dan Genta saling pandang. “Iya nih takut hujan gua.” Celetuk Genta membuat Zeta terdiam, bagaimana bisa susunan kata keduanya sama persis. Dicky tersenyum memandang Zeta, Zeta melenyapkan senyumannya begitu saja begitu Genta memandang dirinya. “Ta! Nanti lo nyuruh Ayu bikin surat pengantar buat projek baru.” Ucap Genta membuat Zeta menoleh kepadanya. “Kenapa nggak Bang Genta saja yang nyuruh.” Ucap Zeta lirih, memandang Genta dengan wajah yang khawatir jika ada kesalahan lagi yang mungkin ia perbuat. “ Gue nyuruh elo!” Tandas Genta dengan kasar membuat Zeta menghela nafas menghilangkan rasa takutnya. Dicky yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa satu departemen Genta hanya membuat Zeta tidak nyaman, justru membuat Genta seperti sengaja melemparkan semua kesalahan kepada Zeta padahal tidak sepatutnya itu kesalahannya. “Gue aja deh Ta kalau lo nggak mau.” Ucap Dicky kemudian beranjak dengan rasa tidak enak pada Zeta. “Makasih Dik.” Ucap Zeta sedikit berteriak karena Dicky sudah berlalu begitu saja sedangkan Genta menatap tajam Zeta sejak tadi dalam diamnya. “Kenapa lagi sih Bang?” Tanya Zeta menanggapi tatapan tajam Genta, awalnya mungkin setiap bertemu dengan perilaku Genta kepadanya ia tampak terbiasa namun lambat laun kini ia mulai merasa rishi. “Kenapa sih nggak mau?” Tanya Genta dengan senyuman sinisnya kepada Zeta, tanpa rasa bersalah. Zeta memilih diam tidak menjawab pertanyaan Genta, semakin hari semakin dirasa Zeta jika hubungannya dengan rekan kerjanya itu semakin tidak jelas entah karena perasaannya terhadap Genta atau sebaliknya. “Masalah pribadi tuh nggak usah dibawa-bawa ke kerjaan.” Hardik Genta mendatangi meja Zeta. Zeta hanya menatap nanar Genta yang duduk di meja kerjanya sekarang, hanya tatapan tajam entah mengapa dadanya terasa sakit membuatnya lebih memilih bungkam. Zeta sudah merasa Lelah karena setiap yang ia perbuat selalu salah di mata Genta. “Yang bawa masalah pribadi ke kerjaan siapa sih Bang!”  Tegas Zeta tidak terima lebih memilih meneguk kopinya yang semula hangat kini perlahan dingin. “Kenapa elo benci banget gitu sama si Ayu? Karena dia deket sama gue?” Tanya Genta dengan ucapan meremehkan seolah perasaan yang dimiliki Zeta membutakan dirinya dan bersikap posesif kepada Genta, membenci setiap orang yang berada di sekitar lelaki idamannya. “Gue nggak pernah berfikir kayak gitu ya Bang!” Tegas Zeta penuh penekanan. “Alah… ngaku aja deh Ta! Gue tahu dibalik sikap elo yang sok lemah lembut cuman pengen cari perhatian gue kan lo?” Tanya Genta dengan sarkatik membuat Zeta menggeleng dan tersenyum getir, tidak habis fikir jika selama ini rupanya memikirkan dirinya dengan sudut pandang demikian. “Gue harus gimana sih Bang? Sikap gue gimana? Yang mana yang harus gue ubah biar elo nggak selalu salah paham terus sama gue!” Ucap Zeta mulai terdengar parau. Perdebatan ini tidak ada kontak mata, Genta memang menatap Zeta sedangkan perempuan itu lebih memilih menunduk, ia tidak ingin Genta mengetahui apa yang raut wajahnya tampilkan sebenarnya. “Nggak ada! Nggak ada yang perlu elo ubah. Elo berubah kayak Ayu pun nggak bakal bikin gue bisa demen sama elo!” Tegas Genta membuat Zeta yang sejak tadi hanya menunduk kini mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Genta beranjak dari duduknya di meja kerja Zeta, ia kembali ke tempatnya begitu melihat Dicky keluar dari ruangan membawa selembar dokumen. Zeta menghela nafasnya, menetralkan kembali detak jantungnya yang sempat memburu karena sejak tadi perang celotehan dengan Genta. Memang tadi adalah pertama kalinya Genta menghampiri dirinya, sayangnya bukan niat baik yang lelaki itu bawa hanya ucapan-ucapan yang tak seharusnya ia ucapkan kepada Zeta. “Ta! Lo nangis?” Tanya Dicky begitu masuk ruangan melihat Zeta yang mengusapkan tisu di kedua matanya. “Enggak lah!” Bantah Zeta dengan nada seolah ia tidak terima, hanya saja Dicky tak langsung percaya begitu saja karena dari suaranya saja jelas jika perempyan itu usai menangis. Sejenak Dicky menyodorkan dokumen kepada Genta dengan tatapan menyelidik. Genta yang menyadari jika sahabatnya itu rupanya tengah menuduhnya langsung melayangkan tatapan membunuh yang hanya dibalas tatapan Dicky merasa tidak enak. “Kenapa lo natap gue? Mau nuduh gue lagi bikin dia nangis lagi?” Tanya Genta spontan membuat Dicky membelalakkan matanya, Zeta memandang dua lelaki itu. “BUkan gue yang bikin dia nangis, dia aja yang terlalu baperan. Cengeng banget jadi cewek.” Ucap Genta tandas, seolah ia meninggalkan hati nuraninya jika menyangkut dengan apapun tentang Zeta. “Ta!” Tegur Dicky pada Genta yang menurutnya sahabatnya itu sudah kelewatan. “Kan gue bener Dik. Dia aja yang dikit-dikit nangis.” Hardik Genta membuat Zeta tidak tahan memilih beranjak keluar ruangan. Dia sudah tidak sanggup, sejujurnya sudah tidak sanggup menanggapi Genta yang begitu keras kepala itu. Bahkan rutinitas Zeta yang semula benar-benar agresif demi dekat dengan Genta sudah ia hentikan namun justru kebencian Genta semakin menjadi. Tidak ada hari dimana Genta tidak marah-marah dengannya. “Lo kebangetan deh Ta!” Omel Dicky menepuk bahu Genta. “Kelewatan darimana? Orang gue biasa aja.” Ucap Genta masih segan untuk membela diri rupanya. “Salah dia dimana sih Ta? Padahal gue lihat dia udah agak jaga jarak sama elo gak kayak dulu lagi. Nempel mulu kayak prangko.” Jelas Dicky heran dengan sikap Genta yang tiba-tiba selalu berubah arogan setiap ada Zeta disisinya. Genta diam, yang dikatakan sahabatnya itu memang ada benarnya. Sudah lama Zeta tidak mengambil inisiatif untuk mendekatinya bahkan pesan yang selalu dikirimkan kepada Genta setiap malam sudah lenyap, terakhir beberapa bulan yang lalu tepatnya saat ada karyawan baru, Ayu di kantornya. “Gue tahu deh kenapa elo jadi gini.” Ucap Dicky menebak membuat Genta langsung menoleh pada Dicky yang menyilangkan kedua tangannya di dadanya, seolah sedang berpikir keras. “Lo mulai demen sama dia kan Ta? Ngaku deh. Elo mulai kangen dia.” Ucap Dicky membuat Genta langsung menggelengkan kepalanya cepat tidak terima dengan tuduhan Dicky kepadanya. “Yaelah Dik. Apasih yang gue kangenin dari seorang Zeta. Demen apa lagi? Badan juga nggak seksi amat. Wajah juga pas-pasan.” Ucap Genta pedas membuat Dicky mengelus dadanya, bagaimana bisa laki-laki mengatakan hal sehina itu kepada perempuan. “Amit-amit Ta, nyebut-nyebut. Kena karma mampus lo!” Umpat Dicky langsung menjauh khawatir jika ucapan Genta semakin menjadi-jadi. Sedangkan Zeta memilih menenangkan dirinya di lantai atas, sangat jarang karyawan kesana karena memang tempat duduk yang terbatas dan juga terik matahari yang begitu menyengat di siang hari. Sayangnya, mereka tidak mengetahui ada satu tempat yang bahkan disana mereka bisa meraskan semilir angin sepoi-sepoi menyegarkan, tempat persembunyian Zeta selama ini. Ia benar-benar tidak sanggup lagi jika harus tetap berada di sisi Genta, tapi hatinya mengatakan ini belum seberapa dan menyuruhnya bertahan. Ia berharap esok akan menjadi hal baik dan semuanya akan membaik. *** Hari yang sangat cerah, namun terkadang semesta sebercanda itu, pagi panas menjelang sore tiba-tiba malam sudah mengguyur kota. Seperti biasa jalanan sangat padat namun udara masih tetap segar belum terkontaminasi dengan berbagai debu layaknya kota-kota besar. Genta dan Dicky sudah tiba di kantor sedangkan Zeta entah kemana, sangat tumben jika perempuan itu datang terlambat dibandingkan mereka. Genta mengeluarkan proposal proyek yang disetujui untuk kegiatan kerja sama dengan salah satu mitra perusahaan di Batam. Mau tidak mau nantinya, ada beberapa karyawan yang akan terbang ke Batam untuk pembukaan kantor mitra baru disana. “Dia kemana?” Tanya Genta pada Dicky sambil menunjuk meja kerja Zeta dengan dagunya, sedangkan Dicky hanya mengangkat bahunya tidak tahu. “Ya nggak tahu lah Ta gue! Lu piker gue emak Zeta.” Sahut Dicky dengan nada polos dan memasang wajah seperti orang lugu padahal kenyataannya sangat jauh dari kata lugu. “Cari sana lo! Bilang ada rapat ntar!” Titah Genta pada Dicky membuat Dicky rasanya ingin melempar sepatu saja pada sahabatnya. “Lu kalau bingung karena Zeta nggak ada bilang aja, nggak usah gengsi nyuruh-nyuruh gue.” Ucap Dicky membuat Genta langsung mengaitkan kedua alisnya. “Nggak usah ngajak rebut pagi-pagi.” Ucap Genta sembari mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. “Iya ini gue cari dimana Ta? Lu piker Zeta barang bisa dicari di kolong meja.” Ucap Dicky mulai kesal. “Di ruangan sebelah kali dia.” Ucap Genta dengan nada geram. Dicky segera beranjak ke ruangan sebelah, ruangan sebelum Zeta pindah ruangan. Dicky celingak-celinguk sebelum masuk ke ruangan memastikan apakah yang dikatakan Genta benar jika Zeta ada di dalam sana. Ia kemudian masuk dan hanya ada beberapa karyawan termasuk Salsa. Batang hidung Zeta rupanya belum menampakkan diri. Dicky melirik jam dinding yang bertengger itu waktu menunjukkan jam delapan kurang 10 menit. “Cari siapa sih Dik?” Tanya Salsa heran dengan sikap Dicky yang tampak kebingungan. “Zeta mana sih?” Tanya Dicky menghampiri Salsa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebenarnya. “Oh tadi sih ke toilet.” Ucap Salsa kemudian melanjutkan aktivitas menyisir rambutnya. “Gue disuruh Genta buat cari dia, katanya ada rapat pagi ini.” Ucap Dicky membuat Salsa menoleh. “Keburu? Gue bisa susul. Sampein ke dia.” Ucap Salsa menawarkan bantuan, tidak mungkin jika Dicky yang akan menyusul Zeta ke toilet. Bisa-bisa habis dikeroyok karyawan wanita yang sedang berada di toilet. “Iya boleh deh. Sampein ke Zeta ya Sa!” Ucap Dicky dengan mata berbinar. Salsa pun hanya membalas dengan lambaian tangan kemudian menuju toilet. Ia melihat pintu toilet yang masih tertutup, ia yakin jika Zeta ada di dalam sana. “Ta! Zeta!” Panggil Salsa memberanikan mengeluarkan suara karena toilet mulai sepi. “Iya Sa! Gue disini.” Sahut Zeta dari dalam, mendengar jawaban dari Zeta, Salsa mendekat ke pintu toilet. Bersandar dengan kedua tangan ia silangkan di depan d**a. “Ta! Katanya lo dicari Bang Genta.” Ucap Salsa sengaja menyampaikan dengan sepatah-patah agar sahabatnya sedikit merasa percaya diri. “Hah Bang Genta, ngapain?” Sahut Zeta dari dalam lagi, dari nadanya Salsa yakin Zeta justru tidak percaya. “Katanya ada rapat hari ini.” Ucap Salsa memainkan kuku-kukunya yang sengaja ia cat warna abu-abu. “Bisa sampein nggak, gue nggak bisa ikut Sa. Gue agak telat masuk.” Ucap Zeta seperti sedikit cemas. “Emang kenapa sih Ta?” Tanya Salsa justru penasaran begitu Zeta menolak dan sangat lama di toilet. Ceklek… Suara pintu terbuka, Zeta keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak ragu untuk memberitahu Salsa. Salsa pun dengan sabar masih menunggu Zeta untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Zeta memutar badannya di hadapan Salsa, Salsa memperhatikan penampilan sahabatnya menurutnya tidak ada yang salah kecuali noda merah di celananya. “Lo datang bulan?” Pekik Salsa membuat Zeta memanyunkan bibirnya. “Iya, gue nggak tahu kalau udah tembus gini. Mana baju gue kayak gini ikutan kena.” Jawab Zeta dengan cemas. Salsa terdiam tampak berfikir untuk mengatasinya. Zeta justru semakin bingung melihat waktu yang ditunjukkan arloji di tangan kirinya menunjukkan jam masuk kerja. “Gimana dong Sa?” Tanya Zeta mulai kebingungan tidak mungkin ia bekerja dengan noda merah di celananya, sedangkan bajunya yang biasanya ia keluarkan entah mengapa hari ini ia masukkan. Menurutnya akan tampak rapi, malah justru sedang malang nasibnya. “Gue ada rok Ta, baru gue ambil di laundry-an tadi pagi. Lo mau pake nggak?” Tanya Salsa teringat sejalan dengan ia pergi ke kantor, ia sempatkan diri untuk mengambil baju yang sudah ia cuci menggunakan jasa laundry. “Rok? Gue nggak pernah pake rok Sa!” Ucap Zeta sedikit ragu pasalnya ia selalu menggunakan celana untuk bekerja. “Gimana darurat nih? Mau nggak? Nggak pendek banget kok. Dibawah lutut.” Ucap Salsa tetap memaksa Zeta. “Ya udah siniin gue pake aja. Daripada gue pake celana kotor ya kan.” Ucap Zeta akhirnya mengalah. Lebih baik menggunakan rok setidaknya bersih daripada celana dengan noda merah menghiasinya. Salsa pun segera bergegas menuju parkiran untuk mengambil roknya di bagasi. *** Genta dan Dicky saling pandang, beberapa kali berdecak setiap ada karyawan yang masuk ke dalam ruangan rapat. Genta beberapa kali menghembuskan nafas gusar, ia mengecek ponselnya barang kali ada pesan dari nomor perempuan yang sekian lama ia bisukan. “Kemana sih dia Dik?” tanya Genta mulai gusar. “Nggak tau Ta, tadi kata Salsa di toilet gitu.” Ucap Dicky mulai ikutan panik karena yang diharapkan tak kunjung datang. “Itu Zeta!” Pekik Dicky begitu orang yang diharapkan muncul juga. Namun ia terdiam sesaat melihat penampilan Zeta tak seperti biasanya. Semua mata tertuju pada Zeta yang biasanya menggunakan celana Panjang satu warna dengan blazer kini untuk pertama kalinya menggunakan rok simple namun sangat cocok dengan dirinya, tak terlalu pendek namun semua mata tersorot pada kaki jenjang Zeta yang begitu Panjang. Tidak hanya mereka, Genta pun sempat terdiam sesaat namun ia buru-buru bangun dari kesadarannya. Ia melirik Zeta yang mengambil kursi di sampingnya. Ia tampak terengah-engah sampai ada keringat di dahinya yang tertutup poni. “Maaf!” Ucap Zeta lirih entah pada Dicky atau Genta. Melihat Zeta yang tampak terengah-engah berusaha menetralkan deru nafasnya secepat mungkin Dicky memberikan tisu kepada perempuan itu untuk mengusap keringat di wajahnya. Membukakan botol minum yang berada di hadapan Zeta. Zeta meneguknya kemudian tersenyum dengan wajahnya yang kembali segar kepada Dicky. “Makasih Dik.” Ucap Zeta dengan wajah lega. “Darimana sih lo?” Desis Genta setelah menarik lengan Zeta sedikit kasar, sehingga ia berbisik tepat di telinga perempuan yang kini membelalakkan matanya karena terkejut. “Maaf Bang, gue lagi darurat.” Ucap Zeta menoleh wajahnya pada Genta. Waktu seakan berhenti begitu Zeta menyadari jarak wajahnya dengan Genta sangat dekat. Hingga nafas Genta terasa menyapu wajahnya. Mereka berdua membeku namun segera saling menjauh sebelum ada karyawan yang menyadarinya. “Ta!” Panggil Dicky tersenyum membuat Zeta justru memandangnya aneh. “Lo cantik!” Puji Dicky dengan sedikit malu dan Zeta tercengang dengan pipi yang tiba-tiba berubah merah merona dengan sendirinya. Berbeda dengan orang-orang yang memandang Zeta kagum, Genta seperti tidak suka dan rasanya ingin menarik Zeta keluar dari kerumunan sekarang juga tapi ia menahannya. “Oke rapat kita mulai hari ini.” Ucap Adi membuka rapat menciptakan suasana yang mendadak hening seketika. “Proposal sudah ada kan Genta?” Tanya Adi kepada Genta yang langsung dibalas Genta dengan mengangkat sebentar proposal yang ia bawa. “Oh ya! Zeta meskipun kamu sudah pindah di departemen operasional. Proyek kamu kemarin tetap akan kita jalankan.” Tambah Adi yang hanya dibalas anggukan Zeta. Rapat berjalan lancer, sekilas hanya memperjelas maksud kegiatan di Batam nanti. Tidak memakan banyak waktu, semuanya sudah jelas dan selesai. Berhamburan untuk keluar sedangkan Zeta tampak menunggu untuk sepi hanya sekedar berdiri. Ia sama sekali tidak nyaman dengan rok yang ia kenakan, meski tidak terlalu terbuka namun tetap saja ia tidak leluasa. Apalagi setiap mata memandangnya begitu ia memasuki ruangan. Dicky sudah keluar duluan sedangkan Genta membereskan dokumen dan juga beberapa alat untuk rapat pagi ini. “Kenapa lo nggak segera pergi?” Tanya Genta sambil melirik tajam Zeta yang hanya duduk terdiam memainkan ponselnya. “Nggak papa Bang! Duluan aja.” Ucap Zeta menyuruh Genta untuk beranjak lebih dulu. Bukannya segera pergi, justru Genta berjalan menuju arah pintu dan menutupnya pelan membuat Zeta langsung memandang sekitar panik karena hanya ada mereka berdua. Genta berjalan dengan cepat menuju Zeta yang segera berdiri menyadari Genta bak seperti hewan yang siap menerkam mangsanya. “Nggak usah pura-pura polos deh! Ini kan yang lo pengen.” Ucap Genta dengan tatapan merendahkan. “Maksud Bang Genta apa sih.” Ucap Zeta menepis begitu tangan Genta berusaha menarik Zeta lebih dekat dengannya. “Sengaja pakai rok sependek itu. Biar gue tertarik?” Tanya Genta menyindir membuat Zeta menunduk menatap roknya yang sebenarnya tidak salah apa-apa namun mampu membuat Genta bersikap kasar seperti ini. “Apa sih yang ada difikiran elo bang?” Hardik Zeta menghentakkan tangan Genta yang mencengkeram lengan kirinya. “Iya, elo sengaja pakai rok sependek ini biar gue demen sama elo. Biar gue bilang mirip sama Ayu kan? Biar gue mengakui kalau elo lebih dari Ayu.” Ucap Genta dengan mata menyala nyalang. Zeta hanya diam menahan matanya yang sudah memanas, tangannya menggenggam kuat menahan emosinya agar tidak menghayutkan fikiran jernihnya. “Nggak bakal mirip Ta, usaha elo tuh sia-sia. Gue lihat Ayu kagum. Lihat elo pake rok pendek kayak gini yang ada gue pengen nidurin elo!” Teriak Genta nyalang. PLAAAKKK… Sebuah tamparan mendarat ke pipi kanannya dengan sangat keras membuat Genta terkejut ia menerima tamparan dari seorang Zeta, ia menoleh menemukan Zeta yang sudah bercucuran air mata dengan mata yang tak bisa lepas dari tatapan Genta. Perempuan itu diam, diamnya karena menahan emosi sejak tadi, sedangkan Genta tertegun sejenak kala melihat sorot mata Zeta yang begitu pilu. Beruntungnya lagi, ruangan ini kedap suara. Tidak akan ada yang mendengar teriakan Genta dan juga tamparan keras Zeta di pipi Genta. Genta menarik Zeta untuk lebih dekat lagi dengannya seolah tidak ada jarak antara mereka. Zeta memejamkan matanya takut jika terjadi apa-apa. Namun ia membuka matanya kembali begitu merasakan genggaman di lengannya sudah tidak ada, mendapati Genta yang duduk di sampingnya memasukkan dokumennya kembali yang sempat tertunda. “Tanpa Bang Genta perjelas, gue udah tahu gue sama Ayu beda!” Ucap Zeta dengan suara paraunya menatap Genta yang mengabaikannya meski mendengar ucapannya. “Tapi gue nggak sepicik itu Bang!” Tukas Zeta mengusap air matanya kasar kemudian beranjak pergi meninggalkan Genta yang memandangnya dengan tatapan mata yang sulit di artikan. Zeta terkejut begitu ia keluar di hadapannya sudah ada Ayu yang berdiri di hadapannya. Ayu memandang Zeta dari atas sampai bawah tampak kagum namun wajahnya tampak tercengang mendapati ada bekas air mata di pipi seniornya itu. “Kak Zeta! Kenapa?” Tanya Ayu dengan lembut. “Nggak papa, lo cari Genta kan? Dia ada di dalam.” Ucap Zeta pada Ayu kemudian ia pergi segera mungkin. Menghilang di toilet. Ayu masuk berniat menyusul Genta di dalam, namun Genta sudah lebih dulu berada di hadapannya. Ayu diam, wajah Genta seperti ada yang berbeda. Biasanya lelaki itu memang pendiam tapi seperti ada yang diratapinya sekarang. “Genta udah selesai rapatnya? Chat gue kok nggak dibalas.” Ucap Ayu lembut membuat Genta terhenyak dari lamunannya. Rupanya sejak tadi lelaki itu tengah melamun, masih terngiang wajah Zeta yang dipenuhi air mata dan juga tatapan pilu dari perempuan yang ia benci itu. Ia fikir tadinya Ayu adalah Zeta yang mungkin menunggunya dan akan meminta maaf kepadanya walaupun bukan kesalahannya seperti biasa. “Sorry gue nggak bawa hp tadi Yu.” Ucap Genta berbohong padahal ponselnya ada di balik almamaternya. “Mau mampir ke kantin sebentar?” Tawar Ayu pada Genta yang hanya dibalas anggukan seperti biasa tanpa berbicara namun Genta selalu menuruti kemauan gadis yang juga sedang mengejarnya itu. Genta melirik Zeta yang rupanya sudah berada di dalam ruangan, sedang mengusap make up tipisnya yang berantakan gara-gara laki-laki seperti Genta. Ia juga melihat sepertinya Dicky tidak ada di dalam ruangan. Ia yakin pasti nanti Dicky akan mengintrogasi dirinya mengetahui wajah Zeta sekarang. “Genta! Ayo!” Rengek Ayu menarik tangan Genta begitu mengetahui laki-laki itu tengah memandang Zeta dari kejauhan padahal jelas ada dirinya disampingnya. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD