tidak selamanya

1235 Words
Arzeta masuk ke dalam ruangan secara pelan-pelan karena kedua tangannya sedang membawa dua cup berukuran sedang berisikan kopi Mocca milik Salsa dan juga dirinya, entah mengapa semenjak Salsa memperingatinya untuk tidak membelikan apapun kepada rekan-rekannya Zeta menurutinya. Seperti hilang beban rasa tidak enak akrena tidak membelikan kopi, selain hilang beban ia juga merasa ada yang hilang karena tidak ada lagi interaksi antara dirinya dengan Genta tidak sesering dulu. Genta pun tampak biasa saja justru lebih bersyukur karena Zeta tidak mengganggunya lagi. Terlebih hadirnya Ayu benar-benar secara cepat menggeser posisi Zeta disamping Genta, ah bukan! Lebih tepatnya merampas seluruh waktu Zeta yang ia gunakan baik-baik untuk menciptakan momen kebersamaan dengan Genta kini hilang tidak tersisa. Semua waktu Genta menjadi milik Ayu, padahal mereka belum menjelaskan hubungan keduanya namun Zeta sudah mundur terlebih dahulu. “Ta! Lo udah baca pengumuman dari Pak Adi?” Tanya Salsa sambil meminta salah satu cup dari tangan Zeta. “Belum sih kenapa emang?” Tanya Zeta penasaran. “Elo bakal meeting sama Genta di lantai atas.” Ucap Salsa dengan senyum ambigunya bersemangat jika Zeta bisa memanfaatkan waktunya untuk bisa menarik perhatian Genta yang terkenal cuek dan tidak peduli. “Ngapain gue? Sama Bang Genta juga sih.” Gumam Zeta dalam hati, semesta benar-benar sedang mengujinya. Baru saja kemarin, semesta menunjukkan pada siapa Genta berpihak mengapa kini Zeta merasa diuji. Semesta menyatukan mereka dengan berbagai macam acara yang kebetulan melibatkan keduanya. Zeta menghela nafas tidak semangat. “Wah Kak Zeta nanti meeting sama Genta ya!” Celetuk Ayu dari tempatnya di sudut ruangan. Salsa memandangnya tajam merasa karyawan baru itu lancang, berbeda dengan Salsa, Zeta tampak tersenyum canggung. Rupanya diam-diam perempuan itu menguping pembicaraan Zeta dan Salsa. “Boleh nitip nggak Kak?” Tanya Ayu dengan wajah memohon agar Zeta mau mengulurkan bantuan kepadanya. “Mau minta tolong apa Yu?” Tanya Zeta dengan senyumannya, berpura-pura seolah ia terbuka dengan apapun ia akan membantu. “Nitip buat Genta.” Ucap Ayu kemudian menyodorkan sebuah kotak. Zeta menerimanya, ia mulai berfikir apa yang ada di dalamnya karena terasa lumayan penuh isi di dalamnya. Begitu Zeta bersedia menolongnya, Ayu kembali ke tempat duduknya. Tanpa sepengetahuan Ayu, Zeta memandang kotak bekal itu dengan pandangan pilu. Dulu dirinya lah yang kerap membawakan nasi untuk Genta, kini digantikan oleh Ayu. Semuanya lancer, tidak ada drama penolakan seperti yang dialami Zeta. Miris memang namun itulah faktanya. Zeta, perempuan yang di mata Genta tampak begitu egois. Memikirkan diri sendiri, selain egosi juga agresif dengan semua yang berhubungan dengan Genta. “Semangat ya Ta!” Ucap Salsa pada Zeta yang hanya tersenyum masam. “Ta!” Panggil Salsa lagi membuat Zeta menoleh kesal rasanya Salsa sangat bawel. Zeta membeku begitu dagu Salsa menunjuk ke ambang pintu sudah ada Genta yang berdiri disana memandangnya tajam dari kejauhan. Zeta buru-buru berdiri dan menghampiri Genta, mereka berjalan beriringan dengan wajah dingin sangat enggan rasanya berjalan dengan Zeta. “Lama banget!” Ketus Genta tak kuasa untuk tidak memarahi Zeta. “Setan pun juga nggak tahu kalau Bang Genta disana.” Ketus Zeta yang membuat Genta terdiam, ia mengulum senyum rupanya Zeta bisa berkata judes juga padanya. “Nih!” Ucap Zeta menyodorkan kotak bekal titipan Salsa. “Gue kan udah bilang ya Ta! Nggak usah bawain gue bekal kayak gini. Percuma! Nggak bakal ngerubah perasaan gue ke elo!” Hardik Genta enggan menerima bekal yang disodorkan Zeta. Zeta diam, ia memilih menahannya sampai nanti tiba di ruang rapat. Genta kembali dengan wajah datarnya, baru saja ia merasakan berbicara normal dengan Zeta tanpa kata-kata pedas yang keluar. Namun rupanya, ucapannya pedas selalu keluar untuk Zeta. Sesampainya disana sudah ada beberapa kepala devisi yang hadir termasuk Adi. Genta duduk disamping Adi disusul oleh Zeta yang berada di sampingnya. Zeta tidak terfikirkan mengapa ia ikut rapat seperti ini, karena masalah jabatan Genta jauh senior dibandingkan dengannya. “Ini dari Ayu bukan dari Zeta!” Bisik Zeta dengan suara penuh penekanan menyodorkan kembali kotak bekal yang sempat ditolak Genta. Genta terdiam, ia tak bisa menolak. Ia memandang dalam diam kotak di hadapannya, tak ada yang bisa mengetahui fikirannya. Tatapan matanya begitu dingin sulit untuk diartikan. Zeta memilih diam saja daripada salah berbicara yang tidak-tidak. Zeta pun juga sama, ia memandang kotak itu. Tidak menyangka hanya nama Ayu mampu membuat Genta luluh. Sebegitu berpengaruhnya perempuan itu di mata lelaki idamannya. Awalnya memang sangat menyakitkan mengetahui Genta lebih respect kepada Ayu ketimbang dengannya. Hanya saja Zeta berusaha bersikap normal, mencoba menegaskan ia tidak akan mundur dari pekerjaan hanya masalah perasaan. Rapat hampir memakan waktu beberapa jam, Genta dan Zeta menyimak satu persatu yang dilaporkan devisi. Hingga rapat berakhir, semuanya berjalan lancer. Genta dan Zeta akan beranjak untuk meninggalkan ruangan namun Adi justru memberikan isyarat untuk tidak pergi terlebih dahulu. “Ikut ke ruangan saya!” Ucap Adi membuat Genta dan Zeta saling berpandangan. Genta dan Zeta berjalan di belakang Adi, memasuki ruangan sang atasan. Adi meletakkan laptopnya terlebih dahulu kemudian duduk di hadapan bawahannya. Genta dan Zeta tampak menunggu Adi mengucapkan sesuatu. “Ta! Mulai besok kamu pindah di departemen sama dengan Genta.” Ucap Adi dengan senyum. Sedangkan Genta dan Zeta diam, bagai disambar petir di siang bolong. Semesta benar-benar menghukum Genta dan melarang Zeta untuk melarang mundur dari sisi Genta. Zeta tampak bimbang menanggapinya. “Kenapa harus saya pak?” Tanya Zeta menggigit bibir bawahnya, sedikit sungkan untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Ya karena departemen Genta membutuhkan satu karyawan lagi. Hanya dua orang, Genta dan Dicky untuk menghandle semua kerjaan nggak akan bisa ditambah lagi perusahaan terus berkembang pesat akhir-akhir ini.” Jelas Adi membuat Genta dan Zeta diam. Genta mendadak menjadi pendiam, ia tidak tahu harus bagaimana. Harusnya ia marah namun dalam hatinya yang paling dalam ada seberkas cahaya kecil yang menurutnya sangat tidak sejalan dengan fikirannya yang menolak Zeta untuk satu departemennya. “Kalau memang butuh karyawan kenapa tidak Ayu saja pak! Dia kan karyawan baru.” Tegas Zeta masih bersikukuh enggan untuk menjadi bagian di suatu departemen dengan Genta. Genta menoleh dengan tatapan tajam pada Zeta yang justru mengusulkan Ayu untuk di departemennya. Zeta tidak menghiraukannya, ia benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih karena harus disatukan dengan Genta. Itu artinya, tidak aka nada acara menjauh dan mencoba bersikap normal tanpa adanya Genta. Justru semakin bagus bila ia mengambil kesempatan mendekati lelaki dambaannya. “Ya nggak bisa dong Ta! Nggak semua karyawan bisa di posisi itu. Lagipula wawasan dan pengalamanmu lebih dibanding karyawan baru. “ Tolak Adi dengan halus. “Lagi pula saya percaya kok kamu bisa beradaptasi dengan cepat. Lagipula kamu sudah saling kenal kan dengan Genta dan Dicky?” Tanya Adi memberikan pengarahan dan juga semangat pada Zeta agar tidak salah paham dengannya. “Kalau begitu saya terima pak. Terima kasih, saya permisi.” Pamit Zeta buru-buru keluar ruangan. Genta pun segera menyusulnya dan segera menjajarkan langkahnya dengan Zeta. Zeta tidak menghiraukan Genta yang memandangnya tajam untuk mengajaknya beragumen dengannya. Tiba-tiba Zeta menghentikan langkahnya balik memandang Genta, Genta sedikit gugup begitu Zeta tiba-tiba membalikkan badan tanpa aba-aba. “Kenapa Bang Genta mau apa? Mau nolak Zeta karena diletakkan di departemen yang sama. Kenapa nggak di dalem waktu ada pak Adi? ” Tanya Zeta dengan nada kesal. “Gue cuman mau ngomong! Jangan bawa-bawa soal perasaan elo sama kerjaan. Gue nggak peduli sama perasaan elo!” Ketus Genta balik meninggalkan Zeta yang lagi-lagi mematung tak bisa mengatakan apa-apa. “Kenapa sih itu orang.” Desis Zeta sambil menggeleng-geleng memandang kepergian Genta. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD