Tidak pernah ada dalam bayangan jika Zeta akan satu departemen dengan Genta dimana nantinya mereka akan terus bekerja sama, saling terikat saling terlibat. Bukan hanya Zeta yang tak habis fikir namun juga Genta. Dia tidak tahu harus memasang wajah yang bagaimana.
“Jadi elo pindah departemen?” Tanya Salsa terkejut bukan main sedangkan yang ditanya hanya mengangguk pelan mengiyakan.
“Kok elo jahat sih Ta!” Runtuk Salsa menatap Zeta sedih karena mereka harus berpisah. Berbeda departemen meski tetap satu kantor tetap saja rasanya akan berbeda.
Salsa mengalah ia membantu Zeta untuk membawa semua barangnya ke ruangan sebelah. Meja barunya sudah datang ia duduk di samping meja Dicky. Salsa memandang Genta yang sejak tadi tetap focus berbeda dengan Dicky yang tampak menyambut Zeta untuk bergabung ke departemennya.
“Atsmosfer ruangannya aja udah beda Ta!” Bisik Salsa pada Zeta yang langsung mendapat isyarat dari Zeta untuk tetap diam.
Salsa menutup mulutnya berbicara asal, ia yakin sosok lelaki yang sejak tadi focus pada layer laptopnya mendengarnya.
“Lo pasti seneng dong Ta!” Ucap Salsa.
Zeta segera menarik Salsa untuk keluar makan siang terlebih dahulu. Tidak lupa membawa kotak bekal dari mamahnya dan Salsa membelikan minuman untuknya. Zeta duduk memilih bangku paling pojok yang tidak terlalu ramai. Tiba-tiba Ayu duduk disampingnya seperti biasa dengan senyumannya.
“Kak Zeta gue boleh gabung kan?” Tanya Ayu yang langsung dibalas anggukan.
“Sama Genta.” Tambah Ayu dengan senyum sedikit menahan malu, senyum ramah Zeta langsung pudar begitu saja melihat Genta yang berjalan menuju mejanya.
Zeta memandang Ayu yang masih memandangnya dengan tatapan polosnya, lebih tepatnya pura-pura polos. Zeta tidak menyangka rupanya sosok yang ia perlakukan sesopan mungkin justru tampak memaerkan kedekatannya yang sangat berbanding terbalik dengan Zeta.
“Ta! Kok ada…”
Rengekan Salsa terpotong dengan tatapan tajam Genta, Salsa nyengir memamerkan gigi putihnya. Mengurungkan niatnya untuk merengek pada Zeta yang pura-pura tidak mengetahuinya.
Zeta memilih bersikap tidak peduli, membuka kotak bekalnya memilih menyantap masaka mamahnya saja. Genta melirik menu makan Zeta yang begitu sederhana dan sedikit sangat berbeda bila perempuan itu membawakannya bekal.
“Kak Zeta sekarang satu departemen sama Genta ya!” Ucap Ayu membuka obrolan agar mejanya tidak terlalu sunyi.
“Iya.” Balas Zeta singkat seperti biasa bersikap seolah ia ramah, padahal niat hatinya tidak jauh dari kata bagaimana menghargai.
“Dasar Serigala.” Dengus Salsa tak kuasa untuk terus bersikap baik pada karyawan baru itu, mendengar umpatan sahabatnya Zeta dengan sengaja menendang pelan kaki sahabatnya yang terletak di bawah meja itu.
“Wah bisa nitip bekal buat Genta ya kak.” Ucap Ayu memandang Genta dengan senyumannya.
“Iya, titip aja.” Jawab Zeta dengan senyumannya menutupi seolah ia tidak rela, kedekatannya dengan Genta bukan kemauannya melainkan justru berusaha menjadi jembatan untuk Ayu dekat dengan Genta.
“Dicky kemana Ta?” Tanya Salsa mengubah topik mengajak bicara laki-laki yang sejak tiba di meja makan hanya diam dan menyimak percakapan para kaum ladies.
“Nggak tahu katanya mau makan diluar.” Ucap Genta akhirnya bersuara, jawabannya memang kepada Salsa namun matanya menatap tajam Zeta yang memilih menunduk focus pada nasi bekalnya daripada membalas tatapan Genta yang membuatnya kehilangan nafsu makan.
“Genta, aku mau ke toilet dulu ya!” Ucap Ayu langsung berlari menghilang ditengah kerumunan kantin para karyawan yang sedang istirahat.
“Itu cewek kenapa sekarang jadi ekor elu, tiap hari ngikut mulu dibelakang elo!” Ketus Salsa pada Genta, lagi-lagi Zeta menendang pelan kaki Salsa. Salsa bukannya menghentikan justru semakin kesal dengan sikap Zeta yang terus saja membela seorang Genta.
“Emang masalah elo sama Ayu apa?” Tanya Genta seperti tidak terima.
“Elo tuh gila ya Ta! Zeta yang ngejar-ngejar udah berapa tahun nggak pernah tuh elo hargai perasaan dia.” Ketus Salsa semakin menjadi mendengar respon Genta yang tidak tahu diri itu.
“Gue nggak pernah minta dia buat bersikap seperti itu. Nggak ada urusan sama dia.” Gertak Genta tidak terima jika sikapnya yang dingin disalah artikan oleh Salsa.
Ia bersikap dingin pada Zeta karena ingin menegaskan bahwa apa yang ia lakukan membantu Zeta hanya semata bentuk sikap simpatinya tidak lebih lagi. Salsa geram sedangkan Zeta memejamkan matanya, mulai tidak jenak dan rishi tentunya mendengar celoteh dua orang di hadapannya yang tidak henti-hentinya.
“Bisa tenang nggak sih? “ Ucap Zeta tiba-tiba mengejutkan Salsa dan Genta yang tadinya saling melempar pandangan.
“Dia yang mulai Ta!” Sahut Salsa membela diri padahal jelas-jelas dia duluan yang menyerang Genta.
“Emang bener, cewek nggak pernah salah ya!” Ucap Genta menggelengkan kepala tidak sanggup untuk terus melawan.
Kodrat seorang perempuan memang selalu benar, apapun kesalahannya tetap ada celah untuk melempar kesalahan pada kaum Adam. Genta kembali diam ketika Ayu kembali dari toilet begitu juga Salsa dan Zeta kembali pada makanan masing-masing.
“Kok semua diem aja sih?” Tanya Ayu merasakan ada suasana yang berbeda yang menyelimutinya.
“Kita lagi makan bukan lagi diskusi.” Ketus Salsa pada Ayu membuat karyawan baru itu diam tidak menyahut lagi.
Sejak awal kedatangannya Salsa lah yang sangat sinis kepadanya berbeda dengan Zeta yang sebisa mungkin membantunya. Entah seperti ada dendam yang tidak tersampaikan.
Zeta kesal entah pada siapa, mengapa ia juga merasa Ayu dan Genta sengaja terus menampilkan hubungan mereka yang semakin hari semakin lengket. Perlahan waktu yang dimilikinya untuk mendekati Genta hilang. Meski sekarang semesta sudah menjawabnya dengan membantunya untuk tetap berada disamping Genta.
Zeta menyadari adanya Ayu perlahan-lahan benar-benar menyisihkan dirinya seolah Genta buat akan hadirnya Zeta disisinya, untuk sekedar memberikan perhatian kecil entah kopi atau bekal pun Zeta tidak berani.
“Ta! Cepet banget sih! Tungguin.” Rengek Salsa melihat kotak bekal Zeta yang sudah bersih.
“Sa! Gue nunggu di dalam aja ya!” Pamit Zeta menolak untuk menemani Salsa yang masih menghabiskan nasinya tinggal beberapa suap itu.
"Yah Zeta, gue ditinggalin." Gumam Salsa entah pada siapa sedangkan Ayu hanya mengulum senyumnya, Genta justru tidak pandangannya jauh menatap perempuan yang berjalan cepat menerjang lalu lalang karyawan lainnya. bahkan perempuan itu tidak menengok ke belakang sama sekali.
Rupanya Zeta menghindar, dia tidak tahan berhadapan dengan Genta yang alasan ia ada disana bukan karena Zeta melainkan Ayu, menemani Ayu makan siang. Sakit, rasanya bak menggenggam duri pada setangkai mawar. Indah, mendebarkan tapi juga melukai secara perlahan.
TBC