Tidak, kata siapa setelah disatukan dalam satu departemen mereka menjadi dekat. Tetap saja ada jarak yang membentang Panjang di hadapan Zeta. Bak langit dan permukaan bumi saja ia tetap tidak bisa menggapai Genta yang jauh diatasnya. Seperti sekarang Zeta tengah diam di dalam ruangan hanya ada Dicky, Genta dan dirinya. Dicky pun serba salah untuk berbicara karena salah satunya tidak bisa akrab.
“Ta! Hari ini ada rapat bulanan, dokumennya udah elo siapin?” Tanya Genta pada Zeta membuat Zeta tampak berfikir.
“Masih di Salsa Bang.” Jawab Zeta teringat, ia Sudah mengingatkan hanya saja rekap data belum selesai.
Tentu saja setelah ia pindah ke departemen Genta, menggantikan bagiannya adalah Salsa. Terkadang Zeta juga ikut serta membantunya.
“Ya udah sana ambil. Kok malah diam disitu terus.” Ucap Genta dengan nada seperti biasa, terdengar ketus tidak ada ramah-ramahnya.
Dicky hanya diam, menggelengkan kepalanya melihat temannya yang berubah menjadi arogan setiap kali mengobrol dengan Zeta. Padahal menurut Dicky, Zeta bukan orang yang lempeng banget ketika diajak berbicara atau hanya sekedar bercanda.
Mendengar ucapan Genta, Zeta segera bangkit dan menuju ruangan Salsa. Begitu Zeta masuk ruangan semua mata tertuju dengan senyumannya termasuk Salsa yang tampak sekali heboh dengan kedatangan sahabat karibnya.
“Zeta!” Panggil Salsa dengan nada merengek seperti biasa.
“Udah nggak usah manja, mana nih rekap data yang kemarin gue minta.” Ucap Zeta membuat Salsa mematung di tempat, ia memanyungkan bibirnya rupanya sahabatnya datang karena keperluan pekerjaan bukan maksud lain.
“Oh tanya si Ayu coba.” Ucap Salsa menunjuk Ayu.
“Yu, rekap data bulan ini mana?” Tanya Zeta dengan senyumannya, sedangkan Ayu justru tampak terkejut.
Melihat respon Ayu yang tampak bingung membuat Zeta berprasangka tidak enak. Ia diam menunggu Ayu mencari dokumen itu. Lebih tepatnya sabar menunggu karena Ayu tampak seperti orang bingung.
“Ada nggak Yu?” Tanya Zeta memastikan jika semuanya baik-baik saja.
“Aduh ternyata lupa nggak gue bawa Kak.” Pekik Ayu teringat dokumen yang ia kerjakan semalam rupanya justru tertinggal di meja kamarnya.
“Lo gimana sih Yu. Terus nanti gue rapat akhir bulan pake apa kalau itu dokumen nggak ada?” Tanya Zeta mulai kesal, membuat Ayu membeku di tempat ini pertama kalinya Zeta marah dan kepadanya.
“Maaf Kak, gimana dong.” Ucap Ayu mulai kebingungan harus bagaimana sedangkan Zeta sudah kehilangan kesabarannya. Ia kembali ke ruangannya.
“Mana?” Tanya Genta yang sejak tadi menunggu Zeta memberikan dokumen itu kepadanya.
“Nggak ada.” Jawab Zeta santai, ia sendiri juga bingung harus bagaimana.
“Ta! Gue lagi nggak bercanda.” Ucap Genta dengan sedikit nada tinggi, ia merasa jawaban Zeta seperti sedang mengajaknya bercanda padahal itu fakta yang sebenarnya.
“Ya siapa yang bercanda si Bang.” Gerutu Zeta yang tambah kesal, lebih tepatnya ia sendiri juga bingung harus bagaimana.
“Ya mana jangan main-main dong Ta, gue serius.” Ucap Genta menghampiri Zeta yang kembali focus pada monitornya.
“Nggak ada ketinggalan.” Ucap Zeta menjawab apa adanya, jawaban Zeta justru membuat Genta dan Dicky terkejut bukan main.
“Kok bisa sih dokumen sepenting itu justru teledor gitu.” Ucap Genta kesal apalagi melihat raut wajah Zeta yang tampak santai dan tidak peduli.
“Iya Ta, biasanya elo nggak pernah kelupaan sih?” Tanya Dicky mulai ikut mengeluarkan pendapatnya setelah sekian lama terdiam menyaksikan interaksi Genta dan Zeta yang sejak tadi tidak saling mendukung.
“Iya biasanya tapi sekarang kan beda. Yang rekap data bukan gue.” Jawab Zeta dengan nada pembelaan.
“Siapa yang rekap? Nggak usah bertele-tele gitu.” Hardik Genta mulai kehilangan kesabarannya membuat Zeta tampak terkejut.
“Ayu!” Jawab Zeta singkat menatap tajam pada Genta, ia mununggu respon Genta bagaimana jika mengetahui ini bukan kesalahan Zeta sepenuhnya.
“Lo kok teledor banget sih Ta, harusnya elo nyiapin dari kemarin bukan mendadak kayak gini. Itu juga salah elo karena nggak minta sama Ayu dari kemarin.” Ucap Genta memarahi Zeta, menurutnya tetap saja itu kesalahan Zeta karena sebagai senior Ayu ia tidak memastikan pekerjaan juniornya benar.
“Gue udah minta dari kemarin Bang, tapi belum selesai.” Ucap Zeta membela dirinya.
“Alah alasan aja lo!” Bantah Genta kemudian keluar ruangan, sedangkan Zeta hanya menghela nafas tidak menyangka jika kesalahan orang lain tetap saja dia yang menanggungnya.
“Ta?” Panggil Dicky yang membuat Zeta yang tadinya emosi langsung menoleh menatap Dicky yang juga memandangnya.
“Jangan diambil hati ya omongan si Genta.” Emang itu orang kalau ngomong suka nyablak.” Ucap Dicky, ia merasakan jika Genta melampiaskan kebenciannya pada Zeta di dalam pekerjaan perempuan itu.
Dicky sangat tahu, bagaimana sosok Zeta menyelesaikan pekerjaannya. Perempuan yang sangat cekatan dan ambisinya sangat patut diacungi jempol. Sayangnya di mata seorang Genta, Zeta tetaplah Zeta perempuan yang ia benci sebab memiliki perasaan terhadap dirinya.