TETAP SAJA SALAH II

579 Words
Mereka melaksanakan rutinitas rapat akhir bulan tanpa rekap data dari pihak departemen purchasing, Genta sejak tadi tak lepas dari pandangannya kepada Zeta penuh dengan tatapan tajam seolah siap menerkam kapan saja. Genta sedikit tertegun begitu Zeta mempresentasikan akhir bulan dengan ingatan dia dan beberapa dokumen yang ada padanya untuk mengganti rekap data yang tertinggal. Dicky tampak bangga dengan Zeta yang cukup cekatan, tak heran bila ia akhirnya dia dipindahkan ke departemen operasional untuk mengimbangi dirinya dan Genta. Rapat selesai Genta dan Dicky keluar terlebih dahulu, Zeta mendekat pada managernya. Adi tampak tersenyum puas dan menyambut Zeta yang duduk disampingnya dengan antusias. “Maaf ya Pak! Dokumennya tertinggal dan saya hanya bisa menampilkan apa yang ada.” Ucap Zeta benar-benar tidak enak hati, rapat awalnya setelah dipindahkan di departemen operasional justru berantakan. “Gak papa, tadi sudah bagus kok! Semoga lain kali tidak akan terulang lagi ya Ta!” Ucap Adi dengan senyumannya membuat Zeta bisa bernafas lega. “Iya pak terimakasih atas semangat yang bapak kasih.” Ucap Zeta kemudian berpamitan untuk meninggalkan ruangan terlebih dahulu. “Zeta!” sahut seseorang dari belakangnya begitu ia keluar ruangan yang tak lain adalah Salsa yang sejak tadi menunggunya, ia benar-benar cemas dengan sendirinya akibat kelalaiannya justru berimbas pada sahabatnya. “Kok lo disini?” Tanya Zeta menghampiri Salsa yang sudah seperti orang bingung, parasnya benar-benar menggambarkan dirinya sedang cemas. “Gue cemasin elo tahu, gimana rapatnya? Benar-benar gue nggak tenang.” Ucap Salsa menggigit bibir bawahnya, sampai perempuan itu rela menunggu Zeta yang sedang rapat akhir bulan. “Udah lah udah, yang udah ya udah.” Ucap Zeta tersenyum. “Makasih ya Ta!” Ucap Salsa kemudian memberikan kopi yang baru ia beli di kantin bawah. “Sempet-sempetnya ya beli kopi segala.” Ucap Zeta terheran dengan sikap sahabatnya yang selalu heboh itu. “Itung-itung buat nyogok elo!” Ucap Salsa dengan cengiran kudanya bak orang tanpa dosa. “Gila, emang gue seharga ini kopi.” Pekik Zeta kesal membuat Salsa semakin tertawa. “Ya udah Ta gue balik ke ruangan dulu ya.” Pamit Salsa tiba-tiba membalikkan tubuhnya, berlari kecil sambil melambaikan tangannya. Zeta menggeleng-geleng tak kuasa menahan senyumannya melihat tingkah sahabatnya itu, ia kembali ke ruangannya. Begitu kakinya melangkahkan ke dalam ruangan suasana tiba-tiba mencekam seperti biasa. Apalagi kalau bukan tatapan Genta yang begitu tajam menatap Zeta. “Oh ternyata balik ke ruangan telat, beli kopi di kantin dulu iya! Sempet banget ya Arzeta!” Ucap Genta geram membuat Zeta yang ia pikir masalahnya sudah selesai rupanya ia salah, untuk masalah dengan satu mahkluk ini urusannya tidak pernah selesai. “Lah tahu gitu gue nitip Ta!” Sahut Dicky membuat Genta semakin kesal, Dicky benar-benar tidak bisa mengerti mengapa sahabatnya tiba-tiba menjadi sosok yang menyebalkan menurutnya. “Gue dikasih sama Salsa, Dik.” Ucap Zeta tersenyum pada Dicky mengabaikan Genta yang sejak tadi terbawa emosi dengannya. “Arzeta!” Panggil Genta dengan penuh penekanan. “Kenapa sih Bang? Salah gue dimana lagi? Kalau nggak suka itu diam, nggak usah cari masalah.” Sarkas Zeta membuat Genta terdiam. Entah mengapa setiap ucapan kemarahan Zeta selalu tepat mengenai relung dadanya, membuatnya langsung merasa terbungkam. Zeta sebenarnya tidak mau banyak berkata, tetapi ia merasa sejak satu ruangan dengannya Genta menjadi seseorang yang selalu mencari kesalahan pada dirinya. Genta mengalah, ia melihat Zeta menarik nafasnya dalam-dalam kemudian memilih meneguk kopinya untuk menenangkan fikirannya. Ia menyadari satu hal ia mulai tidak terbiasa dengan ketiadaan Zeta yang menghiasi hari-harinya, rasanya seperti ada yang kurang. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD