Hari ini cukup penat sekali, pekerjaan yang semakin banyak menurut Zeta. Tanggungannya begitu besar, hanya di-handle dua orang saja pantas saja ia dipindahkan ke departemen ini. Zeta melepas sepatu sneakersnya yang sedikit ada high yang tidak terlalu tinggi itu. Dicky tampak berkemas sedangkan Genta masih tetap focus dengan layer monitornya.
Berada di dekat Genta justru membuat Zeta rasanya ingin menghilang sejenak entah kemana. Zeta mengotak-ngatik ponselnya, lebih tepatnya untuk menghubungi sahabatnya apakah ia bisa pulang Bersama dengan Ira.
Zeta : Ra, lembur?
Kemudian ia beranjak berdiri, memilih menggunakan sandal untuk mengambil secangkir air putih. Dicky yang melihat Zeta masih terlihat santai pun hanya memandangnya saja sedangkan Genta cukup melirik pergerakan perempuan itu kemudian kembali focus.
“Ta, santai banget nggak niat pulang emang?” Tanya Dicky pada Zeta yang langsung dibalas anggukan Zeta karena ia sedang duduk dan meminum air yang ia ambil.
“Nunggu kabar dari temen gue dulu Dik.” Ucap Zeta dengan senyumannya.
“Biasanya juga sama Abang Genta.” Ledek Dicky membuat Zeta memanyunkan bibirnya dan tatapan tajam Genta langsung siap memanah Dicky yang merasa terancam itu.
“Udah buruan pulang, cari emak elo itu.” Ucap Zeta mengusir Dicky pulang.
“Cie buru-buru ngusir gue nih.” Ledek Dicky semakin menjadi.
“Udah deh Dik pulang sana!” Sahut Genta tiba-tiba dengan wajah yang kesal juga rupanya.
Dicky tertawa renyah kemudian beranjak keluar ruangan, tinggalah mereka berdua. Tidak ada obrolan, Zeta beberapa kali mengecek ponselnya. Ia kemudian bernisiatif untuk membantu Genta, tetap saja perasaannya mengalahkan egonya dan pendiriannya untuk menjaga jarak dengan Genta.
“Mau gue bantu Bang?” Tanya Zeta yang hanya dibalas gelengan pelan Genta, lelaki itu tampak serius dan tidak berniat untuk menjawab.
Ting…
Ira : gue lembur 2 jam lagi Ta, gimana ?
Zeta : iya gue tunggu.
“Atau mau gue bikini teh?” Ucap Zeta menawarkan kebaikan pada Genta, Genta tidak menjawab. Zeta mengartikan sebagai jawaban setuju.
Zeta beranjak untuk berdiri keluar ke dapur kantor. Genta hanya melirik tak peduli, entah mengapa ia bisa menerima Ayu untuk disampingnya. Padahal Ayu menempel kepadanya karena alasan yang sama dengan Zeta, yaitu masalah perasaan.