BOLU MANIS

1052 Words
Hari masih sedikit gelap, sang mentari belum juga menampakkan diri pasanya. Sedangkan perempuan yang tengah memeluk dirinya sendiri dengan selimut itu sedikit terusik tidurnya karena mendengar kebisingan diluar kamarnya. Ia memaksa dirinya untuk membuka matanya. Merenggangkan sedikit ototnya, tidak seperti biasanya ia bangun sebelum sang mentari terbit. “Mah…” Panggil Arzeta yang perlahan membuka pintunya dengan mata setengah terpejam. “Mamah ganggu ya Ta!” Ucap Mila yang langsung menoleh ke belakang menghentikan sejenak aktivitasnya yang rupanya sedang memasak sebuah bolu. “Ada pesenan ya Mah?” Tanya Zeta seraya mengusap pelan matanya. “Iya, cuman sedikit sih!” Jawab Mila terus melanjutkan acara potong memotong bolu yang baru saja ia diamkan setelah dimasak di oven. Zeta mencuci muka dan tangannya, mengikat rambutnya asal dan bergegas mendekat pada sang ibundanya guna bisa sedikit membantu pekerjaan sampingan ibunya. Mila hanya tersenyum kepada Zeta yang selalu siaga tanpa ia minta terlebih dahulu. “Mamah bikin lumayan banyak kok Ta! Kalau mau bawa buat temen-temen kantor.” Ucap Mila menunjuk sebuah satu Loyang yang masih utuh sengaja tidak ia potong-potong. “Nggak deh, Zeta makan sendiri aja. Lagian rekan kerja Zeta banyak, nggak cukup malah.” Tolak Zeta kemudian memasukkan satu per satu potong bolu kepada plastic kemasan. “Ya kamu ngasihnya yang deket banget dong Ta! Kan enak tuh buat sarapan sama kopi.” Usul Mila membuat Zeta tersentak. Rupanya ibunya mengetahui kebiasaannya, bisa dibilang ritual sebelum ia bekerja menguras pikiran dan tenaganya yang tidak seberapa. “Mamah kok tahu kalau Zeta sering minum kopi?” Tanya Zeta penasaran darimana mamahnya tahu. “Mamah sering lihat struck kedai kopi di kamar kamu kalau mamah lagi bersihin.” Ucap Mila dengan senyuman hangatnya. Zeta mengangguk pelan, ya tentu saja masuk akal sih. Memang Zeta secara tidak sengaja selalu menyimpan struk-struk ia membeli sesuatu, antara lupa membuang atau malas untuk membuang sepertinya sama saja. “Yaudah deh! Nanti Zeta bawa buat Salsa.” Ucap Zeta teringat dengan sahabat karipnya yang selalu ingin mencicipi masakan Mamah Zeta. “Salsa aja? Ira nggak?” Tanya Mila mengingatkan Zeta karena Zeta sering merepotkan sahabat satunya itu. “Iya! Zeta lupa, punya sahabat tengil kayak dia.” Ucap Zeta teringat kemudian ia beranjak mengambil Loyang bolu yang belum dipotong ibunya. Ia memandang bolu itu kemudian tersenyum senang, sepertinya akan tambah satu calon penerima bolu buatan Mamahnya itu. Siapa lagi jika bukan pangeran berkuda putih, Genta. Beberapa hari ini ia tidak mengirim pesan kepada lelaki itu. Sebenarnya tidak ada yang salah mengingat lelaki itu tidak membalas pesannya. Bukan sekali atau pun dua kali, tetapi tidak akan pernah Zeta mendapatkan balasan entah pesan, perilaku, ataupun perasaan. Sejatinya, cintanya benar-benar sudah bertepuk sebelah tangan. “Mamah yakin mau nganterin sendiri?” Tanya Zeta melihat Mamahnya yang sudah menenteng sebuah box berukuran sedang menuju pintu keluar rumah kontrakannya. “Iya deket aja kok!” Ucap Mila kemudian menghilang dibalik pintu meninggalkan Zeta yang sibuk memotong bolu menjadi beberapa bagian untuk ia bawa kerja. Ia mengambil ponsel di kamar menekan sebuah nomor, tak harus menunggu lama dering telepon terdengar dari seberang. Zeta melihat jam, pantas saja tidak ada jawaban karena jam masih pagi dimana mimpi benar-benar membuat tidur menjadi nyenyaknya. Halo! Awalnya ia ingin mematikan sambungan panggilannya, namun suara serak perempuan dari seberang mengurungkan niatnya. Zeta hanya tersenyum, ia memejamkan matanya sudah siap untuk mendapat semprotan kenceng dari sahabatnya itu. “Ra! Mamah bikin bolu lo mau nggak?” Tanya Zeta menggigit kukunya menunggu jawaban sahabatnya yang ia yakin sekarang kembali memejamkan matanya. Ya ampun Zeta! Lo nelepon gue cuman mau nawarin bolu? Ini masih pagi Zeta! Rengekkan Ira dari seberang benar-benar merusak pendengarannya, Zeta terkekeh geli mendengar omelan sahabatnya itu. “ Ya kan gue ini nawarin dulu Ra!” Ucap Zeta berlagak polos seolah apa yang dilakukan memang tulus menawarkan sesuatu untuk sahabatnya tercinta. Ya biasanya gimana sih Ta? Apa sih yang lo kasih ke gue, gue tolak? “Iya, kali aja sekarang udah banyak duit selera makan elo berubah.” Ucap Zeta sengaja dengan nada memelas seolah Ira menjadi sosok asing baginya. Apa sih? Ah tauk ah gue ngantuk. Nanti aja sekalian berangkat kerja. “Okey!” Ucap Zeta mengulum senyum kemudian mematikan sambungan teleponnya. Zeta melihat foto kantornya yang terpasang di tempelan kamarnya, disana ada senyum Genta yang begitu lulus namun tidak pernah ia dapatkan. Pernah namun hanya sekali, dan tak pernah lagi. Memang sesuatu yang indah tidak bisa diulang beberapa kali, bahkan dua kalipun terasa sudah berbeda. Kemudian ia teringat, sosok Ayu karyawan baru yang mampu memperoleh simpati orang banyak hanya dengan diam saja berdiam diri bak tidak ada yang perlu disampaikan. Sedangkan Zeta, ia harus berpura-pura menjadi sosok bak seorang malaikat memaklumi segalanya. Terkadang ia Lelah, tapi ia berusaha menutupi agar masa lalu, ah bukan latar belakang keluarga berantakan ini tidak ingin beberapa orang mengetahuinya, hanya beberapa saja orang yang mengetahui kepribadian sebenarnya yang dimiliki oleh seorang putri kesayangan dari orang tua tunggal, Mila. Arzeta memainkan ponselnya, melihat istagram Genta adalah favoritnya hanya saja lelaki itu tidak pernah mengunggah sesuatu. Sangat jarang, seperti yang dilakukan beberapa orang misterius lainnya. Diam, hening namun berkembang dan tumbuh. Social media Genta semua Arzeta tahu dan berusaha meminta sebuah pertemanan namun tidak ada balasan. Arzeta bersyukur, akun public yang tidak diubah menjadi akun privasi saja sudah sangat melegakan. Mengetahui segala aktivitas Genta tanpa diperlakukan balik itu adalah luka yang dalam dan menjadi sebuah kebodohan bagi logika mereka yang tidak mengalaminya. “Zeta! Kenapa belum mandi juga?” Tanya Mila tiba-tiba masuk ke kamar Zeta, melihat putrinya yang kembali membaringkan badan ke Kasur bukannya segera bersiap untuk berangkat bekerja. “Ih, orang masih lama kok! Santai dong! Ira aja belum bangun malahan Mah. ” Ucap Zeta melihat jam kerjanya yang memang masih lama. Mila menghela nafas memandang Zeta yang sekalinya menolak pasti membuatnya bungkam. Dikaruniai anak yang mengerti segala keadaannya adalah anugerah besar yang beberapa orang tak mendapatkannya dari Sang Pencipta. “Lagian ini tuh jam Mamah berangkat kerja. Kalau Zeta mah masih lama kali Mah. ” Ucap Zeta memandang Mila yang hanya mengendikkan bahunya. “Tapi Zeta benerkan?” Tanya Zeta mencari kebenaran dari apa yang ia lakukan. “Iya,, iya Mamah kalah. Ya udah jangan lupa sarapan dan bolunya dibawa.” Ucap Mila tersenyum kemudian keluar kamar. “Siap komandan!” Jawab Zeta dengan tegas seolah-olah dia adalah seorang prajurit yang baik. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD