Semua penghuni ruangan sedang berkemas untuk pulang, tak terkecuali Arzeta dan juga Salsa, ditambah karyawan baru yang rupanya suka pulang terakhir seperti Zeta. Ayu juga tampak santai berkemas, sudah beberapa hari ia berkeja disini. Tentunya dengan bimbingan beberapa karyawan lama di kantor salah satunya Zeta. Justru Ayu lebih sering menanyakan sesuatu hal kepada Arzeta, mungkin karena Arzeta tampak biasa saja dalam hal segi apapun kecuali intelektual yang dimiliki perempuan yang berstatus lajang itu.
Ira : gue udah didepan!
Arzeta segera mempercepat Gerakan tangannya memberesi dokumen-dokumen yang berserakan. Sahabatnya untuk sekian lama akhirnya bisa menjemputnya. Ah lebih tepatnya bisa memberikan tumpangan untuk sekedar pulang.
“Sa! Ayu! Gue balik duluan ya!” Ucap Zeta pamit duluan.
“Iya kak!” Ucap Ayu dengan senyumannya.
Arzeta melintasi parkiran dan bertemu dengan Genta dan juga Dicky, Genta tampak menghela nafas begitu matanya menangkap senyum sapaan dari Zeta, sedangkan Dicky tampak menunggu interaksi apa yang akan terjadi di antara mereka berdua kali ini.
“Duluan ya Bang!” Sapa Arzeta dengan senyumannya setelah mengambil helm dari rak sedangkan Dicky menatap mereka berdua tampak kecewa, harapannya tidak sesuai dengan realitas yang ada. Zeta hanya menyapa Genta seperti biasa dan lelaki itu seperti biasa pula tidak membalas sapaan perempuan itu.
“Ih tumben dia nggak nebeng elu?” Tanya Dicky menyinggung lengan Genta yang berdiri disampingnya tanpa sadar menatap kepergian Arzeta.
“Bagus dong! Hari ini hari yang cerah sekali ya!” Ucap Genta dengan senyumannya seolah sangat Bahagia karena tidak banyak interaksi dengan Arzeta, perempuan yang selalu ia hindari itu.
“Kok gitu sih!” Ucap Dicky kesal.
Tak berapa lama, Salsa dan Ayu keluar dari pintu ruangan. Mereka terdiam sejenak begitu mendapati Genta dan Dicky. Genta membalas senyuman tipis Ayu kepadanya, sedangkan Dicky mengulum senyum melihat Genta dan Ayu yang seperti malu-malu kucing.
“Nah kebetulan nih DIk. Anterin Ayu pulang dong!” Celetuk Salsa tiba-tiba mendapatkan ide karena Ayu sempat mengatakan jika hari ini ia butuh tumpangan untuk pulang.
Dicky tercengang ia tampak bingung harus bagaimana, ia memandang Salsa dan Ayu dengan tawa canggungnya. Sedangkan Dicky tampak linglung bagaimana untuk menolaknya, sedangkan ia sendiri tahu jika Ayu adalah gebetan sahabatnya sendiri.
“Waduh sama Genta aja, gue… gue… mau jemput cewek gue ntar!” Ucap Dicky bohong asal.
“Dih sejak kapan lu punya cewek?” Tanya Salsa yang sangat hafal jika Dicky tidak pernah mempunyai seseorang yang benar-benar diajak serius. Banyak yang menjadi teman dekatnya namun tidak ada atau lebih tepatnya belum ada yang dia seriusin.
“Gue punya tahu.” Ucap Dicky kesal dan dengan cepat masuk ke dalam mobil segera menancap gas dengan buru-buru sedangkan Genta tampak menunggu apakah Ayu jadi untuk meminta tumpangan sebentar dengannya. Disini justru Salsa tampak cemas.
“Tapikan…”
“Makasih ya kak Salsa udah dicariin tumpangan.” Ucap Ayu memotong ucapan Salsa dan segera berjalan menuju motor Genta.
Salsa tampak cemas, ia hanya membalas ucapan Ayu dengan lambaian tangan dan segera masuk ke dalam mobil. Ia memandang Genta dan Ayu, lelaki itu tampak dengan senang hati memberikan helmnya kepada Ayu, perempuan yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
“Mampus gue, apakabar si Zeta!” Gumam Salsa yang mengangguk tersenyum begitu Genta mulai menancap gas dan Ayu yang berada di jok belakang tampak tersenyum dari luar kepadanya.
“Dosa nggak sih! Maafin gue ya Zeta!” Gumam Salsa dengan bibir manyun.
Langit tampak cerah dan juga senyum terus mengembang di wajah Ayu yang berada di belakang Genta. Genta yang tampak memakai helm fullface-nya hanya bersikap datar. Sebenarnya ia belum terlalu sangat tertarik pada Ayu, ia hanya sekedar suka dengan penampilan perempuan ini. Hingga tidak ada niatan untuk mendekati, namun semesta sepertinya benar-benar saja mempertemukan keduanya.
Berbeda ketika Bersama dengan Arzeta, semuanya serba terencana lebih tepatnya Zeta memanfaatkan yang ada demi bisa dengannya, entah dengan alasan ibunya yang sibuk, atau sahabatnya yang tidak bisa menjemputnya. Genta tahu jika Arzeta yang sangat ringan tangan membelikan kopi rekan kantornya itu diam-diam melakukannya agar bisa berinteraksi dengannya, setiap hari membelikan lelaki itu kopi tanpa Genta yang meminta.
“ Kenapa keinget Zeta sih!” Ucap Genta pada dirinya dalam hati, ia kesal mengapa justru mengingat Zeta meski pada sisi buruknya saja.
“Ternyata rumah kita searah ya kak!” Ucap Ayu dari belakang.
“Iya mungkin.” Jawab Genta dengan singkat, ia sendiri masih kaku untuk mengobrol dengan Ayu. Dia juga tidak berat hati jika lain kali Ayu mau meminta bantuannya lagi. Itu bagus untuk menghindari Arzeta.
“Hah ! Zeta lagi…” Umpat Genta entah pada siapa ia kesal pada dirinya sendiri.
“Kalau Kak Zeta rumahnya mana ya kak?” Tanya Ayu membuat Genta sedikit mengurangi kecepatannya sedikit agar dapat mendengar dengan jelas suara perempuan itu.
“Sama kok searah juga. Tapi dia turun di lampu merah terakhir itu.” Jawab Genta sambil menunjuk tempat biasanya ia menurunkan Zeta.
“Oh gitu ya! Aku turun nanti di pertigaan terakhir ya kak.” Ucap Ayu yang hanya dibalas anggukan pelan Genta.
Meski Ayu berusaha mencairkan suasana canggung tetap saja akan berhenti dalam kesunyian kembali. Genta menepikan motornya, Ayu memberikan helmnya kemudian tersenyum. Tanpa ba-bi-bu Genta melajukan motornya kembali untuk segera pulang.
Punggungnya terasa seperti patah, karena ia bekerja dan duduk dihadapan computer seharian. Matanya benar-benar segera ingin memejam sedangkan jiwanya benar-benar merindukan kenyamanan kamarnya.
Motor langsung masuk ke garansi mobilnya, entah mengapa Genta lebih suka mengendarai motor meski ia juga memiliki mobil. Lebih sering justru ayahnya yang menggunakannnya. Lampu ruang tamu sudah mati menandakan ayah dan ibunya sudah berada di ruang tengah.
Berhubung kamar Genta berada di lantai atas, Genta segera menuju kamarnya saja dan tidak perlu menyapa basa-basi orang tuanya yang mungkin berada di ruang tengah. Ia meletakkan tas kerjanya di kursi kamarnya. Melonggarkan dasinya yang seperti menggantungkan beban di lehernya. Ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur sambil tangannya merogoh kantong, mengeluarkan benda pipih dari dalam sana.
Dicky: Gimana maju nggak?
Genta : pepet terus dong!
“Gila..” Pekik Genta pelan melihat antusias sahabatnya yang melebihi dirinya begitu mengetahui ada peluang untuk Genta dekat dengan Ayu.
Genta menscroll di bagian arsip, tertera sebuah nomor asing disana. Biasanya akan muncul notifikasi perempuan ini begitu ia sampai rumah.
Apakah ia merindukan Zeta? Tentu saja tidak. Ia justru tampak senang, ah benar-benar senang lebih tepatnya karena Arzeta sedikit menjaga jarak dengannya. Mungkin saja perempuan itu mulai Lelah karena tidak mendapat balasan dari Genta. Dan kemudian menyerah.
“Bagus kalau sadar diri!”
***
“Arzeta!”
Panggil seseorang dari belakang, membuat Arzeta menoleh dengan cepat rupanya Salsa yang juga baru sampai di kantor bersamanya. Arzeta tersenyum kemudian menunggu Salsa yang menghampirinya dengan setengah berlari kecil.
“Ye nggak usah lari dong buk! Ingat itu pake higheels.” Ucap Arzeta begitu Salsa hamper saja hilang keseimbangannya.
“Ta yuk beli kopi sekarang!” Ajak Salsa dengan semangatnya menarik Arzeta untuk berjalan bersamanya, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu.
“Lah gue belum nawarin sama temen-temen.” Jawab Arzeta teringat suatu rutinitas yang biasa yang ia lakukan setiap paginya.
“Belajar deh Ta! Mulai sekarang nggak usah nawarin temen-temen. Ntar orang luar dikiranya elo pembantu kita.” Jawab Salsa yang langsung dibalas gelengan cepat Zeta.
“Enggak ih, saling membantu aja!” Bantah Arzeta tidak setuju dengan pendapat Salsa bagaimana para rekan kerjanya memandangnya selama ini.
“Ya kan itu menurut elo sendiri!” Ucap Salsa mulai kesal dan memilih duduk di kedai kopi sambil menunggu Zeta memesan kopi untuknya.
“Ta! Minum disini aja deh!” Ajak Salsa membuat Zeta mengerutkan keningnya kembali, tidak biasanya sahabatnya itu mengajaknya nongkrong sebelum masuk kerja. Biasanya ia bahkan sudah duduk di tempat kerjanya lebih awal dibandingkan temen yang lainnya.
Arzeta akhirnya menuruti ucapan Salsa, ia duduk dan menunggu sang barista membuatkan kopi sesuai pesananannya. Salsa terdiam begitu tanpa sengaja melihat Genta melintas dengan sepeda motor kesayangannya. Zeta mengetahuinya dan hanya tersenyum dalam diam, apapun yang berhubungan dengan Genta akan mengundang senyumannya. Bahkan hal sepele sekalipun.
“Ta! Gue mau cerita!” Ucap Salsa teringat semalam ia tak sempat untuk mengirim pesan kepada sahabatnya itu.
“Cerita aja lagi!” Ucap Zeta tampak antusias mendengarkan.
“Semalem Ayu pulang sama Genta!” Ucap Salsa tak enak hati takut membuat Zeta terluka sendiri karena ucapannya.
“Oh ya! Emang Ayu rumahnya searah ya sama Bang Genta?” Tanya Arzeta dengan senyuman bohongnya, ia berbohong jika ia tidak sakit hati tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Meski ia sangat tahu dengan persis jika sahabatnya itu sendiri mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.
“kenapa sih Ta! Lo harus bersikap kayak malaikat gitu! Lo tuh manusia Ta! Bisa nangis kenceng juga, bisa terluka apalagi.” Ucap Salsa mulai dengan menaikkan nada bicaranya.
“Iya, gue tahu maksud elo Sa! Tapi gue harus gimana?” Tanya Arzeta dengan senyum palsunya.
Ia sendiri juga bingung, apakah benar jika ia cemburu? Sedangkan fakta sebenarnya memang semacam ada titik yang begitu nyeri begitu tahu bahwa Ayu diantarkan pulang oleh Genta, ditambah mengingat obrolan yang tidak sengaja ia dengar kemarin.
“Ini mbak!” Ucap sang pelayan mengantarkan kopi hangat penyambut pagi untuk para pejuang rupiah. Arzeta dan Salsa hanya tersenyum simpul mempersilahkan sang kopi diletakkan dihadapannya.
“Wajar sih kalau Bang Genta mau nganterin Ayu.” Gumam Arzeta pelan namun masih bisa didengar.
“Wajar? Wajar darimana?” Tanya Salsa tak habis fikir dengan sikap Arzeta yang apa-apa serba memakluminya.
“Iya wajar. Ayu itu sesuai tipe Bang Genta banget.” Ucap Arzeta dengan pura-puran memanyunkan bibirnya, berbeda dengan wajah Salsa mendadak tegang seperti siap mengibarkan bendera perang.
“Tahu darimana lo?” Tanya Salsa yang siap menertawakan Arzeta jika sampai itu hanyalah sesuatu yang disimpulkan sendiri oleh perempuan dihadapannya yang sesekali meniup ke dalam cangkir berisikan kopi hangat.
“Gue gak sengaja denger sendiri waktu gue nganterin kopi kemarin ke ruangan doi.” Ucap Arzeta menatap lurus dengan wajah seriusnya membuat Salsa justru mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna ucapan Arzeta. Melihat wajah Arzeta yang serius tidak seperti biasanya membuatnya sedikit tidak focus.
“Lu salah denger kali Ta!” ucap Salsa, ia masih tak percaya jika Ayu adalah tipe ideal seorang Genta Nugroho yang biasanya hanya pendiam.
“Emang nggak semua yang diharapkan bisa kita dapat.” Gumam Arzeta tertawa ketir, menertawakan dirinya sendiri yang sibuk mencari perhatian yang sudah kalah di awal dengan seseorang yang hanya diam menunggu.
“Iya! Memang.” Ucap Salsa teringat sesuatu akan masalalunya juga.
“Ta! Sorry nih gue mau nanya lagi. Bokap lo…”
Ucapan Salsa sengaja digantung, ia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Karena ia lagi-lagi tidak berniat untuk menyinggung perasaan Arzeta. Sejak pertemuan keduanya yang pertama kali, Salsa sudah mulai merasa cocok dan kebetulan sekali meja kerja mereka didekatkan.
“Gue nggak tahu sih Sa! Suka bingung kalau ditanya jawabnya gimana. Karena emang gue benar-benar nggak tahu soal bokap gue! Dan gue nggak mau tahu.” Ucap Arzeta dengan senyumannya seolah ia tegar, seolah tetap menjadi perempuan misterius tetapi tidak dihadapan Genta.
Tetap saja ia dianggap sebagai perempuan yang tidak tahu diri mungkin. Bisa saja.
“Sorry,, gue nggak maksud…”
“Nggak! Suatu hari bakal gue tanyain sama nyokap gue. Biar gue bisa jawab pertanyaan sahabat gue yang paling rewel ini.” Ucap Arzeta memecahkan suasana agar tidak terlalu terdengar sangat tegang.
“Janji lo ya!” Ucap Salsa kemudian tiba-tiba berdiri begitu matanya menangkap waktu yang arlojinya tunjukkan.
“Udah mau masuk ya Sa?” Tanya Arzeta ikutan berdiri yang langsung dibalas anggukan Salsa.
Mereka pun segera meninggalkan kedai kopi dan bergegas masuk. Seperti biasa melintasi ruangan Genta adalah momen yang selalu Arzeta nikmati meski hanya beberapa detik. Senyumannya memudar begitu tatapan Genta yang menembus dari dalam ruangan membuatnya gugup, dan justru mengalihkan pandangannya secara cepat.
“Loh Ta! Mana kopinya?” Tanya Dicky yang teriak dari dalam.
“Sorry gue lupa Dik.” Jawab Arzeta dengan senyumannya kemudian melambaikan tangannya.
“Yah gimana sih!” Rutuk Dicky memandang Genta yang rupanya sejak tadi memandang Arzeta yang melintas pergi dengan tatapan dinginnya.
“Lo kenapa sih Ta?” Tanya Dicky heran melihat raut wajah Genta.
“Gue? Gue nggakpapa.” Jawab Genta sedikit sewot begitu Dicky ingin mengetahui sesuatu yang difikirkan.
“Ya terus ngapain natap Arzeta segitunya?” Tanya Dicky masih tetap ingin tahu.
“Emang dia cewek elo? Kenapa elo yang repot?” Ketus Genta, ia tertangkap basah sedang menatap Zeta.
“Ya nggak! Tatapan elo dingin banget kayak di kutub.” Ledek Dicky begitu jawaban Genta justru terdengar ketus kepadanya.
“Nggak tahu gue Dik. Lihat mukanya aja males banget, emosi bawaannya mah.” Jawab Genta menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.
“Hati-hati, elo jatuh cinta awas lo! Benci mah nggak usah dalem-dalem.” Ucap Dicky dengan senyumannya menggoda Genta yang justru langsung memasang wajah marah kepadanya.
“Najis!” Umpat Genta dengan kasar mengeluarkan dokumennya dari tas, meletakkannya dengan sedikit melempar.
TBC