BACK LIST

1221 Words
Seorang perempuan tengah bercermin merapikan penampilan kerjanya, ia pun keluar setelah dirasa sudah cukup untuknya bercermin. Ia menghampiri sahabatnya yang sudah menunggunya di depan kontrakannya. “Ira!” Sapa Zeta dengan senyumannya kemudian duduk di jok belakang. “Ta! Beberapa hari yang lalu hujan mulu. Lu pulang bareng doi?” Tanya Ira dengan senyuman curiganya. “Iya, kenapa emang?” Tanya Zeta melihat reaksi Ira yang menatapnya dari kaca spion, bukannya segera menyalakan motornya justru perempuan itu sibuk menatap curiga Zeta. “Widih romantic dong, hujan-hujanan segala.” Ledek Ira yang langsung mendapatkan pukulan di helmnya. Ira hanya tertawa kemudian menyalakan motornya dan menancap gas, motor mulai melaju dan Ira kembali focus pada jalanan. Tidak untuk waktu yang lama, Ira kembali heboh begitu sebuah sepeda motor mendahului mereka. “Itu si doi?” Tanya Ira pada Zeta yang tadinya sibuk memandang jalanan bagian kiri langsung menoleh ke depan. Ia memicingkan matanya dan mengangguk, benar itu Genta. Bahkan mungkin lelaki itu tidak pernah mengetahui jika ia sedang mendahului Ira dan Zeta atau tidak. “Iya bukan?” Tanya Ira yang masih menunggu jawaban Arzeta yang kembali menfokuskan dirinya pada pemandangan sekitarnya. “Iya, kan gue udah ngangguk.” Jawab Arzeta kesal pada Ira yang masih saja ngotot kepadanya. “Kan aneh! Gue kan lagi nyetir Zeta mana gue tahu elu ngangguk apa geleng.” Omel Ira menatap Zeta kesal dari kaca spion. “Oh iya ya!” Jawab Arzeta dengan senyumannya tanpa dosa sedangkan Ira kesal dengan jurus andalan Arzeta yang hanya menyengir setiap melakukan kesalahan membuat Ira tidak bisa membalas kemarahannya karena justru raut wajah Arzeta mengundang gelak tawanya. Tak berapa lama, motor berhenti. Tepat di depan kantor Arzeta, Ira tak kunjung melajukan motornya dan Arzeta setia menunggu sahabatnya itu pergi terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalam kantornya. “Ta! Kayaknya sih nanti gue udah nggak lembur.” Ucap Ira dengan senyumannya. “Oke, nanti kabarin aja ya Ra!” Jawab Arzeta dengan senyumannya melambaikan tangan pada Ira yang sudah menancap gas meninggalkan kantor Zeta. Arzeta tersenyum sedikit murung, jika nanti Ira tidak lembur tentu saja ia tidak bisa mengambil kesempatan untuk pulang Bersama dengan Genta. Tapi setidaknya lebih aman kalaupun hujan ia tidak perlu menerobos hujan seperti yang lalu. Terus-terusan menerobos hujan bisa tumbang tubuhnya yang tidak sekuat dengan yang lainnya. Baru saja Arzeta masuk sudah disuguhi sebuah pemandangan yang hatinya tiba-tiba saja berdebar pertama kalinya, Genta menatapnya dengan tatapan datar. Biasanya Arzeta akan menempel kepadanya tapi perempuan itu justru beringsut pergi. Genta yang melihatnya justru mengerutkan keningnya, ada apa dengan perempuan itu. Arzeta memilih pergi begitu saja dan masuk ruangannya, ia terdiam sejenak saat ada seorang karyawan yang duduk di mejanya. Ia bingung itu siapa, dia tidak mengenalnya. Mungkinkah itu karyawan baru yang dibicarakan para rekan kerjanya beberapa hari ini. “Maaf!” Ucap Arzeta begitu sudah berdiri di hadapannya. “Oh, ini tempat kamu ya. Maaf!” Ucapnya sopan kemudian beranjak berdiri. “Karyawan baru?” Tanya Arzeta dengan senyumannya yang langsung dibalas anggukan semangat sosok di hadapannya itu. Ia terlihat sempurna dan ramah tamah. “Ayu!” Ucapnya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang langsung dijabat balik oleh Arzeta. “Zeta!” Ucap Arzeta bergantian mengenalkan diri. “Kamu bisa duduk disini dulu.” Ucap Arzeta kemudian mempersilahkan Ayu untuk duduk di tempatnya. Arzeta menghampiri Salsa yang sedang duduk di mejanya. “Lo tau nggak Ta! Si karyawan baru tadi dianter sama Genta kesini.” Ucap Salsa mulai dengan ghibah mode on. “Iyakah? Tadi gue lihat Bang Genta sendiri kok berangkatnya.” Ucap Arzeta, ia yakin tidak salah lihat siapa yang berpapasan dengannya waktu perjalanan berangkat kerja tadi. “Iya datang ke ruangan ini maksudnya.” Ucap Salsa dengan cengirannya. “Ya wajar dong Sa. Kan karyawan baru nggak mengenal kantor ini dong.” Ucap Arzeta memilih netral tidak menuduh Ayu dengan yang tidak-tidak. Karena ia juga mengalami awal datang kemari ia telah disambut oleh Genta dengan keramahannya yang entah sekarang telah hilang entah kemana. “Udah ah! Gue mau beli kopi.” Ucap Arzeta dengan senyumannya. “Gue biasa ya Ta!” Teriak Salsa yang hanya dibalas anggukan Arzeta yang bergegas pergi. Cuaca hari ini cukup dingin, angin beberapa kali meniup rambutnya yang terurai sebahu sepunggung. Ia membeli beberapa cup seperti biasa tak lupa membelikan khusus untuk Genta, perasaannya menuntunnya perlahan menghafal sekecil apapun tentang Genta, salah satunya apa minuman yang disukai lelaki tak banyak bicara itu. Ia bersemangat untuk mengantar kopi milik sang dambaan hatinya. Beberapa kali senyumannya mengembang setiap ia mengangkat cup milik Genta. Hanya tertulis sebuah nama Genta saja ia tersenyum. Sedangkan di dalam ruangan Genta sedang sendiri, Dicky yang masuk ke dalam ruangan dengan wajah girang membuat Genta mengerutkan keningnya penasaran apa yang membuat sahabatnya begitu Bahagia dimana hari masih pagi. “Ta! Ta!” Ucap Dicky yang duduk di meja kerjanya antusias memanggil Genta yang mulai mengeluarkan barang-barang keperluan kerjanya, termasuk dokumen-dokumen yang sengaja ia bawa pulang untuk dikerjakan di rumah. “Apa?” Tanya Genta singkat yang masih saja menunduk dan memilih mengambil ponselnya, tak menggubris Dicky yang sejak tadi matanya berbinar menatapnya. Tak sabar ingin berbagi cerita dengannya. “Ada anak baru tuh di ruangan sebelah.” Ucap Dicky dengan antusias. “Iya gue tahu.” Jawab Genta sekali lagi sangat singkat padat dan jelas, ia memilih menyalakan laptopnya. “ Cantik sih, tipe banget lo banget Ta!” Ucap Dicky mengangkat kedua alisnya memandang Genta padahal sahabat karipnya tidak membalas tatapannya barang sebentarpun. “Iya sih! Emang tipe gue banget. Cantik juga!” Ucap Genta akhirnya menatap Dicky sambil mengingat wajah karyawan baru. “Lah elo udah ketemu?” Tanya Dicky terkejut karena Genta sudah mengeluarkan penilaian terhadap karyawan baru yang bernama Ayu itu. “Udah, di parkiran. Gue juga yang nunjukin ruangan dia.” Ucap Genta merasa bangga di depan Dicky. “Sialan gue kalah start dong ini.” Ucap Dicky kesal melihat wajah angkuh Genta yang berhasil mendahuluinya. Biasanya ia lebih dulu interaksi jika ada karyawan baru di kantornya. “Namanya Ayu, cantik sih dari penampilan oke banget dah.” Ucap Genta mengulangi ucapannya kembali, ia tidak menepis kalau dia tertarik dengan sosok karyawan yang baru ia temui tadi. “Ssttt…!” Pekik Dicky pada Genta begitu Arzeta masuk ke dalam ruangan mengantarkan kopi, Genta kembali memasang wajah datarnya langsung tak bersera jika perempuan itu muncul di hadapannya. Arzeta meletakkan kopi Genta dan Dicky berlalu pergi begitu saja, sedangkan Dicky menggigit bibir bawahnya, ia sangat yakin jika Arzeta mendengar semua obrolan keduanya. Bagaimanapun ia tahu perasaan Arzeta kepada sahabat karibnya itu. “Gue yakin dia denger deh Ta!” Ucap Dicky sedikit pelan begitu Arzeta berlalu pergi dari ruangannya. “Ya mana gue tahu.” Jawab Genta dengan sikap dinginnya seolah ia tidak peduli. “Lah elu kok gitu sih Ta, sonoh kerja ngambek tuh dia!” Ucap Dicky menyuruh Genta untuk mengejar Arzeta, dari raut wajahnya Dicky yakin Arzeta tampak membungkam bibirnya rapat. “Ngapain sih Dik?” Tanya Genta kesal sendiri pada Dicky yang ngotot menyuruhnya mengejar Arzeta. “Ya kali aja dia tersinggung dengan ucapan elo! Sedih kek apa kek.” Jawab Dicky melirihkan ucapannya ia sedikit takut jika Genta sudah mengerutkan kedua alis tebalnya, menandakan lelaki itu sedang terbawa emosi. “Bukan cewek gue! Tersinggung juga bukan urusan gue!” Ketus Genta membuat Dicky bungkam, memilih diam tidak menjawab kembali. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD