NORMAL

1409 Words
“Mah! Zeta berangkat dulu ya!” Teriak seorang dari dalam rumah yang hanya dibalas lambaian tangan seorang wanita paruhbaya yang sedang berkutik dengan masakannya hari ini. Lagi ia mendapatkan pesanan dari costumer yang tidak lain adalah tetangganya. Menyebabkan ia harus berangkat siang untuk bekerja, kemudian pulang sedikit terlambat agar jam kerjanya tidak berkurang. Begitu juga dengan gajinya, menjadi tulang punggung untuk putri semata wayangnya harus membuatnya benar-benar teliti dalam bertindak. Zeta sangat beruntung, keduanya memang bekerja masing-masing. Mila berharap tulang punggung keluarga tetaplah dirinya sedangkan jerih payah Zeta untuk dirinya sendiri, Mila ingin Zeta membahagiakan dirinya dengan caranya sendiri. “Ta! Lo sekarang udah nggak pernah sama si doi?” Tanya Ira yang menyadari Zeta yang sering memintanya untuk menjemputnya. “Tumben lo nanya begitu?” Tanya Zeta heran tak biasanya Ira menanyakan soal hubungannya dengan Genta. Bukan hubungan khusus. “Iya, gue nanya aja sih.” Jawab Ira, rupanya Ira melontarkan pertanyaan itu begitu Genta melintas melewati mereka berdua. “Udah ada saingannya Ra!” Jawab Zeta sambil tersenyum seolah itu adalah candaan, padahal dibalik senyumnya ia menyembunyikan sebuah rasa cemburu tanpa hak yang tak bisa ia kendalikan. “Serius lo?” Tanya Ira terkejut. Ia fikir hubungan sahabatnya dengan lelaki pujaan akan semakin membaik rupanya tidak. “Iya! Gue serius.” Jawab Zeta dengan membalas tatapan Ira dari kaca spion. Hening, Ira tak lagi melontarkan pertanyaan sedangkan Zeta memilih diam. Rasanya memang sedikit perih ketika orang yang dicintai tidak bisa memperlakukan dirimu dengan sama karena tidak ada rasa yang sama pula. “Ya udah Ta! Jangan lupa Bahagia!” Ucap Ira begitu motornya berhenti di depan sebuah kantor yang cukup besar. “Lo juga!” Ucap Zeta dengan tawanya mendengar tuturan Ira seolah Zeta terlihat Bahagia sekarang. Zeta masuk kantor dan disuguhkan pemandangan yang tak ingin ia lihat, kebersamaan Genta dengan Ayu yang semakin sering ia lihat adalah suatu yang membuatnya moodbooster-nya tiba-tiba menghilang begitu saja. Zeta tidak menyalahkan sebuah keadaan tetapi ia mencoba untuk terbiasa dengan pemandangan yang membuat dadanya bak tersayat belati dan matanya yang tiba-tiba diselimuti kaca-kaca yang akan pecah kapanpun ketika ia tidak membendung. “Pagi Sa!” Sapa Zeta yang langsung duduk di meja kerjanya. “Lo udah liat si Ayu?” Tanya Salsa heboh mendekat pada Zeta yang tadinya sudah bersiap untuk memejamkan matanya sejenak. “Iya! Gue tahu dia di ruangan sebelah kan?” Tanya Zeta menghela nafas. “Lo kalah jauh ya Ta!” Ucap Salsa dengan senyum ketirnya melihat nasib sahabatnya yang sudah kalah apa-apa. “Yok beli kopi Sa!” Ajak Zeta mengalihkan topik. Ia tidak mengerti mengapa pagi ini semua orang terdekatnya membahas hal yang sama, seolah semesta sedang menertawakannya agar ia sadar ia adalah perempuan yang tidak tahu diri karena posisinya memang tidak seharusnya seperti itu. Zeta memilih menunduk begitu melintasi ruangan Genta, ia tak lagi ingin untuk sekedar memandang Genta yang kini ada seseorang yang terus berada disampingnya selain Dicky. Semuanya akan baik-baik saja ketika kamu lebih memilih tidak tahu, sebab jika kamu tahu langkahmu akan serba salah. “Ta! Gue nitip kopi ya!” Ucap Dicky yang berjalan dari arah toilet laki-laki. Zeta yang sedikit terkejut hanya mengangguk. Dicky melihat adanya perubahan dalam diri Zeta, ia merasa perempuan itu banyak menjadi sedikit lebih diam dibandingkan sebelumnya. Apakah mulai Lelah untuk mengejar Genta? Mungkin Zeta akan tetap bertahan meski Genta menolaknya dengan keras. Hanya saja, hadirnya Ayu menjadi sebuah cerminan bahwa Zeta jauh dari perempuan yang disukai sosok Genta. “Kenapa nggak ditolak aja sih Ta!” Gerutu Salsa pada Zeta karena bersedia mau membelikan kopi untuk Dicky. “Beli empat ya kak!” Ucap Zeta menunjuk sebuah menu di daftar harga yang hanya dibalas anggukan dan senyum yang mengembang barista kopi di kedai kopi langganan para karyawan di kantornya. “Empat? Buat Genta?” Tanya Salsa dengan memicingkan matanya, seolah tidak terima dengan sikap Zeta yang tetap berusaha mencari perhatian seorang Genta yang jelas-jelas tidak mengharapkan kehadiran perempuan itu. “Menurut gue lo harus berhenti deh Ta!” Ucap Salsa memandang jauh diluar jendela. Sedangkan Zeta mengalihkan pandangannya ke Salsa dengan tatapan seolah meminta penjelasana. “Bukankah mengagumi dalam diam lebih baik daripada secara terus terang?” Tanya Salsa menatap mata Zeta dengan wajah yang serius. Zeta menunduk, ia menghela nafas panjangnya seolah ia sedang menanggung beban berat. Ia tersenyum hambar, sembari mengangguk karena merasa yang diucapkan sahabatnya itu ada benarnya juga. “Lagipula hadirnya Ayu yang direspon baik oleh Genta adalah pukulan untuk lo mundur!” Tambah Salsa sedangkan Zeta tak bisa menjawab apa-apa selain Bahasa isyarat dan sebuah senyum. Ia benar-benar mati kutu di tempatnya, semua lontaran pernyataan dari Salsa adalah peringatan keras baginya. “Gue udah terlanjur basah kuyup Sa!” Gumam Zeta memandang ke depan dengan pandangan kosongnya. “Bukan berarti tidak bisa untuk kembali ke daratan lagi bukan?” Tanya Salsa memberikan pencerahan pada Zeta. Zeta menatap mata Salsa mencari sebuah kepercayaan diri disana. “Nggak ada kata terlambat Ta!” Ucap Salsa kemudian menepuk bahu sahabatnya itu. “Ini kak!” Celetuk pelayan membubarkan obrolan Salsa dan Zeta yang cukup serius tidak seperti biasanya. Salsa dan Zeta kemudian berjalan dengan senyuman yang membaik. Zeta sedikit mempunyai jalan keluar begitu mendengar tuturan dari Salsa benar, tidak ada kata terlambat untuk kembali di masa yang dulu. Mengembalikan semuanya. “Dik!” Panggil Zeta yang berdiri di ambang pintu, menyodorkan kopi milik Dicky. “Thanks Ta! Nanti ya gua ganti uangnya.” Ucap Dicky pada Zeta. Seperti biasa, setiap Zeta muncul dalam pandangan Genta. Lelaki itu akan mengubah raut wajahnya menjadi dingin bak pangeran es. Zeta bimbang akankah ia menghampiri lelaki itu seperti biasanya, nyalinya tak sekuat dulu rupanya. Ia sudah merasa takut begitu matanya menangkap tatapan tajam Genta kepadanya. “Ta!” Panggil Dicky melihat Zeta yang memutar balik tubuhnya akan pergi. “Kopi buat Genta?” Tanya Dicky begitu menoleh padanya. Zeta menggigit bibir bawahnya, ia menyodorkan kopi kepada Dicky kemudian beranjak pergi, tidak seperti biasanya ia akan semangat untuk mendekat pada Genta demi mendengar suara lelaki itu. Meski yang dilontarkan cukup menyakiti hatinya. “Lo apain dia sih Ta?” Tanya Dicky penasaran dengan perubahan sikap Arzeta kepada sahabatya, tidak seperti biasanya bahkan untuk tersenyum sajs sepertinya perempuan itu tak ada keberanian. “Semalem Ayu ngirim pesan ke gue.” Celetuk Genta menghampiri Dicky bermaksud mengambil kopi yang dibelikan Zeta untuknya. “Ayu? Ngechat elo?” Tanya balik Dicky sembari menyodorkan gelas yang berisikan kopi hangat kepada Genta. Genta mengangguk kemudian menerima kopi itu dan meneguknya pelan. Ia tersenyum merasakan kopi hangat yang merasuki kerongkongannya itu, menghangatkan tubuhnya yang sedikit menggigil karena menerjang angin pagi. “Kok bisa? Paling juga dia minta anak-anak nomor elo.” Jawab Dicky kemudian meneguk perlahan kopinya. “Iya emang, dan gue juga tahu siapa yang ngasih nomor gue ke dia.” Ucap Genta dengan senyum bangganya. “Siapa?” Tanya Dicky memicingkan alisnya, ia juga penasaran siapa yang memberikan nomor Genta kepada Ayu, perempuan yang kini menjadi sangat dekat dengan Genta tidak seperti biasanya. “Zeta.” Gumam Genta menunduk tak ingin melihat reaksi wajah Dicky yang Genta berani menjamin sedang melotot ke arahnya. “Zeta?” Pekik Dicky nggak habis fikri dengan jalan fikiran perempuan itu. Bagaimana bisa dia memberikan jalan kepada perempuan yang ingin dekat dengan lelaki idamannya. Tidak hanya Dicky yang berpikiran demikian, tetapi Genta juga. Genta berpikir ini sangat aneh, padahal Zeta begitu agresif menurutnya jika sedang bersanding dengannya. “Aneh bener!” Celetuk Dicky menatap Genta dengan wajah yang tidak menyangka, sedangkan Genta hanya mengendikkan kedua bahunya seolah ia tidak mau tahu apa yang terjadi diantara Ayu dan Zeta. Bohong! Genta berbohong, ia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya difikirkan Zeta. Tapi dia terlalu gengsi, dia sendiri yang membangun tembok tinggi pembatas antara dirinya dan Zeta, tidak mungkin pula jika dirinya pula yang menghancurkannya. “Lo emang beneran suka sama si Ayu?” Tanya Dicky beranjak mendekat ke meja kerja Genta. Tidak enak saja jika berbicara hal tersebut dengan suara ber-volume tinggi. Genta diam sejenak, ia sendiri juga bingung perasaannya dengan Ayu itu sebenarnya bagaimana. “Gue nggak tahu!” Ucap Genta, karena memang pasalnya ia tidak menemukan letak Ayu dalam hidupnya itu dimana. “Gila lo Ta!” Ucap Dicky menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Gila kenapa?” Tanya Genta heran melihat Dicky yang uring-uringan sendiri. “Lo tuh diposisi diantara dua hati, tapi sikap elo cenderung ke satu hati. Dan anehnya Ternyata elo sendiri gak tau apakah pantes hati itu buat elo?” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD