BENTANGAN JALAN LAGI

1594 Words
Cuaca malam yang cerah. Tidak ada mendung hitam di atas langit, bertaburan bintang-bintang di angkasa. Suasana malam di kota menjadi candu pagi penikmat malam, tidak berlaku untuk pegawai kantor yang sedang berkemas untuk segera pulang. “Ta! Gue duluan ya!” Ucap Salsa melambaikan tangan pada Zeta yang memilih untuk duduk sejenak sembari memainkan ponselnya. Tinggallah tersisa hanya ada Zeta dan Ayu saja di ruangan itu, Ayu perlahan mendekati Zeta yang sepertinya memang memilih santai sebelum pulang. “Kak Zeta!” Panggil Ayu yang membuat Zeta menegakkan duduknya dan mengalihkan pandangan matanya sejenak dari benda pipih itu. “Iya? Gimana?” Tanya Zeta yang tetap saja bersikap ramah pada saingannya? Saingan, hm lebih tepatnya adalah Ayu sebagai pembatas Zeta untuk memantaskan diri apakah sesuai dengan tipe ideal Genta. Lelaki itu cukup rumit, berterus terang untuk soal menolak perasaan Zeta kepadanya, namun setiap Zeta membutuhkan bantuannya tanpa sungkan ia menuruti keinginan Zeta. “Kakak punya kontaknya Genta?” Tanya Ayu tersenyum malu, menyentuh bagian tengkuknya yang sebenarnya tidak sedang bermasalah. Zeta tersenyum dan mengangguk, seolah ia berpura-pura bahwa tidak mengetahui tujuan asli Ayu meminta nomor pribadi Genta. Seolah justru Ayu tidak mengetahui bagaimana interaksi Genta dan Zeta yang sangat berbeda bak seorang remaja yang beranjak dewasa. “Ada! Mau minta?” Tanya Zeta langsung menawarkan sebelum Ayu yang terlihat bertele-tele. “Boleh!” Jawab Ayu dengan mata berbinarnya begitu senang ketika Zeta sangat cepat menangkap maksud dari ucapannya. Zeta tanpa piker Panjang segera mengirimkannya ke nomor Ayu, setengah tidak rela tapi apa boleh buat. Ia tidak memiliki hak untuk cemburu apalagi melarang, ia benar-benar tidak bisa untuk benar-benar memperlakukan Ayu sebagai pesaingnya. “Ya udah deh Kak, gue duluan ya! Makasih.” Ucap Ayu berpamitan yang hanya dibalas anggukan kepala Zeta. Ia tidak bisa berkata-kata apa lagi, sejujurnya ia merutuki dirinya sendiri karena memberi nomor kontak seorang lelaki yang tidak bisa ia dapatkan, hanya sebagai khayalan. Benarkah? Tidak selamanya cinta kita akan terbalaskan, terkadang hadirnya seseorang hanya bersinggah kemudian pergi. Ah untuk Genta, lebih tepatnya Zeta cukup saja mengenal. Sang semesta sepertinya tidak mengizinkan Zeta untuk beranjak dari batasannya selain hanya saling mengenal dan tanpa sengaja mereka saling terkait dalam hal pekerjaan. Anugerah semesta, semakin menyiksa Zeta untuk tidak bisa berpaling dari Genta. Zeta bergegas meninggalkan ruangan melihat Genta dan Dicky yang melintas, ia rupanya sedang menunggu Genta pulang. Merasa ada seseorang yang berjalan di belakangnya, Genta menoleh dan raut wajahnya berubah masam seketika. Tidak mengharapkan kehadiran perempuan itu, begitu kira-kira matanya berbicara. “Kalau ada Zeta di sekitar Genta ya alamat untuk pulang Bersama.” Ledek Dicky membuat Zeta memanyunkan bibirnya kesal. Dicky hanya terkekeh melihat respon Zeta, ia bergegas menuju mobilnya sedangkan Genta tak memperdulikan keberadaan Zeta disampingnya. Ia memakai sarung tangan dengan santai, namun matanya sangat terlihat jika lelaki itu sengaja menciptakan astmosfer yang begitu hening. “Lo bawa jas hujan nggak? Kalau hujan nggak mau nanggung gue.” Ucap Genta ketus membuat Zeta langsung menegakkan pandangannya. “Nggak bang, gue nggak ada jas hujan sih di rumah.” Ucap Zeta tidak enak hati, namun memang itu adanya. “Yaelah Ta! Gaji tiap bulan UMK aja beli jas hujan nggak bisa.” Hardik Genta membuat Zeta bungkam, entah mengapa sumpah serapah laki-laki itu mampu membuatnya bungkam namun tak terlalu ambil hati, Zeta sudah terbiasa dengan respon yang diberikan Genta kepadanya. Tidak ada ramah, senyum hanya ucapan kasar, umpatan dan nada ketus yang ada. “Gue juga bingung, elo bisa kan nebeng sama Dicky. Kenapa sama gue terus? Bikin orang lain salah paham. Gue tegasin harus berapa kali sih Ta! Gue ada rasa sedikitpun sama elo!” Ucap Genta dengan penuh penekanan di setiap kata. “Iya tahu!” Ucap Zeta seolah juga bosan dengan ucapan Genta yang pada intinya sama saja. “Kalau lo tahu! Harusnya sadar diri dong elo!” Ketus Genta tidak habis fikir dengan pemikiran perempuan disampingnya yang tidak henti-hentinya berkeliaran di sekitarnya. Melibatkan dirinya di setiap aktivitasnya. Genta berdecak kesal melihat Zeta yang memilih menunduk saja daripada membalas ucapan Genta, Genta menggelengkan kepala jengah setiap hari harus mengulang situasi yang sama. Zeta pun naik ke jok belakang. Motor mulai melaju keluar dari parkiran disambut dengan udara segar di malam hari, Zeta tersenyum menatap suasana kota yang begitu menyenangkan. Jalanan cukup ramai, mungkin banyak orang beraktivitas di luar karena mengetahui cuaca hari ini. Lampu lalu lintas berubah merah, menghentikan laju motor mereka. Zeta terus menatap langit yang dipenuhi dengan bintang, gemerlap lampu jalan kota menambah suasana terasa hangat. Senyumnya memudar, begitu tidak sengaja menangkap tatapan tajam Genta melalui kaca spion motornya. “Bang! Rumah Ayu juga searah kita?” Tanya Zeta membuka percakapan, tidak mau berlarut dalam keheningan, canggung seperti tidak ada ikatan berarti di antara keduanya. Ah bukan sepertinya, memang tidak ada ikatan berarti. Zeta saja yang terlalu berharap, berandai-andai perasaannya terbalas. Seakan lupa, ini dunia nyata bukan drama yang kisahnya bisa memilih akan berakhir seperti apa. “Iya, lebih jauh dari elo!” jawab Genta mulai menancap gas melajukan motornya dengan pelan perlahan kencang. Suasana kembali hening rupanya, Zeta benar-benar tidak mengobrol mencari topik. Bukan, bukan Zeta yang tak pandai mencari topik tetapi Genta saja yang terus mematahkan obrolan sehingga obrolan tidak akan berlanjut. Motor berhenti di depan supermarket, tempat seperti biasanya Genta menurunkan Zeta. Zeta pun turun, Genta memandangnya muak tapi Zeta tetap saja berdiri disana menantikan apa yang akan diucapkan lelaki itu kepadanya. “Elo beruntung, biasanya Ayu pulang bareng sama gue!” Ucap Genta seolah mengatakan jika Zeta tidak bisa pulang Bersama dengannya setiap hari. “Oh iya?” Tanya Zeta berpura-pura seolah dia tidak tahu jika Ayu dan Genta sering pulang Bersama. “Kalau pun gue boleh milih. Ya gue milih sama Ayu aja daripada pulang sama elo!” Ketus Genta lagi-lagi mematahkan sikap Zeta yang selalu berharap sedikit saja kepadanya. “Ya kenapa nggak nolak kalau gue ngajak pulang bareng?” Tanya Zeta dengan senyumannya seolah ia merasa sedikit ada harapan untuknya di posisi hati lelaki itu. “Lo nggak tahu cara berterimakasih?” Hardik Genta kesal, ia terpancing emosi pada jawaban Zeta seolah menantangnya untuk tidak menerima ajakan pulang bersamanya. “Ya daripada nggak ikhlas.” Ucap Zeta mulai terpancing suasana rupanya. “Gue bingung, apa sih yang temen-temen sukai dari seorang cewek kayak elo! Selain elo nggak cepat paham dan juga terlalu percaya diri.” Tandas Genta habis-habisan. Zeta mengerjapkan matanya ia membeku di tempat lagi dan lagi Genta seolah melupakan bahwa setegarnya Zeta tetaplah seorang perempuan yang seperti kebanyakan harus dijaga, Zeta memilih memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas dalam. “Terimakasih atas tumpangannya  hari ini.”Ucap Zeta berlalu pergi, mengakhiri percakapannya dengan Genta malam ini. Percakapan yang membuatnya ingin menghilang saja dari pandangan Genta. Genta melajukan motornya meneruskan perjalanan pulangnya yang sempat terhenti karena perempuan yang masuk ke dalam hidupnya, mengusik ketenangan hatinya. *** Genta baru selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuknya. Hari masih begitu pagi, cuaca tidak menentu sang mentari yang sudah muncul tak mampu menghangatkan kota seperti biasanya. Cahayanya sedang sembunyi tertutup awan hitam, Genta mengerutkan alisnya begitu ada nomor baru yang mengirimkan pesan kepadanya. Bukan nomor Zeta, Genta tanpa sadar hafal dengan nomor Zeta meski hanya sampai akhiran nomor itu saja. Ia mencoba mengingat pada siapa ia memberikan nomor teleponnya. 0857xxxxxxxxxx : Genta! Genta : siapa? 0857xxxxxxxxxx : ini Ayu Tanpa sadar, mulutnya membentuk huruf O begitu mengetahui sang pengirim pesan. Ia langsung menyimpan nomor tersebut. Genta : minta sama Dicky? Genta mulai berfikir jika Dicky lah yang memberikan nomornya kepada Ayu, karena sahabatnya itu lah yang terus mendekatkan dirinya dengan Ayu. Namun, ia dibuat tercengang dengan balasan Ayu. Ayu : Nggak, gue minta sama Kak Zeta. “Zeta!” Desis Genta pandangannya jauh entah kemana. Ia duduk termangu, tidak habis fikir bagaimana bisa justru Zeta lah yang memberikan nomornya kepada Ayu. Bukankah harusnya Zeta tidak memberikannya karena Ayu juga tertarik pada Genta.  “Dasar bodoh!” Desis Genta kemudian tertawa sinis entah pada siapa. Ia sama sekali tidak memahami jalan fikiran seorang Zeta, sampai sekarang. Ia yang buta dengan sinyal penolakan keras dari Genta. Tidak ada rasa malu dan sungkan meminta tumpangan kepada Genta. Kini, ia juga memberikan jalan kepada sesame pengagum Genta untuk lebih dekat dengan lelaki itu. “Genta!” Panggil seorang dari luar kamar, lebih tepatnya itu adalah ibu Genta. “Ayok sarapan!” Tambah mamahnya lagi. Genta menggelengkan kepanya seolah ia tidak mau ambil pusing apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini, memilih keluar kamar dan menuju ruang makan. Papahnya sudah duduk di tempatnya. “Ta! Cuaca nggak nentu bawa mobil aja.” Ucap papahnya membuat Genta menggeleng cepat, ia tidak mau menggunakan mobil karena menurutnya tidak bisa menikmati udara secara langsung. “Lagian Papah nggak kemana-mana.” Ucap papahnya lagi. “Ya kemana gitu, ajak mamah jalan-jalan.” Ucap Genta yang hanya dibalas tepukan pelan mamahnya yang duduk disampingnya. “Memangnya papah masih keliatan pasangan kencan?” Tanya papahnya memunculkan sebuah candaan untuk menciptakan suasana hangat di keluarganya. “Kerjaan lancer kan Ta?” Tanya Mamahnya yang langsung dibalas anggukan Genta. “Kamu kapan naik jabatan lagi?” Tanya Mamahnya membuat Genta terdiam, lagi dan lagi ia dipertanyakan soal naik jabatan. Seperti tidak ada rasa syukur di posisi Genta sekarang. “Genta berangkat.” Ucap Genta segera beranjak pergi. Ia malas untuk menjawab pertanyaan ibunya yang selalu menanyakan kapan ia naik jabatan. Genta merasa jenuh, seolah orang tuanya terus menuntutnya untuk terus mengejar karirnya. Jika orang tua lainnya selalu mendesak anaknya untuk cepat menikah. Lain hanya dengan orang tua Genta yang terus mendongkrak anaknya untuk terus bekerja keras. Lalu apa arti pencapaian Genta saat ini? TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD