BENTANGAN JALAN

1661 Words
Jam istirahat, semua karyawan berhamburan keluar kantor untuk jam makan siang tak terkecuali Genta dan Dicky yang ikut keluar. Sedangkan ruangan Zeta hanya beberapa yang keluar. Tidak berlaku untuk perempuan yang masih sibuk mengecek ulang dokumen yang ia rekap mulai tadi pagi karena sebentar lagi tanggal tutup buku berada di hadapannya. “Kak Zeta nggak keluar?” Tanya Ayu yang menyadari Zeta yang masih terus mengerjakan pekerjaannya dan sama sekali tidak terasa terganggu dengan suara bising beberapa orang yang berlalu Lalang. “Nggak Yu! Gue bawa bekal dari rumah.” Jawab Zeta menunjukkan tas bekalnya disamping tas kerjanya. Ayu melihat memang ada kotak bekal bewarna biru disamping Zeta, gadis muda itu hanya ber-oh ria. “Kalau gitu aku keluar duluan ya Kak.” Pamit Ayu yang hanya dibalas anggukan. Senyum Zeta perlahan memudar begitu mengetahui jika perempuan yang menjadi juniornya itu keluar bukan tanpa alasan, melainkan melihat Genta dan Dicky yang melintas di ruangan mereka. Ada sesuatu yang perih yang ia rasakan begitu melihat bagaimana respon Genta dengan Ayu yang tiba-tiba gabung berjalan disampingnya. Lelaki itu tampak menyambutnya dengan hangat, sangat berbeda ketika Zeta yang berada di posisi itu. Tidak ada keramahan, hanya tatapan tajam yang selalu menjadi andalan Genta untuk menjaga jarak dengan Zeta. “Ta!” Panggil Salsa membuat Zeta langsung tersentak dan menoleh dengan terkejut. “Kok Kaget gitu?” Tanya Salsa melihat respon Zeta. “Enggak, kok lo nggak keluar sih Sa?” Tanya Zeta mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. “Lagi bawa bekal sama kayak elo!” Ucap Salsa dengan senyumannya membuat Zeta tersenyum. Zeta dan Salsa menuju kantin kantor, Zeta terdiam begitu ada Genta dan Ayu di hadapan lelaki itu sedang makan siang juga. Dicky yang melihat kedatangan Zeta dan Salsa langsung melambaikan tangan meminta untuk bergabung. “Tuh ada Genta, yok gabung !” Ajak Salsa dengan senyumannya membuat Zeta tiba-tiba saja ia merasa gugup. Salsa sengaja duduk disamping Ayu dan Zeta tersenyum begitu rupanya Salsa memberikan celah untuknya duduk disamping Genta. Genta melirik tajam begitu Zeta duduk di sampingnya, Ayu pun tersenyum dengan kedatangan Zeta. Gadis yang menjadi karyawan baru itu rupanya tidak menyadari bahwa ada hal yang berbeda diantara Zeta dan Genta. “Ta lo mau beli es nggak?” Tanya Salsa menawarkan minuman kepada Zeta sebelum beranjak. “Es kopi dong!” Ucap Zeta bersemangat dengan senyuman manisnya membuat Salsa pun mengacungkan ibu jarinya. “Lo tuh kopi mulu! Tipes lo ntar.” Cibir Dicky pada Zeta yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zeta. “Astagfirullah, doa lo nggak ada baik-baiknya.” Hardik Zeta pada Dicky, sejenak ia lupa jika diantara mereka ada Genta dan Ayu yang duduk saling berhadapan dengan tenang. “Ya iya, kopi terus! Gimana nggak tipes ya nggak Ta?” Tanya Dicky yang hanya menatap datar sahabat karibnya ini. “Kalian mau makan apa berdebat disini, gue akan pindah kalau kalian berisik lagi.” Ucap Genta membuat Zeta mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lagi dan lagi tingkahnya membuat lelaki itu terpancing emosi, oh salah! Kapan Zeta tidak membuat Genta kesal. Kebaikan yang ditawarkan perempuan itu saja tetap meninggalkan kesan buruk dari Genta kepada Zeta. “Eh iya deh! Jangan.” Ucap Zeta menahan lengan Genta yang hampir saja berdiri. Genta menatap dingin Zera, Zeta langsung menarik tangannya dari lengan Genta kemudian memilih diam. Dicky yang sejak tadi terkekeh melihat Zeta yang mendadak menjadi perempuan pendiam jika berhadapan dengan Genta, tanpa sadar sejak tadi Ayu memandang interaksi mereka. Ada sesuatu di antara Genta dan Zeta. “Nih!” Celetuk Salsa menyodorkan minuman es kopi begitu datang. “Makasih!” Ucap Zeta dengan senyumannya seolah lupa apa yang barusan terjadi. “Kak Zeta sering bawa bekal sendiri ya?” Tanya Ayu memecah keheningan membuat Zeta langsung mengangguk. “Iya! Udah disiapin sama mamah gue nggak enak kalau nggak dibawa.” Ucap Zeta tersenyum. “Ngomong-ngomong kok nasi kak Genta hampir mirip sama punya kak Zeta?” Tanya Ayu membuat Zeta gelagapan sendiri. “Ya jelas aduh…” Pekik Salsa begitu ada sesuatu yang menendangnya dibawah. Ia melotot pada Zeta, sedangkan Ayu tampak menunggu jawaban dari perempuan yang mulai kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. “Kebetulan aja! Nggak mungkin gue sama dia beda rumah Yu.” Ucap Genta menjawabnya dengan santai. “Tapi….” Ucap Ayu tidak bisa menerima penjelasan cukup sederhana itu. “Emang kenapa sih Yu?” Tanya Dicky melihat ada kecemburuan pada diri perempuan itu. “Nggak papa.” Jawab Ayu kemudian menunduk, ia  sibuk dengan fikirannya. Genta dan Zeta saling pandang kemudian Genta terlebih dahulu melepas kontak keduanya dan sibuk dengan bekal makan siangnya. Salsa tersenyum, hanya melihat interaksi sahabatnya dan lelaki idamannya saja Salsa sangat senang. “Oh iya! Rumah Genta sama Zeta satu arah ya?” Tanya Ayu pada Zeta yang langsung mengangguk tersenyum. “Kok lo tahu?” Tanya Zeta berniat baik seolah ia sedang bersikap ramah dengan perempuan yang meski baru sebentar masuk kerja sudah mendapatkan simpati beberapa orang meski ia hanya diam, berbeda dengan karyawan baru seharusnya yang harusnya mendekat. “Iya, waktu pulang kemarin Genta nunjukin rumah Kak Zeta.” Ucap Ayu teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Senyum Zeta yang tadinya tulus berubah menjadi senyum hambar yang ia paksakan demi menjaga perasaan Ayu, ia baru paham jika rupanya perempuan itu sedang berusaha berniat pamer pada Zeta. Zeta tersenyum begitu menyadari tanpa sengaja Genta menunjukkan setidaknya Genta tahu meski hanya hal sedikit. Zeta menahan sejak tadi untuk menahan diri agar tidak cemburu, meski Zeta sangat tahu betul perempuan di hadapannya sedang memamerkan jika hubungannya sudah lebih jauh meski sebentar. Berbanding terbalik dengan Zeta yang cukup lama mengenal seorang Genta namun hanya berhenti di posisi Genta membenci. “Ayok Ta balik duluan gue mau ke toilet!” Ajak Salsa yang langsung dibalas anggukan Zeta. Tanpa ba-bi-bu, Zeta baru saja akan membuka mulut setidaknya menyapa laki-laki disampingnya yang sejak kedatangannya menjadi seorang yang sangat pendiam. Bibirnya terkatup rapat begitu menyadari sejak tadi pandangan Ayu tak lepas darinya. “Duluan ya Dik!” Ucap Zeta yang langsung dibalas lambaian tangan Dicky yang sibuk menyantap nasi kantin. Genta sedikit tersentak begitu Zeta justru menyapa sahabatnya bukan dirinya, Zeta berlalu dengan Salsa. Meninggalkan Ayu, Dicky dan Genta yang belum selesai makan siang. “Loh nggak jadi ke toilet?” Tanya Zeta heran begitu Salsa terus melangkah kakinya menuju ruangan tanpa berbelok ke toilet seperti perkataannya. “Nggak! Gue nggak kebelet deh.” Cibir Salsa pada Zeta yang rupanya tidak mengerti maksud Salsa mengajaknya untuk menyudahi makan siang. “Lo ngerasa nggak sih Ta, si Ayu lama-lama emang sengaja deketin Genta.” Ucap Salsa memulai mencurahkan sesuatu yang mengganjal fikirannya. “Ujung-ujungnya pamer kedekatan mereka. Mana kalau ada Genta langsung jadi cewek gatel!” Umpat Salsa berdengus kesal mengingat raut wajah Ayu yang sengaja terlihat ramah pada Zeta. “Husshh… mulut lo ya?” Pekik Zeta memperingatkan agar Salsa tidak sembarangan untuk berkata. “Lah emang bener kan?” Tanya Salsa yang hanya dibalas bahu Zeta yang terangkat secara bersamaaan seolah ia tidak mempermasalahkan perubahan sikap Ayu hari semakin hari. Zeta berbohong ! Ayu, Namanya yang cantik sama dengan orangnya. Orangnya yang ramah dan gampang beradaptasi menjadi satu langkah lebih dulu dibandingkan Zeta. Ayu hanya diam saja, lelaki mendekatinya termasuk Genta yang membuka lebar pintu untuk Ayu dekat dengannya. Sakit? Tentu saja, seolah perjuangannya demi menarik simpati seorang Genta, gagal begitu saja. Ia dikalahkan dengan seorang yang memilih diam dibandingkan memperjuangkan. Apakah sebuah petuah mengatakan perempuan sebaiknya menunggu tidak mengejar masih berlaku di jaman modern seperti ini. Jika memang iya, bukankah Zeta menjadi salah satu perempuan tak tahu malu yang berani mengambil inisiatif mendekati seorang pria. Katanya, cinta tidak pernah salah sasaran pada siapa ia datang. Lalu apa yang dilakukan Zeta sekarang, benarkah memang cinta bertepuk sebelah tangan selamanya bertepuk sebelah tangan? Ira: Ta! Nanti gue lembur satu jam, kalau mau nunggu kabarin ya! Zeta tampak terdiam, begitu Genta melintas ruangannya ia mengetahui apa yang akan ia rencanakan ke depannya. Arzeta : nanti gue kabarin ya Ra. Zeta tersenyum setelah pesan itu terkirim pada sahabatnya yang dengan setia bersedia menjadi ojek online baginya. Ira: tahu dah pasti mau nyoba ngajak pulang bareng si doi kan lu. Zeta kesal dan tersenyum membaca balasan pesan dari Ira, rupanya sahabatnya itu cukup hafal dengan pola piker Zeta. Sebisa mungkin mengambil kesempatan untuk tetap dekat dengan Genta, bagaimanapun seolah ia lupa kini ia mempunyai saingan. “Ta! Ini kan misal ya. Kalau Ayu benar-benar nge-date sama Genta apa yang akan lo lakukan?” Tanya Salsa dengan wajah seriusnya sedangkan Zeta seperti ditampar oleh kenyataan karena baru saja ia membayangkan hal-hal alami akan terjadi nanti jika ia pulang dengan Genta. “Resign mungkin.” Celetuk Zeta dengan santainya, ia memilih menjawabnya dengan bercanda. Perempuan itu tidak mau terlarut dalam kesedihannya sebab cinta yang tidak terbalaskan pada Genta. “Serius nggak tuh?” Tanya seseorang dibalik pintu yang rupanya sejak tadi mendengarkan obrolan dua perempuan itu. “Dicky lagi, Dicky lagi.” Gumam Zeta kesal sendiri, laki-laki itu selalu muncul dimanapun. Seolah-olah menjadi asisten Genta untuk mengorek informasi mengenai sahabatnya itu terutama denagn semangatnya menjodohkan Genta dengan Ayu. Bukan berarti, ia tidak mendukung jika Genta Bersama Zeta hanya saja semuanya bukankah kembali lagi pada perasaan masing-masing. Tidak mungkin ia haruskan memaksakan dua insan yang tidak saling menyimpan rasa. Dalam hubungan itu, dua insan saling kontribusi apapun sama rata. Berbeda dengan cinta, bisa jadi keduanya saling memberi, bisa jadi salah satunya yang memberi, bisa jadi salah satunya yang menggores luka dan menolaknya. “Kenapa sih Ta bawaannya kesel banget sama gue?” Tanya Dicky menghampiri dua perempuan yang sejak tadi duduk berdua. “Nggak tahu.” Ketus Zeta kemudian memilih menggeser duduknya sedikit membelakangi Dicky yang berdiri disampingnya. “Genta mana Dik? Biasanya kalian seperti perangko gitu?” Tanya Salsa celingak-celinguk mencari Genta. “Oh lagi nganter Ayu kayaknya.” Jawab Dicky dengan santainya sembari memasukkan salah satu tangannya ke kantong depan celananya. Mendengar jawaban singkat Dicky namun begitu jelas, Salsa dan Zeta saling pandang kemudian tersenyum ambigu. “Modus!” Desis Salsa memicingkan pandangannya. TBC     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD