Hari yang Buruk

1142 Words
Sesampainya di peternakan, ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya. Karena ia sudah memiliki area sendiri, maka ia bisa membuat pekerjaan selesai lebih cepat. Sedikitpun ia tidak mau membiarkan waktu terbuang percuma. Hingga saat sore menjelang, pekerjaan Shena sudah selesai. Diman yang melihatnya tersenyum senang karena baru kali ini ada yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Shena pun diizinkan pulang sambil membawa sebuah kertas bertuliskan namanya dan nomor tiga digit yang harus ia berikan pada penjaga balai desa. Sepertinya itu adalah kartu penukar makanan untuk nanti malam. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia dipanggil oleh seorang pria berperawakan tinggi besar. "Ada apa?" tanya Shena. "Pak Hanif memintaku menjemputmu ke rumahnya, ada yang ingin beliau sampaikan," ucap laki-laki itu. "Saya akan ke sana sendiri." "Tidak, kau harus bersamaku karena Pak Hanif memintaku." Meski ragu, namun Shena mengikut saja. Ia mengekori pria itu melewati jalanan sepi karena mereka melalui jalur di belakang perumahan warga. "Kenapa kita dari sini?" tanya Shena. "Karena ini jalur tercepat." Shena hanya mengangguk. Ia terus mengikuti pria itu. Namun, ketika perjalanan akhirnya menembus kebun singkong, Shena merasa ini mencurigakan. "Maaf, sepertinya ini terlalu memakan waktu. Aku akan lewat depan saja," ucap Shena yang langsung berbalik meninggalkan pria itu. Namun, tanpa di duga, pria itu malah memeluknya dari belakang dan memaksa untuk mencium lehernya. Shena pun langsung memberontak ingin melepaskan diri, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk itu. Pria itu langsung mendorong hingga tubuhnya terjerembab ke atas tanah. Ia merampas pakaian yang dikenakan Shena dengan begitu brutal. Shena tidak kehilangan akal. Ia mengambil tanah kering yang bercampur pasir dan melemparkannya ke mata pria itu. Pria itu langsung memegangi matanya dan berteriak memaki Shena. Hal itu digunakan Shena untuk membebaskan dirinya. Ia menendang bagian inti pria itu hingga pria itu terpelanting ke belakang sambil memegangi daerah intinya. Shena langsung pergi meninggalkan pria itu dalam keadaan lengan baju yang sudah sobek dan kotor. Ia berlari ke rumah Pak Hanif untuk melapor. "Pak, seorang pria hampir saja memperkosa saya dan dia memakai nama Bapak untuk membawa saya." "Oh, ya sudah tidak apa-apa, saya tidak marah." Shena terkejut mendengar ucapan Hanif yang malah peduli pada namanya. "Tapi saya hampir diperkosa, Pak." "Di sini itu sudah biasa, tidak usah dipermasalahkan. Berarti pria itu menyukaimu." "Tapi itu tidak benar, Pak. Dia sudah melakukan tindakan yang melanggar hukum." "Di sini, hal itu tidak dipermasalahkan asal wanita itu tinggal sendiri dan si pria tidak membuat kebisingan di depan umum. Makanya dia membawamu ke kebun singkong." "Jadi tidak ada hukuman untuknya, Pak?" tanya Shena. "Kau saja yang harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Terkadang anak saya juga nekat memasuki rumah para wanita yang tinggal sendiri." "Apa? Anak? Jadi pria itu anak Bapak?" tanya Shena terkejut. "Ya, dia anak saya yang paling tua. Dia selalu tergoda dengan wanita yang baru memasuki desa ini." "Apa Bapak punya anak perempuan?" tanya Shena serius. "Sebaiknya kau pulang sebelum anak saya kembali. Dia kalau sudah marah, saya sendiri pun tidak bisa menolong." Dengan perasaan dongkol bercampur kesal, Shena akhirnya pulang ke rumah. Ia benar-benar benci melihat ketua desa yang bersikap sesuka hatinya dan hanya menjunjung tinggi derajat laki-laki. Sesampainya di rumah, ia pun langsung mengunci semua pintu dan jendela dengan peralatan seadanya yang ia temukan di belakang rumah. Kamar mandi pun ia perbaiki dengan menggunakan papan dan paku bekas yang ia temukan di rumah yang sudah rusak tak jauh dari sana. Saat sedang bekerja, tanpa sengaja ia melihat sebuah tapak kaki besar di dekat kamar mandinya. Ia yakin, bahwa pria itu sudah mengintipnya mandi tadi siang, dan orang-orang yang melihat kelakuan pria itu tidak berani memberitahu. Shena merasa sangat kesal dan marah. Ia bekerja dengan sangat serius agar tidak ada celah sedikitpun untuk pria itu mengintipnya mandi. Selesai dengan itu semua, Shena pun memilih mandi untuk menyegarkan dirinya. Selesai mandi, ia duduk merenung di depan rumahnya yang masih terang. Ia melihat orang yang lalu lalang dengan berbagai karakter. Ada suami yang sedang memaki istrinya sepanjang jalan karena berani menyusulnya ke warung judi karena anak mereka sedang sakit. Ada suami yang menarik paksa istrinya yang sedang hamil agar mempercepat langkahnya. Ada ayah yang menarik paksa anak gadisnya yang sedang menangis. Ada pula seorang ibu tua berjalan tertatih-tatih di belakang anak laki-lakinya sambil mendapatkan cacian dan makian karena sangat merepotkan. Semua yang Shena lihat benar-benar sangat menyesakkan d**a. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa penduduk sini sangat kejam pada wanita. Bahkan ketua desa sendiri pun tidak memperdulikan nasib wanita di sini yang bahkan harus mencari nafkah untuk suaminya yang hanya bisa menghamburkan uang hasil kerja istrinya. Hanya ada satu pasangan yang ia lihat saling tersenyum dan mengobrol sambil berjalan bergandengan tangan. Wanita itu memakai kacamata dan berambut pendek. Jika diteliti, mungkin lebih tua beberapa tahun darinya. Wanita itu menoleh dan menyorot Shena dengan sangat lama sambil memperlambat langkahnya. Sepertinya wanita itu terkejut melihat keberadaan Shena yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Suami si wanita pun akhirnya menegurnya hingga membuat sang wanita berpaling dari Shena. Mereka pun melanjutkan perjalanan, namun si wanita masih sesekali melihat Shena dengan heran. Shena yang juga heran langsung masuk ke dalam rumahnya karena kali ini, ia melihat beberapa pemuda sedang melihatnya. Memang, diantara semua wanita yang ada di desa itu, Shena lah yang paling cantik dan berkulit paling indah. Aneh sekali, padahal Rafael sendiri menganggapnya tidak menarik. Jelas sekali karena di kota besar, Shena hanyalah sebutir debu yang tak terlihat. ***** Rafael tak sengaja mendengar pembicaraan pelayan saat melintasi taman belakang rumahnya. "Apa kau membuka isinya?" tanya salah seorang pelayan pada temannya. "Tidak, aku tidak berani. Meskipun orangnya tidak ada di sini, tapi aku tidak punya hak membuka tas itu." "Jadi, dimana tas itu sekarang?" "Ada di dalam ruang penyimpanan. Aku tidak berani menaruh tas Nona Muda di kamarku. Kalau rusak bagaimana?" "Tas apa?" tanya Rafael sambil mendatangi mereka. Kedua pelayan itu langsung menundukkan kepalanya memberi hormat pada Rafael. "Anu, itu, Tuan, kemarin teman Tuan yang mengantarkan Tuan pulang ke rumah ini melihat tas nona muda ada di sudut ruangan, jadi beliau menyuruh kami untuk menyimpannya." "Tas? Tas apa? Koper?" "Bukan, Tuan, tas itu adalah sebuah tas kecil berwarna merah." "Oh, kalau begitu buang saja atau bakar saja sekalian! Wanita itu tidak diinginkan lagi di rumah ini. Semua barang-barangnya hanya akan menjadi sampah di sini!" ucap Rafael dengan nada tegas. "Ba-baik, Tuan." Kedua pelayan langsung mengangguk dan meminta izin untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba saja Rafael memanggil mereka kembali. "Tunggu!" Pelayan kembali ke Rafael. "Buang tas itu ke gudang saja. Jika sampai terekspos media, pasti akan sangat merepotkan." "Baik, Tuan." Kedua pelayan kembali mengangguk dan pamit pergi. Rafael membuang nafas kasar. Gara-gara tas itu, ia kembali mengingat Shena. Namun bayang-bayang saat malam pertama kemarin kembali teringat jelas di pikirannya. "Jika sampai sepupu wanita itu mencari keberadaan Shena dan tahu kalau aku membuangnya ke daerah terpencil, pasti akan sangat merepotkan jika terekspos media." Setelah mengatakan hal itu, Rafael pun kembali ke dalam rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD