Pagi-pagi sekali Shena sudah bangun dari tidurnya. Ia melihat jam tangan kecilnya menunjukkan waktunya sholat subuh. Ia segera membersihkan rumah dan mandi. Udara di desa dan kota sangat berbeda. Biasanya, ia tidak merasakan dingin saat mengguyurkan air ke tubuhnya, namun kali ini, dinginnya terasa sangat menusuk tulang. Ia bahkan sampai menggigil karenanya.
Setelah mandi dan mengambil wudhu, Shena pun hendak melakukan sholat subuh. Namun, ia bingung dimana kompas. Di desa ini tidak ada mushola atau surau. Ia benar-benar yakin ada yang salah dengan desa ini.
Ia pun teringat akan kompas yang ia bawa dari kota. Untungnya ia sudah mempersiapkan alat-alat yang mungkin akan sangat membantunya saat menjelajahi desa terpencil seperti ini.
Setelah sholat subuh, Shena langsung ke balai desa untuk mendapatkan sarapan sebelum bekerja. Di balas desa, ia pun disuguhi sepotong roti dan teh hangat dengan gelas berukuran kecil.
Shena tertegun melihat roti yang mungkin saja tidak akan membuatnya bertahan sampai tengah hari saat makan siang.
"Kenapa diam? Kalau tidak mau ya sudah, tidak usah makan," ucap bapak-bapak penjaga di balai desa itu.
"Maaf, Pak." Shena langsung mengambil jatahnya dan memakannya hingga habis tak bersisa. Di sini, makanan begitu sulit didapat untuk orang seperti dirinya. Tentu ia tidak akan menyia-nyiakan makanan begitu saja.
Setelah itu, Shena pun pergi dari tempat itu. Ia segera ke peternakan sapi untuk melakukan tugasnya memerah s**u sapi.
Di sana, ia melihat beberapa pria dan wanita sudah datang dan mengambil tempat masing-masing.
"Ini ember dan peralatan lainnya, segera pakai dan mulailah bekerja. Kau boleh pulang setelah memastikan semua sapi yang sudah dipilihkan untuk kau kerjakan selesai diperah," ucap penjaga peternakan sapi. Namanya Diman, pria berusia empat puluh tahun.
"Baik." Shena mengangguk lalu memakai semua peralatannya. Ia pun segera melakukan tugasnya.
Ini adalah pengalaman pertamanya memerah s**u sapi, tetapi, hanya dengan sekali lihat bagaimana orang memerah s**u sapi, ia langsung dapat melakukannya dengan baik. Ini adalah satu lagi kelebihan yang ia punya. Sebagai anak dari seorang yang jenius, Shena bersyukur bisa mewarisi kejeniusan ayahnya.
Ia bekerja dengan sangat hati-hati tanpa menumpahkan sedikitpun agar tidak terkena hukum cambuk.
Namun sayang, hal yang tidak diinginkan terjadi. Seorang wanita yang melintas melewatinya tanpa sengaja menabrak ember yang sudah dipenuhi s**u sapi. Hal itu membuat s**u tumpah seperempat bagian dan membasahi kaki wanita itu.
Seketika wanita itu langsung berubah pucat. Ia sampai bersujud di kaki Shena untuk meminta maaf.
"Tolong, jangan laporkan saya. Tubuh saya sudah penuh dengan luka. Wajah saya sudah penuh dengan luka lebam."
Shena merasa sangat iba kepada wanita itu. "Pergilah, aku yang akan mengakuinya."
Wanita itu segera menghapus air matanya sembari mengucapkan terima kasih. Ia segera kembali ke tempatnya tanpa berani melihat Shena yang kini sedang didatangi Pak Diman.
"Kenapa ada s**u tumpah?" tanya Diman dengan tatapan tajamnya.
"Saya tidak sengaja," ucap Shena pelan.
"Tidak ada pengecualian di sini, kau harus dicambuk atau dipukul!"
"Baiklah, cambuk saja."
Dengan sekali hentakan cambuk, terdengar suara Shena mengaduh kesakitan.
"Lain kali, jika tidak ingin terluka, lakukan pekerjaan mu dengan benar," ucap Diman seraya meninggalkan Shena yang tengah meringis kesakitan sambil memegangi bagian punggung yang hampir tak tergapai oleh tangannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Shena tengah tersenyum setelah Pak Diman pergi. Ia sudah mewanti-wanti hal ini sehingga sudah melakukan persiapan terlebih dahulu.
Sebelumnya, ia sudah membungkus tanah ke dalam plastik seukuran bagian belakang tubuhnya. Tanah yang telah terbungkus plastik itu langsung diikat ke tubuhnya dengan kain yang dipotong kecil-kecil. Dengan begitu, ia tidak akan merasakan sakit jika cambuk mengenai tubuhnya.
Setelah itu, ia kembali melakukan pekerjaannya dengan lebih hati-hati lagi. Ia tidak mau jika orang lain juga menendang ember susunya.
Tepat tengah hari, jam istirahat pun tiba. Shena dan lainnya segera ke balai desa. Rasa lapar memang sudah menguasai perutnya sekarang. Dengan menu tempe dan tahu, ia dengan lahap menyantap makanan tersebut.
Wanita yang tadi sempat menendang embernya tiba-tiba mendatanginya dan duduk di sebelahnya.
"Maafkan saya, dan terima kasih untuk yang tadi," ucap wanita itu.
"Tidak apa-apa." Shena mengangguk sambil tersenyum.
"Perkenalkan, nama saya Mira," ucapnya pelan.
"Aku Shena."
"Ini, makanlah, sebagai tanda permintaan maafku." Mira menyerahkan makanannya pada Shena.
"Tidak, aku sudah kenyang," ucap Shena menolak. Meski rasanya ia masih lapar karena porsi yang sedikit, tetapi ia tidak ingin ada orang yang lapar karena dirinya.
"Aku berhutang budi padamu."
"Sudahlah, kita ini senasib, jadi harus saling tolong menolong."
"Tidak, kita tidak senasib. Mungkin kau bekerja tanpa dibayar, tetapi kau tidak tersiksa batin. Kalau aku, suamiku memaksaku bekerja setiap hari, sedangkan dia malah menghabiskan uang untuk minum-minum dan bermain judi, juga wanita." Mira menitihkan air matanya.
"Dia bahkan pernah memaksaku bekerja saat aku baru tiga minggu melahirkan. Sampai-sampai, anakku harus kehilangan nyawa karena kekurangan ASI akibat aku yang bekerja tanpa henti dan suamiku tidak mau mengurusnya dan membiarkannya menangis seharian." Isak tangis Mira terdengar semakin jelas.
Shena mengerti betapa sakitnya penderitaan yang dirasakan Mira. Ia mengusap punggung Mira sambil menghiburnya.
"Apa kau tahu? Jika seorang bayi meninggal, maka dia akan langsung masuk ke surga. Di sana, dia akan ditemani malaikat yang baik dan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dia sedang bahagia di surga. Jika dia ada di dunia ini, pasti dia akan merasakan penderitaan yang sama denganmu. Ini semua sudah takdir, Tuhan tidak ingin melihat anakmu menderita. Yakinlah, di akhirat nanti, anakmu akan menjadi penolong mu."
Ucapan Shena benar-benar membuat hati Mira merasa tenang.
"Benarkah? Dia sedang bahagia?" tanya Mira ingin meyakinkan.
"Ya, bayi itu suci, tanpa dosa, maka surga lah rumahnya sekarang."
"Terima kasih, aku merasa lebih lega sekarang. Belum ada orang yang se-peduli ini padaku." Mira mengusap sudut matanya.
"Dimana keluarga mu?" tanya Shena.
"Ada di tempat yang sangat jauh. Dulunya, aku dibawa oleh suamiku setelah kami menikah dan tinggal di sini. Aku kira dia benar-benar mencintai ku, ternyata dia ingin menjadikan aku mesin pencetak uang untuknya. Bahkan aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang tuaku."
"Jadi, suamimu menipumu, dia sangat jahat."
"Tidak dia tidak jahat, tapi sangat kejam." Mata Mira menatap tajam ke sembarang arah.
"Sudahlah, kita berdoa saja semoga suatu hari nanti kita bisa terbebas dari sini."
"Oh ya, aku belum mendengar cerita mu."
"Aku,,,,aku melakukan kesalahan fatal, sehingga diasingkan ke sini."
"Padahal kau sangat baik."
"Oh ya, berapa lama waktu istirahat?" tanya Shena saat melihat jarum jam di balas desa itu sudah menunjukkan waktu Dzuhur.
"Satu jam, kau bisa istirahat di rumahmu dulu, asal jangan datang terlambat," ucap Mira mengingatkan.
"Baik, aku pergi dulu."
Shena pun langsung pulang ke rumahnya. Ia segera membuka lapis bajunya dan mandi untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
Selesai dengan itu, ia pun pergi ke peternakan setelah memastikan sebentar lagi waktunya masuk kerja.