Tampak beberapa wanita seusia dirinya sedang memerah s**u para sapi dengan penampilan yang sangat menyedihkan. Pakaian lusuh, wajah kusam tak terawat, dan terdapat banyak luka lebam di wajah mereka.
“Wajah mereka lebam seperti itu karena melakukan kesalahan saat bekerja. Jika kau menumpahkan sedikit saja s**u sapi yang baru kau perah, maka kau akan dicambuk atau dipukul. Tubuh mereka sudah penuh dengan luka cambuk, jadi mereka memilih dipukul di area wajah.” Penjelasan Hanif seperti menjawab pertanyaan yang bahkan belum Shena ucapkan.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan bekerja mulai besok." Shena mengangguk setuju.
"Makan malam bisa kau dapatkan di balai desa." Menunjuk balai desa di ujung jalan tempat Shena datang tadi.
Shena mengangguk.
Setelah Hanif pergi, Shena pun langsung masuk ke dalam rumah barunya.
Ketika ia memasuki rumah itu, betapa ia terkejut melihat banyak sekali bangkai tikus di sana. Ia lantas menutup hidungnya dengan masker. Setelah itu, ia pun membuka jendela yang terdapat di depan dan samping rumah.
Terlihat sebuah bilik yang terbuat dari papan dan juga sebuah tikar sobek dengan banyak kotoran tikus, lumpur, dan sawang yang juga memenuhi langit-langit rumah tersebut.
Keadaan sudah mulai terang benderang. Dengan peralatan sapu dan cangkul, ia mulai membersihkan dalam rumah itu.
Bilik papan sudah bersih, kini ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya.
Ia cukup terkejut melihat kamar mandi yang terbuka atapnya. Sekeliling kamar mandi itu hanya ditutupi plastik berwarna hitam, begitu juga dengan pintu yang terbuat dari plastik juga.
Sedangkan air bisa ia dapatkan dengan cara menimba dengan tali dan ember dari sumur. Sungguh ia seperti hidup di jaman dulu saat listrik dan alat elektronik belum ditemukan.
Ia pun mengakali dengan mencari bahan di belakang rumah itu.
Ia mendapat pelepah pisang yang bisa ia gunakan untuk menutup bagian atas kamar mandi untuk sementara.
Kini ia merasa perlakuan yang diberikan paman dan bibinya selama ini telah membuatnya mampu mengerjakan perkejaan laki-laki. Sayangnya hanya bahan saja yang kurang memadai. Kalau soal pasang memasang genteng atau membetulkan peralatan rumah tangga yang rusak, tentu saja dia ahlinya.
Selesai dengan itu semua, ia memilih untuk beristirahat di atas bilik papan yang tadi sudah ia bersihkan.
Beruntung ia membawa selimut tebal sebanyak 2 lembar, ternyata bisa digunakan untuk menjadi alas tidur dan penghangat dinginnya malam.
Ia berbaring sambil memandangi atap langit-langit yang terlihat beberapa titik yang membuat sinar matahari dapat menembus dan mendarat di lantai tanah.
"Sepertinya pekerjaan ku belum selesai." Shena lantas bangkit dari posisinya. Ia pun memanjat atap rumah dengan tangga yang ia temukan di samping rumah itu.
Ia lantas memanjat atap yang ternyata masih kuat dan mengganti bagian yang sudah rusak.
Setelahnya, barulah ia bisa kembali berbaring sambil kembali menatap langit-langit.
"Apakah takdir ku memang seperti ini?" Berbicara sendiri.
Jika Tuan Rafael sangat membenciku, kenapa dia tidak menjadikanku pelayan saja? Kenapa harus ke tempat ini? Bahkan aku tidak bisa berziarah di makam orang tuaku." Mengusap sudut matanya yang nyatanya sudah basah saat ia mengingat orang tuanya.
"Jika Memang ini yang menjadi takdirku, harusnya aku bisa menerimanya." Shena mencoba untuk tersenyum.
Ia sungguh yakin bahwa ia tidak akan selamanya di sini. Lagipula, tidak mungkin peraturan tidak akan berubah. Kecuali pemimpinnya tidak diganti sampai akhir hayatnya.
Ia pun membersihkan diri saat melihat suasana yang hampir gelap.
Selesai mandi, ia pun memasang lilin dan obor yang harus di isi setiap hari jika tidak ingin kehabisan cahaya.
Setelah itu, ia pergi ke balai desa untuk mengambil jatah makan malam.
Ia tertegun saat melihat piring plastik dengan sesendok nasi dan sayur rebusan serta ikan asin.
Meski begitu, ia tetap memakannya. Baginya makanan seperti ini sudah lebih dari cukup daripada tidak makan sama sekali seperti yang ia alami dulu saat masih berada di rumah paman dan bibinya.
Ia melihat banyak sekali orang yang mengambil makanan adalah pria dan wanita yang umurnya tak jauh beda dengannya.
'Apa mereka juga dibuang sama seperti ku?' batin Shena.
"Lihat apa?" tanya seorang ibu yang duduk di samping Shena. Namanya Ina.
"Tidak ada apa-apa, Bu," ucap Shena.
"Kau penasaran dengan mereka?" tanya Ina lagi.
"Bolehkah, Bu? Apa rasa penasaran diperbolehkan di sini?" tanya Shena ragu.
"Penasaran boleh tapi jangan mencari tahu apalagi sampai membuat ketua desa marah."
"Baik, Bu, maaf."
"Mereka itu adalah orang-orang yang kabur dari kota karena terjerat hutang. Ketua desa menyembunyikan mereka di sini dengan imbalan mereka harus bekerja di sini selama ingin tinggal di sini."
Shena tertegun mendengar jawaban Ina.
"Dan para wanita yang di sana itu." Menunjuk wanita yang tadi dilihat Shena saat memerah s**u sapi. "Mereka dipaksa suami mereka bekerja. Sedangkan suami mereka hanya di rumah dan menikmati hasil dari mereka bekerja."
"Bolehkah suami memperlakukan istri sesukanya di sini?"
"Tentu saja boleh. Tidak ada hukum yang menentang hal itu karena di sini, wanita tidak ada derajatnya sama sekali."
Shena mengerti akan ucapan Ina. Ternyata masih ada desa yang menganggap wanita itu tidak berharga sama sekali meski telah mengandung dan melahirkan anak untuk suaminya.
"Jika mereka dibayar, kenapa mereka makan di sini? Bukankah mereka diberikan uang?" tanya Shena.
"Uang mereka dipegang suami mereka. Suami mereka makan enak di warung, dan istri mereka disuruh makan di sini untuk menghemat biaya. Padahal mereka bisa memasak sendiri, tapi bahan makanan di sini susah didapat."
Shena mengangguk mengerti.
"Hanya kau satu-satunya orang yang diberikan secara cuma-cuma di desa ini. Aku yakin kau pasti telah melakukan kesalahan yang sangat besar." Ina menatap Shena dengan serius.
"Saya pikir setiap orang memiliki hak untuk menjaga rahasianya."
"Kau benar, maaf sudah bertanya. Satu hal yang perlu kau tahu, berhati-hatilah dengan para pria yang ada di sini. Karena wanita tidak dilindungi, mereka bisa saja bersikap jahat padamu."
"Baik, terima kasih, Bu, setidaknya aku akan lebih berhati-hati lagi."
Ina hanya mengangguk dan tersenyum.
Di sisi gelap balai desa itu, seseorang sedang memerhatikan Shena sambil terus tersenyum.
*****
Di kediaman Rafael.
Pengawal yang membawa Shena sudah sampai menghadap Rafael.
"Apa? Ke desa B? Aku menyuruh kalian mengantarnya ke desa A. Di desa B, orang-orangnya sangat kejam!" Rafael menatap kedua pengawalnya dengan tatapan tajam yang sangat menusuk.
"Maaf, Tuan, para pengojek itu yang membawa kami. Kami mengira jalur itu hanya akan membawa ke satu desa, ternyata dua desa."
"Dasar bodoh! Kalau sudah begini, dia akan sangat menderita di sana! Mereka hanya mempercayai hukum di sana, bukan hukum di negara ini!"
Semua pengawal terdiam. Kenapa Rafael malah seperti menyesal?
"Ah, tapi sudahlah, itu memang hukuman untuknya. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya."
Rafael pun pergi meninggalkan para pengawalnya. Ia menuju kamar untuk merilekskan pikirannya. Ia mencoba untuk tidak memikirkan Shena. Baginya, mungkin ini sudah takdir karena Shena sudah melakukan kesalahan fatal pada seorang sepertinya.
Merasa bosan, ia pun pergi ke club khusus orang-orang berada sepertinya dan berkumpul dengan sesama rekan bisnisnya.
Ia ikut minum bersama teman-temannya untuk merayakan keberhasilannya yang telah mendapatkan harta warisan dari neneknya.
"Bersulang untuk Rafael!"
Tiga tangan yang mengangkat gelas saling dan bersulang.
"Katakan padaku, bagaimana kau mendapatkan harta warisan nenekmu? Bukankah syaratnya harus menikah?" tanya salah satu rekannya yang bernama Tedy.
"Aku membujuknya, untuk apa menikah, merepotkan saja," ucap Rafael seenaknya.
"Nenek angkat mu itu tidak mungkin bisa dibujuk. Hatinya kerasa seperti batu," ucap Leo, rekan Rafael yang lainnya.
"Jika kau tidak percaya, itu urusanmu, bukan urusanku."
"Ya sudah, yang penting kau bertambah kaya sekarang."
"Ya, lagipula, jika kau menikah, pasti wanita itu akan menjadi ratu di rumahmu. Kau kaya dan terhormat, siapa yang tidak ingin menjadi istrimu."
Mendengar ucapan teman-temannya, Rafael terdiam sejenak. Ia kembali mengingat Shena yang dengan keji telah ia buang di daerah terpencil yang minim akan hukum. Entah bagaimana nasib Shena sekarang, ia pun tidak tahu. Tapi, ia tetap berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Setelah puas berpesta, ia pun pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia diantar oleh rekannya yang bernama Leo Karen Rafael membawa mobil sendiri tanpa sopir.
Sebelum pulang, Leo tertegun melihat sebuah tas kecil berwarna merah di sudut ruangan.
"Tas siapa itu? Apa kau tadi berkencan?" tanya Leo.
"Ya, aku berkencan denganmu," ucap Rafael asal.
"Aku bersumpah aku masih normal. Jangan buat aku takut, dan suruh pelayan mu untuk jangan sembarang meletakkan barang mereka di lantai."
Setelah mengatakan hal itu, Leo langsung pulang setelah memastikan Rafael di bawa pengawalnya ke dalam kamarnya. Ia juga sudah meminta pelayan rumah Rafael untuk menyingkirkan tas itu.
Di sisi lain, Shena tengah kebingungan mencari tas kecilnya yang berwarna merah. Sepertinya tas itu tertinggal di rumah Rafael.
Terlihat ia sangat sedih karena di dalam tas itu, terdapat foto ayah dan ibunya.