Shena berdiri dengan wajah yang tegang. Bagaimana tidak, saat ini seorang wanita tua yang masih terlihat cantik tengah mengelilingi dirinya. Menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namanya adalah Ranny. Tapi kita bisa menyebutnya nenek saja.
Sebenarnya dia bukanlah nenek kandung Rafael. Dia hanyalah teman dari nenek kandung Rafael yang telah tiada. Sebelum meninggal, nenek Rafael berpesan agar Ranny memastikan Rafael menikah dulu, barulah ia boleh diberikan harta warisan yang telah dititipkan nenek Rafael pada sahabatnya sejak kecil itu.
"Apa benar wanita seperti ini adalah istrimu, Rafael?" tanya Nenek.
"Benar, Nenek, dia adalah istriku, jangan pandang penampilannya, karena aku tidak terlalu suka istriku tampil cantik di hadapan orang lain," jelas Rafael.
"Aku tidak tahu selera anak jaman sekarang. Bagaimana kau bisa tidur dengan wanita seperti ini? Dia bahkan tidak memiliki daya tarik." Nenek menatap sinis pada Shena yang masih tertunduk.
"Hei, gadis muda, angkat wajahmu ketika aku berbicara denganmu!" hardik Nenek yang langsung membuat Shena mengangkat wajahnya.
"Kenapa kau mau menikah dengan Rafael?" tanyanya lagi.
"Itu karena saya, sa-sa, saya."
"Jawab!" kali ini bentakan Nenek membuat Shena semakin takut.
"Karena saya mencintai Rafael, Nenek!" jawab Shena dengan lantang. Wajahnya menatap serius, namun tangannya sedang gemetaran.
"Apa yang kau cintai dari pria seperti ini? Harta, ketampanan, atau kekejamannya?" Nenek berbalik menatap Rafael dengan tatapan curiga.
"Tidak, Nek. Rafael mungkin memang kejam, tetapi dia sangat baik padaku. Dia bahkan tidak pernah membentakku seperti yang Nenek lakukan."
"Apa? Apa barusan kau menyindirku?" Nenek datang mendekati Shena, menatap wajahnya dengan tajam.
"Aku tidak menyindir Nenek, karena semua itu adalah kenyataan."
"Kalau begitu katakan dimana pertama kali kau bertemu dengan Rafael?"
"Di sebuah pusat perbelanjaan, aku dan Rafael tidak sengaja bertemu saat salah satu pengawalnya menginjak kakiku."
Nenek tertegun mendengar jawaban Shena. Memang, para pengawal Rafael sering menginjak kaki orang jika jalan Rafael terhalang atau terlalu sempit.
"Apa dia meminta maaf?"
"Tidak, Nek, dia memarahiku habis-habisan, tapi setelahnya dia mengajakku berkencan karena aku orang pertama yang tidak menangis karena dia marahi."
"Wah, sungguh kisah cinta yang sangat indah. Berawal dari kaki terinjak, hingga sekarang menjadi tuan putri di rumah seorang raja." Nenek berdecak sambil tersenyum. Namun terlihat jelas itu bukan senyuman tulus. Ia masih meragukan Shena.
Rafael mengembuskan nafas lega. Tidak sia-sia ia membriefing Shena dua hari ini. Shena melakukan sandiwaranya dengan sangat baik.
"Siapa keluarga mu?"
"Ibu ku meninggal saat melahirkan ku. Ayahku meninggal saat aku masih kecil karena kecelakaan. Dia adalah seorang yang ahli dalam membuat sistem keamanan, namanya Sharif."
Nenek tertegun mendengar ucapan Shena. Begitu juga dengan Rafael, ia sama sekali tidak tahu jika Shena adalah anak si jenius itu. Pantas saja Shena begitu jenius.
"Oh, jadi kau adalah keponakan Brama, si pebisnis payah itu?"
Shena mengangguk mengiyakan.
"Rafael, ikut aku." Nenek melangkah menuju sebuah ruangan.
Sepuluh menit kemudian, ia pun keluar dengan senyuman di wajahnya sambil memegangi berkas di tangannya. Jelas sekali ia baru saja mendapatkan semua warisan dari neneknya.
"Aku pulang dulu. Setelah ini, kita tidak punya urusan lagi. Apapun yang terjadi padamu, jangan pernah menemui ku."
Setelah berkata demikian, Nenek pun langsung pergi tanpa melihat wajah Shena.
Setelah berkata demikian, Nenek pun langsung pergi tanpa melihat wajah Shena.
Rafael tertawa senang. Ia mencium berkas di tangannya berkali-kali. "Akhirnya aku berhasil. Semua harta sudah menjadi milikku."
Shena yang melihat hanya diam saja. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Rafael saat ini dengan memperlihatkan wajahnya. Jadi, ia memutuskan untuk pergi ke taman belakang saja.
Di sana ia menatap semua bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. "Sepertinya kita tidak akan bertemu. Karena itu, izinkan aku melihat kalian sebentar saja." Tersenyum.
Satu jam kemudian, Rafael pun datang bersama dengan sebuah koper di tangannya.
"Jangan kau kira karena aku sudah mendapatkan harta, kau bisa hidup tenang. Sekarang ayo ikut aku! Aku akan menunaikan janjiku padamu. Bisa gawat kalau sampai media tahu aku punya istri seperti dirimu!"
"Tapi, Tuan, ceraikan lah saya dulu!"
"Tidak akan! Kau akan tetap jadi istriku. Karena dengan demikian, kau tidak akan bisa menikah lagi di tempat aku akan mengirimmu. Kau harus tersiksa dulu jika mencoba untuk menipuku, dasar w************n!"
Rafael menarik paksa tangan Shena. Mereka pun naik ke mobil. Mereka melaju ke pelabuhan tempat kapal yang akan mengantarkan Shena menuju akses ke daerah terpencil itu.
"Sekarang naiklah ke sana. Dua pengawal ku akan mengantarmu sampai di tempat. Ini merupakan pelajaran agar w************n seperti dirimu lebih tahu diri." Rafael menatap tajam pada Shena. Bayang-bayang kekecewaan pada dirinya masih terlintas saat ia mendapat wanita yang tidak suci lagi. Padahal ia sudah membayar mahal, tapi malah penghinaan seperti ini yang didapat.
"Baik, Tuan, saya mengerti. Tapi, perlu saya sampaikan sekali lagi, saya tidak pernah menjual tubuh saya."
"Aku tidak peduli dengan alasan klasik mu itu. Enyahlah dari hadapanku. Wajah menjijikkan mu itu semakin membuat ku ingin muntah!"
Shena mengangguk. Ia pun menaiki sebuah kapal bersama dua pengawal.
Perjalanan memakan waktu dua jam hingga mereka sampai di pelabuhan.
Setelah itu, ia menaiki ojek yang sudah dibayar oleh dua pengawal. Perjalanan memakan waktu selama enam jam lamanya. Hingga akhirnya, Shena sampai di daerah itu.
Sebuah desa yang jauh dari kata modern. Tidak ada listrik atau jaringan. Kendaraan yang paling mewah adalah sepeda. Semua rumah penduduk terbuat dari papan dan bambu berlantai tanah.
Shena disambut oleh seseorang yang merupakan ketua di desa itu. Seorang pria tua dengan pakaian yang sangat sopan.
"Apa kau pendatang baru itu?" tanya pria tua itu.
Shena mengangguk. "Bagus, kami memang sudah menunggu mu."
"Menunggu untuk apa, Tuan?"
"Bukankah orang yang mengirimmu sudah mengatakannya? Kau akan bekerja sebagai pemerah s**u sapi di sini seumur hidupmu."
"Apa? Pemerah s**u sapi?" Shena terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Ya, dan kau akan bekerja dan mendapatkan makanan. Dan jika kau tidak berkerja, maka kau tidak akan dapat makan dan berakhir seperti itu." Menunjuk sebuah tengkorak manusia yang berada tak jauh darinya.
Shena lebih terkejut lagi melihatnya. "Apa yang terjadi padanya? Dan kenapa dia tidak dikuburkan?"
"Dia kelaparan dan tidak bekerja karena sudah tua dan tidak punya siapa-siapa. Di sini, tanah kuburan harus membayar."
"Peraturan macam apa itu?"
"Jika kau banyak tanya seperti ini, artinya kau ingin bernasib sama sepertinya."
"Apa yang dikatakan oleh orang yang mengirim ku?"
"Kata orang suruhannya, Tuan mu berkata bahwa kau adalah budaknya. Dia memberikan dirimu ke sini sebagai hadiah untuk desa kami."
Shena menghembuskan nafas pelan. Ia tidak menyangka bahwa Rafael akan sekejam itu padanya.
Ia pun diantar ke sebuah rumah kecil tak jauh dari tempatnya datang. Terlihat rumah itu seperti sudah tidak layak huni. Lantainya tanah, atapnya terbuat dari daun rumbia yang terdapat kerusakan yang akan membuat air hujan masuk dan membasahi lantai tanah, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, pintu dan jendela yang sudah keropos, dan penerangan yang hanya bersumber lilin dan obor. Benar-benar sangat primitif.
Jika dibanding dengan gudang di rumah paman dan bibinya, tentu rumah ini sudah kalah jauh.
“Kau lihat itu?” Hanif menunjuk sebuah peternakan sapi yang tak jauh dari sana. Peternakan itu cukup besar. Dan sapi yang ada di sana berjumlah ratusan.