Raungan mengerikan yang dipenuhi amarah dan keputusasaan dari sosok Ketiadaan Mutlak yang semakin mengamuk mengguncang seluruh planet ujian hingga reruntuhan batu hitam bergetar. Mata merah yang membara itu menatap Bayu dengan kebencian yang dingin dan menusuk, seolah menyalahkan pemuda itu atas secercah cahaya yang berani mencoba merebut kembali Elara dari pelukan kehampaan. Bayu masih berlutut di atas platform kuno, mencengkeram dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum es, air mata terus membasahi wajahnya tanpa bisa ia bendung. Kehilangan Senja terasa seperti ada bagian jiwanya yang telah direnggut paksa, meninggalkan lubang menganga yang dingin dan kosong. Namun, di tengah rasa sakit yang nyaris melumpuhkan, ia menangkap secercah harapan yang rapuh saat melihat kegelapan pekat

