MSMBF 12

1072 Words
Suasana malam kali ini, dilalui Brave dengan mengenang hari-harinya saat bersama dengan Lynelle. Sahabatnya yang sangat dia sayangi. Perjalanan persahabatannya memang beda dengan sahabat pada umumnya. Namun, bersama Lynelle, Brave bisa menjadi diri sendiri. Tanpa harus menjadi orang lain. Dia mengambil ponselnya. Melihat-lihat fotonya saat bersama Lynelle. Hari-harinya yang sangat menyenangkan dia lalui bersama. Wajah cantik Lynelle saat tersenyum, selalu membuat Brave merasa rindu. Entah sejak kapan diamerasakan rasa yang tidak biasa pada sahabatnya itu. Namun, Brave tidak ingin sampai  persahabatannya hancur. Hanya karena rasa yang dia rasakan saat ini. Meskipun nantinya dia harus merasakan sakit. Jika memang Lynelle mempunyai seorang kekasih. Yang diinginkan Brave hanya menjaga Lynelle. Tidak membiarkan Lynelle sampai merasakan sakit karena disakiti seorang pria. Meskipun itu kekasih Lynelle sendiri. Persahabatnya yang dia jalin mulai dia kecil. Persahabatan yang berawal dari persahabatan kedua orang tua. Yang menjadikan saat ini dia bersahabat baik dengan Lynelle. Putri dari sahabat papanya. Persahabatan layaknya sebuah keluarga. Yang semakin mengeratkan hubungan dua keluarga yang sudah menjadi sahabat sebelumnya. “Aku harap kamu selalu baik-baik saja disana, Lyn. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu. Namun, aku takut kalau aku tidak bisa mengontrol perasaanku padamu. Perasaan yang sudah tumbuh dengan sendirinya. Tanpa adanya paksaan dari siapapun. Aku takut perasaanku ini membuatku kehilanganmu. Aku tidak akan tahan jika hal itu terjadi padaku. Karena buatku, kamu adalah segalanya bagiku. Satu-satunya wanita yang mempunyai tempat istimewa dalam diri seorang Brave. Aku akan memendam perasaanku sampai kapanpun. Meskipun sampai aku harus menutup mataku untuk tetap bisa bersamamu dan bisa selalu melihat senyumanmu. Senyuman yang sudah menjadi candu untukku,” ucap Brave dengan menatap langit yang terlihat indah. Brave duduk di balkon apartemennya. Sambil menatap taburan bintang di langit. Terlihat indah siapapun yang melihatnya. Dalam diri Brave kali ini, dia hanya ingin menjalaninya dengan berjalannya waktu. Dia tidak ingin mendahului apa yang sudah ditakdirkan Tuhan padanya. Untuk menenangkan kegundahan hatinya selama ini, Brave hanya bisa menikmati wine sendiri. Tanpa ada yang menemaninya. Karena sejujurnya, Brave adalah pria yang sangat tertutup. Hanya dengan Lynelle saja dia berubah menjadi pria yang hangat. Yang tidsak ada batasan sama sekali. Sikapnya diluaran sana sangat berbanding terbalik dengan Brave saat bersama Lynelle. Seperti sekarang ini. Dia menatap langit yang bertabur bintang, sambil menyesap wine yang ada di tangannya sedikit demi sedikit. Wine terbaik yang dia beli di salah satu koleganya. Dengan cara itu, Brave bisa menenangkan pikirannya untuk sejenak. Meskipun besoknya lagi akan teringat kembali. Terlebih lagi dengan hasratnya yang selama ini sudah dia pendam. Hasrat yang semakin besar untuk menikmati setiap incih tubuh indah Lynelle. Demi persahabatannya, dia rela untuk memendam hasratnya. Bukan tidak bisa Brave membeli wanita untuk bisa memuaskan dirinya. Namun, dia sudah berjanji pada Lynelle, kalau dia tidak akan bermain dengan wanita lain. Kecuali dengannya. Meskipun Brave juga pernah sekali mencoba dengan seorang wanita yang dia bayar. Namun ternyata, dia tidak bereaksi sama sekali. Meskipun si wanita itu b***l sekalipun. Brave seperti mati rasa dengan wanita tersebut. Hidup Brave terasa benar-benar hampa semenjak  berjauhan dengan Lynelle. Dia semakin gila kerja. Hari-harinya dia gunakan untuk fokus di perusahaannya. Brave yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Brave yang dulu. Dia semakin terlihat sangat dewasa dengan ekspresi wajah yang terlihat dingin. Tatapan matanya yang tajam. Semakin membuat Brave terlihat misterius. Banyak para wanita yang mengeluh-eluhkan dirinya. Yang merelakan tubuhnya hanya karena ingin bisa dekat dengan Brave Addison. Seorang pria tampan yang sukses. Dengan tangan dinginnya, Brave bisa menjadikan perusahaannya sejajar dengan perusahaan besar dunia. *****   Lynelle Pov Lynelle menatap berkas-berkas perkara yang ada di meja kerjanya. Sama halnya dengan Brave. Lynelle untuk saat ini lebih fokus untuk kariernya. Dia tidak terlalu peduli dengan percintaan. Dia lebih menikmati hidupnya saat ini. Karena dengan kebebasan yang dia miliki, dia bisa melakukan hal apapun tanpa adanya seseorang yang ikut campur dalam hidupnya. Kecuali Brave tentunya. Lynelle fokus dengan berkas-berkas perkara yang ada di depannya kali ini. Sambil sekali-kali dia menyesap kopi espresso yang dia buat. Dia sedikit memicingkan matanya saat dia melihat ada keganjalan dengan kasusnya kali ini. Tentang pembunuhan seorang wanita yang sampai sekarang masih belum bisa terselesaikan. Karena pelaku mempunyai kekuatan hukum yang menaunginya. Lynelle yang membacanya, dia semakin tertantang untuk membantu keluarga korban yang ingin mendapatkan keadilan untuk putrinya yang sudah terbunuh dengan mengenaskan. Dengan cara dimutilasi dan dibuang jasadnya. Saat membaca kronologisnya dari beberapa saksi. Dan dari saksi yang melihat kondisi jasad korban, perut Lynelle benar-benar terasa mual. Karena begitu sadisnya pelaku saat membunuh korban. “Aku besok harus mendatangi rumah keluarga korban. Aku harus bisa membantu orangtua itu untuk mendapatkan keadilan untuk putrinya. Dia tidak bisa membayangkan jika dia yang berada di posisi itu. Mungkin dia akan gila. Karena melihat putrinya meninggal dengan cara tidak sewajarnya. Dan malahan semua tuduhan di balikkan pada si korban. Hal yang tidak sewajarnya terjadi,” gumam Lynelle. Lynelle menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sambil sekali-kali dia mencoba memejamkan matanya yang masih belum bisa untuk terpejam. Jika teringat saat dia masih bersama dengan Brave, mungkin dia akan bisa tidur. Dengan cerita-cerita yang terlontar dari mulut Brave. Sambil Brave memasakkan makanan yang lezat untuknya. “Aku merindukanmu, Brave. Entah kenapa, kamu selalu menolak untuk aku suruh ke Paris menemuiku. Padahal aku sangat merindukanmu. Ada apa sebenarnya? Apa kamu sudah mempunyai kekasih? Dan kekasihmu tidak memperbolehkanmu untuk menemuiku? Apa aku sudah tidak terlalu penting bagimu, Brave? Sampai-sampai harus aku sendiri yang merasakan rasa kangen kepadamu?” banyak pertanyaan yang ada di benak Lynelle kali ini. Lynelle berdiri dari duduknya dan dia menatap foto mereka berdua yang tertempel di dinding ruang kerjanya. Foto yang saling tersenyum dengan tatapan mata yang terlihat saling menyayangi satu sama lain. Lynelle benar-benar sangat merindukan masa-masa itu. Masa dimana dia bersama Brave. Bercanda bersama dan menghabiskan waktu bersama. Jika waktu bisa diputar, ingin rasanya Lynelle kembali dimasa-masa dia kuliah dulu. Namun, semua itu hanya bisa menjadi kenangan terindah buatnya. Kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan sama sekali. Meskipun mungkin saat ini Brave sudah mempunyai kekasih yang mencintainya. Lynelle hanya bisa berharap, sahabatnya itu bisa bahagia. Meskipun tidak dengan dirinya disampingnya. Dan bukan alasan dirinya yang membuat Brave bahagia. Meskipun didalam hati, Lynelle sedikit tidak rela akan hal itu. Namun, apa dayanya. Semua itu harus terjadi. Meskipun berat dalam hatinya. Lynelle akan berusaha tetap tegar kuat. Melihat Brave bersama wanita lain. Dan akan memperlakukannya berbeda. Tidak seperti dulu lagi. Yang mana Brave sangat mengutamakannya. Dari pada dengan pacar-pacarnya. Mungkin Lynelle merasa, semuanya sudah berbeda. Waktu dan keadaan yang membuat semuannya berbeda. Tidak seperti dulu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD