Jauh dari Lynelle membuat Brave selalu merindukan Lynelle. Karena baru kali ini dia jauh dari sahabatnya itu. Baru beberapa bulan dia berpisah dengan Lynelle. Rasa rindunya sudah tidak tertahankan lagi. Ingin rasanya dia menyusul Lynelle ke Paris. Tinggal bersamanya lagi. Namun, itu hanyalah hayalan semata. Karena Brave juga mempunyai kesibukan sendiri di Inggris. Usahanya yang dia rintis sedang benar-benar membutuhkannya. Karena selama ini Brave menyerahkan segala urusan yang ada sangkut pahutnya kepada kaki tangannya. Jadi untuk kali ini, dirinya sendiri yang harus mengelolah usahanya untuk tetap maju dan semakin berkembang. Brave mengambil ponselnya diatas meja. Dan langsung menghubungi Lynelle. Tidak berselang lama, panggilan Brave pun terhubung.
“Lama sekali kau mengangkat telfonku,” ucap Brave dengan kesal. Lynelle yang mendengar nada kesal dari Brave, dia menghela nafas.
“Telfon-telfon kamu marah-marah. Ada apa Brave? Kepalaku lagi pusing. Meskipun aku lulus dengan predikat terbaik, tetap saja aku ditempat kerja di bully sebagai pengacara baru. Banyak yang menyepelehkan kerjaku. Padahal mereka juga belum terlalu mengenal aku,” ucap Lynelle. Brave yang mendengarnya, dia tidak bisa menahan tawanya. Karena baru pertama kali ini, sahabatnya itu mengeluh. Biasanya dengan nadanya yang sangat menyebalkan, dia bisa menjatuhkan siapapun yang sudah menghinanya.
“Tenanglah! Kamu tumben-tumbennya kesal seperti sekarang ini. Cuma karena ada yang membullymu. Tunjukkan pesonamu. Itu hanya hal kecil untuk seorang Lynelle. Hanya masalah ada yang membullymu, kamu sampai terlihat seperti orang yang sedang putus asa. Jangan mempermalukan gelarmu sebagai penegak hukum kalau hanya dengan hal sepele saja kamu sudah menyerah. Kamu tidak sendiri, Lyn. Masih ada aku dibelakangmu. Yang mana aku selalu ada buatmu. Selalu mendukungmu. Meskipun semua orang membencimu,” ucap Brave pada Lynelle. Lynelle yang mendengar apa yang barusan dikatakan Brave di telfon, hatinya langsung merasa tenang. Dan dia merenungkan apa yang barusan dikatakan oleh sahabatnya itu. Bahwa tidak sepantasnya dia menyerah hanya karena dia di bully oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
“Benar katamu, Brave. Bodohnya baku. Hanya karena orang-orang yang tidak mau mengakui kemampuan yang aku miliki, aku harus menyerah menggapai impianku menjadi seorang pengacara yang profesional. Dengan kemampuan yang aku miliki, aku bisa menolong orang-orang yang tidak bersalah. Yang ditindas dengan sebuah keadaan yang tidak diinginkan. Terima kasih, Brave. Selalu menjadi sahabat yang selalu ada untukku. Terima kasih buat semuanya. Berkat kamu, aku sadar akan keboodohan yang sudah aku lakukan,” ucaap Lynellle. Brave yang mendengarnya, hatinya terasa hangat. Dia tidak ingin kalau saahabatnya itu bersedih karena sebuah kata bully. Hal yang sangat dia benci sebagai seorang manusia. Brave pun mulai mengobrol dengan Lynelle.
“Sedang apa kamu sekarang?” tanya Brave pada Lynelle. Lynelle yang mendengar perkataan yang sedang diaaa dengar dari Brave, dia laangsung merubah panggilannya menjadi panggilan video. Dan tidak berselang lama wajah tampan Brave terpampang di layar ponselnya.
“Aku merindukanmu, Lyn,” ucap Brave dengan senyum di wajahnya. Lynelle pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan Brave. Dia sendiri pun juga sangat merindukan sahabatnya itu.
“Aku juga saangata merindukanmu, Brave. Jauh darimu, benar-benar membuatku kehilangan hal yang terpenting dalam diriku. Hari-hari biasanya kita lalui bersama-sama. Sekarang aku disini. Di tempat yang berbeda darimu,” ucap Lynelle. Brave tidak menjawab. Dia hanya menatap Lynelle dengan diam. Tatapan mata yang syarat akan cinnta dan kasih sayaang yang tulus untuk Lynelle. Satu-satunya wanita yang mampu membuatnya merasa nyaman dan bahagia. Meskipun sering kali dia bersikap seenaknya sendiri. Namun, Brave dengan senang hati menerimanya. Karena Lynelle tidak pernah menutup-nutupi kejelekannya jika sedang bersama dengannya. Lynelle yang menyadari kalau Brave dari tadi menatapnya, dia menjadi salah tingkah.
“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Lynelle dengan pipi yang bersemu merah.
“Kamu terlihat kurusan sekarang. Apa makanmu kurang teratur sekarang?” tanya Brave pada Lynelle.
“Iya, Brave. Kalau makan tidak ada temannya, aku jadi malas makan. Terlebih lagi dengan kesibukanku sekarang. Biasanya aku makan sama-sama kamu. Tapi, sekarang aku harus makan sendiri. Tidak ada yang menemaniku untuk makan,” ucap Lynelle dengan jujur. Brave menghela nafas. Dia sudah menduganya. Kalau salah satu alasan Lynelle adalah tidak ada temannya.
“Kalau kamu seperti itu, semakin membuatku tidak tenang untuk membiarkanmu tinggaal sendiri di Paris, Lyn. Aku tidak ingin sampai melihatmu sakit karena kamu tidak teratur untuk makan. Jikaa aku bisa datang setiap hari ke kaamu, akan aku lakukan, Lyn. Tahu sendiri kesibukanku sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan untuk beberapa saat ini. Perusahaan lagi benar-benaar membutuhkanku,” ucap Brave dengan penuh penyesalan. Lyneelle yanng mendengaarnya tersenyum simpul. Dia sangata paham bagaimana watak sahabatnya itu jika sudah berurusan dengana dirinya. Dia akan rela memberikan segalanya. Demi bisa melihat sahabat yang dia kasihi bahagia dan bisa tersenyum tanpa bebana sedikitpun.
“Aku baik-baik saja, Brave. Jangan terlalu mengkhawaatirkan aku. Aku berjanji kepadaamu. Kalau aku tidak akan ceroboh lagi setelah ini. Makan dengan teratur dan istirahat cukup,” ucap Lynelle mencoba menenangkan Brave yang terlihat sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan dirinya. Lynelle benar-benar sangat tersentuh dengan kebaikan hati Brave. Sang playboy yang tidak pernah sekalipun menyakiti hatinya. Yang selalu ada disaat dia membutuhkan bantuan. Jika Tuhan menakdirkannya, ingin rasanya Lynelle bisa selalu menjadi satu-satunya sahabat sekaligus wanita untuk Brave. Satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Lynelle.
“Kamu mengkhawatirkan aku? Tapi, kamu sendiri juga terlihat kurusan Brave. Kamu juga pasti kurang makan dan istirahat. Lihatlah, lingkaran hitam dibawah matamu itu. Terlihat seperti panda,” ucap Lynelle.
“Matamu itu benar-benar sangat jeli, Lyn. Aku kira kamu tidak akan tanya padaku,” ucap Brave. Lynelle yang mendengarnya, dia langsung memanyunkan mulutnya seperti kerucut. Semakin terlihat menggemaskan buat Brave.
“Kamu saja jeli, Brave. Masak aku tidak jeli melihat sahabatku juga badannya kurusan. Terlebih lagi melihat kantung matamu. Terlihat sangat lelah dan kurang istirahat. Aku tidak ingin sampai kamu juga sakit, Brave. Karena disana kamu juga tidak ada yang mengurusimu. Aku juga jauh darimu. Tidak tahu lagi kalau kamu sudah punya pacar lagi,” ucap Lynelle dengan santai.
“Aku sudah tidak ingin pacaran lagi, Lyn. Sudah cukup masa-masa kuliah dulu. Yang membuatku pusing kalau punya pacar. Lebih baik sendiri. Tidak ada beban. Aku juga bisa fokus untuk memantaumu jika terjadi apa-apa,” ucap Brave.
“Kamu juga harus memikirkan kebahagiaanmu juga, Brave. Jangan fokus kepadaku. Aku tidak ingin menjadi penghalang untukmu bahagia. Karena aku juga sadar diri kalau selama ini aku salah. Tidak memperbolehkanmu ini itu. Hanya karena alasan yang tidak masuk akal dariku. Padahal aku hanya tidak ingin sendirian dan kasih sayangmu terbagi. Aku benar-benar selama ini menjadi wanita yang sangat egois. Tidak memperdulikan kebahagiaan sahabatnya,” ucap Lynelle. Brave yang mendengar apa yang barusan dikatakan Lynelle, dia tersenyum simpul.
“Aku sangat bangga padamu. Kamu semakin dewasa untuk berpikir dan bertindak Lyn. Padahal aku sama sekali tidak merasa kamu egois padaku. Aku padahal dengan senang hati selama ini melakukannya. Tanpa adanya paksaan sama sekali,” ucap Brave dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
“Terima kasih banyak Brave buat semuanya,” ucap Lynelle dengan tulus pada Brave. Brave pun tersenyum melihat ekspresi Lynelle.