Setelah di wisuda, Brave dan Lynelle menjalani hidupnya masing-masing. Mereka berdua masih sering bertukar kabar. Meskipun mereka berdua belum bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Lynelle yang sibuk dengan mengurus kasus para klien-kliennya. Dan Brave sibuk dengan pengembangan perusahaan miliknya.
“Hari yang melelahkan. Aku benar-benar sangat capek. Ingin tidur sampai besok pagi. Demi bisa sukses untuk menggapai impian sebagai pengacara kondang. Aku harus tetap semangat dan tidak boleh putus asa,” ucap Lynelle menyemangati dirinya sendiri. Hari ini benar-benar menguras tenaga buat Lynelle. Karena hari ini dia menangani dua kasus berat. Yang satu kasus pembunuhan dan satu kasus sengketa lahan. Lynelle jika berhubungan dengan dunia hukum, dia langsung bersemangat untuk mempelajarinya dan akan mencaritahu sendiri dengan bantuan detektif. Jadi meskipun Lynelle baru menjadi pengacara, dia sudah memecahkan beberapa kali kasus besar.
Derrrttt...derrrtt...derrrtt...
Bunyi ponsel Lynelle. Saat Lynelle melihat siapa yang menelfonnya, dia langsung menyunggingkan senyum. Karena yang menelfonnya tidak lain adalah Brave Addison. Sahabat terbaiknya. Sudah agak lama Lynelle tidak di hubungi oleh Brave. Jadi saat Brave telfon saat ini, dia sangat senang.
“Tumben kau menelfonku,” ucap Lynelle. Brave yang mendengar suara Lynelle yang terdengar kesal, dia malah tertawa.
“Apa kau tidak merindukanku?” tanya Brave.
“Jangan dibilang. Kau jahat sekali Brave. Sudah lima bulan lebih kau tidak memberiku kabar. Aku kira kau sudah melupakanku. Karena sibuk dengan pacar barumu,” ucap Lynelle dengan nada ketus.
“Meskipun aku sudah mempunyai kekasih, kau tetap wanita terpenting dalam hidupku,” ucap Brave.
“Huftt...kau juga pria terpenting dalam hidupku Brave,” ucap Lynelle. Brave yang mendengarnya merasa sangat bahagia.
“Bukalah pintumu. Aku ada di depan apartemenmu saat ini,” ucap Brave yang sukses membuat Lynelle meloncat karena bahagia. Lynelle langsung berlari menuju ke pintu apartemennya. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang karena mendengar Brave ada di depan apartemennya. Saat Lynelle membuka pintu, Lynelle langsung disuguhi oleh senyum Brave yang sangat menawan. Brave merentangkan tangannya dan Lynelle langsung loncat ke pelukan Brave. Sahabat yang sangat dia rindukan. Lynelle mengajak Brave masuk ke dalam apartemennya dan dia tidak lupa mengunci pintu apartemennya.
“Kenapa kau datang tidak mengabariku dulu,” ucap Lynelle. Brave menarik Lynelle untuk mendekat kepadanya..
“Karena aku ingin memberimu kejutan,” bisik Brave di telinga Lynelle. Lynelle menoleh ke arah Brave yang sedang menatapnya. Lynelle tersenyum bahagia. Brave mengusap puncak kepala Lynelle penuh sayang.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Brave. Brave mengangkat tubuh Lynelle keatas pangkuannya. Memeluk tubuh Lynelle dengan posesif. Menatap mata Lynelle yang menyiratkan akan kerinduannya. Lynelle mengalungkan tangannya di leher Brave.
“Aku juga sangat merindukanmu, Brave. Tidak adanya kamu dalam hidupku, seperti ada yang kurang. Hari-hariku terasa berbeda. Biasanya kita selalu bersama-sama. Sekarang aku melakukannya sendiri,” ucap Lynelle dengan jujur.
“Maafkan aku beberapa bulan ini tidak memberi kabar padamu. Aku benar-benar sangat sibuk mengurusi pengembangan perusahaan. Karena rencananya perusahaanku mau meluncurkan produk lagi. Jadi aku harus mempersiapkannya dengan matang,” ucap Brave. Lynelle mengangguk paham akan kesibukan Brave sebagai seorang pengusaha. Dia pribadi tidak boleh egois. Karena Brave fokus dengan perusahaan yang dia rintis sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Dan dia tahu bagaimana usaha Brave sewaktu masih kuliah dulu.
“Kenapa kau malahan melamun,” ucap Brave sambil memencet hidung Lynelle dengan gemas. Lynelle memeluk leher Brave. Meletakkan kepalanya di bahu Brave. Brave mengusap punggung Lynelle. Menghirup bau Lynelle yang selalu membuatnya tenang.
“Kelihatannya makanmu tidak teratur, Lyn. Badanmu kurusan sekarang?” tanya Brave.
“Iya, Brave. Aku beberapa hari ini jarang banget makan. Karena lagi mengurus kasus yang sedikit sulit,” ucap Lynelle.
“Jaga kesehatanmu. Jangan sampai jatuh sakit. Karena kamu saat ini tinggal sendiri. Dan aku tidak bisa memantaumu dua puluh empat jam seperti saat kuliah,” ucap Brave.
“Iya, Brave,” ucap Lynelle singkat. Setelah mengobrol sambil berpelukan, Brave dan Lynelle saling diam. Menikmati pertemuan mereka berdua dengan saling berpelukan. Mengungkapkan rasa kangen yang beberapa bulan ini harus mereka tahan karena kesibukan masing-masing.
“Lyn,” panggil Brave. Lynelle yang sudah tertidur pulas tidak menjawab panggilan Brave. Saat Brave sedikit menoleh, Brave melihat Lynelle sudah tertidur di pelukannya. Dia tersenyum simpul. Brave mengangkat tubuh Lynelle menuju kekamar dengan hati-hati. Takut Lynelle sampai bangun. Karena dia tahu kalau Lynelle sedang benar-benar capek karena kesibukannya sebagai seorang pengacara yang harus mengurus kasus-kasus yang memakai jasanya. Brave meletakkan Lynelle di tempat tidur dengan perlahan. Brave memandang Lynelle yang sudah tertidur pulas.
“Bagaimana bisa kau ini tertidur tanpa mengganti baju kerjamu, Lyn. Apa kamu setiap hari seperti ini? Sangat jauh berbeda denganmu saat masih dibangku kuliah. Yang benar-benar menjaga penampilan. Supaya tetap terlihat perfect dimanapun kamu berada. Tapi sekarang aku melihatmu sangat cuek dalam penampilan,” ucap Brave sambil mengusap puncak kepala Lynelle. Sahabat yang sangat dia sayangi.
“Entah apa yang sudah kamu perbuat kepadaku, Lyn. Aku seperti mati rasa dengan wanita lain. Setiap kali para wanita menyentuhku, aku malah merasa jijik dan tidak suka. Berbeda saat aku bersamamu. Jika terus seperti ini, bagaimana aku akan mendapatkan pasangan dalam hidupku. Yang akan aku jadikan istri dan ibu untuk anak-anakku,” ucap Brave dalam hati. Brave pun ikut merebahkan badannya disamping Lynelle. Memeluk Lynelle dengan erat. Dan Brave pun ikut tertidur sambil memeluk Lynelle.
Malam yang indah untuk kedua sahabat yang saling menyayangi dan mengasihi. Sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya. Menjadi tempat bersandar yang terbaik. Menjaga setiap privasi dari sahabatnya. Seperti persahabatan Lynelle dan Brave. Persahabatan yang aneh untuk semua orang yang tidak mengenal baik pada mereka berdua. Kesalahan yang mereka lakukan dari sebuah coba-coba yang menjadi nikmat dan ketagihan untuk mereka berdua. Sampai akhirnya mereka membuat sebuah prinsip yang saling mengikat.. sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Saling memuaskan ketika sudah berada di atas ranjang. Yang sampai saat ini mereka berdua susah untuk melepas kebiasaan mereka berdua jika sudah berurusan dengan b******a. Kenikmatan dunia yang tidak bisa dipungkiri.
Jika ingin disalahkan, tidak ada yang bisa disalahkan dari mereka berdua. Karena mereka berdua melakukannya karena kemauan mereka berdua sendiri. Tanpa adanya paksaan dari yang orang lain.
*****
Berawal dari persahabatan kedua orang tua. Menjadikan Brave dan Lynelle bersahabat dan tumbuh bersama. Saling berbagi dalam segala hal. Kedekatan layaknya saudara. Tumbuh bersama dengan cinta dan kasih sayang kedua orang tua yang saling mencintai. Dan tanpa ada yang tahu persahabatan mereka malah menjadikan mereka berdua terjebak dengan persahabatan yang tidak sewajarnya. Terikat dengan sebuah kesalahan. Saling menggantungkan satu sama lain.