Hari wisuda pun telah tiba. Brave dan Lynelle bersiap-siap untuk menuju ke tempat berlangsungnya wisuda mereka. Brave terlihat sangat tampan memakai subfusc. Terdiri dari celana hitam bagi cowok dan Lynelle pun juga terlihat sangat cantik dengan subfusc yang terdiri dari rok hitam dan dilengkapi dengan kemeja putih, pita hitam atau putih, Jubah hitam besar, dan sejumlah tambahan lainnya. Dengan riasan yang tidak terlalu tebal. Semakin membuat aura Lynelle keluar. Brave menatap Lynelle dengan seutas senyum di wajahnya. Brave menghampiri Lynelle. Brave langsung memasangkan kalung berlian di leher Lynelle. Lynelle tiba-tiba kaget karena Brave tiba-tiba memasangkan kalung di berlian di Lehernya.
“Semakin cantik,” ucap Brave dengan tersenyum puas. Lynelle pun tersenyum bahagia mendapat hadiah dari Brave. Lynelle membalikkan badan dan mencium bibir Brave secara singkat.
“Terima kasih, Brave. Kalungnya sangat cantik,” ucap Lynelle dengan tulus. Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju ke ruang keluarga. Dimana kedua orangtua mereka berdua sudah berkumpul dan siap untuk berangkat. Semua keluarga menatap kagum saat mereka berdua berjalan berdampingan. Terlihat seperti pasangan serasi.
“Kalau semua sudah siap, kita berangkat sekarang,” ucap Addison. Semua keluarga pun berjalan keluar dan memasuki lift menuju lantai bawah. Brave menekan tombol lift dan lift pun langsung tertutup.
“Tinggg” bunyi lift terbuka. Brave dan keluarga keluar dari dalam lift dan langsung menuju parkiran mobil. Untuk kali ini mereka memakai satu mobil untuk menuju ke tempat berlangsungnya wisuda.
“Bagaimana perasaanmu Lyn?” tanya Brave pada Lynelle yang sedang asyik menatap keluar jendela. Lynelle tiba-tiba terasa berat untuk melangkah wisuda. Yang dia pikirkan bukan masalah dia memakai toga ataupun baju wisuda. Tapi dia saat ini memikirkan masalah dirinya harus tinggal berjauhan dengan Brave. Sahabat yang sangat dia sayangi melebihi dirinya sendiri. Brave menatap Lynelle yang sedang melamun. Dia menepuk tangan Lynelle. Lynelle kaget saat merasa ada yang menepuk tangannya.
“Sedang melamunkan apa?” tanya Brave pada Lynelle. Lynelle mencoba tetap tersenyum. Dia tidak ingin sampai Brave kepikiran akan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
“Tidak ada. Aku cuma merasa gugup saja akan di wisuda,” ucap Lynelle berbohong.
“Bukannya ini yang kamu harapkan, Lyn. Bisa lulus dengan cepat dan menjadi pengacara profesional dengan karier cemerlang di usia muda,” ucap Brave pada Lynelle. d**a Lynelle terasa sesak kalau mengingat kembali akan mimpinya itu. Mimpi yang sering kali dia ucapkan saat bersama dengan Brave, dan impian mereka berdua pun mereka tempel di setiap sudut yang sering mereka lewati. Supaya selalu teringat akan mimpi-mimpi yang sudah mereka berdua ucapkan.
“Hehehe iya, Brave. Ini yang aku harapkan. Bisa lulus diusia muda dengan predikat cumlude. Dan tanpa di duga juga aku langsung diminta menjadi salah satu pengacara di salah satu kantor pengacara terkenal di London,” ucap Lynelle mencoba untuk tetap tersenyum. Senyum yang dia paksakan untuk tetap terlihat bahagia di depan keluarga dan Brave.
Perjalanan menuju ke tempat acara terasa sunyi. Karena semua orang yang ada di mobil sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
“Aku benar-benar berat Lyn untu berpisah denganmu. Bertahun-tahun aku hidup denganmu. Setelah ini kita menjalani hidup kita masing-masing. Siapa yang menjagamu kalau aku jauh darimu. Aku mungkin tidak akan tenang jika harus jauh denganmu. Karena aku seperti terikat denganmu,” batin Brave. Tidak berselang lama, mobil pun memasuki area kampus dengan penjagaan yang sangat ketat. Setelah melakukan segala pemeriksaan, akhirnya mobil melaju kembali menuju tempat yang diadakannya prosesi wisuda. Setelah mobil terparkir dan sudah di matikan, semua keluargapun ikut turun untuk melihat prosesi wisuda yang akan dilakukan putra putri mereka. Brave dan Lynelle berpencar menuju tempat dan jurusan mereka masing-masing. Untuk para orang tua disediakan tempat tunggu untuk melihat prosesi wisuda anak mereka masing-masing. Dan untuk para orang tua di sediakan sebuah aula besar dengan sebuah layar besar. Yang mana layar itu berfungsi untuk melihat prosesi wisuda para wisudawan.
“Aku tidak menyangka putriku sampai di titik ini, Addison,” ucap Halbert terharu melihat putrinya yang dipanggil pertama saat pembacaan wisudawan terbaik dengan predikat Cumlude.
“Lihatlah putrimu, Halbert. Benar-benar sangat membanggakan. Aku juga ikut bangga dengan keberhasilan Lynelle,” ucap Addison. Marisa yang melihat putrinya menjadi wisudawan terbaik, dia tidak bisa menahan tanggis harunya. Dia benar-benar sangat bangga dengan keberhasilan Lynelle. Dan tidak berselang lama, jurusan Brave mulai di wisuda. Dan dibacakan satu persatu. Dan begitu membanggakan juga saat nama Brave disebut sebagai lulusan terbaik dengan predikat Cumlude. Semua keluarga benar-benar sangat bahagia karena anak-anak mereka menjadi lulusan terbaik.
“Lihatlah putramu juga seperti putriku. Dia juga membuktikan kwalitasnya sebagai seorang pria yang mampu menyelesaikan pendidikannya dengan predikat Cumlude. Pasti perempuan terbaik yang nantinya akan mendampingi Brave. Dan perempuan itu benar-benar sangat beruntung,” ucap Halbert pada Addison. Mereka berdua pun saling bercengkrama menceritakan putra putrinya. Berbeda dengan Lynelle dan Brave yang sedang menikmati acara wisuda mereka bersama teman-temannya. Lynelle dan Brave terlihat sangat bahagia dengan pencapaian yang mereka dapatkan. Setelah acara bersama teman-temannya selesai, Brave menghampiri Lynelle yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Lynelle yang melihat Brave datang, dia langsung pamit pada teman-temannya dan menghampiri Brave yang sedang menunggu dirinya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucap Lynelle. Brave tersenyum menatap Lynelle. Dia mengambil setangkai bunga mawar merah dari saku celananya dan memberikannya ke Lynelle. Lynelle yang mendapatkan setangkai mawar dari Brave, dia tersenyum senang.
“Terima kasih, Brave,” ucap Lynelle tersenyum manis. Entah kenapa semakin kesini Brave merasa perasaannya kepada Lynelle semakin berbeda. Bukan seperti perasaan seorang sahabat. Melainkan perasaan cinta. Cinta yang tumbuh dengan sendirinya tanpa tahu kapan datangnya.
Brave mengajak Lynelle menemui kedua orang tua mereka. Di saat mereka mau masuk ke ruangan tunggu untuk keluarga, kedua orang tua mereka keluar duluan dari ruangan sambil tersenyum kearah Brave dan Lynelle. Halbert merentangkan tangannya dan Lynelle langsung berjalan dan memeluk papanya.
“Selamat, Sayang. Kamu bisa mencapai dititik ini. Papa benar-benar sangat bangga pada kamu, Sayang,” ucap Halbert pada Lynelle.
“Terima kasih banyak, Pa,” ucap Lynelle.
Addison pun menatap putra satu-satunya itu dengan senyum bangga yang saat ini terukir di wajahnya. Putra kebanggan keluarganya. Di benar-benar sangat bahagia sebagai orangtua.
“Selamat, Boy. Papa sangat bangga padamu. Dan papa ucapkan selamat datang di dunia bisnis putraku,” ucap Addison sambil memeluk putranya. Brave tersenyum menatap papanya.
“Terima kasih banyak, Pa. Semua yang Brave capai, tanpa support dari papa, Brave tidak akan sampai di jenjang ini,” ucap Brave. Brave menatap mamanya yang sudah berkaca-kaca. Dia menghampiri mamanya dan langsung memeluknya.
“Jangan menangis, Ma. Pencapaianku ini aku persembahkan buat mama. Wanita hebat yang sudah membesarkanku dengan kasih sayang. Tanpa mengeluh sedikitpun,” ucap Brave dengan tulus.
“Mama sangat bangga denganmu, Boy,” ucap Stevi. Semua keluarga ikut berbahagia dengan keberhasilan putra putrinya. Bisa lulus dengan predikat Cumlude. Dan menjadi lulusan terbaik di universitas terbaik dunia.