MSMBF Part 08

1074 Words
Kedua orang tua Brave dan Lynelle sudah datang ke apartemen. Mereka berempat memang sengaja datang bersamaan. Karena persahabatan yang sudah terjalin dari dulu, membuat dua keluarga itu menjadi akrab layaknya saudara. Seperti saat ini. Mereka sedang bercengkerama sambil bercerita masa lalu mereka semasa kuliah. Terlihat sangat heboh saat bercerita. Lynelle dan Brave hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita dari keempat orang yang ada di hadapan mereka saat ini. Mereka berdua tidak menyangka kalau mengumpulkan kedua orang tuanya malahan sebagai reoni buat mereka berdua. “Apa kau ingat, Halbert. Saat kita berdua dicintai para wanita jurusan management. Kita terlihat seperti pria yang paling tampan sendiri. Dibandingkan para pria di jurusan lain. Kita dengan mudah mendapatkan para wanita itu. Ditambah lagi uang kita banyak pada saat itu. Kita dengan mudah membeli apapun yang kita inginkan. Mereka mengira awal mulanya kita adalah anak orang kaya. Padahal kita mendapatkan uang itu dari hasil jerih payah kita sendiri. Membangun usaha kita mulai dari nol. Sampai akhirnya kita sekarang sudah mempunyai perusahaan dan anak cabang di berbagai negara. Aku harap putra-putri kita bisa mencontoh kita berdua,” ucap Addison pada Halbert. “Bagaimana aku bisa melupakan saat-saat itu, Addison. Saat di mana kita berani menunjukkan pada semua orang kalau kita sudah mulai sukses pada saat itu. Aku masih ingat saat pertama masuk bangku kuliah. Banyak orang yang meremehkan kita dan akhirnya kita bisa membuktikan pada mereka. Kalau anak orang miskin juga bisa sukses dan memiliki perusahaan besar. Yang dimulai dari tekad dan kerja keras. Tidak pernah takut untuk gagal. Karena buat kita saat itu, tidak akan pernah ada kesuksesan. Jika kita tidak pernah jatuh,” ucap Halbert sambil mengingat masa mudanya dulu. “Kau dulu terlihat sangat tidak modis. Dengan rambut di belah tengah dan kaca mata tebal yang bertengger di hidungmu. Terlihat sangat jelek dan buruk rupa,” ucap Addison. Halbert tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu. Memang benar yang dikatakan Addison. Kalau dirinya dulu terlihat sangat jelek dan buruk rupa. Beda sekali dengan saat ini. Dirinya terlihat tampan dan awet muda. Dan salah satu penyebabnya adalah adanya uang untuk merawat diri. Dulu bagaimana untuk merawat diri, bisa kuliah saja dirinya sudah bersyukur. Sekarang Setelah uangnya sudah banyak dan hartanya melimpah, apapun yang diinginkannya bisa dia miliki dengan mudah. “Kita dulu sama-sama terlihat sangat jelek dan tidak layak untuk dijadikan pasangan oleh siapapun. Tapi untungnya kita mempunyai otak yang jenius. Dan sekarang otak jenius kita, kita turunkan ke putra putri kita,” ucap Halbert. “Aku berharap putra-putri kita bisa sesukses kita berdua. Mereka bisa menggapai cita-cita mereka dengan penuh semangat dan tekad yang kuat,” ucap Addison. Mereka berdua pun akhirnya memikirkan langkah selanjutnya untuk putra-putri mereka. Karena putera-puteri mereka besok sudah diwisuda. Dan menyandang titel di belakang namanya. Mungkin Addison masih bisa bernafas lega. Karena putranya mengambil jurusan yang sama dengan dirinya. Berbeda dengan putrinya. Yang mengambil jurusan hukum. Halbert sebenarnya memikirkan keselamatan putrinya nantinya. Karena pasti putrinya nanti akan berurusan dengan kasus-kasus kriminal. Dan akan membuat nyawanya terancam. Dia tidak ingin sampai putrinya terjadi apa-apa. Andai kalau Putri nanya mau, lebih baik putrinya ikut membantu untuk membesarkan perusahaan saja. Daripada menjadi seorang pengacara. Halbert menatap putrinya yang sedang mengobrol dengan Brave. Dia merasa berat hatinya saat ini. Dilema dengan titel yang akan disandang putrinya. Dulu mungkin putrinya bisa dia titipkan pada Brave untuk menjaganya. Tapi setelah ini mereka berdua sudah menjalani hidup mereka masing-masing. “Apa yang sedang kau pikirkan. Sepertinya ada beban yang tiba-tiba membuatmu kepikiran?” tanya Addison. “Benar sekali dugaanmu. Aku memikirkan akan keselamatan putriku. Jika dia nantinya akan menjadi seorang pengacara. kau tahu sendiri kalau berurusan dengan hukum itu seperti apa. Aku tidak ingin sampai Putri iku nanti mengalami teror ataupun nyawanya akan terancam. Dulu putriku bisa aku percayakan dengan putramu. Tapi setelah ini putriku sudah menjalani hidupnya sendiri dan putramu juga menjalani hidupnya sendiri,” ucap Halbert dengan raut muka cemas. “Yakinlah dengan putrimu. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Kita nanti akan sama-sama menjaga putrimu. Jangan sampai apa yang kau bayangkan terjadi dengan putrimu. Brave pasti tidak akan membiarkan terjadi apa-apa dengan Lynelle. Kau tahu sendiri kalau Brave sangat menyayangi Lynelle. Kalau mereka berdua mau, lebih baik kita nikahkan saja mereka berdua. Tapi sayangnya, mereka lebih nyaman sebagai seorang sahabat. Daripada menjalin sebuah hubungan percintaan,” ucap Addison menenangkan Halbert. ??? “Lyn, hari ini adalah hari terakhir kita bersama dalam satu apartemen. Setelah ini, kita akan berpisah. Kita akan menjalani hidup kita masing-masing. Aku berharap, kau selalu memberikan aku kabar. Supaya aku tidak kepikiran dirimu terus menerus. Dan jaga dirimu baik-baik setelah ini. Jangan ceroboh. Dan jangan mudah untuk didekati para pria. Karena belum tentu pria yang mendekatimu itu baik untukmu. Belajarlah dari apa yang sudah terjadi pada dirimu,” ucap Brave sambil merengkuh tubuh Lynelle dalam pelukannya. Lynelle yang mendengar apa yang dikatakan oleh Brave, dia tiba-tiba merasa sedih. Karena setelah ini dia akan berpisah dengan Brave. Sahabat terbaik yang selalu menjaga dirinya. “Aku pasti akan merindukanmu, Brave. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku nanti tidur tanpa dirimu disampingku. Pasti nantinya aku sulit untuk tidur,” ucap Lynelle dengan lesu. Brave yang mendengarnya tidak bisa menahan tawanya. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Lynelle barusan. Dia sampai lupa tidak kepikiran hal itu. Karena dirinya pun juga seperti itu. Kalau tidak ada Lynelle disampingnya, dia pun juga tidak bisa tidur. “Aku sampai lupa akan hal itu, Lyn. Kebiasaan gila kita itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Aku juga baru kepikiran bagaimana nasibku juga jauh denganmu. Kita selalu tidur bersama dan dengan kebiasaan masing-masing kita sebelum tidur. Tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun,” ucap Brave sambil memikirkan jalan keluar untuk mereka berdua. Mereka berdua pun akhirnya tertawa terbahak-bahak dengan mengingat kegilaan mereka berdua. Kegilaan yang cuma mereka berdua yang tahu. Saling memuaskan satu sama lain adalah yang sering mereka lakukan. Meskipun mereka berdua sudah mempunyai pasangan masing-masing. Mereka berdua tidak akan pernah melakukannya dengan pasangannya. Karena buat Brave dan Lynelle, Brave adalah yang terbaik buat Lynelle. Lynelle pun wanita terbaik buat Brave. Yang bisa memuaskan Brave di saat Brave menginhinkannya. “Bagaimana kalau kedua orang tua kita tahu, Lyn. Pasti kita berdua akan dibunuh mereka. Karena berbuat hal yang tidak sewajarnya dalam persahabatan,” ucap Brave sambil tertawa. “Aku juga sempat berpikiran seperti itu juga, Brave. Bagaimana kalau kedua orang tua kita tahu akan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Pasti mereka tidak segan-segan membunuh kita berdua,” ucap Lynelle juga ikut tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD