MSMBF Part 07

769 Words
Waktu yang ditunggu-tunggu sebentar lagi tiba, tinggal menghitung hari Lynelle dan Brave wisuda. Mereka berdua lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan jalan-jalan ataupun cuma di apartemen. “Brave, gak nyangka kalau dua hari lagi kita bakalan berpisah, memulai kehidupan masing-masing. Kamu sebagai pengusaha, aku sebagai seorang lawyer,” ucap Lynelle dengan raut muka yang terlihat sedih. Brave menatap wajah cantik Lynelle yang tanpa polesan makeup di wajahnya. “Pasti aku akan merindukanmu Lyn, rindu kalau kamu sedang ngambek, rindu saat-saat kita bersama. Terlalu banyak kenangan yang sudah kita jalani berdua, mulai dari zaman kita di tingkat pertama sekolah, sampai di bangku kuliah,” ucap Brave sambil menghela napas kasar. Membayangkan dia tidak bisa bertemu dengan Lynelle saja sudah membuat ia uring-uringan bawahannya. “Aku juga pasti merindukanmu Brave, kamu adalah segalanya buatku, pelindungku dan sahabat terbaik buatku. Di dalam hatiku, tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikanmu di hatiku,” ucap Lynelle penuh dengan ketulusan. Hati Brave terasa hangat saat mendengar perkataan yang barusan Lynelle utarakan. Brave menarik Lynelle ke dalam pelukannya. Dan mencium puncak kepala Lynelle penuh rasa sayang. “Aku akan menjagamu dari jauh. Meskipun aku nantinya sulit untuk merengkuhmu dalam pelukanku saat kau sedih. Dengan segenap jiwaku, aku akan selalu ada buatmu,” ucap Brave dengan lembut. “Jangan pernah berubah Brave, tetaplah seperti sekarang ini. Aku tak ingin perhatianmu akan berkurang untukku, meskipun kita saling berjauhan. Aku tak ingin tempatku digantikan oleh orang lain di hatimu,” ucap Lynelle sambil menatap mata Brave. Lynelle mencari kejujuran dalam mata Brave. “Tidak ada alasan, aku melupakanmu. Sampai harus menggantikanmu dengan orang lain dihatiku. Itu tidak akan mungkin Lyn. Memikirkannya saja aku tidak pernah,” ucap Brave dengan sungguh-sungguh. “Apa benar yang kau katakan, Brave. aku tak ingin cuma mendengar omong kosong darimu,” ucap Lynelle dengan serius. “Aku berjanji padamu Lyn, buat apa juga aku berbicara omong kosong kepadamu. Aku terlalu menyayangimu. Arti dirimu dalam hidupku itu terlalu dalam yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Jadi jangan pernah berpikiran yang macam-macam di otak cantikmu itu. Karena semua itu cuma pikiran jelekmu saja,” ucap Brave dengan sungguh-sungguh pada Lynelle. “Aku memegang janjimu Brave, jangan sampai ingkar janji denganku. Kalau kau sampai ingkar janji denganku, aku tidak akan pernah memaafkanmu di sepanjang hidupku Brave,” ucap Lynelle penuh penekanan. “Pegang janjiku, aku tidak akan mengingkarinya,” ucap Brave dengan serius. Lynelle menganggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk percaya pada Brave. “Brave, kamu jadi tinggal di Italy?” tanya Lynelle. “Iya Lyn, usahaku ada disana. Paling tidak aku akan tinggal disana sampai usahaku mulai berkembang pesat Lyn,” ucap Brave. Lynelle yang mendengarnya langsung merasa sedih. Meskipun jarak mereka berdua tidak terlalu jauh, namun pasti intensitas bertemu mereka berdua pasti jarang dan susah dengan kesibukan masing-masing. “Kamu sendiri gimana Lyn, apa jadi kamu ambil tawaran dari kedutaan prancis?” tanya Brave pada Lynelle. “Iya Brave, aku ingin mengembangkan karierku sebagai seorang lawyer di kanca internasional. Menjadi lawyer yang mempunyai prestasi yang membanggakan adalah impianku dari dulu. Sekarang selagi ada kesempatan, aku akan mengambilnya,” ucap Lynelle. Brave cuma bisa mendukung apa yang menjadi impian Lynelle. Karena ia tahu bagaimana kerasnya Lynelle mencapai impiannya sampai sekarang ini, dia menjadi lulusan terbaik dengan predikat cumlaude di bidangnya. Meskipun mempunyai kedua orang tua yang kaya, Lynelle tidak pernah hidup berlebihan. Meskipun banyak orang yang mengira kalau Lynelle bisa kuliah di universitas terbaik dunia karena uang kedua orang tuanya. Namun Lynelle tidak pernah ambil pusing dengan tanggapan-tanggapan miring tentang dirinya. Karena menurut Lynelle, kalau dia terlalu peduli omongan orang yang tidak menyukainya. Kehidupannya tidak akan maju, dan pastinya akan jalan di tempat. “Besok Mama, Papa, Om dan Tante akan datang bersama ke apartemen kita ini Brave untuk menghadiri acara wisuda kita,” ucap Lynelle pada Brave. “Papa juga ngomong saat menelphoneku kemarin. Kalau mereka akan berangkat bersama kesini,” ucap Brave dengan santai. “Tidak terasa waktu kita berpisah untuk hidup sendiri-sendiri sudah tiba, Brave,” ucap Lynelle pada Brave. Brave menatap Lynelle dengan tatapan yang susah untuk di artikan. Jujur dalam hati Brave, dia tidak ingin hidup terpisah dengan Lynelle. Sahabat yang paling berarti untuk hidup Brave. “Aku tidak akan jauh darimu. Aku seperti bayangan untukmu, Lyn. Jika terjadi apa-apa padamu, segera hubungi aku. Aku akan datang kepadamu,” ucap Brave sambil tersenyum hangat pada Lynelle. Entah kenapa perasaannya seperti tidak rela untuk menjauh. “Aku percaya akan hal itu, Brave. Aku berharap persahabatan kita akan tetap terjalin sampai kapan pun,” ucap Lynelle pada Brave. Brave menganggukkan kepalanya. “Aku berharap yang terbaik untukmu, Lyn,” batin Brave. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD