MSMBF Part 06

1177 Words
Kebahagiaan terpancar dari wajah Lynelle dan Brave, karena waktu yang mereka tunggu-tunggu telah tiba. Waktu pengumuman para mahasiswa yang bisa di wisuda dan lulus dalam predikat cumlaude. Lynelle dan Brave tidak menyangka bahwasanya mereka berdua menjadi lulusan terbaik. Masing-masing fakultas. Brave yang menjadi lulusan terbaik di fakultas bisnis, dan Lynelle menjadi lulusan terbaik di Fakultas Hukum. Para mahasiswa berdecak kagum dengan pencapaian yang didapat Lynelle dan Brave. "Brave, aku senang sekali. Karena apa yang aku cita-citakan bisa terwujud saat ini. Menjadi lulusan terbaik karena benar-benar dari jerih payahku sendiri," ucap Lynelle pada Brave. "Aku juga sangat bahagia Lyn, karena bisa lulus dengan cepat dan mendapatkan hasil yang memuaskan, kalau seperti ini aku teringat, masa-masa kita saat kita pertama kali melakukan tes di Universitas terbaik di dunia ini," ucap Brave tersenyum puas. "Jujur sampai saat ini, aku masih tidak menyangka sama sekali, kalau nama kita berdua terpampang di papan pengumuman lulusan terbaik tahun ini. Tinggal menghitung hari, kita dikokohkan sebagai wisudawan dan wisudawati Universitas Oxford. Aku sudah tidak sabar menanti waktu itu tiba. Waktu di mana kita berdua memakai baju wisuda dengan dihadiri kedua orang tua kita," ucap Lynelle berkaca-kaca. Brave menatap wajah Lynelle dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Aku ingin melihatmu kelak, menjadi seorang lawyer hebat, yang bisa memenangkan berbagai kasus," ucap Brave pada Lynelle. "Aku juga ingin melihatmu menjadi pengusaha yang sukses, menjadi kebanggaan ku dan kebanggaan kedua orang tuamu. Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada dibalik kesuksesan mu," ucap Lynelle pada Brave. Lynelle berharap persahabatannya akan selalu abadi meskipun mereka berada di tempat yang berbeda. Karena ia tahu, setelah ini Brave dan dirinya pasti akan tinggal berjauhan karena pekerjaan masing-masing. Brave yang akan mengembangkan usahanya yang ia rintis saat pertama kali ia masuk di bangku kuliah. Dan ia pun juga seperti itu, ia akan menjadi seorang lawyer yang pastinya akan sibuk mengurusi berbagai macam kasus, baik di dalam persidangan maupun di kantornya. Ia pasti merindukan masa-masa saat bersama dengan Brave. "Meskipun kita jauh, aku berharap kamu tetap baik-baik saja, menjaga dirimu baik-baik. Dan perlu kamu ingat, kalau aku selalu ada untukmu," ucap Brave pada Lynelle. "Apa kau tidak akan melupakanku, Brave. Jika kau nantinya mempunyai seorang kekasih?" tanya Lynelle pada Brave. Brave yang mendengarnya tersenyum simpul. Pikiran konyol Lynelle, semakin membuat Brave gemas dibuatnya. Brave mengacak-ngacak rambut Lynelle. Dan menariknya, ke dalam pelukannya. Brave dan Lynelle sedang duduk di taman yang dekat dengan tempat pengumuman yang tadi ia datangi berdua melihat pengumuman. Brave dan Lynelle tidak memperdulikan pasang mata yang melihat mereka berdua. Terasa seperti dunia milik mereka berdua. "Apa ada alasan untuk aku melupakanmu dalam hidupku. Memikirkannya pun aku tak pernah. Kenapa ada pikiran konyol yang bersarang di otak cantikmu," ucap Brave menahan tawa. " Bukannya seperti itu Brave, aku cuma takut saja kau akan melupakanku. Karena pasti semakin kamu sukses, pasti banyak perempuan yang akan mendekatimu. Untuk mengingatku saja mungkin kau akan lupa, pasti kau Takan sempat untuk menghubungiku dan mencari kabar tentang ku," ucap Lynelle. Lynelle membayangkan Brave melupakannya karena ada wanita spesial di hidupnya. "Itu tidak akan terjadi, jangan membayangkan hal yang tidak-tidak. Kau adalah wanita terindah yang ada di hidupku. Tak akan pernah tergantikan oleh siapapun, karena kau begitu istimewa untukku. Aku Menyayangimu melebihi apapun yang ada di dunia ini. Selalu ingat perkataanku ini di kepalamu, supaya tidak akan pernah lagi memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi," ucap Brave sungguh-sungguh. Setelah agak lama duduk berdua ditaman, Brave dan Lynelle memutuskan untuk pergi ke tempat makan yang disiapkan Universitas untuk mencari makan, karena tiba-tiba Brave merasa lapar. Mereka berdua saling bergandengan tangan menuju ke tempat makan yang ada di kampus mereka. "Tadikan sudah makan, masa jam segini sudah lapar lagi kamu Brave," ucap Lynelle. "Memang orang lapar bisa diprediksi, Lyn. Kamu itu ada-ada saja," ucap Brave dengan santainya. Lynelle cuma menggelengkan kepalanya karena kelakuan Brave yang kadang aneh. " Ya udah terserah kamu, Brave," ucap Lynelle pasrah. Karena ia tahu, kalau sudah berbicara dengan Brave, dia tidak akan pernah menang kalau sifat egois nya lagi kambuh. Saat di tengah jalan menuju ke tempat makan, Brave dan Lynelle bertemu dengan Rebecca. Rebecca terlihat sinis kepada Lynelle. Karena berjalan bergandengan tangan dengan Brave. Terlihat seperti layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Rebecca terlihat geram dibuatnya. Brave tidak peduli dengan pandangan Rebecca tentangnya dan Lynelle. "Pandangan Rebecca terlalu menakutkan Brave, tatapan matanya layaknya orang yang mau membunuh. Seperti melihat kekasihnya jalan dengan selingkuhannya," ucap Lynelle pada Brave. "Biarkan saja, kemarin ia memohon-mohon kepadaku untuk aku menjadi kekasihnya lagi. Meskipun sudah aku tolak berkali-kali, ia tetap tidak tahu malu," ucap Brave pada Lynelle. "Kurang apa dari diri Rebecca, Brave. Udah kaya, seksi dan populer," goda Lynelle. "Mau aku balik lagi sama dia, biar kamu setiap hari di labrak sama Rebecca, karena sudah merebut aku dari dia," goda Brave balik. "Emang pingin balikan lagi sama Rebecca?" tanya Lynelle pada Brave. "Kalau kamunya yang nyuruh, bisa aja aku balikan lagi sama Rebecca. Perasaanku juga biasa aja sama Rebecca. Dari dulu juga aku nggak ada rasa, males aja kalau seumpama ada yang gangguin. Jadi aku nembak Rebecca pada saat itu untuk jadi pacarku," ucap Brave dengan santai. Brave dan Lynelle berjalan berdampingan. Tak terasa mereka sudah sampai di kantin kampus. Tempat makan yang cozy yang ada di kampus. Lynelle dan Brave memilih duduk di pojok. Supaya mereka bisa melihat para mahasiswa yang berdatangan. Makanan yang enak dan bersih menjadi salah satu daya tarik tempat yang sedang disinggahi oleh Brave dan Lynelle. "Kamu ingin pesan apa, Lyn?" tanya Brave pada Lynelle. "Aku cuma ingin minum aja Brave," ucap Lynelle pada Brave. "Lemon tea dengan mint," ucap Brave. Lynelle menganggukkan kepalanya. Brave berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju tempat pemesanan makanan. "Pesan chicken krim sup 1, pasta garlic chicken 1, sama Lemon Tea nya 2. Sama satu lagi stik keju 1," ucap Brave pada salah satu pelayan jaga. Breve berjalan kembali menuju tempat duduknya bersama Lynelle. Brave melihat Lynelle yang lagi asyik bermain game dengan ponselnya. Sampai ia tak sadar keberadaan Brave di depannya. "Lyn, Om sama Tante sudah dikasih tahu, masalah jadwal wisuda kita?" tanya Brave. "Belum, aku belum ngomong apa-apa sama Papa dan Mama. Kalau dikasih tahu sekarang, mereka pasti langsung heboh. Jadi nanti sajalah, kalau sudah dekat waktu-waktu wisuda. Itung-itung buat surprise buat mereka," ucap Lynelle sambil tertawa. Brave cuma geleng-geleng kepala dengan jalan pikir Lynelle. "Kamu sendiri Brave, apa sudah ngomong sama Om dan Tante masalah wisudamu?" tanya Lynelle pada Brave. "Aku juga masih belum memberitahu Mama dan Papa masalah wisudaku, jadi nanti sajalah sekalian," ucap Brave. Tak berselang lama, makanan yang dipesan oleh Brave dan Lynelle datang. Lynelle shock melihat banyak makanan di mejanya saat ini. "Brave, kamu gak salah pesan makanan sebanyak ini," ucap Lynelle. "Iya, memang kenapa? kan ada kamu yang bantu aku ngabisin makanan ini," ucap Brave dengan santai. "Ya Tuhan, Brave. Aku belum pengen makan. Malah sekarang disuruh makan sama kamu, kau benar-benar mau menyiksaku, Brave," ucap Lynelle dengan ketus. Brave masa bodoh dengan protes dari Lynelle. Brave mulai memakan makanan yang ia pesan. Lynelle mau tidak mau jadi ikutan makan, makanan yang di pesan oleh Brave.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD