MSMBF Part 05

1343 Words
Hari ini adalah hari dimana Brave dan Lynelle sedang melaksanakan sidang skripsinya. Persiapan demi persiapan benar-benar di siapkan oleh Brave dan Lynelle, mulai dari macam-macam buku penunjang, sampai hasil-hasil riset yang di dapat dari penelitian yang dilakukannya selama ini. Semuanya lengkap mereka bawa menuju ke tempat diadakannya sidang skripsi setiap jurusan masing-masing. “Brave, aku nervous,” ucap Lynelle yang terlihat gugup. Meskipun Lynelle memegang gelar mahasiswi terbaik dalam bidang akademiknya, Lynelle tetaplah mahasiswi biasa yang gugup saat mau melakukan sidang skripsi seperti sekarang ini. “Percayalah akan kemampuanmu, pasti kamu bisa melewatinya, berikan yang terbaik untuk tim penguji,” ucap Brave pada Lynelle yang masih terlihat gugup. Brave sengaja menemani Lynelle terlebih dahulu sebelum dia yang akan melakukan sidang skripsi. “Kalau aku gagal bagaimana Brave, tiba-tiba aku merasa takut,” tutur Lynelle dengan ekspresi cemas. Brave yang melihatnya tersenyum hangat pada Lynelle. Brave memegang tangan Lynelle, memberikan ketenangan untuk Lynelle sebelum Lynelle masuk keruangan sidang. “Pasti Berhasil. Lynellenya Brave pasti bisa, percaya akan hal itu. Aku tak ingin mendengarmu mengatakan hal yang tidak akan terjadi, jika kamu percaya dengan kemampuanmu sendiri,” ucap Brave membangkitkan kepercayaan Lynelle kembali. “Temani aku disini Brave sampai aku keluar dari ruang sidang,” ucap Lynelle sambil menggandeng tangan Brave. Brave yang melihat Lynelle merajuk, malah terlihat gemas. Brave mengacak-acak rambut Lynelle, yang membuat Lynelle memanyunkan mulutnya karena rambutnya yang rapi jadi berantakan karena ulah tangan jail Brave. “Akan aku temani sampai kamu keluar dari ruang sidang. Aku akan menunggumu disini, menanti kabar bahagia yang kau bawa dari dalam sana nanti,” ucap Brave sambil menyunggingkan senyum. Hati Lynelle menghangat mendengar perkataan Brave. tak berselang lama, nama Lynelle dipanggil untuk masuk keruang sidang. Brave mencium puncak kepala Lynelle sebelum Lynelle masuk kedalam ruang sidang. Semua mata menatap keintiman Brave dan Lynelle yang seperti seorang kekasih. “Aku masuk dulu,” ucap Lynelle pada Brave yang tersenyum hangat. Brave menganggukkan kepalanya. Lynelle berjalan memasuki ruang sidang dengan membawa skripsi di tangannya. Ia memantapkan hatinya supaya ia tidak gugup saat berhadapan dengan tim penguji. Lynelle duduk di kursi yang sudah disiapkan di depan tim penguji. “Saudari Lynelle Marizta Halbert dari fakultas hukum,” ucap salah satu tim penguji. “Saya, Lynelle Marizta Halbert dari fakultas hukum siap melakukan sidang skripsi pada pagi hari ini dengan persiapan yang terbaik dari diri saya,” jawab Lynelle dengan percaya diri, tak mengurangi rasa hormatnya kepada tim penguji yang duduk dihadapannya. “Apa judul skripsi yang anda ingin presentasikan pada kami saat ini, dan apa anda juga mempunyai data pendukung untuk memperkuat skripsi yang anda sajikan pada kami untuk saat ini?” tanya salah satu dosen penguji. “Judul skripsi yang saya ambil adalah tinjauan hukum tentang pertimbangan penuntut umum dalam membuat surat dakwaan secara terpisah terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang,” ucap Lynelle dengan tegas. “Baiklah, sekarang tolong jelaskan pada kami hasil riset anda selama anda meneliti tentang judul yang anda ambil untuk skripsi anda saat ini,” ucap dosen penguji. “Sebelum saya membahas tentang surat dakwaan, terlebih dahulu sedikit saya bahas mengenai lembaga yang berhak sebagai penuntut umum di dalam persidangan, Lembaga penuntut umum yang kita kenal sekarang berasal dari Prancis, yang akhirnya oleh negara-negara lain diambil oper dalam perundang-undangannya juga oleh negeri Belanda yang memasukkan dalam Wetbook van Strafvoerdering (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tahun 1838) serta dalam Inlands Reglement tahun 1848,” tutur Lynelle sebelum memulai presentasi skripsi yang ia buat. Lynelle memulai menjelaskan isi skripsinya dengan percaya diri dan detail, semua pertanyaan dari tim penguji bisa dijawab dengan benar dengan reverensi yang kuat. Lynelle sangat lugas dalam menjelaskan di hadapan para dosen penguji dengan kalimatnya yang mudah di pahami. Sekitar satu jam Lynelle berada di dalam ruangan sidang, setelah semuanya selesai, Lynelle keluar dengan perasaan yang sangat bahagia. Lynelle berjalan keluar dari ruangan sidang dan menghampiri Brave yang setia menunggunya. Lynelle melihat Brave yang lagi serius membaca skripsi miliknya. “Brave...” panggil Lynelle. Brave yang merasa namanya ada yang memanggil. Ia menoleh keasal suara yang tadi memanggilnya. Ia menyunggingkan senyum sambil berdiri dari tempat duduknya. Lynelle berlari kearah Brave dan langsung berhambur ke pelukannya. “Brave, aku berhasil. Aku berhasil Brave,” ucap Lynelle sambil menangis haru di pelukan Brave. Brave memeluk Lynelle dengan erat sambil mencium puncak kepala Lynelle penuh rasa sayang. “Good girl,” ucap Brave menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Lynelle. Brave mencium bibir Lynelle dengan lembut. Jantung Lynelle berdesir dengan apa yang sedang dilakukan Brave saat ini padanya. “Sekarang temani aku sidang sekripsiku,” ucap Brave sambil menarik tangan Lynelle supaya mengikutinya ke fakultas bisnis. Brave dan Lynelle berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Brave tidak peduli sama sekali meskipun banyak pasang mata yang sedang menatap mereka berdua yang layaknya sepasang kekasih. “Brave, banyak yang menatap kita dengan tatapan yang sangat aneh,” ucap Lynelle dengan pelan. “Biarin saja, mungkin mereka iri pada kita seperti ini,” ucap Brave dengan asal. Lynelle yang mendengar perkataan Brave, secara reflek mencubit lengan Brave. Brave terkekeh dengan apa yang dilakukan Lynelle yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya. Berjalan sambil bercanda berdua membuat pasang mata yang melihat mereka terlihat iri. “Sudah waktunya aku masuk ke ruang sidang, tunggu aku keluar,” ucap Brave pada Lynelle. Lynelle menganggukkan kepala. Lynelle duduk di bangku kayu yang ada di depan ruangan sidang. Tepatnya di taman kecil yang disediain fakultas bisnis untuk bersantai dari kepenatan yang melanda. “Semoga Brave bisa menjawab pertanyaan para dosen penguji skripsinya,” batin Lynelle. Sekitar dua jam Lynelle menunggu Brave keluar dari ruang sidang. Entah kenapa Lynelle dihinggapi rasa was-was Brave tidak bisa menjawab pertanyaan yang di berikan sang dosen penguji. Tiba-tiba Brave keluar dari ruang sidang dengan raut muka lesuh. Pikiran Lynelle langsung berpikir yang tidak-tidak tentang Brave. Lynelle berjalan menghampiri Brave. “Are you ok, Brave?” tanya Lynelle pada Brave dengan raut muka khawatir. Tiba-tiba Brave memeluk Lynelle dengan erat. Lynelle yang di peluk Brave secara tiba-tiba malahan semakin bingung dibuatnya. Brave melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Lynelle. Brave tersenyum hangat sambil menatap mata Lynelle penuh sayang. “Aku lulus sidang skripsinya dengan nilai yang sangat memuaskan,” ucap Brave dengan pelan. Brave berhasil membuat Lynelle shock karena sangat bahagia. Lynelle menghambur ke pelukan Brave. Ia sangat bahagia mendengar Brave lulus sidang skripsinya. “Kau mengagetkanku, tadi aku sangat khawatir saat melihatmu keluar dari ruang sidang dengan muka yang sangat lesu,” ucap Lynelle di pelukan Brave. “Maaf sudah membuatmu khawatir,” ucap Brave sambil mengecup puncak kepala Lynelle. Lynelle semakin menenggelamkan kepalanya di d**a bidang milik Brave. Perasaan yang saling memiliki dan menyayangi satu sama lain. Rasa nyaman yang tak bisa tergantikan dengan apapun yang ada di dunia ini. Brave dan Lynelle sangat menikmati kebersamaan mereka satu sama lain. “Oke, sekarang kita pulang, tapi sebelumnya kita akan jalan-jalan dulu,” ucap Brave pada Lynelle. Lynelle melepaskan pelukannya dan menggandeng Brave untuk pergi. Brave tersenyum simpul dengan tingkah Lynelle. Brave cuma berharap dalam hatinya, tak akan di pisahkan dengan Lynelle. Karena Brave tanpa sadar tidak bisa hidup saat jauh dengan Brave. Lynelle adalah segalanya bagi Brave. “Brave kita mau kemana ini,” tanya Lynelle pada Brave. “Kesuatu tempat yang indah. Pasti nanti kamu bakalan suka tempatnya. Itung-itung hadiah buatmu setelah berhasil mendapatkan nilai terbaik skripsimu,” ucap Brave pada Lynelle. Lynelle sangat bahagia mendengarnya. Lynelle begitu bersyukur memiliki Brave dalam hidupnya. “Terima kasih, Brave,” ucap Lynelle sambil mencium pipi Brave. “Sama-sama,” ucap Brave balik sambil mencium puncak kepala Lynelle. Lynelle berjalan sambil menggandeng tangan Brave menuju ke tempat mobil Brave di parkir. Setelah sampai di parkiran, Brave membukakan pintu untuk Lynelle dan setelah Lynelle masuk kedalam mobil, Brave berjalan menuju pintu kemudi. Brave duduk di bangku kemudi. Brave mulai menyalakan mesin mobilnya, mobil pun mulai melaju keluar dari gerbang kampus. Brave melajukan mobilnya dengan kecepatan standar menembus jalanan Inggris. Dengan ditemani suara musik dari mobilnya, diiringi dengan Lynelle yang menirukan suara sang penyanyi. Brave Cuma menjadi pendengar Lynelle yang sedang bernyanyi dengan asyiknya tanpa memperdulikan Brave yang ada disampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD