MSMBF Part 04

1121 Words
Setelah makan, Brave memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Menikmati waktu santainya, tanpa harus memikirkan kekasih. Karena Brave dengan sengaja mematikan ponselnya, supaya ia tidak diganggu oleh sang kekasih. Untuk saat ini Brave Cuma ingin bersama dengan Lynelle, menikmati waktu berdua. “Lyn...” panggil Brave. Lynelle yang hendak melangkah ke kamarnya, mendengar Brave memanggilnya, mau tidak mau datang ke asal suara yang memanggilnya. “Apa?” tanya Lynelle pada Brave. Brave menarik tangan Lynelle untuk duduk disampingnya, menemaninya menonton televisi. Lynelle duduk disamping Brave dengan tetap diam. Lynelle masih sedikit kesal dengan Brave. Brave yang masa bodoh, mulai berbaring di pangkuan Lynelle sambil melihat acara televisi kesukaannya. Lynelle menghela nafas kasar dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini, benar-benar sangat menguras emosi kalau lagi mode gak jelas seperti pagi tadi saat berangkat ke kampus. “Lyn, nanti libur kuliah kita liburan ke Swiss yah,” ucap Brave menatap wajah cantik Lynelle. “Ok, kalau aku gak sedang di repotin urusan kampus,” ucap Lynelle santai. Bukan Brave namanya kalau tidak bisa memaksa Lynelle untuk menuruti kemauannya. “Kenapa kamu gak ngajak Rebeca saja ke Swiss,” ucap Lynelle. “Aku ingin liburannya sama kamu saja. Aku gak ingin ngajak Rebecca, terlalu banyak maunya itu orang. Aku ingin menikmati liburanku. Kalau mengajakmu aku gak harus direpotkan. Malahan sebaliknya, aku yang akan merepotkanmu,” ucap Brave sambil terkekeh. Lynelle yang mendengar perkataan Brave langsung menoyor kepala Brave. “Dasar licik, ternyata kamu mengajakku ada maunya,” ucap Lynelle ketus. Brave memeluk pinggang Lynelle, membenamkan kepalanya di perut Lynelle. “Kita liburan sama-sama Lyn, bersenang-senang bersama.” Brave tertawa melihat ekspresi Lynelle. Lynelle Cuma menghela nafas panjang, ia tak mungkin mendebat Brave, karena pasti ujung-ujungnya dia yang akan kalah. Lebih tepatnya mengalah. “Terserahlah, tapi ingat, aku tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun saat liburan bersamamu. Makanku, belanjaku, tiket sampai akomodasi, aku tidak tahu menahu. Aku maunya gratis,” ucap Lynelle dengan santai. Brave yang mendengar perkataan Lynelle seperti itu, sudah tidak kaget. Karena setiap ia ajak liburan, Lynelle pasti mintanya gratisan. Tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun. Meskipun Lynelle sendiri mampu untuk membeli apa yang dia inginkan. “Dasar, mintanya gratisan terus, padahal uangmu juga banyak. Modelmu kayak orang susah saja,” ucap Brave cuek. Lynelle Cuma ketawa saja, membiarkan Brave ngeluh karena kelakuannya saat bersama Brave. Perilaku Lynelle yang apa adanya, tanpa harus menutupi jati dirinya sendiri. Lynelle dan Brave sudah bersahabat dari kecil, jadi sudah tahu baik buruknya masing-masing. Sampai kelakuan konyol mereka, yang mereka sendiri yang tahu, yang mereka berdua lakukan saat sama-sama ada dibangku SMA. Dari sebuah penasaran sampai akhirnya mereka berdua melakukannya. Saling memuaskan satu sama lain. Kedua orang tua mereka tidak pernah curiga saat mereka berdua saling menginap dirumah masing-masing, karena orang tua mereka berdua saling percaya satu sama lain. "Brave, hubunganmu dengan Rebecca itu sebenarnya seperti apa?" tanya Lynelle penasaran. Karena seingat Lynelle, Brave tidak pernah mengajak Rebecca liburan. Tidur dengan Rebecca pun tidak. Padahal setahunya Brave pernah diajak Rebecca ke apartemennya, dan Rebecca telanjang di depan Brave, namun Brave saat melihat Rebecca telanjang, katanya ia seperti tidak berselera, juniornya pun saat disentuh oleh Rebecca tak bereaksi sama sekali. Lynelle mengetahuinya dari mulut Brave sendiri. "Iya kayak lo lihat Lyn, emang kenapa lo tanya-tanya?" tanya Brave. "Gue cuma penasaran aja, selama ini lo gak pernah ngajak si Rebecca jalan. Gara-gara lo gue kemarin di labrak sama Rebecca di kelas gue. Katanya gue ngerebut lo dari dia," ucap Lynelle dengan ketus. "Ya udah biarin aja, kan kenyataannya enggak," ucap Brave santai. Lynelle yang mendengar perkataan Brave mau tidak mau menarik rambut Brave dengan keras, sampai membuat Brave kesakitan. "Stop Lyn, sakit," ucap Brave menahan sakit karena ulah Lynelle. "Enak di Lo gak enak digue, dasar otak kadal," ucap Lynelle sarkas. Brave yang mendengarnya malahan tidak berhenti tertawa. "Udah jangan ngomongin si Rebecca males gue, masa' sekarang dia setiap ketemu sama gue, bawahannya selalu ngajak gue ML terus. Kayak gue cowok apaan," ucap Brave dengan malas. "Putusin aja kalau gitu Brave, gue aja juga udah putus sama si Jack," ucap Lynelle santai. Tapi tidak dengan Brave, Brave menanggapinya dengan serius. Brave mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Rebecca. "Hey Honey," ucap Rebecca manja. "Hey Rebecca, aku langsung saja mau ngomong hal serius sama lo," ucap Brave dengan nada datar. "Ada apa Honey, apa aku sudah ngelakuin kesalahan, Honey," ucap Rebecca bingung mendengar perkataan Brave yang tidak seperti biasanya. "Aku sudah tidak ingin lagi ada hubungan denganmu, mulai sekarang kita putus, tolong jangan ganggu aku lagi," ucap Brave pada Rebecca. "Apa-apaan kau ini, minta putus begitu aja, gak ada angin, gak ada hujan. Apa aku sudah melakukan kesalahan, sampai kau memutuskan aku seperti ini. Aku tidak terima Brave, apa aku kurang cantik, apa aku kurang seksi menurutmu, sampai kau mau memutuskan wanita yang sempurna sepertiku. Jahat sekali kau Brave, aku akan cari tahu, siapa wanita yang sudah merebutmu dariku. Tunggu saja pembalasanku Brave," ucap Rebecca dengan emosi. "Terserah lo mau melakukan apa, gue udah gak peduli sama sekali," ucap Brave singkat. Panggilan Pun diakhiri oleh Brave. Lynelle yang mendengar percakapan Brave dan Rebecca cuma bisa terbengong-bengong. Ia tidak menyangka kalau Brave benar-benar memutuskan Rebecca. Cewek yang sudah dikencaninya dua tahun ini. "Lo serius Brave, mutusin Rebecca?" tanya Lynelle tidak percaya. "Yang lo denger tadi apa, emang gue pernah berbohong sama lo," ucap Brave santai. Lynelle benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. “Ya Tuhan Brave, padahal aku cuma bercanda.lo malah nganggepnya serius, emang lo gak bakalan nyesel mutusin wanita cantik seperti Rebecca, Brave?” tanya Lynelle pada Brave. “Ngapain nyesel Lyn, banyak wanita yang mengejar-ngejar gue karena ketampanan dan kekayaan gue,” ucap Brave dengan sombongnya. Lynelle yang mendengar perkataan Brave cuma geleng-geleng kepala. “Dasar gila lo Brave, cowok kecakepan yang pernah gue kenal,” ucap Lynelle sambil tertawa. “Gak terasa Lyn, bentar lagi kita bakalan lulus, minggu depan gue bakalan sidang skripsi,” ucap Brave. “Emang skripsi lo udah selesai lo garap Brave?” tanya Lynelle. “Udah, gue ngebut ngerjain skripsi minggu kemarin, pingin cepet-cepet selesai sidang biar plong,” ucap Brave santai. “Syukur kalau lo udah selesai. Aku juga sudah selesai ngerjain skripsi gue, tinggal nunggu jadwal sidangnya saja,” ucap Lynelle. Malam semakin larut, Brave dan Lynelle masih betah mengobrol tentang kehidupan mereka berdua, mereka saling menceritakan bagaimana keseruan mereka dulu saat masih sekolah di tingkat atas. “Brave lo masih ingat gak, saat Tania suka sama lo, tapi lo cuekin gara-gara lo seharian gue diemin gara-gara lo gak jadi ngajak gue nonton,” ucap Lynelle. “Iya pasti ingatlah, bodohnya gue nolak cewek primadona sekolah, gara-gara lo yang ngambek gara-gara gak jadi nonton,” jawab Brave. Brave dan Lynelle saling tertawa dengan tingkah konyol mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD