MSMBF Part 03

1282 Words
Kegundahan yang tidak menentu membuat Brave tidak bisa berpikir dengan baik, perasaannya pada Lynelle begitu besar, melebihi perasaannya pada kekasihnya Rebecca. Brave sangat menyayangi Lynelle, bagi Brave, Lynelle adalah segalanya. Sosok sahabat yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Membayangkan Lynelle nantinya akan menikah dengan orang lain, membuat hati Brave terasa sakit. Brave masih belum sanggup untuk kehilangan Lynelle dalam hidupnya. Bersama dengan Lynelle, Brave merasakan kebahagiaan. Pribadi Lynelle yang apa adanya, membuat Brave nyaman berada di dekatnya. Brave memberhentikan mobilnya tepat di pinggir jalan. Menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Memikirkan perkataan Lynelle, membayangkan apa yang akan terjadi dengan persahabatannya, jika Brave harus benar-benar tidak peduli dengan Lynelle. Drttt...Drttt...ponsel Brave bergetar. Brave mengambil ponselnya yang ia taruh di saku celana sebelah kanan. Saat Brave melihat siapa yang menelpon nya. Brave menghela nafas kasar. “Hallo,” ucap Brave dengan malas. “Hai Baby, lagi dimana sekarang?” tanya Rebecca. “Lagi dijalan, ada apa?” tanya Brave singkat. “Kangen saja Baby. Apa kamu tidak merindukanku, Baby?” “Always,” ucap Brave berbohong. Jujur untuk saat ini yang ada di kepala Brave hanya Lynelle. Tidak ada yang lain. “Thank you, Baby. I love you so much,” ucap Rebeca penuh cinta. “I love you too, Baby,” jawab Brave singkat. Sebelum Rebeca melanjutkan obrolannya, Brave segera mematikan ponselnya. Karena untuk saat ini, Brave tidak ingin diganggu oleh orang lain. Termasuk Rebeca sang kekasih. Setelah selesai berbicara dengan Rebeca di telpon, Brave menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, membuka kaca mobilnya, dan setelah itu, Brave mengambil rokoknya di saku celananya, Brave mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisap. Brave mematikkan api ke arah rokoknya, setelah menyala, Brave menghisapnya dengan syahdu.menikmati setiap hisapan rokoknya, ia mencoba melupakan beban di hatinya untuk beberapa saat. Hisapan demi hisapan rokok, membuat perasaan Brave sedikit membaik. Tak terasa Brave sudah menghabiskan empat batang rokok. “Jika memang yang terbaik kamu bersama orang lain, Lyn. Aku akan selalu menjagamu tanpa kamu tahu, menjadi bayangan setiap langkahmu berpijak, dimanapun kamu berada. Tak akan aku biarkan laki-laki menyakitimu, meskipun itu seujung kukumu,” ucap Brave lirih, dengan tetap memandang kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan. Brave melajukan kembali mobilnya menyusuri jalanan San Fransisco, kota yang terlalu banyak kenangan bagi Brave dan Lynelle. **** “Tumben Brave belum pulang,” ucap Lynelle. Lynelle menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Tadi memang sengaja Lynelle pulang terlebih dahulu dari kampus setelah mata kuliah terakhirnya selesai. Saat di Apartemen, Lynelle menyusun berbagai rencana untuk meluluhkan hati Brave. Lynelle ingin berbaikan lagi dengan Brave. Didiamkan Brave, membuat perasaan Lynelle tidak tenang. Lynelle memasuki kamarnya, ia berganti baju dengan menggunakan baju santai. Memakai kaos oblong dengan celana pendek selutut. Setelah berganti baju, Lynelle langsung menuju ke dapur untuk memasak makanan untuk dirinya dan Brave. **** Brave memasuki apartemen, tercium bau harum masakan dari dapur. Saat ia berjalan menuju ke arah dapur, Brave mendengar Lynelle menyanyikan lagu milik Bruno Mars yang berjudul “Just The Way You Are”. Suaranya yang merdu, membuat Brave menikmati lagu yang dinyanyikan Lynelle. Her eyes, her eyes Make the stars look like they’re not shining’ Her hair, her hair Falls perfectly without her trying She’s so beautiful And I tell her everyday I know, I know When I compliment her she won’t believe me And it’s so, it’s so Sad to think that she don’t see what I see But every time she asks me, “Do I look okay?” I say When I see your face There’s not a thing that I would change ‘Cause you’re amazing Just the way you are And when you smile The whole world stops and stares for a while ‘Cause, girl, you’re amazing Just the way you are Her lips, her lips I could kiss them all day if she’d let me Her laugh, her laugh She hates but I think it’s so sexy She’s so beautiful And I tell her everyday Oh you know, you know, you know I’d never ask you to change If perfect’s what you’re searching for Then just stay the same So don’t even bother asking if you look okay You know I’II say When I see your face There’s not a thing that I would change ‘Cause you’re amazing Just the way you are And when you smile The whole world stops and stares for a while ‘Cause, girl, you’re amazing Just the way you are The way you are The way you are Girl, you’re amazing Just the way you are When I see your face There’s not a thing that I would change ‘Cause you’re amazing Just the way you are And when you smile The whole world stops and stares for a while ‘Cause, girl, you’re amazing Just the way you are *** Brave tersenyum mendengar Lynelle bernyanyi, ia hafal kalo Lynelle sedang gunda, dan ada masalah, dia selalu melampiaskannya dengan bernyanyi. Brave sadar kalo dirinyalah yang membuat Lynelle seperti sekarang ini. Brave merasa bersalah, karena perkataannya tadi sudah sangat keterlaluan. “Maafkan aku Lyn, maaf,” ucap Brave dalam hati. Brave menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Buat Brave, mendiamkan Lynelle, sebenarnya juga membuat Brave sangat tersiksa. “Sudah pulang?” suara Lynelle mengagetkan Brave yang sedang melamun. “Sudah barusan,” ucap Brave singkat. “Sudah makan?” tanya Lynelle. “Belum,” jawab Brave. Lynelle mencoba menahan geram dalam hatinya, karena mendengar jawaban singkat Brave. Ingin rasanya Lynelle memasukkan gula di mulut Brave, supaya perkataannya terasa manis. “Ayo kita makan kalau begitu, aku sudah masak,” ucap Lynelle lembut. Brave menahan tawanya melihat ekspresi Lynelle yang sedang menahan geram padanya. “Baiklah, siapkan dulu makanannya, aku mau ganti baju dulu,” ucap Brave. Setelah selesai berbicara, Brave berjalan menuju ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Brave menuju walk in closet miliknya. Ia mengambil kaos oblong berwarna putih dan celana pendek selutut untuk ia pakai. Brave mengganti baju dengan baju yang tadi ia ambil. Setelah berganti baju, Brave keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju meja makan. Brave memperhatikan Lynelle yang membawa makanan ke meja makan. Dengan berpakaian santai seperti sekarang, Lynelle tetap terlihat cantik. Meskipun Lynelle tanpa polesan di wajahnya. Brave sangat mengagumi kecantikan Lynelle yang alami. Dengan tetap menatap Lynelle, Brave menarik kursi dan duduk, sambil menunggu Lynelle selesai menyajikan makanan di atas meja. Setelah selesai menyajikan makanan yang ia masak, Lynelle ikutan duduk berhadapan dengan tempat duduk Brave. Lynelle mengambilkan makanan untuk Brave, dan setelah piring Brave terisi dengan makanan, Lynelle memberikannya kepada Brave. Brave menerimanya dengan diam. Ruang makan terasa sunyi, tidak ada yang saling memulai obrolan satu sama lain. Mereka berdua masih tetap mempertahankan ego masing-masing. Brave mencoba untuk mencairkan suasana, dengan memulai sebuah obrolan. “Pulang cepat tadi?” tanya Brave. “Iya, tadi Cuma dua mata kuliah saja,” jawab Lynelle. “Tumben gak pergi jalan sama teman-temanmu,” ucap Brave. “Lagi malas jalan. Mood aku lagi benar-benar hancur,” ucap Lynelle ketus. Brave tersenyum melihat wajah Lynelle yang lagi sebel. “Kenapa mood mu hancur?” ucap Brave pura-pura tidak tahu. “Ada manusia yang merusak moodku, manusianya saja yang menyebalkan ngediemin aku,” ucap Lynelle ketus. Brave sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Tawa Brave pun pecah. Lynelle merasa senang karena bisa membuat Brave tersenyum lagi padanya. Lynelle merasa sangat bahagia saat berada di dekat Brave. satu-satunya laki-laki yang sangat disayang oleh Lynelle. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD