“Cahaya, kenalkan. Ini namanya, Reny. Dia juga salah satu siswa yang menginap di asrama ini,” kata Yura mengenalkan perempuan yang dari tadi dimarahi olehnya. “Hai, aku Cahaya.” Aku pun mengulurkan tanganku selayaknya orang yang saling berkenalan. Aku tidak ragu melakukannya. Karena, aku sudah mengenakan kembali sarung tangan yang sudah diperbaiki oleh Filla ini. Bahkan, dia menambahkan ketebalan pada alat yang ada di tanganku. Tetapi, benda ini masih sangat terasa ringan. Seolah, aku memang tidak mengenakan apa pun juga. “Ha... hai. A... aku... Reny.” Perempuan ini ragu untuk menyambut tanganku. Bahkan, saat dia menyentuh tanganku ini, sikapnya itu semakin terlihat aneh. Aku juga merasakan getaran pada tangan mungilnya itu. “Kamu kenapa? Kok, kamu seperti masih merasa ketakutan?” tan

