Sebelum baca, beri aku satu kalimat tentang cerita ini di kolom komentar❤❤
***
Bukan cinta namanya, jika malah membuat maksiat.
Bukan cinta namanya, jika justru membuat semakin jauh dari Sang Maha Cinta.
***
Keesokan harinya, Faqih terlihat begitu bersemangat untuk memulai hari. Tak seperti biasanya, pagi hari Faqih sudah menyapa hangat keluarganya dengan ramah di ruang makan. Jauh sebelum itu, hari ini Faqih bangun lebih awal untuk melaksanakan tahajud. Saking khusyuknya tahajud, sampai-sampai ia terlelap ketika tengah bersujud sampai adzan Shubuh berkumandang. Abinya mengira-ngira tak jelas mengenai Faqih yang sujudnya begitu lama, ternyata Faqih ketiduran ketika sedang tahajud tadi.
Baru saja Faqih duduk untuk menyantap sarapan, Abinya sudah bertanya, “Khusyuk banget ya, tadi tahajudnya, Qih?” tanyanya sambil terkekeh pelan.
Faqih terlihat mendengus kesal. “Ih, Abi. Faqih kan masih ngantuk berat. Alhamdulillah loh, hari ini bisa tahajud juga. Biasanya kan, Faqih bangunnya selalu pas Adzan Shubuh.”
Fatma, Fella, dan Farhan terkekeh mendengar perkataan Faqih. “Iya, Alhamdulillah. Anak Umi, insyaaAllah ya, makin hari makin sholeh,” ucap Fatma.
“Aamiin,” ucap semua orang yang ada di ruang makan.
Setelah itu keluarga kecil itu pun larut di dalam kekhusyukan menyantap sarapan spesial yang Fatma buat.
***
Hari ini, Aisyah datang ke kelas lebih awal dari biasanya. Tidak ada satupun murid di kelas saat itu. Ia sempat bosan menunggu kedatangan teman-teman yang lainnya. Hampir saja ia lupa, bahwa setiap hari di dalam tasnya selalu ada Al-Quran. Karena baginya, sesibuk apapun, menyempatkan untuk berdialog dengan Allah itu harus. Dia akan merasa sangat rugi jika melewatkan hari tanpa tilawah Al-Quran.
Aisyah pun melanjutkan tilawahnya yang kemarin. Hari ini ia memulai tilawah di juz 14. Beberapa menit kemudian, datanglah Adinda dengan wajah masam, tidak seperti biasanya. Melihat itu Aisyah bertanya, “Kamu kenapa, Din?”
“Aku kesel, Syah!” ucap Adinda yang lantas duduk di bangku samping Aisyah.
“Kesel kenapa, ah? Biasanya juga Adinda selalu semangat dan ceria,” ucap Aisyah heran.
“Nah itu dia, orang yang biasanya bikin aku semangat udah ngehancurin aku, Syah!”
Aisyah mengernyitkan dahinya tak mengerti. “Maksud kamu?”
“Ish! Intinya aku putus sama Rendy, Syah!” Adinda menampakan raut wajah sedihnya.
Mendengar itu, jujur saja Aisyah bingung harus merespon seperti apa. Karena sejauh ini ia hidup, tak pernah ia merasakan namanya sakit hati. Untuk menasehati Adinda pun Aisyah merasa sungkan dan ragu.
Tak lama setelah itu, murid yang lainnya mulai berdatangan ke kelas. Niat Adinda bercerita diurungkan karena malu banyak orang.
“Nanti aku mau cerita sama kamu pas istirahat ya, Syah,” pinta Adinda pada Aisyah.
Aisyah tersenyum dan menjawab, “Iyaa, insyaaAllah, Din. Biar hati kamu tenang, nanti kamu ikut Sholat Dhuha, ya?”
Adinda terdiam sejenak. “Em, aku sekarang udah jarang Sholat Dhuha, Syah. Aku lupa doa sesudahnya.”
“Nanti kita doa bareng-bareng ya, Din.”
Adinda membalasnya dengan senyuman, walau hatinya saat itu masih sakit pasca putus dari Rendy kemarin malam.
Ya Allah, aku masih sakit hati, batin Adinda sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Bel sekolah berbunyi, tanda bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua murid kelas XII IPA 1, mulai menduduki bangkunya masing-masing. Hari ini adalah pelajaran PKN bersama Pak Hendra. Aisyah pun segera menyiapkan buku PKN miliknya sambil menunggu Pak Hendra masuk ke kelas.
Ruang kelas saat itu begitu berisik. Meskipun semua murid duduk di bangkunya masing-masing, tapi mulutnya tak berhenti berbicara dan mengobrol ria. Ada satu topik yang membuat mereka semangat mengobrol dan membuat Aisyah merasa iba pada orang yang dijadikan teman sekelas topik pembicaraan.
Adinda yang merasa menjadi topik pembicaraan saat itu hanya bisa diam dan memunduk. Jujur saja ia sakit hati, saat berita putusnya dengan Rendy telah tersebar luas. Adinda tau, anak-anak sekelas memang tak setuju dengan hubungannya dengan Rendy. Alasannya karena memang tidak cocok. Adinda selalu masuk peringkat tiga besar di kelas, sedangkan Rendy? Boro-boro masuk peringkat, pekerjaannya juga hanya main-main dan sibuk sendiri jika guru sedang menerangkan di kelas.
“Kamu beneran putus, Din? Tuh kan, makannya, kita bilang juga apa, jangan mau pacaran sama cowo playboy yang sering ngelanggar kaya Rendy!” ucap seorang gadis bernama Raisa yang statusnya sebagai mantan Rendy ketika kelas 10.
“Tapi gue yakin, pasti lo yang mutusin si Rendy kan, Din?” kali ini seorang lelaki di pojokan yang bertanya. “mending sama gue aja, Din,” godanya.
Seisi kelas menyoraki lelaki itu.
Aisyah mulai angkat suara. “Udah semuanya, jangan berisik! Bentar lagi Pak Hendra mau masuk ke kelas. Nanti dimarahin loh!”
“Iya, iya, Bu Haji,” ucap Raisa yang lantas kembali ke tempat duduknya.
Adinda masih terdiam. Ia tau, selama ini ia telah melakukan kesalahan yang besar. Menerima cinta seorang playboy memang hal yang bodoh. Bahkan, orang pintar seperti Adinda pun akan berantakan prestasinya.
Terbukti saat ini, belajarnya tak pernah fokus. Guru menerangkan tak pernah memperhatikan. Bahkan ulangan harianpun nilainya pernah dibawah rata-rata. Sungguh rekor yang memalukan bagi seorang juara bertahan. Adinda mengakui semua itu, dan ia menyesal. Tapi terkadang cinta itu buta. Bahkan lelaki tak baik pun masih bisa diterima hati.
Aisyah mengelus pundak Adinda. “Udah, jangan sedih mulu. Bukan Adinda namanya kalo selalu larut di dalam kesedihan. Ayo senyum dulu, kita mulai pembelajaran hari ini dengan semangat, ya,” ucapnya menyemangati.
Dengan penuh keterpaksaan, Adinda tersenyum beberapa detik. Karena pada kenyataannya ini adalah senyuman palsu. Senyuman yang ditampakan sebagai penutup segala rasa sedih. Walau di dalam hatinya justru menjerit kesakitan. Entahlah, mengapa bisa cinta semenyakitkan ini?
***
Di ruang kelas sebelah, Faqih tengah melamun tidak jelas dan sama sekali tidak memperhatikan Bu Susan yang sedang menjelaskan. Di saat murid-murid yang lain fokus menyimak kisi-kisi ulangan harian, Faqih justru malah sibuk sendiri dengan lamunannya.
Di sampingnya, ada Rendy yang sama tengah melamun dan tidak memperhatikan Bu Susan. Mereka sama-sama melamun, tapi lamunan mereka berbeda. Ketika Faqih melamunkan rencanannya untuk bertemu Aisyah, Rendy justru melamunkan kejadian pahit kemarin malam. Yaitu saat Adinda memutuskannya.
“Emang bener ya, kata semua orang di dunia ini! Kalo kamu itu playboy akut! Gak usah jelasin apa-apa lagi karena semuanya udah jelas! Jelas-jelas kamu ketemuan sama cewe lain! Jelas-jelas kamu suka telponan sama cewe lain!”
Seketika Rendy ingat pada perkataan Adinda kemarin malam lewat telepon. Kata-kata itu seperti menampar Rendy dengan keras. Rendy berusaha menjelaskan jika itu hanya kesalah pahaman, tapi Adinda tidak percaya.
“Kamu udah rusak prestasi aku di sekolah! Aku benci sama kamu, Rendy!”
Itulah kata terakhir yang dilontarkan oleh Adinda. Benar-benar menusuk sampai relung hati Rendy yang terdalam. Entahlah, sebelumnya Rendy belum pernah merasakan putus sesakit ini. Jika boleh jujur, Rendy menemukan perbedaan dari hubungan yang sebelumnya. Adinda berbeda. Tentu cinta yang tumbuhpun berbeda.
Ketika cinta yang lain membuatnya lupa untuk berusaha, justru cinta Adinda membuatnya selalu bangkit dari segala kemalasan yang setiap saat menghiasi hidupnya. Ketika cinta yang lain membuat bosan, justru hanya cinta Adinda yang membuatnya semakin hari semakin nyaman.
Tapi yang bernama cinta tak boleh disalahgunakan. Karena pada dasarnya cinta itu suci dan yang mengotorinya adalah cara menyikapi.
Bukan cinta namanya, jika malah membuat maksiat.
Bukan cinta namanya, jika justru membuat semakin jauh dari Sang Maha Cinta.
***
Komentar terbaikmu adalah semangatku menuliss??
Salam,
Saifa Hunafa ❤