Ada banyak hal yang memenuhi pikiran Faqih. Dia mulai berprasangka tidak baik pada Abdhi. Dia berpikir, bahwa Abdhi memerintahnya pulang duluan dan meninggalkan Aisyah karena Abdhi ingin berduaan dengan Aisyah. Di pikiran lainnya, Abdhi cemburu karena Faqih selalu mengejar-ngejar Aisyah. Faqih mendengus kesal selama berjalan menuju rumahnya. Sampai setiap orang yang melihat, menganggap Faqih tidak waras. Tidak ada malunya memang Faqih ini. Sudah berprasangka tidak baik, bergumam tidak jelas pula selama di perjalanan menuju rumahnya.
“Ah, itu mah Kak Abdhi yang cemburuan. Kan kalo pulang bareng, gue bisa jagain Aisyah, takutnya di jalan ada penjahat yang mau nyulik Aisyah,” gerutu Faqih.
Di sisi lain, Aisyah berjalan beriringan dengan Afifah yang tadi ditunjuk oleh Abdhi. Mereka berbincang cukup hangat selama perjalanan pulang. Seperti telah mengenal lama, padahal baru saat itu Aisyah mengajak Afifah berkenalan. Awalnya Aisyah sedikit ragu untuk meminta berkenalan, tapi Abdhi sempat meyakinkannya bahwa Afifah itu supel dan ramah. Dan ternyata memang benar saja, baru berkenalan, Afifah sudah menghabiskan perjalanan pulang mereka untuk bercerita banyak hal.
“Eh, Aisyah, maafin aku ya. Aku emang orangnya banyak cerita, tapi semoga aja kamu bisa ambil hikmah dari semua yang aku ceritain ya?” ucap Afifah sambil terkekeh pelan.
Aisyah tersenyum. “Iya gak apa-apa kok, Ukh. Aku seneng aja bisa punya temen di komplek ini. Secara kan, untuk bergaul aku agak susah. Makasih ya, Ukh.”
“Iya sama-sama. Oiya, ini udah sampe aja di depan rumah kamu, hehe. Gak kerasa emang, soalnya aku banyak cerita, haha. Rumah aku masih perlu jalan beberapa menit, kapan-kapan kita main ya,” ucap Afifah.
“InsyaaAllah, Ukh. Aku duluan ya, Ukh. Makasih. Assalamualaikum.”
“Iya, sama-sama. Waalaikumussalam.”
Setelah Afifah pergi, Aisyah pun segera masuk ke dalam rumahnya. Dia bersyukur, bisa mengikuti kumpulan remaja tadi. Selain ia mendapat pengalaman berorganisasi, ia juga mendapatkan teman baru, yang semoga bisa senantiasa mengingatkannya dalam kebaikan.
Karena ia menyadari betul, bahwa sahabat itu berpengaruh penting baginya. Jika kita bersahabat dengan orang yang baik, maka kita akan terciprat baiknya dan begitupun sebaliknya. Kita harus memperhatikan betul dengan siapa bersahabat.
Baru saja Aisyah akan melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada yang berteriak menyebut namanya. “Aisyaaaaaah!”
Jujur saja itu membuatnya terganggu. Seketika Aisyah menoleh dan mencari di mana sumber suara itu. Aisyah memicingkan matanya pada sebuah balkon lantai atas yang ada di sebrang rumahnya. Ada seorang lelaki yang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aisyah tahu itu siapa, sudah pasti itu Faqih. Aisyah mengabaikannya dan segera masuk ke dalam rumah. Segera pula ia tutup pintunya rapat-rapat.
“Kenapa, Syah? Pulang-pulang kaya abis dikejar hantu aja?” Tanya Uminya saat melihat raut wajah Aisyah yang tampak seperti ketakutan.
“Hah? Enggak, kok, Mi. eh, Assalamualaikum, Umi,” ucap Aisyah yang lantas mencium tangan Uminya.
“Waalaikumussalam. Gimana kumpulannya?” Tanya Asma, Uminya.
“Alhamdulillah lancar, Mi. Aisyah juga jadi dapet temen. Alhamdulillah banget.”
“Alhamdulillah kalo gitu. Ya udah, cepet ganti baju, abis itu istirahat sebentar. Terus bantuin Umi masak deh.”
“Beneran, mau dibantuin? Biasanya juga Umi gak mau dibantuin, kalo masak.”
“Nanti sore mau ada pengajian di Masjid Al-Ukhuwah. Sekaligus juga buat ngebuka acara majelis ta’lim khusus Ibu-ibu sama Bapa-bapa komplek. Nah, Umi sama Uminya Faqih kebagian bikin makanan buat sesuguh,” jelas Asma.
“Uminya Faqih?”
“Iya, bentar lagi pasti beliau dateng sama anaknya.”
Aisyah membulatkan matanya. Bagaimana mungkin Faqih lelaki nyebelin itu akan datang ke rumahnya? Mungkin Aisyah akan digoda terus menerus. “Sama anaknya, Mi?” tanyanya penasaran.
“Iya. Itu loh, anaknya yang perempuan.”
Aisyah terlalu jauh berfikiran. Dia kira Faqih yang akan datang. Malu memang, karena ia sendiri merasa kegeeran.
“Sekarang, kamu istirahat aja dulu. Nanti bantuinnnya nyusul aja. Sama sekalian panggilin Almira ya, Sayang.”
Aisyah mengangguk, tanda mengerti dan siap melaksanakan tugas dari Ibu Negara. Aisyah pun segera pergi ke lentai atas untuk memanggil Almira dan lantas beristirahat sejenak.
***
Mengejar sesuatu yang tak pasti memang terkadang melelahkan. Lelah fisik, lelah hati pula. Belum lagi jika itu menghabiskan banyak waktu hingga terbuang sia-sia. Namun, bagaimana jika tekadnya begitu kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkan?
Faqih bukanlah lelaki yang mudah menyerah. Dia pasti akan selalu mengerahkan segala tenaga untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Jika gagal, ia akan terus mencoba dan mencoba lagi. Mungkin juga ia akan memperjuangkan impian barunya. Yaitu mengejar cintanya Aisyah.
Sebelumnya Faqih tidak pernah memiliki perasaan secepat ini. Bahkan sebelumnya Faqih memang belum pernah menyukai lawan jenisnya. Sering pula ia dikatakan tidak normal oleh teman sekelasnya. Tapi yang namanya Faqih tak akan pernah peduli dengan cemoohan.
Ada banyak gadis di sekolah yang menyukai, bahkan selalu mengejar-ngejar Faqih. Tapi sedikitpun Faqih tak pernah peduli bahkan sering mengabaikan kelakuan gadis-gadis yang menurutnya centil dan cari perhatian itu. Bukannya tumbuh perasaan di hati, tapi justru membuat Faqih ilfeel.
Siang itu Faqih tengah memainkan ponselnya. Ia terkagum-kagum pada akun i********: milik Aisyah yang dipenuhi kata-kata motivasi. Tidak ada satupun foto yang menampilkan wajah cantik Aisyah, membuat Faqih semakin yakin untuk memilihnya.
“Emang ini itu calon istri yang sholihah. Dia gak pernah posting fotonya karena gak mau dilihat orang yang bukan mahramnya di sosial media. Gue yakin, dia tengah menjaga dirinya buat gue, calon suaminya, haha,” gumam Faqih sambil terkekeh sendiri di ruang tamu.
Tak lama setelah itu, datanglah Abinya dan bertanya, “Kamu ngomong sama siapa sih, Qih?”
Faqih terperanjat kaget dan pikirannya seketika buyar. “Astagfirullahal’adziim, Abi. Ngagetin Faqih aja!”
“Tadi kamu bilang apa? Abi denger ada calon-calon suaminya? Maksudnya apa, Qih?” Tanya Farhan, Abinya.
Faqih terlihat kikuk. “Eum, itu. Ya, ini abis liat instagramnya calon istri Faqih, Bi.”
Baiknya Faqih memang tak perhan berbohong. Tapi tingkahnya yang kadang menjengkelkan membuat setiap orang geram ingin menyerang.
“Udah mikirin istri aja. Benerin sana muroja’ah hafalan kamu. Lebih dilatih lagi jadi imamnya dan dimulai lagi khotbah jum’atnya. Biar kamu gak sekedar punya cinta saat ngelamar. Tapi juga punya akhlak dan pribadi yang baik.”
Faqih terdiam, merenungi perkataan Abinya yang cukup masuk ke dalam hatinya.
“Ayo ke Masjid Al-Ukhuwah. Kita bantuin buat beres-beres masjid. Nanti sore ada pembuakaan majelis ta’lim,” ajak Farhan.
“Ah, males, Bi. Tadi kan, Faqih abis kumpulan di sana. Cape, ah.”
“Alaah, alesan. Udah lama juga kamu istirahat. Ayo ah, cepet!” Farhan menarik paksa lengan Faqih hingga ia benar-benar bangkit untuk ikut ke masjid.
Mau tak mau dan dengan berat hati, Faqih menuruti kemauan Abinya. Faqih pun keluar dari rumahnya dan menunggu Abinya yang izin ke kamar mandi di teras. Di sebrang rumah sana, ia melihat adiknya dan Aisyah keluar dari rumah. Secara otomatis, Faqih pun berjalan menuju halaman rumahnya agar bisa melihat Aisyah dengan jelas.
“Hay, Aisyah!” sapa Faqih sambil tersenyum, namun Aisyah mengabaikan sapaannya.
Saat itu yang Faqih lihat bukan hanya Aisyah, tetapi juga Fela, adiknya. “Mau pada kemana kalian?” tanyanya kali ini sedikit serius.
“Mau ke warung, Kak,” jawab Fella.
“Ooh, ciee, Fella sama calon kakak iparnya kompak dan akur banget sih.” Faqih mulai menyebalkan.
Mendengar itu, Aisyah segera menarik lengan Fella agar segera pergi dari sosok Faqih yang menurutnya sangat mengganggu itu. Namun seketika Fella menghentikan Aisyah, “Kak Aisyah, berhenti dulu!”
Aisyah menoleh ke arah Fella. “Kenapa?”
“Bukan lewat sini kalo mau ke warung, tapi ke sana!” Fella menunjuk ke arah yang berlawanan dari arah yang Aisyah akan tuju. Mendengar itu Aisyah menyengir kuda sampai Faqih yang memperhatikan pun tertawa terbahak-bahak.
“Hey, Faqih! Malah ketawa-ketawa gak jelas, ayo berangkat!” teriak Farhan, Abinya. Kali ini Aisyah yang terkekeh melihat Faqih terciduk oleh Abinya.
***
TBC.
Selalu ditunggu kesan kalian baca cerita ini:)
Salam,
Saifa Hunafa:)