Komunitas Ukhuwah Islamiyah

1101 Words
Komunitas Ukhuwah Islamiyah adalah komunitas yang didirikan oleh seorang mahasiswa semester 6 sejak tiga tahun yang lalu. Komunitas ini berjalan dengan lancar, hingga saat ini komunitas ini memiliki cabang di beberapa tempat yang berbeda kabupaten. Dan setiap cabang anggotanya hampir mencapai seratus. Memang perkembangan yang cukup pesat, terlebih, dia membuat komunitas ini hanya sendiri dan berawal dari mengajak teman-teman terdekatnya saja. Mahasiswa itu bernama Muhammad Abdhi Abdillah. Siapa yang tak mengenal lelaki tampan dan sholeh itu. Tentu ia dikenal baik di satu komplek, juga terkenal di kampus. Lelaki itu memang sudah tidak memiliki Ibu kandung. Ibunya meninggal sejak ia duduk di sekolah dasar. Hingga saat ini, ia tinggal bersama Ayah dan Ibu tirinya yang baik. Lelaki bernama Abdhi itu baru saja selesai mengerjakan Sholat Dzuhur. Ia pun keluar dari masjid untuk menyapu teras dan halamannya. Tidak enak dilihat masjidnya jika kotor, secara sebentar lagi anak-anak remaja akan datang untuk mengadakan kumpulan. Abdhi terkejut saat mendapati seorang gadis tengah membaca Al-Quran dengan pelan sambil duduk di teras. Abdhi menghampirinya. “Assamalamualaikum, Ukh,” ucap Abdhi. Gadis itu menoleh reflek ke arah Abdhi sambil menengadah karena ia duduk di bawah. “Waalaikumussalam.” Gadis itu bangkit dari duduknya. “Ikut kumpulan remaja juga, ya?” Tanya Abdhi. Gadis itu mengangguk. “Iya.” “Namanya siapa, Ukh?” “Aisyah.” “Ooh. Ukhti boleh tunggu di dalam masjid saja, saya mau menyapu terasnya dulu,” ucap Abdhi. Aisyah mengangguk dan segera masuk ke dalam masjid. Di sisi lain, Faqih sudah sedari tadi memperhatikan percakapan Aisyah dan Abdhi dari kejauhan. Ada sedikit rasa jengkel di hati Faqih. “Yaah, Ka Abdhi ternyata gak kalah cepet dari gue,” gumam Faqih. Faqih pun segera menghampiri Abdhi dan saat itu sudah ada beberapa remaja yang mulai berdatangan. “Assalamualaikum, Ka Abdhi!” ucap Faqih. Abdhi menoleh ke arah Faqih. “Eh, waalaikumussalam, Akhi.” Mereka pun bersalaman seperti biasanya jika bertemu. “Oh iya, Ka, tadi yang namanya Aisyah itu calon,” ucap Faqih tiba-tiba sambil mengangkat kedua alisnya pada Abdhi. Abdi sendiri kebingungan dengan ungkapan tiba-tiba Faqih ini. “Maksudnya gimana, Qih?” Mereka mengobrol sambil berjalan masuk ke dalam masjid “Doain ya, Ka, semoga kita jodoh, hehe.” Abdhi hanya menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas. “Jodoh gak ada tau, Faqih. Tapi yang baik, pasti buat yang baik, udah cuma itu aja rumusnya.” *** Abdhi selaku ketua dari Komunitas Ukhuwah Islamiyah memulai pembukaan kumpulan remaja. Ikhwan dan Akhwat dipisah oleh tirai untuk menjaga dari terjadinya hal yang tidak diinginkan. Kali ini adalah kumpulan perdana setelah sekitar beberapa minggu tidak aktif dikarenakan berbagai hal. “Bismillahirrahmaanirrahiim. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh.” Serentak semua remaja yang hadir menjawab, “Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakaatuh.” Seperti biasa, sebelum menyatakan tujuan perkumpulan remaja ini, Abdhi tak lupa mengucapkan banyak syukur kepada Allah Swt. Yang mana atas berkat limpahan rihmat dan karuniaNya, mereka semua bisa dikumpulkan kembali setelah beberapa saat komunitas di daerah ini tak berjalan. “Thayyib. Mungkin sebagian dari antum semua ada yang belum mengerti atau belum ada gambaran pada program Komunitas ini. Untuk anggota komunitas yang sebelumnya sudah saya bagi tugas dan jabatannya, boleh berkumpul di tempat yang disepakati ketuanya, tapi masih di area masjid. Kemudian kalian susun rencana untuk seminggu ke depan. Saya beri waktu setengah jam, setelah itu kita kumpul kembali di sini untuk merapatkannya,” ucap Abdhi yang lantas dituruti oleh yang merasa diperintah. Aisyah yang menyadari bahwa diirinya hanya anak baru yang tak mengerti apa-apa hanya mendengarkan walaupun tidak terlalu paham. “Nah, untuk yang baru bergabung, Saya akan jelaskan. Untuk sebagian anggota yang saya perintah untuk berkumpul tadi, itu diantaranya ada divisi kebersihan, divisi multimedia, divisi penyiaran dakwah sosial media, dan divisi-divisi yang lainnya,” jelas Abdhi. Setelah itu, para anggota baru menulis namanya di buku absen untuk penentuan masuk divisi. Setelah menunggu beberapa saat, Abdhi pun mulai menyebutkan setiap nama beserta divisinya masing-masing. Satu per satu nama Abdhi sebutkan, hingga berhenti di nama terakhir. “Untuk nama Aisyah Naufalyn, masuk ke Divisi Pengajar. Silahkan mulai berkumpul dengan ketuanya masing-masing, yang sebelumnya saya sebutkan.” Sedari awal Abdhi menyebutkan ketua dari setiap divisinya Aisyah memang sudah terkejut, bagaimana mungkin Faqih yang ia kenal sebagai lelaki menyebalkan itu menjadi ketua di Divisi Pengajar? Itu berarti, Faqih adalah ketuanya. Dan yang membuat Aisyah sempat tak bernafas adalah, Faqih adalah wakil ketua umum Komunitas Ukhuwah Islamiyah. Bagaimana mungkin lagi? Mau tak mau, Aisyah memang harus berkumpul dengan ketuanya, yaitu Faqih. Anggota divisi ini ada beberapa anggota akhwat dan beberapa anggota ikhwan. Saat itu Faqih menjelaskan tugas-tugas yang dilakukan oleh divisi ini setiap jam kerja. Saat itu Faqih terlihat professional dan berkarisma saat menjelaskannya di depan para anggotanya. Ada sedikit rasa tak percaya pada Faqih yang ia kenal mennyebalkan itu. Ternyata Faqih bisa juga bisa serius ddan bekerja dengan baik. Terkadang mengherankan pula, memang, tapi Aisyah harus menerima, bahwa inilah kenyataan. *** “Assalamualaikum, Aisyah, cantk,” ucap Faqih saat mendapati Aisyah mengobrol dengan kenalan barunya di depan masjid. “Waalaikumussalam,” jawab Aisya sambil mendelikkan matanya. Kenalan barunya itu tiba-tiba pamit, seperti tidak ingin menganggu percakapan yang akan Faqih mulai. “Ayo pulang bareng!” ajak Faqih. “Aku bisa sendiri.” “Kita kan rumahnya bersebrangan, ya gapapa dong, bareng? Aisyah berusaha mencari alasan sambil batinnya terus berdoa, Ya Allah, lindungi Aisyah. “Antum mau ditemenin setan, Qih?” Seketika suara Abdhi yang taka sing lagi di telinga Faqih itu terdengar. Faqih menyengir kuda. Aduh, ketauan deh, batin Faqih. “Eh, anu, Kak. Faqih Cuma bercanda kok. Emang niatnya juga Faqih mau pulang duluan, Cuma ya basa-basi dulu sama Aisyah.” Faqih beralasan. “Cepet antum pulang duluan!” perintah Abdhi dengan tegas yang lantas dituruti segera oleh Faqih, hingga Faqih benar-benar pulang sendiri. Saat itu yang tersisa tinggal Abdhi dan Aisyah. “Faqihnya udah jauh, kamu boleh jalan untuk pulang sekarang,” ucap Abdhi yang dibalas dengan anggukan paham darri Aisyah. “Makasih, Kak.” “Sama-sama. Saya tahu kamu bukan gadis manja, kamu pasti bisa pualng sendiri daripada harus berduaan dengan yang bukan mahram kamu. Kamu juga boleh pulang bareng sama Ukhti itu, tuh,” Abdhi menunjuk ke seorang gadis berkerudung biru muda. “Namanya Ukhti Afifah, beliau sepupu saya.” “Baik, Kak, terima kasih banyak,” ucap Aisyah. “Sama-sama.” Aisyah pun berlalu pergi untuk pulang. Ia mengucapkan syukur di dalam hatinya karena telah diselamatkan dari Faqih. Dia tau Faqih baik, tapi ia merasa dipermainkan jika terus digoda. Dia bukan wanita yang tak punya harga diri. Justru dia selalu berusaha untuk menjaga kemuliaannya sebagai seorang wanita. Maka dari itu, hatinya tak boleh goyah hanya karena rayuan manis penuh kepahitan yang dilontarkan seorang lelaki. Karena baginya, yang manis dan indah itu hanyalah kebersamaan dengan kekasih halal. Bukan bersama lelaki yang bukan mahram, yang jelas-jelas belum tentu menjadi jodoh. Maka sebagai seorang akhwat, hendaknya selalu menjaga izzah dan iffahnya. Karena itu adalah hal penting yang dimiliki seorang akhwat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD