little information and irony of life

1153 Words
Edward merebahkan dirinya pada sofa sembari mengelus-elus perutnya. “Woah, ini pertama kalinya aku merasa puas setelah sarapan.” Ujarnya. Sudah berkali-kali ia mengatakan hal itu sejak selesai sarapan. “Mungkin kau bisa sering-sering mampir kemari?” Drystan memutar bola matanya. “Sekadar informasi, aku seorang Tuan Muda, bukan pelayan.” Edward tertawa mendengarnya. Ia berpindah posisi menjadi duduk. “Benar juga ya. Bagaimana bisa Tuan Muda sepertimu memasak? Kau ikut kursus atau memang kau bisa memasak sejak lahir?” “Sepertinya kepolisian Amerika perlu segera mengeluarkanmu. Otakmu terlalu i***t untuk menjadi detektif. Memasak itu bukan bakat, tetapi keterampilan. Memangnya kau pernah melihat bayi yang baru lahir bisa memasak? Kusarankan kau segera memeriksakan kejiwaanmu.” Edward menarik pipi kanan Drystan, membuat pemuda itu memekik kaget dan berusaha melepaskan diri. “Kurasa kau perlu sedikit memfilter ucapanmu. Wajah manis dan ucapanmu itu benar-benar kontras, tahu!” Edward menyudahi kegiatan bersantainya dan kembali meraih beberapa dokumen berantakan yang tadi sempat ia tinggal. Ia membawa setumpuk map tebal dan kertas-keras yang dijepit asal-asalan. “Nih, kau penasaran dengan kasus semalam bukan? Baca itu supaya kau tidak penasaran lagi.” Drystan menerimanya dalam diam. Dokumen-dokumen itu berisi beberapa foto anak-anak kecil korban dari kekerasan yang sama seperti yang terjadi semalam. Seluruhnya memiliki luka yang sama. Kebanyakan dari mereka merupakan anak-anak yang sering berada di rumah sendirian karena kesibukan orang tua. Lebih buruk karena dari sekian banyak anak-anak yang meninggal, sama sekali belum ditemukan petunjuk pasti siapa sebenarnya si keji yang melakukan hal itu. “Mereka tidak kehilangan barang apapun.” Gumam Drystan pelan. “Hm. Jelas ini bukan perampokan atau p*********n biasa. Orang-orang yang tinggal di area ini adalah orang-orang kaya sepertimu ‘kan. Memanfaatkan waktu ketika anak-anak itu sendirian untuk membunuhnya tapi sama sekali tidak ada barang berharga yang diambil, kecuali jantungnya. Pembunuh macam apa yang melakukan itu?” “Psikopat gila.” Edward memutar bola matanya. “Drystan, jika yang melakukan itu hanya sekadar psikopat gila, kami pihak kepolisian pasti sudah menangkapnya sebelum banyak korban berjatuhan. Aku tahu psikopat memiliki taktik yang bagus, dan mereka kebanyakan juga cerdas. Tapi mereka tidak sejenius itu untuk membuatku dan rekan-rekanku kebingungan hingga sekarang. Jelas sekali yang melakukan ini adalah orang waras, ugh…. Oke mereka jelas tidak waras karena membunuh anak-anak kecil. Siapa yang tahu jika sebenarnya ada perkumpulan aneh yang mengharuskan mereka memakai tumbal anak kecil?” Ia kemudian mengangkat bahunya. “Tentu, aku tidak akan mengatakan hal itu kepada rekan-rekanku karena mereka akan menertawakanku.” Drystan mencebik. “Orang-orang sepertimu begitu kaku sampai tidak mau menerima kemungkinan teraneh sekali pun. Cih, membosankan.” Edward mengacak surai pirang keriting Drystan, membuat pemuda itu lagi-lagi mendengus kesal sembari menampiknya. “Kami orang-orang yang bekerja di bidang hukum harus berpikir rasional, Drystan. Ah ya, seperti kutipan-kutipan yang ada di sejarah perkembangan linguistik dunia. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengedepankan fakta daripada mitos. Kira-kira, mungkin kami berusaha seperti itu. Negara kita dikenal sebagai Negara adikuasa yang begitu makmur. Kau kira apa yang akan dikatakan bangsa lain jika mereka tahu para penegak hukumnya tidak berpikir secara logis.” “Dan jika benar?” Drystan terkekeh dengan raut menyindir. “Kalian hanya berusaha tampil mempesona di hadapan media. Ketika sedikit saja kebobrokan kalian terungkap, sekuat tenaga kalian menutupinya bahkan jika itu harus mengorbankan hal penting lainnya. Aaah benar, nama baik adalah segalanya. Iya ‘kan, Mr. Hoover?” Edward mengangkat bahu. Ia meraih kertas-kertas yang sebelumnya berada di tangan Drystan dan segera membereskannya untuk kemudian ia masukkan ke dalam sebuah tas kerja berwarna coklat gelap di seberang sofa. “Pemikiranmu bagus juga. Aku tidak tersinggung karena memang benar adanya kok.” Drystan melebarkan mata. “Kau bagian dari mereka.” “Benar. Saat mereka memiliki nama yang buruk, aku pun akan ikut terseret meski aku sama sekali tidak terlibat. Tapi ketika aku berhasil memecahkan kasus sulit dan nama instansi menjadi baik, anggota yang lain juga ikut menerima kesan positif. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Toh kami semua selalu bekerja sama ‘kan? Ugh, yeah tidak semua juga sih. Tapi kurasa itulah enaknya pekerjaan ini….” Edward mendekat dan menarik dagu Drystan. “Bekerja bersama-sama untuk berusaha menangkap kriminal sepertimu. Adrenalin kami benar-benar terpacu.” “Cih berhenti menyentuhku. Pria-pria sepertimu sama saja. Tidak peduli lelaki atau perempuan yang ada di dekat kalian, tangan kalian tidak pernah berhenti untuk berusaha menjamah orang lain.” Drystan menatap Edward tajam. “Menjijikkan.” Drystan segera beranjak pergi. Tidak peduli dengan panggilan Edward dan pria itu yang terus berusaha menahannya. Kepentingannya di sini hanya sebatas untuk mencari informasi, dan itu semua sudah terpenuhi. Ia tidak memiliki urgensi lagi untuk tetap diam dan duduk-duduk di rumah lelaki yang suka sekali menyentuh-nyentuh dirinya. Hah, Drystan pikir ia harus segera mandi saat sampai ke rumah nanti untuk menghapus jejak sentuhan Edward di tubuhnya. Drystan sudah bersiap-siap dengan beragam alibi jika Aaron kembali mengomel saat ia pulang. Tentu saja pria itu akan mengomel karena Drystan keluar dari rumah diam-diam dan sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun sebagai alibi. Saat Drystan meninggalkan pesan dan beralibi tengah jalan-jalan di sekitar saja Aaron sama sekali tidak percaya. Apalagi saat ia keluar begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Sebuah helaan napas lolos. Drystan jadi membayangkan jika dirinya terlahir dari keluarga biasa saja. Mungkin ia bisa bebas berkeliaran dan memiliki banyak teman. Bermain-main di sesekali waktu dan bekerja untuk dirinya sendiri. Dia mungkin tidak akan mendapatkan banyak uang seperti sekarang, tapi kebebasan yang ia impikan. Sekali lagi, tidak ada gunanya menyesali takdir. Ketika Drystan membuka pintu utama pelan-pelan, Aaron sudah berdiri di sana dengan tampang sangar dan kedua lengan yang menyilang di d**a. Jika saja Drystan tidak terlalu terbiasa dengan tampang Aaron, mungkin ia sudah berlari karena ketakutan. Perawakan Aaron yang tinggi dan berotot serta tato-tato di lengan hingga dadanya membuatnya tampak benar-benar seram. Mirip seperti tukang pukul di film-film kriminal. “Menyelinap lagi eh?” Drystan memasang senyum polos sembari menggaruk tengkuknya. “Hanya jalan-jalan kok.” “Jalan-jalan menemui detektif pirang itu lagi, hm?” “A-ah, tidak. Aku hanya um—“ Aaron menarik Drystan dan memaksanya duduk di sofa ruang tamu. “Kau terlalu cepat seratus tahun jika kau pikir aku akan percaya dengan kebohonganmu.” “Tapi Aaron, kau bahkan belum empat puluh tahun, ‘kan?” “BUKAN ITU INTINYA!” Aaron mengusap wajahnya. Jika saja ia tidak menghormati Darren dengan seluruh jiwa raganya, sudah dari beberapa tahun lalu ia mengajukan resign dan lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan berbahaya lainnya daripada menjaga pemuda kekanakan yang bahkan begitu ceroboh untuk hidupnya sendiri. “Kau menolak untuk memberiku informasi, jadi aku berusaha mencarinya sendiri. Seandainya kau langsung memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan melakukan ini.” “Yang kau lakukan itu tidak ada hubungannya dengan tugasmu, pun dengan hidupmu. Kenapa kau selalu melemparkan dirimu dalam masalah?” Drystan mendengus. “Aku bosan. Kurasa dengan banyak masalah akan sedikit memangkas kebosananku.” “Kau menambah masalah untuk Darren! Jika kau benar-benar ingin berteman dengan orang lain, lakukan dengan orang biasa dan bukannya dengan seorang detektif yang mengetahui identitasmu.” Drystan terkekeh pelan. “Aku tidak berniat berteman kok. Lagian apa enaknya berteman dengan orang biasa yang bahkan tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Jika aku boleh memilih, kurasa orang seperti Edward jauh lebih menyenangkan.” “Kau—“ Drystan segera pergi dan mengunci kamarnya. Tentu saja ia tidak serius mengatakan bahwa ia lebih memilih orang lain daripada Edward. Pria itu cukup menyebalkan untuknya. Tapi jika memang tidak ada pilihan lain, Drystan tidak masalah untuk berusaha akrab dengannya. Ia tertawa pelan. Jika pun dirinya mau, Edward juga tidak akan mau. Aaah, menyedihkan. Ѡ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD