Edward terdiam cukup lama. Ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa mendengar fakta bahwa Drystan telah membunuh. Oh tentu, Edward tidak terkejut dengan fakta itu mengingat catatan kriminal Drystan yang sudah tak terhitung lagi. Membunuh rasanya bukan perkara sulit untuknya. Masalahnya, kali ini yang ia bunuh adalah seseorang yang kemungkinan berkaitan dengan kasus yang baru-baru ini tengah membingungkan kepolisian.
“Lepaskan, aku mau pulang.” Drystan berusaha menarik lengannya. Sialnya, ia lupa jika detektif yang tengah menggenggam lengannya itu bertubuh jauh lebih besar dan tinggi darinya.
“Jangan pergi, tetaplah disini.”
Drystan melebarkan mata. “A-Apa maksudmu? Aku tidak menemukan alasan untukku harus tetap berada di sini.”
“Kau sakit hati karena aku mengumpatimu?”
Hah?
Drystan mendadak loading. Ia bahkan tidak sempat memikirkan bahwa Edward mengumpat padanya. Atau memang Drystan bodoh? Ia pikir Edward tengah mengumpati fakta bahwa seseorang yang kemungkinan akan memberinya informasi sudah mati dan bukannya mengumpati dirinya. Jadi, Edward mengumpatinya?
“Ayolah, jarang-jarang ada seseorang yang berkunjung ke rumahku. Terlebih, seorang kriminal kelas atas.” Kekehnya.
Drystan meradang. Apa-apaan itu? Edward selalu saja mengungkit soal pekerjaannya dengan nada mengejek yang menyebalkan.
“Aku semakin ingin pulang mendengarmu.”
Edward menarik Drystan, membuat pemuda itu jatuh terduduk di pangkuannya. “Tetaplah di sini, lagipula hari ini aku libur. Ugh, tidak juga sih. Aku harus memecahkan kasus yang kemarin, dan kau harus membantuku.”
Sebuah decakan lolos. Drystan bergerak melawan. Mereka tidak sedekat itu untuk berada dalam posisi seperti ini. Lagipula, memangnya posisi seperti ini cukup normal untuk dilakukan dua orang pria dewasa?
“Aku sungguh tidak tahu ada seorang detektif gila di kepolisian. Normalnya, mereka akan bekerja sama, tapi kau malah meminta seorang penjahat kelas atas untuk membantumu? Kau yakin tidak ada yang salah dengan kepalamu?” Sarkas. Drystan sudah berkali-kali mendengar Edward menyebutkan status dirinya, tapi dia sendiri pula yang meminta Drystan membantunya. Aneh.
“Karena kurasa kau tidak berkaitan dengan kasus itu, dan melihat bagaimana kau menguntitku hingga ke TKP malam itu, sepertinya kau tertarik. Iya ‘kan?”
Wajah Drystan bersemu. Sungguh, ia malu. “Aku tidak menguntit! Dan percaya diri sekali kau mengatakan kalau aku tidak terlibat. Bagaimana jika yang sebenarnya aku adalah dalang di balik semua peristiwa keji itu?”
Edward menggeleng. “No, no. Aku tahu, kau tidak berkaitan. Percaya saja, aku bisa melihatnya kok.”
Drystan menghela napas. memang susah berbicara dengan manusia aneh sepertinya. Bisa-bisanya manusia seperti Edward Hoover menjadi salah satu detektif paling berprestasi di Amerika. Kepribadiannya sungguh tidak mencerminkan itu semua.
“Nah, sekarang duduklah dengan tenang, aku akan membuatkanmu minum. Ah, apa kau sudah sarapan?”
Drystan menggeleng.
“Oke, aku buatkan…” seru Edward riang. “…Um mesti aku tidak jago sih.”
Drystan melebarkan matanya. Secepat kilat ia menahan pergelangan tangan Edward sebelum pria itu sampai ke dapur.
“Kau bisa memasak?”
Edward menggaruk tengkuknya dan tertawa. “Tidak juga sih, biasanya adikku yang memasak.”
“Adik?”
“Hm. Dia tidak selalu di rumah karena sekolahnya jauh, dia hanya kemari saat weekend.”
“Jadi apa yang kau makan selama tidak ada adikmu?”
Edward mengusap dagu. “Hm… apa saja, tapi lebih sering mie instan sih. Ah, di minimarket banyak makanan instan kok, jadi tidak masalah.”
“Cih, biar aku yang memasak.”
Drystan mengambil alih apron yang hendak dipakai oleh Edward dan mengacak-acak isi kulkas pria itu. Meski bisa dikatakan Edward hanya memakan makanan instan, bahan makanan yang ada di kulkasnya cukup lengkap.
Memasak bukan hal yang sulit untuk Drystan meski ia bisa dikatakan seorang ‘Tuan Muda’ di keluarganya. Sejak kecil, ia tidak selalu bersama orang tuanya. Ia lebih sering diasuh oleh Pamannya yang menyebalkan, dan alih-alih diperlakukan seperti seorang Tuan Muda sebagaimana statusnya, ia diperlakukan tak lebih seperti anak pungut yang terlantar oleh Pamannya. Benar-benar berbeda dengan Darren yang lebih sering diperlakukan sebagai seorang Tuan Muda.
Terlahir sebagai putera di keluarga mafia membuatnya harus terbiasa dengan hal-hal gelap dan menyeramkan. Belum lagi jika terlahir bukan sebagai anak pertama. Dahulu, Drystan sempat curiga jika dirinya bukan anak sah ayahnya. Bisa jadi ia adalah anak dari salah satu wanita simpanan ayahnya, makanya ayahnya tidak mau mengasuhnya dan malah memberikan tanggung jawab itu kepada sang paman.
Beruntung, ia segera menemukan fakta bahwa ia dan Darren adalah saudara kandung, sedikit perasaan insecure dalam dirinya sirna, meski tetap terasa berat. Memangnya apa yang ia perbuat hingga dirinya dibedakan dari Darren. Pamannya bukan seorang pengasuh yang baik. Dia cukup abusive dan sering kali memukul punggungnya. Ah, kalau diingat, Drystan bahkan masih memiliki beberapa bekas gores di punggungnya. Bekas yang merusak kulitnya.
Pamannya kemungkinan memiliki posisi seperti Drystan. Menjadi anak kedua dan tidak terlalu dipedulikan. Tapi ia pun sama sekali tidak berani memperlakukan Darren dengan buruk. Padahal keduanya sama-sama putera dari kakaknya sendiri. Drystan berpikir mungkin pamannya juga merasa insecure, dan melampiaskan segala beban di hatinya kepada Drystan, anak dari kakaknya sendiri.
Lucu. Padahal Drystan juga tidak tahu apa-apa. Memangnya siapa yang mau terlahir dengan posisi seperti itu? Tidak ada anak yang bisa memilih terlahir sebagai siapa dan dari orang tua mana. Lantas mengapa ia harus menerima pelampiasannya?
Kesal dengan semua perlakuan pamannya dan segala standar yang ia tetapkan, Drystan menjadi bandel dan sering sekali menjahili pamannya. Tentu, perbuatannya selalu berimbas buruk dan membuatnya dihukum habis-habisan. Pamannya selalu berkata bahwa seorang Bos mafia tidak harus bisa memasak. Pekerjaan rumah adalah pekerjaan seorang pelayan, dan itu bukan untuknya.
Drystan tertawa dalam hati. Memangnya dia akan menjadi bos? Yang akan meneruskan posisi ayahnya di organisasi adalah Darren. Drystan tidak memiliki hak apa-apa sebagai penguasa. Lantas mengapa ia harus mengikuti aturan standar sebagai seorang Bos mafia? Benar-benar tidak berguna.
“Drystan? Oi! Kau bilang kau akan memasak. Mengapa diam saja?”
Drystan tersentak. Ia melamun kah? Mengingat masa lalu cukup membuatnya agak kesal. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran tidak penting di kepalanya.
Segera Drystan memasak apa yang ada di persediaan Edward. Berhubung masih pagi, ia hanya memasak telur orak-arik, sosis, bacon, dan roti panggang. Drystan juga membuatkan kopi untuk Edward dan jus jeruk untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya, ia sendiri tidak tahu apakah Edward suka kopi di pagi hari. Namun melihat banyaknya persediaan kopi di lemari penyimpanan, Drystan asumsikan bahwa Edward sering meminumnya.
Tanpa banyak bicara Drystan menyusun seluruh makanannya di piring dan membawanya ke meja makan. Wajah Edward berbinar ceria mendapatkan makanannya.
“Woah, akhirnya sarapan normal.”
Drystan memutar bola matanya. “Makan.”
“Siap!”
Drystan terdiam. Tunggu dulu, mengapa ia melakukan hal ini? Memasak untuk seseorang yang tidak ia kenal baik. Terlebih, orang itu adalah detektif yang memiliki kemungkinan memenjarakannya. Sebuah helaan napas kembali lolos. Sekali lagi, Drystan mengakui tuduhan Darren dan Aaron bahwa dirinya memang benar-benar ceroboh.
“Drystan? Kenapa?”
Drystan menggeleng. “Bukan apa-apa.”
Edward mengangguk dan kembali makan. “Makanan buatanmu enak juga.” Katanya riang.
Drystan memalingkan wajahnya. “Hmmp.”
Ѡ